The first 200 lines.
Bagaimana ini?
Aku dicium!
Apa-apaan kau...
Hei!
Jangan berlari di lorong!
Ashiya?
Kenapa malah begini?
Bukannya aku tidak suka,
tapi aku sangat terkejut.
Padahal aku sangat menyukai Sano,
tapi kenapa air mataku tidak kunjung berhenti?
Dan setelah itu...
.
Setelah itu...
Kok bisa?
Izumi, wajahmu itu...
Tidak tahu.
Setelah bangun, wajahmu sudah begini.
Meski begitu, kau tetap masuk sekolah juga, ya.
Harusnya kau pakai penutup mata atau isitirahat di rumah.
Kalau segini, bukan masalah besar.
Meski kau bilang begitu...
Kenapa kau bisa memar begitu?
Aku tidak ingat.
A-anu...
Kau bisa pakai ini untuk mendinginkan memarmu.
Makasih.
Maaf, ya.
Ti-tidak masalah.
Kau bisa kembalikan nanti saja.
Kau menabrak sesuatu di suatu tempat, lalu pingsan, ya?
Kau lupa karena menabrak?
Itu seperti komedi.
Maaf, aku yang melakukan itu.
Akhirnya jam makan siang!
Ashiya.
Semalam, kau menyelimutiku dengan futon, ya?
I-iya.
Saat pulang, kau sudah tertidur di lantai.
Ka-karena kau tidak bangun-bangun
aku menyelimutimu dengan futon.
Begitu, ya.
Maaf, ya.
Makasih, ya.
Ah, gawat!
Roti melonnya nanti habis!
Sampai nanti.
Pasti Sano berpikir aku sangat aneh tadi.
Tidak boleh begini! Bertindaklah yang wajar saja.
Aku harus bersikap biasa saja.
Tapi, apa dia benar-benar tidak ingat?
Apakah kau dibuat menangis lagi oleh seseorang?
Kak Nanba!
Halo.
Aku tidak dibuat menangis!
Bohong.
Padahal kau berlari dengan wajah seperti itu kemarin.
Hanya saja,
aku sedang kewalahan karena aku tak bisa mengikuti
perkembangan yang sedikit di luar dugaan!
Oh, begitu.
Kalau begitu,
mau aku hibur?
Mau aku buat kau merasa sangat senang sampai kau lupa
semua hal yang menyebalkan dan merepotkan?
Aku ini pria, tahu!
Aku cuma bohong.
Aku cuma menggodamu.
Aku bercanda tadi.
Jadi, mulai sekarang aku akan serius...
Sake?
Ini semacam keselakaan.
Ada satu yang tidak sengaja terambil
dan penutupnya sudah terbuka.
Berarti ada seseorang yang meminumnya?
Barangkali diminumnya tidak seberapa.
Yah, bagaimanapun aku juga punya tanggung jawab,
jadi aku mau memastikan...
Jadi, yang itu...
Ada apa Ashiya?
Apakah kau tahu sesuatu tentang itu?
Ti-tidak! Sama sekali tidak!
Begitu, ya.
Sebagai permintaan maaf menahanmu di sini, ambillah ini.
Dimakan, ya.
Kau tidak perlu sungkan.
Selamat makan.
Meski dia keponakanku, tapi dia benar-benar nakal.
Berhati-hatilah Ashiya.
Dia sedikit obsesif, lho.
Tidak mungkin!
Di antara teman-teman ayahku
juga ada, si 'monster ciuman'
yang kalau mabuk bakal mencium siapa saja tanpa peduli orangnya.
Apa itu artinya Sano juga tipe yang seperti itu?
.
Apa ini?
Paku payung?
Ada apa Mizuki?
Apa ini?
.
Me-ho-ru-nu?
(*kanjinya malah dibaca sebagai katakana oleh Mizuki).
Apa maksudnya?
Dasar bodoh!
Artinya, "kubunh kau!".
.
No-ta-hi-ne...
Artinya, "mati".
Apa maksudnya semua ini?
.
Jangan pedulikan ini.
Ini cuma iseng.
Ya.
Kau ini, iya-iya saja. Ini pasti ada maksud tersembunyi!
Ayo kita pulang bareng.
Tidak apa.
Aku baik-baik saja.
Aku akan pulang sendiri.
Kalian berdua ada klub, 'kan?
Tapi...
Kalau begitu, aku pulang, ya.
I-iya.
Hati-hati pulangnya!
Benar.
Saat ini, aku adalah anak laki-laki,
jadi, hal seperti ini tak masalah buatku.
Hei, Izumi,
kau judes sekali kepada Mizuki.
Lembut sedikitlah kepadanya.
Hei, kalian berdua yang di sana.
Kalian temannya Ashiya, 'kan?
Di mana Ashiya?
Apa maumu?
Mau mengajaknya masuk klub tenis?
- Kalian tidak tahu tentangnya? - Enyah kau!
Ayo Nakatsu.
Mungkinkah dia...
Marah besar?
Apakah aku dibenci oleh seseorang?
Apa aku sudah melakukan sesuatu yang membuat orang lain dendam padaku?
Jangan pedulikan itu.
Ya, jangan pedulikan itu.
Benar!
Bukan waktunya terpengaruh dengan hal seperti ini!
Habisnya, aku jauh lebih mengkhawatirkan Sano-kun daripada
Kenapa denganku?
Se-selamat pulang!
Laparnya.
Hei...
Ya?
Apakah cederamu masih sakit?
Kalau ditekan memang masih terasa agak nyeri,
tapi ini bukan masalah besar.
Begitu, ya.
Syukurlah.
Tapi, aku masih sedikit malu kalau bertatapan dengannya.
Tapi, aku tidak boleh terus-terusan malu begini!
Sa-Sano!
Kalau sudah selesai ganti baju, pergi ke kantin sama-sama, ya!
Aku juga lapar!
Ya.
Benar! Karena ciuman pertamaku adalah Sano!
Aku harus berpikir bahwa aku sangat beruntung!
Aku baru ingat!
Oi! Ada apa?
Aku lupa karena saking syoknya...
Tidak apa, hanya saja rasanya seperti mau mati karena lapar.
Itu adalah ciuman pertamaku, ya...
A-aku buka, ya.
.
Tu, wa...
Mizuki, apakah ada sesuatu?
Sepertinya hari ini tidak ada apa-apa.
Syukurlah.
Apa-apaan ini?
Sepatunya basah kuyup.
Dasar bodoh! Dilhat pun sudah tahu!
Sialan! Orang itu cari gara-gara!
Kalau ada yang ingin dikatakan, harusnya langsung sampaikan saja!
Orang itu begini karena dia tidak bisa mengatakannya, 'kan!
Jangan bercanda!
Aku tidak apa.
Aku baik-baik saja.
Aku tidak akan kalah dengan hal semacam ini.
Karena
tinggal dijemur saja, nanti sepatunya akan kering!
Aku tidak akan patah semangat karena hal begini!
Habisnya, cuma semangat yang jadi kelebihanku!
Mizuki...
Nah, ayo ke kelas!
Aku sudah putuskan!
Sampai Sano mampu merobohkan dinding itu,
aku ingin menjadi orang yang bisa tetap tenang dan tegar.
Jadi, hal seperti ini tidak akan membuatku goyah!
- Ayo cepat pergi! - Aku akan jatuh...
Jangan berlari!
Sano,
, mencetak rekor baru dalam lompat tinggi).
apa ada masalah yang menimpanya?
No comments yet. Be the first to leave one.