The first 200 lines.
23.976 fps - Ganool
Tangkap dia! Berhenti!
Sebelah sana! Ke sana!
Tangkap dia! Berhenti!
Ayah.
Bangun, Nam-yi!
Kau takut?
Apa kau takut?
Ya, Ayah. / Tatap dan hadapi ketakutan itu secara langsung.
Itu caranya agar tidak takut lagi.
Ayah!
Jangan lupa, pergi ke Kim Mu-seon di Gyeseong. Mengerti?
Aku ingin bersamamu, Ayah.
Kini kau ayah dari Ja-in. Jaga adikmu sampai mati.
Kau mengerti?
- Ya. - Bangun.
Ayah!
Pergi dari sini, Nam-yi!
Tangkap pengkhianat itu!
Ayah! Ayah!
Ayah!
Aku harus kembali!
Kau tak dengar kata-kata Ayah?/ Ayah masih bertempur!
Aku harus antarkan busur kepadanya, agar bisa menang!
Bodoh! Ayah mau kita membawanya. Kau mengerti apa artinya?
Aku harus pergi!
Kak, ayo kembali. Kita antarkan busurnya.
Pengkhianat itu sudah tertangkap! Cari anak-anaknya!
Hwal
Kau menyaksikan kematian Ayahmu?
Apa kau Ja-in?
Ada pesan terakhir dari Ayahmu?
Mereka yang tak paham urusan luar negeri mendukung Raja, pasti akan ada perang.
Negara dan keamanan rakyat...
bagaikan lampu sebelum badai. Apa yang bisa dilakukan?
Aku percayakan busur padamu hingga anak itu dewasa.
"Doronglah bagai mendorong gunung...
dan tariklah bagai memegang ekor harimau".
Gap-yong, tolong minta istriku memberikan baju baru untuk mereka.
Ya, Pak.
Silakan ganti baju.
Jangan keluar sembarangan.
Jika ada yang bertanya siapa kalian...
jangan menjawab sampai orang dari rumah ini menjawab lebih dulu.
Mengerti?
Ayah... Ayah...
Ayah...
Kini kau ayah dari Ja-in. Jaga adikmu sampai mati.
Kau mengerti?
13 tahun kemudian
Ke sini!
Ke sana!
Sial!
Kena! Kena!
Sudah mati!
Tunggu! / Kenapa?
Tempat apa ini? / Ini cuma...
Bukankah ini perangkap harimau?
Ayo cepat bawa.
Tunggu.
Itu...
Aku mendengarnya.
Harimau! Harimau!
Harimau!
Harimau, harimauku di Gunung Dongak.
Akan kuberi kau kue beras. Jadi, bawakan aku pengantin.
Ada tempat di Gyeseong berisi gadis-gadis cantik.
Aku sudah ke sana dan semuanya biasa saja.
Benarkah? / Gadis tercantik di Songak adalah Nona Ja-in.
Jika saja keadaannya lebih baik...
pria terhormat akan mengantre jauh untuknya.
Cukup bergurau, ayo minum.
Omong-omong, kurasa Nyonya terlalu kejam.
Benar, kan? Bukankah Nona Ja-in tidak setara dengan Tuan Seo-gun?
Adakah kekurangan dari Nona Ja-in?
Bagaimana dengan bentuk rupanya?
Bahkan bidadari pun kalah.
Lalu apa kelebihan dari Tuan Muda? Apa dia lulus ujian kepegawaian?
- Kau benar. - Aku bilang sudah cukup!
Kakak, apa aku salah bicara?
Sudahlah, kau pun tahu ceritanya.
Karena tahu makanya aku tersiksa!
Sudah kubilang berhenti!
Bodoh!
Hei, aku berada di pihakmu...
Hei! Kau tadi mengumpatku, ya?
Kau mencaci maki aku, ya?
Berengsek, tidak menghormati aku...
karena bercanda, ya? Aku robek mulutmu...
dan memberimu pelajaran!
Bajingan!
Kang-du, hentikan!
Aku datang untuk minum tapi kacau sekali di sini.
Tuan, senang bertemu denganmu.
Eh...
Apa akan membantu pencernaan jika kalian minum seperti ini?
Kau senang berkelahi seperti ini?
Kenapa datang selarut ini?
Kemarilah akan kutuangkan minuman untukmu.
Kakak, bukan begini cara minum dengan enak.
Bagaimana kalau pindah ke tempat lain?
Orang bodoh sepertimu tahu tempat minum-minum?
Yah...
kau akan tahu saat tiba di sana.
Banyak gadis cantik di tempat minum ini.
Ya, tempat ini terkenal.
Minumannya terasa berbeda di sini.
- Pedangnya... - Tunggu!
- Aku tuangkan. - Ada apa ini?
Tak ada, hanya ingin melayani.
Melayani?/ Mohon diterima.
Akhirnya aku diperlakukan seperti kakak!
Jadi, ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
Kakak, aku ingin menikahi Ja-in.
Apa!?
Kumohon beri restu, Kak.
Kau walinya, bukan?
Apa Ibumu tahu soal ini?
Dan ayahmu?
Aku hanya perlu membujuk mereka.
Kakak...
Aku mohon... dengan sangat.
Kakak.
Kumohon beri restumu.
Kau dan aku...
bersaudara, lebih dekat dari teman biasa.
Kata siapa kita lebih dekat dari teman biasa?
Karena aku yang bilang begitu.
Apa kau sinting?
Bagaimana bisa anggota keluarga yang hidup satu atap... bukan.
Kau mau menikahi putri pengkhianat yang sedang bersembunyi?
Apa kau mau menghancurkan hidupmu?
Aku mengerti kecemasanmu.
Orang tuaku...
aku akan membujuk mereka.
Kakak, kita tinggal serumah selama ini. Mereka takkan...
Mereka pasti menderita karena cemas,
karena hidup bersama anak-anak pengkhianat.
Dan kau mau tambahkan beban ini kepada orang tuamu seumur hidup!?
Dan juga, bagaimana nasib Ja-In bersama ibu mertua seperti itu?
Apa pun yang orang katakan, aku takkan goyah.
Dan...
aku rela melakukan apa saja demi Ja-in.
Kau rela melakukan apa saja...
Tentu.
Aku akan buat penawaran.
Kakak!
- Penawaran apa... - Ada orang di sini?
Jika bisa membunuhku...
akan kuberikan Ja-in.
Jika tidak, aku akan membunuhmu...
dan pergi dari kota ini bersama Ja-in hari ini.
Kau mengerti?
Kakak!
Penawaran apa ini...
Kakak!
Dasar lemah. Beraninya kau menginginkan adikku?
Aku pun putra seorang pejuang! Aku hanya menahan diri!
Tak mungkin kuberikan adikku pada orang bodoh sepertimu.
Lebih baik kuberikan pada tukang daging...
Tukang daging akan lebih baik.
Sudah cukup. Maafkan kekasaranku.
Duduk!
Minum-minum, dan berkelahi!
Apa hidup begitu mudah bagimu?
Ya, Tuan.
Hatiku tenang, dan dunia tampak menggelikan bagiku.
Sudah 13 tahun semenjak kau datang ke rumah ini.
Kau abaikan pelajaran dan berhenti berlatih ilmu bela diri...
berkelana di luar setiap hari. Bagaimana kehidupanmu kelak?
Apa aku bisa ikut ujian kepegawaian dengan cara menghafal?
Atau menjarah negara dengan berlatih seni bela diri?
Aku cuma anak seorang pengkhianat.
Aku akan hidup hari ini dan mungkin mati esok hari.
Beraninya kau! Apa kau tak tahu betapa jujurnya Ayahmu itu?
Ya, aku tahu. / Lalu? / Lalu...
Aku tahu akhir dari ayah semacam itu!
Apa baiknya hidup rajin? Bertekad untuk...
meraih hal besar hanya akan berakhir mati.
Kau di sini juga karena takut, kan?
Lancang kau!
Jika sudah selesai, aku mau pergi dan minum segelas lagi sebelum aku tersadar.
Kau tahu...
aku yang memberi nama Ja-in saat dia lahir.
Dan Seo-gun adalah nama pemberian ayahmu.
Aku merestui pernikahannya dengan Ja-in.
Silakan lewat sini.
Apa kabar?
Sedang apa di sini?
Wali seharusnya duduk di tempatnya.
Pertama, beri hormat pada mempelai pria
Hormat satu kali sebagai balasan
Tuan, giliranmmu.
Tunggu apalagi?
Kau tak apa?
Bagaimana kau akan melewati malam pertama dengan kebodohan seperti itu?
Hormat kedua kali sebagai balasan
Diamlah!
Siap di posisi!
Tutup gerbang!
No comments yet. Be the first to leave one.