Release info

Por donde pasa el silencio - 1 34 55 (OK RU)
A Commentary by SatoruGolojo
Original Subtitles Espanol, ReSync/Translated by SatoruGolojo. Khusus bagian setelah 1 jam, subtitle agak kecepatan namun masih ok. Bisa samakan durasi dengan sinkronisasi kan pas udah di bagian itu. Subtitle ini khusus yang berdurasi 1.34.55 menit di OK RU

Tags

other
resynced
official_release
professional_translation
uncensored_version
Published on: 2026-02-06
Downloads: 21
Hearing Impaired: Yes

Indonesian subtitle preview

The first 197 lines.

Hei!

Sini!

Sini kamu!

Jangan begitu, ya? Hei! Apa kamu sudah tidak ingat aku?

Sini! Ini aku. Kamu tidak kenal aku?

Sudah, tenang. Tenanglah.

Kamu kenapa, sih?

Hei! Anak pintar.

Siapa itu?

Antonio!

Akhirnya ada orang juga! Halo, Tampan.

Apa kabar? Aduh, Sayangku!

Aduh! Apa ini? Rambutmu jadi pirang.

Iya, sudah agak lama begini. Ya? Ini dicat, kan?

Bagaimana kabarmu? Kamu kelihatan segar. Baik. Kamu sendiri?

Aku? Baik. Tapi capek.

Baru pulang kerja.

Aku sampai nungguin di sana, brengsek kau.

Pikirku, bakal ada yang jemput di stasiun, kan?

Aku tadi lagi kerja.

Aku mau nyelinting dulu. Coba lihat.

Lihat nih. Wah, mantap.

Itu punya Javier, kan? Iya. Enak banget ini.

Ada apa?

Apa kabar, Bu?

Ada apa? Sini, cium dulu.

Nah! Lihat siapa yang datang. Apa kabar, Yah?

Lihat badanmu ini.

Kamu kurus sekali.

Hmm?

Ada apa? Maria!

Kenapa kamu tidak kasih kabar? Biar aku bisa siapkan sesuatu.

Kan sudah kubilang, dia tidak baca pesannya.

Aku tidak lihat ada apa-apa. Aku sudah kirim pesan.

Ambilkan sprei, Mari. Sini cium dulu.

Kalau mau pakai kursi itu, hati-hati, kakinya patah.

Iya.

Kamu mau makan apa?

Puf! Entahlah.

Baunya apek, ya?

Biar saja. Baunya lebih ke bau ganja daripada bau apek. Ayo!

Bau ganjanya lebih enak. Sini biar aku yang buat.

Lihat saja nanti. Tidak! Tidak, tidak. Ibu, biar...

Dengar, biar... Lihat, kamu krempeng sekali.

(TERTAWA)

Masuk, kan? Nggak, aku lewat saja.

Sampai nanti.

Woi.

Tampan.

Ada apa?

Ada apa denganmu? Kaku sekali badanmu.

Aku capek. Kelihatan banget.

Tadi ada yang jemput?

Nggak ada. Siapa yang mau datang?

Jam berapa sekarang? Masih pagi buta.

Uf!

Sialan.

Si Maria? Kamu sudah lihat dia?

Sudah. Kita ke sana saja, yuk?

Nanti kalau dia sudah bangun...

dan orang ini datang.

Lihat wajahmu itu.

Uf! Begadang itu, berakibat buruk banget. (TERTAWA)

Ada apa, Gadis?

Astaga, kawan.

Baru membungkuk saja badanku sakit semua.

Nih, bantu aku kasih makan... Sini.

Kasih ke anjing itu. Aku tidak kuat membungkuk lagi.

Ini...

Harusnya dari kemarin aku ambil cuti sakit saja.

Aku hancur banget.

Ada apa?

Aku sudah lama cuti sakit.

Aku cedera di sana. Aku harus angkat beban 35 kg...

di perusahaan disabilitas itu.

Mereka tidak peduli sama orang cacat atau apa pun.

Nggak fisik, nggak mental. Semuanya parah.

Kamu nggak bisa terus-terusan cuti sakit.

Perusahaan itu sampah. Katanya buat penyandang disabilitas,

tapi aku malah keluar dengan mental dan fisik yang berantakan.

Dan parahnya, aku harus tahan

diperlakukan seperti budak tanpa ada yang peduli sedikit pun.

Semoga ada perusahaan yang lebih baik, karena ke sana lagi? Mati pun aku ogah.

Ya sudah, cari tempat lain saja.

Kalau semuanya sama saja... Caranya mereka memperlakukan kami itu lho.

Kami semua dicampur jadi satu: yang gangguan jiwa,

yang tuli, sampai yang kakinya cuma satu...

Woi, di sana itu, kita semua saling bantu, tahu gak? Percaya deh sama aku.

Wah! Si kembar ini!

Woi, apa kabar, Emma? Apa kabar, Bung?

Ada apa? Terus gimana kabarmu?

Aku mau minum bir dulu lah. Halo, Pedro.

Kita kumpul semua nih. Don Vera!

Apa kabar? Baik. Gimana situasinya?

Apa kabar, Bro? Sudah lama sekali! Gimana, jagoan?

Woi, diam di sini saja sama anjingnya. Apa-apaan? Kenapa?

Soalnya Kira lagi hamil di dalam. Jangan sampai dia masuk, tolong ya?

Gak boleh? Woi!

Sini kamu.

Diam.

Lihat, warnanya bagus sekali, kan?

Memangnya kau pikir apa. Iya kan, Bro?

Warnanya mantap sekali itu.

Ayo, ada yang mau kerja nggak?

Bagi punyaku dong. Ambil saja sendiri.

Tentu saja, gila, kita kerjakan ini, kan? Ayo.

Kamu! Hei!

Ayo kita keluar.

Sini, sini, sini, sini!

Sini, sini! Sini, Zoe! Sini, cepat!

Di sini, ke atas sini! Sini, Nona!

Sana pergi.

Kamu kenapa? Ada apa?

Ngapain kamu sama orang-orang jorok itu?

Terus ngapain kamu pasang muka kecut begitu?

Kelihatan banget, ya? Sedikit, sih.

Kamu mandi di sini?

Hah?

Iya.

Jangan di...!

Biar segar sedikit. Kalau kamu macam-macam, aku ceburkan ya.

Halah... ceburkan saja kalau berani.

Mau apa kamu? Mau lihat? Apa?

Eh, jangan! Beneran aku ceburkan nih.

Lihat ya, bakal kubasahi poni konyolmu itu. Woi, woi! Airnya nggak penuh!

Eh, sampai nanti ya?

Lihat tuh, mereka berhenti di sana. Sial banget sih, Tamara.

Biar aku saja! Biar aku!

Tapi apa kamu pernah menembak? Gak pernah lah.

Pernah pakai senapan nggak? Biar aku saja.

Oh ya? Ayo kalau gitu. Silakan.

Jangan taruh di bawah ketiak. Enggak.

Di situ, di dada. Oke. Aku harus melihat ke...?

Kamu harus...

Pakai ini dan ini sebagai sasaran. Oke.

Incar bagian dadanya, kalau kepalanya susah.

Suka banget deh memerintah.

Sudah pas, kan? Nah, sudah. Ayo.

Incar yang benar, ya? Lihat.

Lihat lewat sini dan tarik pelatuknya begitu kamu yakin bakal kena.

Jangan gugup. Merpatinya ada di sana.

Enggak. Aku bakal tembak ke sana.

Harus incar ke sana. Aku mau tembak batubata itu dulu.

Jangan, nanti kab... Mereka bakal terbang semua di tembakan pertama.

Tapi aku nggak bakal kena. Maksudku, aku mau coba dulu...

Kalau gitu nggak usah nembak. Merpatinya di sana, itu yang kita mau.

Oke. Woi, kamu pasti bisa.

Ah, nggak jadi. Kamu saja yang nembak...

Biarkan saja dia nembak sesukanya. Ya sudah, kamu saja, ayo.

Jangan. Biar aku saja yang tembak. Tahu rasa kalau sampai meleset.

Lepasin, Javier. Biar aku saja. Ya sudah, kerjakan.

Adikku punya nyali lebih besar darimu.

Maria! Ayo, jagoan.

Ayo, Maria! Konsentrasi.

Incar dadanya.

Mantap! Langsung jatuh tuh burung!

Astaga... si Trini malah lari duluan. Maria!

Aku kena!

Si Trini lari ke sana. Jauhkan anjingnya dari situ.

Ambil burungnya. Lakukan sesuatu. Apa katamu? Kamu saja!

Woi! Cepat, Ambil burungnya, bangsat!

Itu kan anjingmu. Ngapain sih kamu?

Ayo, cepat. Javier!

Ngapain saja sih, tolol? Cepat! Dekati!

Dia memang bodoh.

Kamu nggak berani ambil burungnya dari mulut anjing itu, hah?

Sini kamu saja! Sini! Ayo! Cepatlah!

Trini! Berikan padaku, Trini!

Berikan! Trini, lepas! Lepaskan!

Trini, lepas! Trini, lepaskan, Sayang. Lepas.

Sialan!

Susah banget ya. Sudah kubilang tarik saja.

(TERTAWA) Ih, jijik! Sudah mati?

Mati total.

Kasihan sekali.

Mari kita bersulang karena Antonio sudah pulang.

Bersulang! Semoga kamu lebih sering datang.

Olé! Ayo! Tunggu dulu, brengsek.

Demi kalian. Demi kalian juga.

Ayo kita dukung, ya? Untuk adikmu.

Oke.

Dan ini buatmu.

Ayahmu membuatnya dengan penuh kasih sayang.

Dan buatannya juga enak. Iya, benar kan!

Karena dia tahu kamu suka. Ini enak.

Aku sudah berusaha semampuku. Ini enak sekali.

Aku juga ingin dia istirahat.

Dia yang menyiapkan tortillanya, tapi aku yang memberi bumbu terakhir.

Ini enak sekali, Yah. Enak sekali, Manuel.

Kalau semua kau buat begini, Nak...

Dan kamu, Javier? Kamu tidak makan banyak, ya?

Hah? Enggak. Nafsu makanku hilang.

Nafsu makanmu hilang? Kenapa?

Semuanya kan produk segar dari kebun, dari ayam sendiri...

Dan dibuat dengan penuh cinta. Penuh semangat.

Kalau sama ayam memang kamu perhatian.

Tidak, itu kan karena ayam kita bagus.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left