The first 90 lines.
Alasanku ikut permainan ini?
Karena hidup dan matiku
sudah tidak penting lagi.
Riko.
Apa pendapatmu
tentang dirimu sendiri?
Apa saja hal di dunia ini
yang menurutmu bagian dari dirimu?
Bunga lili lembah, katanya beracun.
Saat bibit yang kutanam berbunga
dan racunnya membuat orang lain mati,
maka akulah pembunuhnya.
Begitulah penilaianku.
Diberi kehidupan, diberi bimbingan,
dan diberi tujuan olehku.
Kalau ada orang seperti itu.
Segala perbuatannya
adalah hasil perbuatanku, kan?
Dia sama saja bagian dari diriku, kan?
Riko.
Dirimu yang hampa itu
akan kuberi sebuah tugas.
Mishiro.
Aku membawanya.
Kerja bagus.
Kamu punya kartunya, kan?
Iya! Untuk kita berdua.
Keluarlah duluan.
Bukan dia orangnya.
Akan kupastikan dulu.
Hai, kamu sehat-sehat saja, ya.
Apa kali ini, giliran kamu yang menolongku?
Memalukan!
Seharusnya,
akhir kisah kami berlangsung lebih dramatis.
Aku yang merangkak naik dari neraka.
Melawan dirinya
yang makin bagaikan dewa.
Bertarung habis-habisan
sepenuh jiwa dan raga.
Dan akhirnya, aku yang menang.
Begitulah seharusnya.
40!
Ini permainanku yang ke-40.
Perjalananku dihujani rintangan.
Bahkan sampai tubuh ini
perlahan hancur.
Tapi aku tetap melaju
demi tanding ulang dengan gadis itu.
Tapi nyatanya apa!
Sembunyi segala.
Jangan bercanda!
Pikirkan perasaanku!
Kenapa kamu menyedihkan begini?
Kenapa malah mirip aku yang dulu!
Setelah kalah darimu,
aku memulai dari kondisi minus,
dan menyangkal diriku yang dulu.
Pengorbananku sampai titik ini...
Lihat.
Lihatlah!
Aku...
Aku...
...tidak berjuang mati-matian
demi bertemu gadis seperti ini.
Yah.
Kurasa,
begini juga boleh.
Kalau main berkali-kali,
mungkin saja aku mati.
Tapi biar saja.
Paling aku cuma akan jadi hantu betulan.
Itulah
pendapatku dulu.
Sekarang...
Sekarang...
Sekarang...
Mati kapan pun boleh.
Setelah terjun ke dunia ini,
hal itu tidak penting lagi.
Bahkan, sebelum terjun pun...
Mishiro.
Pemain kelas bawah
yang pernah kalah dan tunduk memalukan olehku.
Aku terpojok oleh orang sepertinya
dan tamat.
Entah kenapa.
Aku merasa enggan mati begitu saja.
Kenapa Mishiro...
Oh.
No comments yet. Be the first to leave one.