The first 200 lines.
EPISODE INI MENGANDUNG PENGGAMBARAN KEKERASAN DI SEKOLAH
YANG MUNGKIN AKAN MENGGANGGU
Akankah orang jadi takut ketika kehilangan kepercayaan?
Atau akankah mereka kehilangan kepercayaan ketika takut?
Apa pun alasannya, aku ingin melihat perubahan itu.
Apa menurutmu rencana itu akan berhasil di Korea?
Korea bukan lagi sekumpulan desa terpencil.
Kini levelnya berbeda.
Level?
Kau tahu keadaan Korea sekarang?
Kau bisa mendapatkan narkoba di mana pun dan kapan pun jika mau.
Dahulu, Korea bebas narkoba.
Setengah dari populasi tahu cara menggunakan senapan.
Ini akan jadi negara paling mudah.
Paling mudah?
Tentu saja.
Korea sedang berperang mental.
Masyarakatnya penuh dengan konflik,
dan seseorang hanya perlu menarik pelatuk.
Tunggu di sini.
Bos, kau memanggilku?
Ya, duduklah di sana.
Baik.
Jeong-man.
Bajingan kau, Jeong-man.
- Kau berurusan dengan senapan? - Tidak.
Kau yakin?
Apa yang kau bicarakan? Kenapa tiba-tiba menanyakan senapan?
Kau pun kaget, 'kan?
Aku juga.
Polisi tiba-tiba datang dan tanya keterlibatanku dengan senapan.
Sialan. Aku tak habis pikir.
Polisi katamu?
Dia pasti sudah gila.
Pikirku pun begitu, tetapi dia menunjukkan ini.
Ini… Ini siapa?
Mana kutahu?
Waktu itu kau bertanya, adakah anak buahmu yang kukenal.
Tak ada satu pun yang kukenal, jadi kutanyakan padamu.
Dia bukan anak buahku.
Jujurlah, kalau tak mau menyesal.
Untuk apa aku berbohong padamu, Bos?
Yakin bukan anak buahmu?
Ya.
Oke!
Sialan. Aku ketakutan tanpa alasan.
Dia itu bukan polisi biasa.
Baiklah. Kau boleh pergi.
Kita sudah diincar.
Temukan senjatanya secepat mungkin.
Bos, apa kata bajingan itu?
- Katanya bukan anak buahnya. - Dia bilang begitu?
Bajingan. Beraninya dia berbohong.
- Hei! Aduh… - Astaga.
Lantainya licin sekali.
Dia sedang makan. Aku jadi kasihan.
Hei, cabul.
Sebentar lagi hidupmu hancur.
Tunggu saja.
Astaga, anak culun ini.
Hei!
Berhenti kalian!
Apa-apaan ini?
Begini, Pak.
Lantainya licin.
Kalian mestinya hati-hati. Kenapa bisa begini?
Kau baik-baik saja?
Ini kelihatan baik-baik saja?
Kenapa ketus begitu? Aku hanya khawatir…
Bocah berandal…
Hei, kau!
Lihat anak itu.
Hei, Park Gyu-jin!
Apa yang kau lakukan? Kemari kau!
- Kim Bae, tunggu aku! - Rotinya bisa habis. Minggir!
Makin kita cari, alamat baru terus bermunculan.
Lee Do, lihat ini.
Angka di daftar ini sama.
Senapannya masih ada sebanyak ini.
- Berapa daftar yang sudah kita amankan? - Lebih dari 20.
Wah…
Setidaknya sudah ada ratusan yang beredar di Korea Selatan.
KAU SUDAH MENCARI DAFTAR ALAMAT WAKTU ITU?
TENTU SAJA.
KALAU KETEMU, KABARI AKU.
OKE! JIKA BUTUH BANTUAN, HUBUNGI. AKU BOSAN.
Polisi itu sudah beberapa hari ini menyelidikimu diam-diam.
- Haruskah kami habisi dia? - Biarkan saja.
- Ada yang harus kupastikan. - Baik.
Ini sudah saatnya berangkat.
Baiklah.
Ayo kita pergi bertemu teman-teman.
Semuanya sudah siap.
Kudengar kau memaki Seong-jun langsung di depan mukanya.
Kau juga melemparinya kursi.
Memangnya kenapa?
Kau tidak takut?
Dia pasti akan makin kejam.
Kau selalu diam, makanya dirundung.
Kau sangat hebat.
Tinjuanmu juga kuat.
Oh, itu…
- Maaf, aku… - Tidak apa-apa.
Aku yang paling memahamimu.
Terima kasih.
Jadi maksudku,
kalau kau merasa frustrasi dan kesal, pukul atau maki saja mereka.
Bertindaklah. Jangan diam saja.
Apa menurutmu aku bisa?
Dasar bajingan!
Oi, Bajingan!
Sialan!
- Ada apa? - Seru sekali.
- Ambil foto yang bagus. - Dia jago.
Minggir! Sial!
Sialan!
Ambil fotonya.
Kemari kau!
Dasar bajingan!
Berengsek kalian!
KAFE MENEMBAK BB STADIUM
- Itu benar? - Wah, keren sekali!
Astaga.
PERATURAN KESELAMATAN LAPANGAN TEMBAK
Ada senapan!
Menghindar!
Itu senapan angin?
- Oh, senapan angin. - Kukira senapan asli.
Siapa dia?
Siapa bajingan itu?
Berani-beraninya kalian, preman kampung pembuat onar!
Sialan. Siapa kau?
Aku?
Moon Baek.
Sakit!
Hebat.
Kak, tunggu sebentar.
Begini…
Bisakah ajarkan aku cara menembak?
Tahan napas.
Saat tubuh tidak gemetar,
tembak dengan lembut.
Tembak.
Kak.
Ada rasa percaya diri yang berbeda.
Ambillah.
Mau coba menembak?
Aku juga?
Ya.
Aku pulang.
- Sudah pulang? - Ya. Aku mau istirahat.
Nak.
Makanlah buah.
Taruh saja di sana.
Apakah kau sakit?
Coba Ibu lihat wajahmu.
Ibu, aku sudah besar. Aku tak nyaman.
Benar. Tak terasa kau sudah besar. Padahal tak banyak yang Ibu lakukan.
Memang apa kurangnya Ibu?
Ibu selalu melakukan yang terbaik.
Kau mengakui itu?
Ibu…
Ya?
Kapan seseorang merasa paling sedih?
Bagi Ibu,
saat kau jatuh sakit.
Saat kau kesulitan.
Perasaan semua orang tua sama.
Anakku adalah yang paling berharga.
Jeong-man mulai mengumpulkan senapan dari daftar.
Barang Pak Kim?
Semua masih di gudang. Tak ada yang mengaksesnya.
Mereka membuatku frustrasi.
Bukan ini juga.
MASUKKAN POLA
Bukan ini juga.
Sial!
Sudah bawa ponselnya, mestinya cari tahu sandinya!
Maaf, Pak.
Bisanya cuma minta maaf.
Kalian tak becus.
NOMOR TAK DIKENAL
Halo.
Hello.
"Hello"? Apa-apaan orang ini?
Sok bicara bahasa Inggris.
Ada apa, Pak?
Apakah kau orang asing?
Bisa bahasa Inggris?
Bahasa Inggris. Sedikit.
Ya, aku sedang ke sana.
Kardus? Kardus apa?
Stiker merah? Cari kardus dengan stiker merah.
Semua kardus di sini ditempelkan stiker.
Wah…
Ada banyak sekali stiker merah.
Pak Kim sialan itu.
Apa yang dia sembunyikan?
Apa-apaan ini?
Kenapa ada ini?
No comments yet. Be the first to leave one.