Brief Encounter

Brief Encounter

Download Indonesian Subtitle

Release info

Brief Encounter (1945) [BluRay] INDONESIA by madeinheven6666
A Commentary by madeinheaven6666
Akses Film Lainnya Dari Saya Di Telegram: t.me/bymadeinheaven6666

Tags

bluray
Published on: 2026-06-28
Downloads: 16
Hearing Impaired: No
FPS: 23.976

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

-Selamat malam, Pak Godby. -Hei.

-Halo, halo, halo. -Sudah lama tidak kelihatan, ya?

-Kemarin aku tidak bisa masuk. -Aku penasaran apa yang terjadi padamu.

-Ada sedikit kericuhan. -Soal apa?

Ada seorang pria yang turun dari gerbong kelas satu...

dengan tiket kelas tiga.

Dia tidak mau bayar selisihnya, malah marah-marah. Terpaksa kupanggil Pak Saunders.

-Percuma saja dia dipanggil. -Dia yang membereskannya.

-Kalau belum lihat sendiri, susah percaya. -Dia membereskannya sungguh-sungguh.

"Bayar kekurangannya sekarang," katanya, "atau aku panggil polisi."

Harusnya kamu lihat mukanya waktu dengar kata "polisi" itu.

Langsung berubah sikap. Bayar seketika itu juga.

Nah, itu dia — dia tidak bisa menanganinya sendiri.

Harus minta tolong polisi.

Saunders sebenarnya bukan orang buruk.

Bagaimanapun, dia cuma punya satu paru-paru dan istrinya sakit diabetes.

Aku khawatir waktu kamu tidak datang kemarin.

Aku mau mampir menjelaskan, tapi ada janji yang harus kutepati.

Oh, begitu.

-Kenalan saya mau menikah. -Menarik sekali, tentu saja.

-Ada apa denganmu? -Aku tidak mengerti maksudmu.

-Kamu agak tidak ramah. -Beryl, cepat sedikit.

-Tambah batubara di kompor itu. -Baik, Nyonya Bagot.

Aku tidak bisa berdiri di sini membuang waktu untuk bergosip, Pak Godby.

Bagaimana kalau tambah satu cangkir lagi?

Boleh minta satu cangkir lagi kalau yang itu sudah habis.

Beryl yang akan melayanimu. Aku ada pembukuan yang harus dikerjakan.

-Lebih baik kamu sendiri yang melayani. -Waktu tidak menunggu siapa pun.

-Laura! Sungguh mengejutkan. -Oh. Dolly!

Aku sudah belanja sampai kelelahan. Tenggorokanku kering sekali.

Tadinya mau minum teh di Spindle's, tapi tidak mau ketinggalan kereta.

-Kasihan! -Ini Dokter Harvey.

Senang berkenalan.

Tolong ambilkan teh untukku? Aku sudah tidak sanggup berjalan ke sana.

Tidak usah repot-repot...

Tampan sekali. Siapa dia? Kamu pandai menyimpan rahasia.

Besok pagi aku akan telepon Fred dan buat ulah.

Sungguh beruntung bisa ketemu. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.

Sudah berniat mampir ke tempatmu, tapi Tony kena campak...

Lalu ada masalah soal Phyllis. Kamu belum tahu.

-Dia pergi meninggalkanku. -Kasihan sekali.

Sebenarnya aku tidak pernah benar-benar suka padanya, tapi Tony menyukainya.

Nanti kuceritakan di kereta. Terima kasih.

Susunya memang cukup banyak, tapi lumayan menyegarkan.

-Oh, tidak ada gula. -Ada di sendoknya.

Oh, betul. Sungguh bodoh aku ini.

Laura, kamu kelihatan sehat. Kalau tahu kamu mau datang...

kita bisa makan siang sambil mengobrol. Aku benci belanja sendirian.

-Itu keretamu. -Ya, aku tahu.

-Kamu tidak ikut bersama kami? -Tidak, aku ke arah yang berlawanan.

-Praktik saya di Churley. -Oh, begitu.

Saya dokter umum.

Dokter Harvey minggu depan akan berangkat ke Afrika.

Wah, menarik sekali.

...kereta pukul 5.40 menuju Churley, Leigh Green dan Langdon.

-Saya harus pergi. -Ya, harus.

-Selamat tinggal. -Selamat tinggal.

Dia harus berlari kalau tidak mau ketinggalan. Keretanya di peron sebelah.

Bicara soal ketinggalan kereta mengingatkanku pada jembatan di Broadham Junction.

Harus naik dari satu sisi lalu turun dari sisi lain.

Waktu itu aku baru pulang dari menemani Bob ke pengacara...

Aku sampai di stasiun dengan sisa waktu setengah menit saja. Aku berlari sekencang-kencangnya.

Aku bersama Tony dan aku baru saja beli kap lampu baru...

Sebenarnya bisa kubeli di sini saja di Milford.

Tapi ukurannya besar sekali.

Aku tidak bisa melihat ke depan. Hampir menabrak seorang perempuan.

Waktu sampai di rumah, kap lampunya sudah hancur.

Itu kereta kita? Itu kereta ke Ketchworth?

-Bukan, itu kereta ekspres. -Kereta penumpang kapal.

Itu tidak berhenti di sini, kan?

-Saya minta coklat. -Susu atau pahit?

Yang pahit, kurasa.

Tidak, yang susu lebih enak. Ada yang pakai kacang?

Nestle's kacang susu.

Satu pahit dan satu kacang susu.

-Besar atau kecil? -Besar, tolong.

Di mana dia?

Aku tidak melihat dia pergi.

Aku tidak tahu ke mana kamu menghilang tadi.

Aku ingin melihat kereta ekspres lewat.

Ada apa? Kamu merasa tidak enak badan?

-Sedikit mual rasanya. -Ayo duduk dulu.

Itu kereta kita.

-Ada brendi? -Sudah di luar jam layanan.

-Masak kalau ada yang sakit tidak boleh. -Aku baik-baik saja.

Brendi akan membuatmu lebih kuat. Tolong.

Baiklah.

-Berapa harganya? -Sepuluh pence.

Kereta menuju Ketchworth sekarang tiba di peron 3.

Kita harus bergegas.

Sungguh beruntung.

Kereta ini biasanya penuh sesak.

Aku sungguh khawatir padamu. Wajahmu pucat sekali.

Aku baik-baik saja. Tadi hanya sedikit pusing.

Itu bisa terjadi pada siapa saja. Aku pernah pingsan di konser Bobbie. Dia tidak pernah memaafkanku.

Dia memang tampan sekali.

-Siapa? -Temanmu. Dokter siapa namanya itu.

-Ya, dia orang yang menyenangkan. -Sudah lama kamu mengenalnya?

Tidak, belum lama.

-Aku hampir tidak mengenalnya. -Ya ampun!

Aku selalu menyukai para dokter.

Aku bisa mengerti mengapa para wanita bisa menjadi sangat gelisah...

Andai saja aku bisa mempercayaimu.

Andai saja kamu adalah seorang teman yang bijak dan baik hati...

bukan seorang tukang gosip yang sudah kukenal bertahun-tahun dan tidak pernah benar-benar kusuka.

Andai saja... andai saja...

Bayangkan dia pergi ke Afrika. Apakah dia sudah menikah?

-Ya. -Punya anak?

Ya, dua anak laki-laki. Dia sangat bangga dengan mereka.

Apakah mereka ikut bersamanya? Istri dan anak-anaknya?

Ya, ikut.

Mungkin memang masuk akal...

memulai kehidupan baru di tempat yang luas dan bebas, tapi...

tidak ada yang bisa memaksaku meninggalkan Inggris dan rumahku...

dan semua hal yang sudah biasa bagiku.

Seseorang punya akarnya sendiri, bukan?

Ya, seseorang punya akarnya sendiri.

Aku kenal seorang gadis yang pergi ke Afrika.

Suaminya bekerja di bidang teknik...

Dia mengalami waktu yang sangat buruk.

Dia tertular semacam kuman yang mengerikan dan sakit selama berbulan-bulan...

Andai saja kamu mau berhenti bicara.

Andai saja kamu berhenti menyelidik dan mencoba mencari tahu segalanya.

Andai saja kamu mati. Tidak, bukan itu. Itu pikiran yang konyol dan kejam.

-Tapi andai saja kamu mau berhenti bicara. -Semua rambutnya rontok...

dan katanya kehidupan sosial di sana sungguh mengerikan...

Kampungan dan penuh orang kaya baru.

-Oh, Dolly. -Kamu merasa tidak enak lagi?

Sedikit pusing.

-Aku pejamkan mata sebentar. -Kasihan sekali...

Ini aku malah terus mengobrol saja.

Aku tidak akan bicara sepatah kata pun lagi.

Kalau kamu tertidur aku akan membangunkanmu di perlintasan kereta.

Kamu bisa bedakan dulu sebelum kita turun.

Terima kasih, Dolly.

Ini tidak bisa berlangsung terus.

Kesengsaraan ini tidak bisa berlangsung terus.

Aku harus ingat itu dan mencoba mengendalikan diri.

Tidak ada yang abadi...

baik kebahagiaan maupun keputusasaan.

Bahkan hidup pun tidak berlangsung lama.

Akan tiba saatnya ketika semua ini tidak lagi menyakitiku...

ketika aku bisa mengenangnya sambil berkata dengan ringan: "Betapa bodohnya aku dulu."

Aku tidak ingin saat itu datang selamanya.

Aku ingin mengingat setiap menitnya...

selamanya...

selamanya, hingga akhir hayatku.

-Ketchworth! -Bangun, Laura. Kita sudah sampai.

Ketchworth!

Aku bisa mengantarmu pulang. Tidak jauh dari jalanku.

Aku akan lewat Elmore Lane dan dua menit kemudian aku sudah sampai rumah.

Baik sekali kamu, tapi aku sudah benar-benar baik sekarang.

-Yakin? -Yakin sekali. Terima kasih.

Ah, jangan begitu. Aku akan telepon untuk memastikan kamu tidak kumat.

Kamu pasti kecewa. Selamat malam.

Selamat malam. Salam untuk Fred dan anak-anak.

Kamu, Laura?

-Ya, sayang. -Syukurlah kamu sudah pulang.

-Rumah ini sudah seperti medan perang. -Ada apa?

Bobbie dan Margaret, bertengkar lagi.

Mereka tidak mau tidur sebelum bicara denganmu.

Mami? Itu Mami?

-Ya, Margaret. -Naik ke sini sekarang, Mami.

Mami harus bicara dengan aku.

Kalian berdua sangat nakal. Seharusnya kalian sudah tidur.

-Sekarang ada apa? -Begini, Mami...

besok ulang tahunku dan aku mau pergi ke Sirkus.

Besok bukan ulang tahun Margaret dan dia mau pergi ke Pantomim.

Ulang tahunku di bulan Juni. Tidak ada pertunjukan pantomim di bulan Juni.

Sudah terlalu malam untuk dibahas. Sekarang tidur...

atau kalian tidak akan pergi ke mana pun.

Oh, Mami!

Kenapa tidak bawa mereka ke keduanya? Satu siang hari, satu malam hari?

Itu tidak mungkin. Kita akan pulang terlambat, kelelahan dan rewel.

Satu di hari ini, satu di hari lain.

Kamu selalu menuduhku memanjakan anak-anak.

Karakter mereka akan hancur kalau terserah padamu.

Baiklah, terserah kamu saja.

-Sirkus atau Pantomim? -Tidak dua-duanya.

Kita akan pukul mereka, kunci di loteng dan kita pergi ke bioskop sendiri.

Oh, Fred.

-Ada apa ini? -Tidak ada apa-apa. Sungguh tidak ada.

Sayang, ada apa? Ceritakan padaku.

Sungguh, tidak ada apa-apa...

Aku hanya kelelahan.

Aku hampir pingsan di ruang makan di stasiun Milford tadi.

Konyol sekali, bukan?

Dolly Messiter ada bersamaku dan dia terus bicara...

sampai aku nyaris ingin mencekiknya. Tapi dia bermaksud baik.

Bukankah itu yang mengerikan dari orang-orang yang bermaksud baik.

-Mau langsung tidur? -Tidak, Fred, sungguh tidak perlu.

Duduklah di dekat perapian dan istirahat.

Kamu bisa bantu aku mengerjakan teka-teki silang.

Caramu beristirahat sungguh aneh.

-Ini untukmu, sayang. -Terima kasih.

Tapi kenapa sampai hampir pingsan? Aku tidak mengerti.

Jangan begitu. Aku sudah sering hampir pingsan.

Kamu ingat konser sekolah Bobbie...

dan pernikahan Eileen...

dan waktu kamu membawaku ke konser Simfoni di Balai Kota itu?

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left