The first 200 lines.
SEBERKAS SINAR MATAHARI TEGAK
Liên, bangun.
Adik kecil! Bangun!
Liên, sudah siang.
Biar aku tidur sebentar lagi.
Tidak bisa. Hari ini hari peringatan Ibu.
Kamu harus bantu kakak-kakak di dapur.
Ingat kemarin waktu kita di Jalan Cha Ca?
Ramai sekali. Dan aku merasa aneh.
Apa?
Aku merasa orang-orang mengira kita sepasang kekasih.
Kau tak pernah merasakannya?
Tidak.
Sebenarnya...
mungkin memang begitu cara orang melihat kita.
Sudahlah. Pergi cuci muka.
Ayo, Kak.
Cepatlah, aku lapar sekali.
- Duduklah di depanku. - Biar aku duduk di sebelahmu...
supaya kita melihat hal yang sama.
Kau ini menyebalkan.
Tak pernah mau menuruti aku.
Kita serasi, bukan?
- Jangan asal bicara. - Kenapa?
- Kita memang ditakdirkan bersama. - Semua orang tahu kau adikku.
Lebih baik pikirkan apa yang harus dibeli bersama kakak-kakak.
Aku tak pernah menentukan menu. Selalu masakan tradisional.
Nah, itu. Jangan sampai ada yang tertinggal.
Aku bosan bolak-balik ke pasar hanya untuk dua buah lemon.
Atau mungkin seikat bawang merah.
- Apa? - Tidak ada.
Khanh, bijinya dibuang?
Jangan, masak saja bersama nasinya, rasanya jadi lebih enak.
Kalau pâté? Satu inci atau dua?
- Coba lihat. Terlalu tebal. - Satu inci saja cukup.
Setuju. Liên, tunas bawang merahnya?
Ya ampun, aku lupa.
- Kiên bisa membelinya. - Sudahlah, jangan ganggu suamimu.
Penulis hanya paham soal jiwa manusia.
Dia tak bisa membedakan bawang merah dan kucai.
Tapi suamiku, dia paham soal tanaman.
Benar juga.
Sebaiknya kirim Hai, dia pasti senang.
Baiklah, kalau para orang tua sedang mengobrol, aku kirim adik bungsu saja.
Buah ini kupotret di Huê.
Tak usah kusebutkan nama ilmiahnya.
Biasanya dimakan dengan udang asam. Hanya ada di Huê.
Hai!
Pergi beli bawang merah! Liên bilang kau suka ke pasar.
Iya, benar. Kiên, boleh kupinjam sepedamu?
- Kafenya sudah buka? - Belum, baru buka jam enam.
Bibi Mai, tolong ambilkan dua nampan.
Ya, sebentar.
Quôc, tempo hari kau bilang selain untuk pekerjaan...
kau juga memotret untuk dirimu sendiri. Kenapa tak pernah kau tunjukkan?
Aku ingin sekali melihatnya.
Aku belum puas dengan hasilnya.
Aku bilang begitu karena, di foto-fotomu untuk Perhimpunan Botani...
tak ada satu pun wajah.
Dan di foto pribadimu ada wajah?
Ya, tentu saja.
Kebanyakan potret.
Tapi menurutku, foto tanaman memberi kenikmatan yang lebih dalam.
Di sana ada ketenangan yang tak bisa kau temukan di wajah manusia.
Ketenangan itulah yang kucari dalam sebuah foto.
Kurasa aku mengerti.
Meski begitu, menurutku...
kau memang punya masalah dengan wajah.
Akan kubuktikan bahwa pendapatmu itu hanyalah khayalan seorang penulis.
Ini bagian favoritku.
Aneh. Memuaskan sekaligus menjijikkan.
Benar. Kita perempuan memang ditakdirkan berurusan dengan hal-hal menjijikkan.
Dulu, kita tak boleh menyentuh kepala pria.
Bagian tubuh yang mulia itu tak boleh ternoda oleh tangan kita.
Tapi laki-laki selalu suka dan membiarkan kita...
...menyentuh bagian yang lain. - Tepat sekali.
Jadi, apakah bagian itu dianggap mulia?
Kita harus menyimpulkan tidak, karena kita diizinkan menyentuhnya.
- Berarti masuk kategori menjijikkan. - Menurutku tidak terlalu menjijikkan.
- Justru sebaliknya. - Maksudmu?
Yah... bisa dibilang semacam fantasi kuliner.
Apa?
Dengar, aku selalu berpikir bahwa...
kalau digoreng dengan sedikit bawang putih, teksturnya pasti luar biasa.
Lembut sekaligus renyah.
Tak mudah membicarakan sebuah foto secara langsung.
Alasan itu bisa kuterima dari siapa pun...
tapi tidak dari seorang penulis. Kata-kata adalah duniamu.
Kau melebih-lebihkan.
Kau sudah buka, Quôc?
- Oh, halo, Kiên. - Masuklah, Toàn.
- Liên akan membuatkanmu kopi. - Tidak, aku hanya mampir sebentar.
Jadi, Kiên, kapan novel pertamamu akan terbit?
Ah, tidak perlu terburu-buru. Aku masih mengerjakannya.
- Tapi lancar? - Sebenarnya hampir selesai.
Tinggal sedikit lagi yang harus kutulis, tapi aku buntu.
Ini tentang sebuah pertemuan.
Biasanya itu terjadi di awal atau di tengah cerita.
Tapi di sini, justru di akhir.
Tokoh utamanya bertemu seorang perempuan.
Aku ingin menuliskannya secara ringkas dan mengakhirinya secara mendadak.
Aku tak sabar membacanya.
- Kak Toàn. - Kak Liên.
Es kopi?
Kalian ini putuskan saja, lama-lama jadi konyol.
Dia memanggilmu "kakak" dan kau memanggilnya "kakak".
Tak masuk akal. Benar-benar aneh.
- Memangnya kenapa? - Kami lahir di hari yang sama.
- Jam berapa kau lahir? - Nah itu, aku tidak tahu.
Aku tahu jam lahirku, tapi itu tak membantu.
- Tak ada yang tahu di rumah? - Tidak, tak ada.
Maaf, aku harus membantu kakak-kakakku di dapur.
Kalau kalian menemukan solusinya, beri tahu aku...
dan akan kuikuti saja.
Begini menurutku. Dia sudah memanggilmu "kakak".
Panggil saja dia "adik" seperti suami istri.
Siapa bilang aku ingin menikahinya?
- Lihat saja tingkahmu. - Apa maksudmu?
Anak ini ingin menikahi ipar kita.
Oh ya?
Mudah saja. Sirih dan pinang untuk lamaran...
lalu enam bulan kemudian pernikahan.
Tapi pertama-tama dia harus belajar mengucap "Adik Liên".
Sudahlah, jangan menggodaku.
Dari mana saja kau, Tikus Kecil?
Aku jalan-jalan dan mau menemui Ibu.
Cantik sekali. Kulitnya tak retak sedikit pun.
Mari kita hias altar untuk upacara.
Dupa sudah habis terbakar. Mari kita potong ayamnya.
Cicipi anggurnya, Paman.
Beruntung sekali! Aku khawatir kau tak sempat datang.
Hidangan peringatan ini benar-benar berhasil.
Kami ini payah. Seharusnya dulu belajar dari Ibu.
Tidak juga. Kalian hampir sepandai beliau.
Paman Tung tidak menua, ya?
Mau minum?
Hai, mau juga?
- Aku kekenyangan, kau juga? - Iya.
Aku juga.
- Sepertinya malam ini aku tak makan lagi. - Aku juga tidak.
Bagaimana kalau makan siput jahe?
- Nah, itu masih bisa kumakan. - Kupikir juga begitu.
Baik, sudah diputuskan.
- Kita lanjut? - Mulai dari kantor catatan sipil.
Jadi tadi kukatakan Kiên semakin lama semakin tertarik...
ketika ia menemukan petunjuk-petunjuk baru.
Setelah memeriksa daftar dan menyisihkan yang tak mungkin...
ia sampai pada teori bahwa Toàn milik Ibu...
adalah seorang bernama Phan Châu Toàn.
Mereka bersekolah di tempat yang sama selama lima tahun, itu mendukung teorinya.
Kalau begitu pasti Toàn yang itu.
Kenapa cuma lima tahun?
Karena Toàn meninggal kelaparan pada '43 saat pendudukan Jepang.
Waktu itu Ibu berusia 14 tahun.
Jadi cuma cinta monyet?
Tunggu dulu, ini baru teori, belum tentu benar.
Kiên belum memastikan ke keluarga Toàn itu.
Mereka pindah ke Saigon tahun '54.
Dia harus ke Saigon. Dan semoga saja cukup beruntung menemukan kerabat...
yang mungkin pernah mendengar kisah cinta ini.
Pasti Toàn yang itu.
Aku bilang begitu karena menurut teori ini...
itu hanya cinta masa remaja.
Di akhir hidupnya, ketika Ibu sudah tak sepenuhnya sadar...
dan mengira Ayah adalah Toàn, ia sedang kembali ke masa kecilnya.
Itulah sebabnya ia berbicara padanya seperti gadis kecil yang pemalu.
Ia mengatakan bahwa ia mencintainya dengan polosnya...
hingga membuat Ayah menitikkan air mata.
Seperti kataku, ini hanya teori.
Dan aku yakin penelitian Kiên akan membuktikan apa yang kupercayai.
Tak mungkin sebaliknya. Sudah jelas.
Aku juga...
percaya pada versi cerita ini.
Ibu tak mungkin mencintai pria mana pun...
selain Ayah.
Dalam hatiku aku tahu ia setia.
Aku yakin.
Ayah dan Ibu selalu bersama, tak terpisahkan.
Buktinya, sebulan setelah Ibu meninggal...
ia menyusulnya.
Ada sesuatu yang terasa sempurna dalam hubungan mereka.
Dan ingat apa yang sudah kita katakan ribuan kali.
Ibu satu bulan lebih tua dari Ayah.
Ia meninggal sebulan setelahnya...
yang berarti mereka menjalani hampir sepanjang hidup yang sama...
selisih mungkin hanya satu jam...
menurut perhitungan kita.
Kasihan Ayah. Entah seberapa besar ia menderita.
Kalau saja ia tahu bahwa Toàn hanya cinta masa remaja, mungkin lain ceritanya.
Kita sebaiknya minta Kiên berhenti mencari.
- Menurutmu? - Liên benar. Dia harus berhenti.
Dia akan kecewa.
Siputnya datang.
Ambilkan kami serbet.
Tolong, Suong.
Liên, Toàn memanggilmu.
- Aku ke sana dulu. - Toàn itu nama terburuk di dunia.
Menurutku Guôc terlalu sopan, terlalu sempurna, sampai-sampai terasa hambar.
Seolah-olah setiap hasrat telah meninggalkan tubuhnya.
Ada yang menjalani fantasi mereka.
No comments yet. Be the first to leave one.