The first 200 lines.
English Subtitles by explosiveskull Diterjemahkan oleh aurorabore98
Jika kau tumbuh di tempat terbaik dari manapun...
Itu pasti di Little Italy kami.
Kami punya masa kecil yang sempurna.
Ya, mungkin beberapa bilang kita tak begitu sempurna..
Dia, contohnya.
Yeah, tentu saja Dia.
Bersiap, mulai!
Ya Tuhan, kita sungguh anak yang usil, bukan?
Kasihan Tn. Ganucci.
- Woo! Ha-ha! - Ayolah, Leo!
- Dia akan menangkap kita! - Sampai nanti, Tn Ganucci!
Aku akan memberikanmu pada para ulat!
Bagi kami, Little Italy bukan hanya kota dengan beberapa blok.
Hai, Tn. Patelli.
- Hey, anak-anak. - Hey, Mario.
Itu adalah seluruh dunia kami. Kami tau semua orang.
Dan semua orang tau kami.
Nikki, bahkan dulu, kau punya sebuah reputasi.
- Apa? - Jadi sangat kompetitif!
- Apa kau bilang? - Kau selalu mau menang.
- Ayo tunjukkan kemampuanmu. - Aku memang mengalahkamu.
- Saat aku membiarkanmu. - Kau serius?
- Lihat? Aku menang. - Menang apa? Sebuah gegaran?
Nikki! Kau tak apa?
Aku senang bisa mengalahkanmu, stupido.
Aku tau kau senang, stupida.
Ayolah.
- Mau balapan denganku lagi? - Ha!
- Hey! - Hey! Hey!
Menjadi orang Italia berkaitan dengan tiga hal,
- tradisi... - hasrat...
- Dan harga diri. - Kita dibesarkan oleh semua hal itu.
Leo, maukah kau berdansa denganku?
Tidak akan pernah.
Setelah pesta makan seminggu dan perayaan, besok,
untuk pertama kalinya,
kami akan umumkan juara Pizza Terbaik Little Italy!
- Benar sekali! - Oleh dua juri selebriti..
Kami berdua!
Jadi, venite tutti. Berkumpullah, semua!
Bergabunglah!
Dan ini dia,
Kebanggaan dan kesenangan Little Italy..
- Pizza Napoli. - Pelan-pelan!
Dimana keluarga kami membuat pizza terbaik
- sedunia. - Awas!
Selalu penuh dengan cinta dan kekacauan.
Tapi kekacauan yang lezat.
Aku dapat satu ukuran besar pepperoni, dua potong ukuran sedang..
Ayah kami adalah sahabat baik.
Kadang-kadang.
Apa kabar, Ma?
Lihat si pria tampan di sana, yang mencicipi saus?
Itu Ayahku, Salvatore Angioli,
Sang ahli marinara.
Dan pria yang memutar itu? Ayahku, Vincenzo Campoli,
- Si jubah adonan. - Sungguh? "Si jubah"?
- Itu terdengar klise. - Tidak, tidak. Itu puitis.
Hey, Vince! Bagaimana lapisan kulitnya bisa jadi sangat tipis dan garing?
Ya, Mikey, itu resep rahasia keluarga.
Dan rahasianya adalah,
dua sendok teh nunya!
"Nunya"? Apa itu nunya?
Itu bukan urusanmu, Mikey!
Hey, Mikey, bagaimana kalau saus spesial buatan Ibuku?
- Huh? - Mama Angi, apa rahasiamu?
Setiap kali aku membuat sausnya,
kubilang tiga Hail Mary.
- Aku suka wanita itu. - Ha-ha! Lihat? Dari Tuhan di atas
dimana saus itu berasal. Mangiare, semua! Mangiare!
Berhenti! Kau punya pelanggan yang lapar dan pizza yang harus dibuat!
- Biarkan mereka menunggu sebentar. - Yeah, simpan itu untuk nanti.
- Oke? - Jangan di depan anak-anak.
Bagaimana kau pikir mereka bisa di sini?
Ya, aku tau itu, tapi mereka tak tau itu.
Orangtuaku.
Setiap hari, mereka berdansa Al di là.
Dan mereka berdansa.
Sudah cukup.
Apa kau bermain di kandang babi?
- Aku menang. - Kubiarkan dia.
- Tidak. - Iya benar.
- Cepat bersih-bersih. - Putriku pencetak kemenangan!
Yeah, dan Ayahnya tak berhenti menyombongkan hal itu.
Ah, diamlah.
- Tidak, kau diamlah. - Hey, Leo. Leo.
Lihatlah Nonna membuat adonannya. Leo!
- Aku dapat telfon dari Tn. Ganucci. - Itu tadi Nikki.
- Kenapa dia bilang begitu? - Leo, cuci tanganmu.
Oke, Nonno.
Jangan kurangi kejunya. Jangan kurangi!
Lakukanlah.
Dengan perlahan-lahan.
Intinya kau harus memperlakukannya
seperti seorang wanita cantik.
Kakekku, Nonno-ku, dia mengesankan.
Suatu saat, kau akan berterima kasih karena itu.
Sayang sekali dia tidak meneruskannya.
Nicoletta, hancurkan setiap tomat dengan cinta
seperti itu yang terakhir..
Tidak! Terlalu... Terlalu keras. Terlalu keras.
Kau tak bisa memaksakan cinta.
Jangan pernah hancurkan hati seorang pria.
Jika dia tak memberikannya cuma-cuma, kau tidak menginginkannya.
Nonna tau.
Apa maksud dari "al di là"?
Terlebih dari segalanya..
ada dirimu.
Ya Tuhan, aku sangat tersentuh karenamu!
Apa yang salah denganku?
Aku bisa bilang apa? Aku tak bisa ditolak.
- Aku menang! - Aku menang.
- Tak bisa dipercaya. Ayolah. - Terima kasih.
Ayolah, kawan. Aku akan traktir bir di Luigi.
Tidak. Tidak, Sal. Besok. Kontesnya besok.
Apa yang kau khawatirkan? Sausku, kulit buatanmu,
- kita tak terkalahkan! - Suami-suami kita, ya?
- Seperti pasangan tua. - Yang mana memakai celana?
- Kita yang pakai. - Aku dengar itu.
Aku akan ke gereja dan menyalakan lilin untuk mereka.
Terima kasih, Ma.
- Lilin kemenangan. - Boleh aku ikut, signora?
- Si. - Grazie.
Hidup dulu sempurna.
Dan keluarga kami tak dapat dipisahkan.
Maksudku, bagaimana bisa ikatan sekuat ini dapat dirusak?
Aku tak mengerti!
Tapi.. itu dulu.
Dan inilah sekarang.
Aku pergi.
- Yeah, lebih mirip kabur. - Darimu.
- Hey, tunggu sebentar! - Kita akan selesaikan itu nanti.
Sebenarnya, aku pergi untuk belajar cara memasak...
seperti, memasak bintang empat Michelin, dari Chef Corrine.
Mirip Gordon Ramsay, tapi lebih cantik.
Hal yang lebih tajam dibanding pisau adalah cita rasa.
Hal yang kurang dari kesempurnaan adalah apa?
- Kegagalan, Chef. - Dan lebih menakutkan.
Lemah,
seperti suamiku yang terakhir.
Minyak itu sebuah hiasan.
Kau pakai itu berlebihan, pasukan militer akan menyerbu piringnya.
- Kau itu apa? - Sandwich bodoh.
- Tidak. Aku tak mendengarmu. - Sandwich bodoh!
Menyedihkan.
Nicole. Gareth.
Rapihkan barangmu dan temui aku di kantorku.
Dan kalian semua,
kelas dibubarkan. Aku harap semua
- jadi bersih di pagi hari. - Ya, Chef.
Ini akan cepat. Aku akan langsung keintinya.
Kurasa kalian berdua selesai sampai di sini.
- Tidak, aku bisa lebih baik, Chef. Kumohon. - Tidak, Chef!
Oh, berhenti memohon, kalian orang bodoh!
Aku membuka tempat baru di Mayfair.
Semacam keakraban kaum milenial.
Trendi, cepat dan sangat mahal.
Itu pelengkap yang sempurna untuk brandmu, Chef.
Cepat, kasual. Itu cerdas, chef.
Cukup basa-basinya!
Aku tau kalian sangat ingin berkerja di sana, jadi..
Aku berencana merekrut..
salah satu dari kalian.
Masing-masing kalian punya dua minggu
dan memberikan sebuah menu yang benar-benar baru.
Buatku takjub,
lalu kau dan juga menu itu akan berada di Mayfair.
Jangan hanya berdiri di sana mematung.
Kau takkan kecewa, Chef.
- Terima kasih. - Oh, Nicole.
Jika kau mau pekerjaan itu, kau harus punya
visamu yang diubah dari pelajar
- ke bekerja sekaligus. - Ya, Chef.
Dan artinya kau harus kembali ke Canada.
- Aku harus pulang? - Oh, Aku tau. Aku memahamimu,
tapi itu hanya akan seminggu atau dua minggu.
Oh, jangan lupa bungkus mukluk-mu,
atau semacamnya.
Mungkin tempat terakhir yang ingin kukunjungi lagi
adalah Little Italy.
Little Italy kami.
- Hey, Carlo. - Hey! Ciao, ciao!
Baiklah. Kau siap?
Ke gawang! Itu dia.
Baiklah, semua. Aku harus istirahat. Sampai jumpa minggu depan.
Dimana tak ada yang berubah.
- Hey, Bruno. Apa kabar, kawan? - Hey, Leo! Kemarilah.
- Terlihat bagus tahun ini. - Dan juga, semua berbeda.
Kau lihat, ayah kami, mereka bertengkar.
Bertengkar? Lebih seperti berperang.
- Yeah, sebuah perang pizza. - Ayahku memindahkan tokonya...
...jauh-jauh ke sebelah rumah.
Sejak saat itu, keluarga kami tak pernah berbicara lagi.
Secara teknis. Mereka masih mengumpat satu sama lain
- sesekali dengan gerakan tangan. - Hey, Leo.
Hey kau. Kau tau, kami bisa mengantar.
Kuyakin dia begitu.
Disgrazia!
Lagi?
No comments yet. Be the first to leave one.