The first 200 lines.
Subtitle Oleh madeinheaven6666 Letterboxd: madeinheaven6666
ISTRI SANG PENERBANG
atau TAK MUNGKIN TAK MEMIKIRKAN APA-APA
- Hai, François. - Hai.
François, aku sudah menemukan orang untuk pekerjaan pipa itu.
- Wah, baik sekali. - Beri aku alamatnya.
Anne Coudrière...
56 rue Reineken...
dekat Boulevard Pereire.
- Kapan dia datang? - Besok.
Tidak bisa agak nanti?
Sepertinya dia sibuk sampai akhir bulan.
Pokoknya hari Sabtu satu-satunya waktu luangnya.
Besok dia menjenguk ibunya.
Terima atau tinggalkan.
Beri tahu aku sebelum jam dua.
Aku akan coba memberi tahunya, tapi...
dia tidak bisa dihubungi lewat telepon dan aku tak seharusnya menelepon ke kantornya.
Aku akan tinggalkan catatan di rumahnya, bilang nanti akan kuhubungi lagi.
Ya, itu paling mudah.
Punya kertas? Aku tak punya apa pun untuk menulis.
- Ini. - Terima kasih.
Kita bertemu pukul satu lewat empat puluh lima di kantin stasiun
dekat pintu keluar rue de Verdun.
- Oke. - Jangan lewat dari jam dua.
TELEPON AKU DI HOTEL RODIN, 361 6595. CHRISTIAN
Tunggu, akan kubukakan.
Masuklah. Ada apa?
Aku tak bermaksud membangunkanmu.
Hari ini aku berangkat ke Paris.
Aku tak akan kembali setidaknya satu atau dua bulan.
Sebenarnya aku ingin menulismu, tapi rasanya sulit.
Lebih baik kukatakan saja.
Aku akan kembali, tapi aku tak akan menemuimu.
Kalaupun bisa, kita berdua pun tak akan menginginkannya.
Istriku pindah ke Paris dan...
Dan?
Dia sedang mengandung,
jadi aku kembali kepadanya.
Kami saling mencintai.
Selamat.
- Maaf harus mengatakannya... - Tidak apa-apa.
Aku akan berpakaian. Tutup jendelanya kalau kau kedinginan.
Duduklah.
- Dingin. Harusnya kau menutupnya. - Nanti juga hangat.
- Kau yang membuat ini? - Bukan, keponakanku.
Kupikir mungkin kau membuatnya waktu kecil.
Punyangku sudah lama hilang.
Tak ada yang lain untuk dinding, jadi kupasang itu.
Duduklah.
Aku harus pergi. Bisa bertemu saat makan siang?
Aku ada janji ke penata rambut.
Tinggallah sebentar.
Temani aku jalan ke kantor, kalau sempat.
- Dingin di luar? - Nanti juga hangat.
Hari ini akan cerah, kecuali hujan nanti.
Kau yakin?
Soal hujan aku tak berani janji.
- Sudah sarapan? - Belum. Aku buat kopi saja.
Tidak, biar aku.
Keran ini!
Kau butuh tukang ledeng.
Pipanya harus diganti.
Aku tahu. Kau menghalangi, berdiri di situ.
Duduklah.
- Anne. - Ya?
- Boleh aku bicara? - Tidak.
Sebaiknya aku pergi.
Tidak, tinggal.
- Aku ingin satu ciuman terakhir. - Untuk apa?
Aku tak bisa meninggalkanmu begini.
Kau sudah meninggalkanku.
- Kau marah padaku? - Ya.
Tidak. Kau berhak mencintai siapa pun.
Tak wajib datang dan memberi tahu.
- Lebih baik aku menulis? - Tidak.
Pergi begitu saja tanpa kata?
Mungkin akulah yang meninggalkanmu. Aku sangat menikmati liburanku.
Dengan siapa?
Kau tak mengenalnya. Sangat tampan dan mencintaiku.
Aku senang untukmu, sungguh.
Manis sekali kau mampir secara ramah jam 7 pagi.
Aku meninggalkan catatan.
Aku selalu senang bertemu teman.
Kau gemetar.
Kedinginan?
Ya, kau membiarkan jendelanya terbuka.
Ya, salahku.
Ah, sudahlah. Hentikan itu.
Aku masih mencintaimu, tahu.
Kalau begitu, cintai dari jauh.
Itu niatku.
Aku juga bisa mencintai begitu.
Aku tak harus selalu bersama seseorang.
Ini, kalau kau mau membantu...
Aku suka tempatmu.
Tapi sayang tak ada dapurnya.
Siapa butuh dapur? Aku makan siang dekat kantor. Malam aku keluar,
atau cukup dengan camilan.
Jangan panik, Anne. Nanti juga ketemu.
Kalau tidak ketemu sekarang, tak akan pernah. Ini tak ada hubungannya dengan itu.
Coba lagi, lebih sistematis.
Sudah.
Apa tadi? 717? Sonnomateg?
Halo? Ya, tunggu sebentar.
- Telepon untukmu. - Dari siapa?
Siapa yang menelepon?
- François. - Tidak, sudahi saja.
Tutup saja, bilang aku sedang rapat.
Maaf, dia sedang rapat.
Berapa lama?
Aku ada rapat, ayo tutup saja.
Tutup.
Nah, tadi kau bilang apa?
Aku menandainya “map pink” dan ini satu-satunya map pink yang ada.
Ya, yang ini.
Setiap kali aku pulang dari liburan, selalu berantakan begini.
Dia bahkan tak menaruhnya di baki mejaku.
- François lagi. - Tutup saja, aku tak mau bicara dengannya.
Dia pasti menelepon lagi.
Ramai sekali.
Aku harus pergi setengah jam lagi.
- Aku menyerah, kau saja. - Benar, buang-buang waktu.
- Hari ini cepat sekali berlalu. - Kau kelihatan gelisah.
- Aku terlihat lelah? - Justru segar, menurutku.
Aneh ya, padahal tidurmu buruk.
Tapi bukan itu sebabnya.
- Tebak siapa yang datang menemuiku. - Kapan?
Sandwich keju Gruyère satu, ya.
Croque-monsieur dan salad untukku.
Piring campurnya enak.
Tidak, croque-monsieur.
- Kopi untuk diminum? - Ya.
Tolong kopi juga.
Sandwichnya dulu saja, croque-monsieur-nya nanti.
- Jangan bilang begitu. - Ya sudahlah...
- Dia tak akan memperhatikan. - Tetap saja, kau tak perlu mengatakannya.
Tak apa, setidaknya itu menenangkanku.
Oke, coba tebak.
Tebak siapa yang datang menemuiku jam tujuh pagi tadi.
Jam tujuh? Di tempatmu?
- Siapa? - Hantu dari masa lalu.
Christian?
Kau menunggunya?
Tidak, dia hanya mau meninggalkan catatan dan malah membangunkanku.
Dia lama di sini?
Dia pergi sore ini.
Dia kembali sebulan lagi.
Dia pindah ke Paris untuk selamanya.
Kamu pasti senang.
Lihat, kan? Kekhawatiranmu ternyata keliru.
Sebenarnya aku benar. Istrinya juga akan datang.
- Dia akan mengawasinya. - Itu yang kutakutkan.
Dia memang menginginkannya di sini.
Dia sedang hamil, jadi aku harus menerima.
Kesetiaan dan cinta suami-istri.
Aku sudah tak mencintainya lagi, kalau pun dulu pernah.
Kalau begitu tak masalah. Kamu tidak kesal?
Oh, tidak. Aku akui, tadi pagi aku hampir menangis.
Melihatnya begitu kaku, hampir puas dengan dirinya sendiri.
- Aku juga puas. Syukurlah dia pergi. - Kamu pikir dia akan bercerai?
Tidak, dia bahkan tak pernah berniat menikahiku.
Kalau mencintai, ya menikah.
Kamu selalu menggeneralisasi.
Kebanyakan orang berpikir sepertiku. Aku tak mengerti kamu.
Kamu mengeluh, tapi tak mau tinggal dengan siapa pun.
- Aku tidak lapar. Mau ini? - Tidak, terima kasih.
Mencintai tidak berarti harus tinggal bersama.
Kamu benar-benar percaya dengan apa yang kamu katakan?
Kamu hidup di dunia khayalan.
Bagaimana bisa mempertahankan pria kalau dia tidak bersamamu?
Aku tidak mengerti.
Atau lebih tepatnya, aku terlalu mengerti.
Pria-pria ini mengaku jatuh cinta setengah mati padamu,
tapi tetap tinggal dengan istri mereka, bahkan menghamili mereka.
Aku menikah karena tak ingin mengalami kekecewaan semacam itu.
Aku juga pernah menikmati "selalu tersedia", berpindah dari pria ke pria.
Tapi usia bertambah.
Bicara saja untuk dirimu sendiri. Aku belum kedaluwarsa.
Pernikahan itu awal, bukan akhir.
Awal macam apa? Lihat saja Jean-Pierre-mu!
- Lalu bagaimana dengan François? - Aku tidak menikahi François.
Yah, masing-masing dengan pilihannya.
Tapi bagaimana mungkin kamu mencintai pria yang begitu berbeda dalam waktu yang sama?
Kamu kira aku mencari tipe tertentu?
Sama sekali tidak.
Yang menarik bagiku bukan tinggi, pendek, gelap, atau terang.
Ini berada di level yang sama sekali berbeda.
Lalu apa yang dimiliki François?
Kasihan sekali, dia jelas bukan tipe idaman semua orang.
Panjang umur gosip!
- Apa aku mengganggu? - Tidak, aku baru saja mau pergi.
- Aku juga, jadi mejanya untukmu. - Aku tidak lapar.
- Kamu bisa ambil sandwic-ku. - Tidak, terima kasih. Permisi.
Siapa yang bilang aku ada di sini?
Tak ada. Aku mencoba semua kafe di sekitar sini.
Aku harus pergi, nanti terlambat ke salon.
- Aku antar. - Tidak usah.
Ada yang ingin kukatakan padamu.
Lain kali saja, dan jangan coba-coba telepon aku ke kantor.
No comments yet. Be the first to leave one.