The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
EPISODE 1
Kau tidak memahamiku.
Mana mungkin aku tak memahamimu?
Tak perlu kujelaskan kalau kau paham.
Katakan agar aku paham.
Seharusnya kau paham tanpa kukatakan.
Jika kau tak memberitahuku, bagaimana aku bisa paham?
Lautan sangat misterius dan tak bisa diprediksi.
Ibuku bahkan lebih misterius.
Ayahku bahkan lebih tak bisa diprediksi.
Ada apa?
Aku tidak mau melihatmu lagi. Pergi!
Demi semua bintang di langit,
aku akan selalu mencintaimu.
Tak seorang pun tahu apa yang terjadi
ketika bintang itu tenggelam di pelabuhan.
Lalu, sepuluh bulan kemudian,
aku lahir.
Kemudian aku mendapati
bahwa ada seorang anak lain di keluargaku.
Itu kali pertamaku bertemu dengannya.
Jangan sentuh adikmu. Kau akan menyakitinya.
Dia adikku?
Ya.
Dia jelek sekali.
Siapa yang ingin menyentuhnya?
Tak bisakah Ibu melahirkan bayi yang lebih cantik?
Ini. Beri minum adikmu.
Halo?
Baik.
Dia sudah menghabiskan susunya?
Miao minum banyak sekali hari ini.
Dia sudah besar.
Saat aku masih bayi,
dia menghabiskan semua makananku.
- Ayah, aku ingin ikut kelas menari. - Baik.
Ayah.
Ayah. Aku ingin belajar bela diri.
Dia mencuri hobiku.
Serta estrogenku.
- Ayah salah mendaftarkan kelas. - Diam.
Suatu hari, sepuluh tahun yang lalu,
tinggal ayah kami yang kami miliki.
Teman setia kami...
adalah kelaparan...
Dan kemiskinan.
Kami lapar karena kami miskin.
Atau mungkin kami miskin karena kami lapar.
Kakakku akan berkata seperti itu.
Miao.
Ayo.
- Uang kita tidak cukup. - Baik.
Fen,
bagaimana jika kita membeli satu
- dan berbagi? - Tidak.
Kau saja yang makan.
Lalu...
bagaimana denganmu?
Aku...
Aku akan makan sepotong.
Sulit kupercaya,
akhirnya dia tahu cara mengurus adiknya.
Ini.
Terima kasih.
Kau sudah bosan hidup?
Aku berpikir untuk mengubah nasibku.
Namun, gadis kecil ini
terlalu lemah, terlalu pemaaf,
dan terlalu baik.
Singkatnya,
aku menghabiskan masa kecilku dirundung, disiksa,
dan dibayangi oleh kakakku.
Ini es krim yang kuminta kau belikan?
Walaupun sakit hati,
aku memendam perasaanku.
Hentikan!
Aku akan kerjakan semua PR-mu.
Aku akan memaafkanmu jika kau mengerjakan PR-ku.
Begini caraku.
Kau bercanda?
Aku hanya bisa mengekspresikan diriku dalam QQ Space
dengan gambar dan jurnal.
Karena itu kini kalian tahu semua.
Kabar baiknya,
dalam empat bulan dan lima hari,
aku masuk SMA yang berafiliasi dengan Akademi Seni.
Lalu,
aku bisa meninggalkan si bodoh itu selamanya.
Apa yang kau tertawakan?
- Apa ada sesuatu di wajahku? - Tidak ada.
Kau baik-baik saja.
Halo, aku lihat Shi Miao hanya mendaftar
ke SMA yang berafiliasi dengan Akademi Seni.
Apa dia mau mendaftar ke sekolah kedua atau ketiga?
Soal itu...
Daftarkan saja untuknya.
Begini,
kita harus menghargai keinginan si anak.
Daftarkan saja
ke sekolah kakaknya, SMA Normal.
Baik, terima kasih.
SURAT PENERIMAAN
SHI MIAO YANG TERHORMAT, ANDA DITERIMA DI SMA NORMAL.
Peniru.
Dia pergi ke mana pun aku pergi.
Bahkan ke sekolah yang sama.
Kalian tak ingin satu sekolah?
Tentu tidak.
Aku dirundung, disiksa, dibayanginya selama masa kecilku.
Akhirnya ada kesempatan bebas.
Pernahkah kau berpikir untuk mengubah nasibmu?
Kau masih terlalu kecil.
Kau pikir itu bisa berhasil?
Daxiong, biar kuberi tahu,
jangan memamerkan bakatmu.
Atau orang tuamu akan memberimu adik perempuan.
Ibu!
Apa itu?
Buku pelajaran.
Aku memberimu buku pelajaran kelas satu.
Aku ingin kau giat belajar. Jangan mengecewakanku.
Ada beberapa lagi.
Tidak. Aku tidak mau buku-buku lamamu.
Buku lama?
Itu buku baru. Aku tidak pernah membacanya.
Aku ingin buku baru.
- Tak ada uang. - Ke mana uangmu?
Untuk memperbaiki mobil.
Ayah menabrak mobil lagi.
- Asuransi juga bulan ini. - Ayah menabrak seseorang lagi?
Di mana Ayah?
Ayah tampak baik.
Dia bilang itu saat mabuk.
Ke atas!
Ayo ke atas!
Serang menara!
Bantu!
- Keluar! - Bagaimana aku bisa membaca ini?
Baik. Ayo!
Ke atas!
Bantu!
Shi Fen!
Bukankah kau bilang kau tak membaca buku ini?
Apa? Kau salah.
Salah?
Besok aku mulai sekolah. Bagaimana aku bisa menggunakan ini?
Terserah. Tak ada yang akan melihat.
Mereka akan melihatku.
Teman-teman sekelasku akan melihatnya. Aku akan sangat malu.
"Mereka mengejekku karena gila. Mereka kuejek karena tak lihat."
Jangan hiraukan.
Ke atas!
Menang!
Ya!
Tanganku sakit.
Hei, apa kau menangis?
Kau menginginkan buku?
Akan kubelikan untukmu.
Berhentilah membohongiku.
Aku tidak mau sekolah.
Untuk apa aku berbohong?
Kau ingin buku? Akan kusiapkan.
Besok, sebelum kelas dimulai, aku akan mengantarnya.
Fen?
Fen?
Kau masih di sana? Kau masih bermain?
Ya. Ayo mulai.
Ayo main.
1 SEPTEMBER 2016, HARI PERTAMA SEKOLAH
Kau hampir mati. Apa kau tahu itu?
Kau kelaparan sepekan untuk membeli benda bodoh itu. Kau puas?
Bintang mana yang memakai itu?
Bukan urusanmu. Kau tidak akan paham.
Jangan berada pada jarak satu meter dari penjepit rambut ini. Paham?
Kenapa kau duduk lagi?
- Mana sarapan? - Aku tak bisa membuatnya.
Ada apa?
Lihat.
Jangan biarkan di sini. Bagaimana jika dia mati kedinginan?
Aku tidak peduli. Aku kurang mengenalnya.
Fen, bantu aku.
Ayah, bangunlah.
Kau tahu sekarang pukul berapa?
Apa kau sengaja melakukan ini?
- Ya. - Ya?
Sampai sana sebelum kelas pertama dimulai.
Jika hari pertama tak telat, bagaimana bisa menunjukkan otoritasmu?
Kuperingatkan,
ini hari pertamaku bersekolah.
Jangan menimbulkan masalah!
Permisi.
- Biarkan aku masuk bus! - Minggir!
Cepat!
Jangan dorong aku!
Kau mendesakku!
Berhenti!
Cepat! Kita terlambat!
Dia masuk kelas mana?
Entahlah. Lihat rambutnya.
No comments yet. Be the first to leave one.