The first 200 lines.
Kau sudah berulangkali mengutarakan perasaanmu padaku...
Maaf, karena aku lama memberi jawabannya.
Aku...
...menyukaimu, juga.
Ikutlah denganku.
Aku tak mau pergi sendirian.
Ikut denganku.
Tunggu.
Bagaimana kalau kita perjelas?
Apa?
Kita berhenti menjalin hubungan yang tak jelas dan menjadi pasangan.
Benar, kan?
Benar sekali. / 'Benar sekali?'
Orang mengira kau sedang menyajikan acara kuis.
Kenapa bicaramu formal sekali?
Ya, benar.
Tunggu.
Gadisku.
Tunggu aku, Gadisku.
Tunggu aku, Gadisku.
Hati-hati pulangnya, Bos.
Kenapa kau melihatku seperti itu?
Aku tak ingin berpisah denganmu.
Sekretaris Kim.
Seperti yang pernah kubilang, aku cerdas,
Bugar, kaya, dan handal.
Jadi...
...menikahlah denganku.
Secepatnya.
Kita baru mulai pacaran satu jam yang lalu.
Tidakkah menurutmu terburu-buru?
Siapa juga yang lebih dulu minta dinikahin.
Apa katamu?
Bukan apa-apa.
Masuklah.
Baiklah, sampai ketemu besok.
Aku datang.
Menyenangkan!
Sekarang giliranmu.
Khusus untukmu, aku akan bantu dorong.
Makasih.
Tapi, ngomong-ngomong, oppa...
...aku ingin menikah denganmu.
Me... menikah?
Ya, kau mirip pangeran.
Janji ya?
Aku akan kembali lagi lain kali, Miso.
Aku tak tahan.
Tunggu, kenapa kau kembali lagi?
Jaga-jaga kalau ada yang kangen semalaman.
Yang kumaksud adalah kau, Sekretaris KIm.
Aku kembali karena mungkin saja kau akan merindukanku semalaman.
Kau tahu, kan...
Aku bukan seseorang yang memberi kesempatan kedua, tahu 'kan?
Tapi aku ingin menawarkanmu bukan hanya kesempatan kedua atau ketiga.
Maksudnya kesempatan untuk melihatku.
Bagaimana?
Apa kau merasa tersanjung karena menjadi seseorang yang istimewa bagiku?
Ya, aku merasa tersanjung.
Mimpi indah, Sekretaris Kim.
Kau tahu maksudku berkata 'mimpi indah' kan?
Tentu saja, aku akan memimpikanmu, Bos.
Izinkan aku memelukmu sekali lagi.
Kurasa...
Aku juga akan mimpi indah malam ini.
Besok kau harus rapat dengan para petinggi.
Alangkah lebih baik kalau kau segera pulang dan tidur, Bos.
Aku suka mendengar omelanmu hari ini.
Masuklah, Sekretaris Kim.
Kau dulu pergila, Bos.
Hei, sudut mulutku. Berhenti naik keatas.
Sepertinya aku tak bisa menghentikan kalian.
Janji ya?
Aku akan kembali lagi kemari lain kali, Miso.
Sungguh?
Kau sunggu akan kembali lagi untuk menemuiku, kan?
Ya.
Aku benar-benar tak akan melupakan namamu.
Lee Sung Yeon.
Ya.
Sudah pasti dia Sung Yeon.
Apa dia tak enak badan?
Dia lakukan hal diluar kebiasaannya.
Apa? / Maksudku Young Joon.
Tadi dia terkantuk-kantuk saat rapat.
Dan sekarang tidur.
Lagi?
Tadi pagi dia telat bangun juga...
...dan hampir terlambat ikut rapat.
Si Lee YoungJoon Agung bisa juga lengah.
Ada apa dengannya?
Aku tak tahu.
Oh, ya.
Kau mau lihat sesuatu yang menyenangkan?
Sesuatu yang menyenangkan?
Bos.
Ya?
Kau lebih suka ibu atau ayahmu?
Aku tak menyangka dia bisa menyaut bahkan saat tidur.
Mungkin otak YoungJoon menyala 24jam sehari.
Kurasa seperti itu. Aku baru tahu hari ini mengenai hal ini.
Ini pertama kalinya melihatnya tampak sangat nyaman seperti ini.
Apa sesuatu terjadi...
...yang menyebabkan pergeseran kognitif akut padanya?
Ya, Sekretaris Seol? Ya, aku segera kesana.
Bisa kau siapkan materinya...
Ditutupnya. Kalau begitu, lanjutkan bekerja, Sekretaris Kim.
Terjemahan YanniDwi@AsmaFruity
Bos.
Bos!
Terakhir kali dia terbangun karena mimpi buruk.
Tapi, dia tampak sangat nyenyak sekarang.
Mau kemana? Pergi meninggalkan orang yang tidur?
Bagaimana kalau ada yang lihat, Bos?
Tak ada yang akan berani menerobos masuk kemari.
Jangan khawatirkan itu.
Bukan itu yang aku khawatirkan.
Kalau begitu, apa?
Seharusnya kau sudah bisa mengantisipasinya,
...jika kau membangunkan gairah lelap seseorang.
Lelap... apa?
Gairah.
"Gairah"? Bagaimana kau gunakan kata yang memalukan seperti itu...
...sebagai kata-kata biasa?
Siapkan dirimu.
Karena aku tak akan pelan-pelan lagi.
Ngomong-ngomong, kau tidak sedang sakit, kan?
Aku bertanya, karena kau tak pernah tidur seperti ini sebelumnya.
Beban yang berat sudah terangkat dari bahuku, kemarin.
Dan kurasa aku tak akan bermimpi buruk lagi, juga.
Apa?
Hubungi Dr. Choi.
Dan katakan padanya, dia tak perlu lagi memberiku obat penenang.
Apa kau sungguh sudah baikan sekarang?
Aku tidak sakit...
...lagi.
'Lagi'.
Kenapa kau menatapku seperti itu?
Ada yang ingin kutanyakan.
Apa bocah laki-laki yang kucari...
...sungguh Tn. Penulis?
Kenapa kau bertanya hal yang jawabannya sudah pasti?
Ini mungkin terdengar aneh,
Tapi dalam ingatanku selalu mengira kau adalah bocah itu.
Kau seperti...
...seseorang yang mengalami trauma.
Kau juga punya bekas luka di pergelangan kaki.
Akan bagus kalau pria yang kau suka adalah bocah pria yang kau cari.
Tapi aku bukan bocah itu.
Mimpi buruk dan bekas lukaku...
...tak berhubungan dengan kasus itu.
Dan mau aku bocah itu atau bukan, apa itu penting?
Apa itu merubah perasaanmu padaku?
Tidak, tidak benar.
Terlepas dari itu,
Kau yang kusuka.
Baiklah kalau begitu.
Tidurlah lagi.
Ya, aku akan disana sekitar pukul 07:00.
Aku akan kirim pesan sandi masuknya.
Bisa buka pintu dan taruh barangnya di dalam kalau kau sampai duluan disana?
Terima kasih, dah.
Hari ini aku pindahan.
Tapi, ini hari kerja.
Biaya pindahan lebih murah saat hari kerja.
Aku baru saja bekerja.
Jadi orang tuaku yang membayar deposit dan jasa pengangkut barang juga.
Aku perlu mengurangi anggaran sedikit mungkin.
Pasti sulit hidup terbisah dengan orang tuamu.
Tetap saja, aku akan menjadi wanita karir sepertimu.
Aku akan punya rumah dekat dan fokus bekerja.
Bukankah ini waktumu ikut rapat dengan tim bisnis?
Apa?
Astaga.
Lain kali, aku akan lebih fokus.
Sampai nanti. / Dah.
Nomor yang anda hubungi tak menjawab saat ini.
Apa kau sudah menunggu lama?
Tak apa.
Konser bukumu banyak mengundang respon positif.
Agensi kami bahkan kewalahan menanggapinya.
Banyak yang memintamu untuk wawancara dan tampil di TV.
Kau akan terima, kan?
Tidak.
Alangkah lebih baik kalau kau terima.
Kau juga pembicara yang handal.
Aku sangat menikmati konser bukumu, lho.
Terutama, saat kau mengutarakan perasaanmu pada orang yang kau suka.
Dia disana juga, kan?
Dia pasti sangat terharu.
Sekretaris Seol. / Ya?
Tn. Choi sedang latihan militer cadangan.
Jadi, apa kau bisa mengantarku hari ini?
Aku perlu mempelajari materi selagi diperjalanan.
Baiklah, biar aku saja.
Aku akan menemanimu tanpa lakukan kesalahan.
Kau tak akan menemaniku menuju gerbang kematian, kan?
Tentu saja tidak.
Apa kau memanggilku?
Kita bisa makan siang bersama, kan?
No comments yet. Be the first to leave one.