The first 200 lines.
Desa-desa Estonia mulai bermunculan di Abkhazia pada paruh kedua abad ke-19.
Perang Georgia-Abkhazia yang pecah tahun 1992, mengusik ketenangan hidup warga Estonia. Kebanyakan dari mereka memilih pulang ke tanah leluhur.
Desa-desa mereka pun sunyi, hanya segelintir orang yang tersisa.
Siapa kau? - Apa?
Keluar kau!
Aku tanya, siapa kau? - Aku Ivo. Tapi kalian siapa?
Kau sendirian di sini? - Ya.
Kau orang Rusia? - Bukan, aku Estonia.
Sedang apa orang Estonia di sini? - Ini bengkel kerjaku.
Untuk apa kotak-kotak ini? Buat bahan peledak?
Bukan, untuk jeruk mandarin.
Kalau buat jeruk, ya sudah.
Baiklah. Ada makanan tidak? Kami lapar.
Makanannya di dalam rumah. Di sana. - Ayo, gerak.
Naik ke mobil.
JERUK MANDARIN
Siapa lagi di rumahmu? - Tidak ada, aku tinggal sendiri.
Masuklah, silakan duduk.
Kami duduk sebentar, Kek, tapi tolong siapkan makanan, kami harus lanjut. - Baiklah.
Dan jangan pelit.
Lihat, cantik sekali gadis ini. - Ya, cantik.
Di mana keluargamu? Kau tidak punya siapa-siapa?
Mereka semua pulang begitu perang pecah.
Pulang ke mana? - Ke Estonia.
Kenapa kau tidak ikut?
Aku tidak ingin pergi.
Ini putrimu? - Cucuku.
Dan jangan bicara soal dia. Jangan pernah terpikirkan pun olehmu.
Aku bahkan tidak berniat begitu. Aku Ibrahim.
Apa itu?
Makanan.
Kau orang baik, Kek. Sayang sekali kau sudah setua ini.
Sayang sekali pria tangguh sepertimu harus menua.
Ada apa di luar sana? Perangnya makin parah?
Ya, Pak Tua. Sebaiknya kau pergi ke Estonia.
Tidak semua orang bakal sebaik kami.
Ada yang tinggal di rumah-rumah ini? - Tidak, semuanya kosong.
Hanya ada satu orang yang tinggal dekat kebun.
Tapi dia cuma punya kebun jeruk. Aku sedang membantunya.
Kami tidak peduli soal jeruk.
Tapi bisnis pembuatan kotakmu ini oke juga. Kerja bagus!
Margus!
Margus!
Iya, tunggu!
Siapa orang-orang tadi? - Orang Kaukasus, mereka minta makan.
Mereka tidak mampir ke tempatku. - Aku tahu.
Sudah ada kesepakatan? - Sudah.
Mereka setuju kirim 20 tentara selama satu hari pada tanggal 7 nanti.
Satu hari tidak akan cukup. - Jelas tidak bakal cukup.
Kita petik semampu kita saja. Aku sudah mulai duluan.
Baguslah. Kalau tempo kita begini terus, hasil kebun takkan pernah sempat terangkut.
Beberapa hari lagi mungkin akan ada pertempuran hebat di sini.
Orang Kaukasus tadi bilang perang sebentar lagi sampai ke sini. - Komandanku juga bilang begitu.
Aku akan buat 10 kotak hari ini, jadi totalnya 200. Kira-kira cukup?
Tentukan saja sendiri. Tapi kurasa kita butuh 50 lagi.
Oke.
Jangan paksakan dirimu bekerja, masih ada 5 hari sampai tanggal 7.
Lebih cepat, lebih baik.
Margus!
Margus! - Ya.
Kau tidak apa-apa? - Tidak, aku baik-baik saja.
Apa yang terjadi? - Entahlah.
Mobil ini melaju di depan, yang satunya mengikuti dari belakang.
Mobil pertama ditembak, lalu menghantam pagar. Pagarku jadi hancur.
Tadi aku sedang di atas pohon. Sembunyi.
Lalu aku lihat ada yang menembak pakai senjata berat, sepertinya mortir.
Bisa gila kita di sini, apa-apaan itu tadi?
Sudahlah, tenang dulu.
Dia terluka, coba cek isi mobil vannya. Dan hati-hati!
Tenang saja...
Ada apa di sana? - Semuanya mati.
Jadi, pejuang Georgia, di mana kalian? - Sudah, tenanglah.
Bagaimana rasanya di akhirat, dasar babi! - Cukup!
Jangan berteriak, nanti kau malah menyusul mati.
Akhirnya pendarahannya berhasil kita hentikan.
Tapi Ibrahim tewas? - Nyalakan mobilnya.
Bajingan-bajingan itu yang membunuhnya, kan? - Iya.
Kita akan makamkan dia sekarang. Kau tenanglah dulu.
Kami akan carikan dokter untukmu. Jangan banyak bergerak.
Hati-hati di luar, Kek. Pastikan tidak ada yang membuntuti kalian.
Bajingan Georgia itu mungkin mengincar kalian.
Jangan khawatir, berbaring saja yang tenang.
Berikan senapan mesinku. - Untuk apa? Takkan ada yang datang ke sini.
Berikan saja. Apa pun bisa terjadi. - Sudah kubilang, tidak akan ada siapa-siapa.
Periksa kantongnya, siapa tahu ada dokumennya.
Untuk apa? Mungkin ada keluarga yang mencari mereka nanti.
Setidaknya kita bisa tunjukkan makamnya.
Kau benar.
Orang Georgia ini masih bocah. Cuma yang satu ini yang agak tua.
Ya, masih anak-anak.
Tahu tidak? Sebaiknya orang Georgia ini kita kubur terpisah.
Dan yang berjenggot ini, agak jauh di sebelah sini.
Biar kita tahu siapa di mana. - Baiklah.
Orang Georgia ini masih hidup.
Jangan takut, ini kami.
Siapa ini? Ibrahim? Masih hidup? - Bukan, ini bukan Ibrahim.
Lalu siapa?
Ambil air dalam baskom. Dan handuk bersih di lemari dapur.
Ada serpihan bom di kepalanya.
Kita butuh Juhan. Kalau tidak, dia takkan selamat.
Yang satunya juga butuh dokter.
Cepat jemput Juhan ke sini. Dan van itu harus dibersihkan.
Lebih mudah dikerjakan bertiga. - Aku punya tali yang kuat.
Tunggu!
Pastikan dia tutup mulut. - Mengadu ke siapa? Semuanya sudah pergi.
Ke istrinya. - Istrinya kan sudah di Estonia.
Bagaimana keadaanmu?
Sakit? - Tidak apa-apa.
Syukurlah, sudah agak mendingan.
Siapa yang kau bawa ke rumah?
Satu orang Georgia. Luka parah.
Apa? Kau gila ya?
Tetap akan kubunuh dia nanti. Usahamu sia-sia saja.
Maafkan aku, tapi mereka membunuh temanku.
Dan bukannya kau sudah bunuh dua temannya? Kau tidak bisa hitung?
Harusnya aku bunuh tiga. Pokoknya, ini urusanku.
Percuma saja kau merawatnya. Sia-sia.
Bagaimana dia? - Orang Chechnya itu sembuh seminggu lagi.
Tapi yang Georgia—entahlah. Tergantung daya tahan tubuhnya.
Bagaimana dengan serpihan bom itu?
Pastikan suntikannya diberikan tepat waktu. - Tenang saja.
Kenapa dia mengigau terus? - Malah bagus kalau dia mengigau.
Mungkin dia masih bisa bertahan.
Aku kembali besok di jam yang sama.
Gimana tadi? - Dia makan sedikit, lalu tertidur.
Kita jalan sekarang? - Tunggu, aku kunci dulu kamar si Georgia.
Kita tidak tahu apa yang bakal dilakukan si gila itu.
Ayo jalan. Kau yang nyetir.
Putar setirnya ke kanan. Ke kanan!
Bagus!
Oke—dorong, dorong.
Kukira tadi bakal meledak.
Ledakan cuma ada di film. - Film itu cuma tipu-tipu belaka.
Gimana kabarmu? - Lumayan.
Aku sudah selesaikan 20 kotak. Bisa kau ambil.
Orang-orang terluka ini merusak bisnis kita.
Terus aku harus apa? Membunuh mereka?
Bukan itu maksudku, cuma asal bicara saja.
Jangan mengeluh terus.
Sudah berapa yang kau petik? - Kotak-kotak darimu kemarin sudah penuh semua.
Bagus sekali. Kau mampir ke rumahku?
Iya, aku bawa kuncinya. - Kenapa tidak ditaruh di bawah tangga saja?
Nanti kalau ada yang nemu gimana? - Siapa juga yang mau cari kunci di sana?
Niat pun, mereka tinggal dobrak pintunya.
Keadaan mereka gimana? - Si Chechnya sudah baikan.
Makanannya dihabiskan. Sepertinya dia mulai pulih.
Tapi yang Georgia?
Sudah cek suhu tubuhnya? - Buat apa.
Kepalanya panas sekali, dia mengigau terus.
Tinggalkan saja kuncinya di sini.
Perlu kubantu angkat kotak-kotaknya?
Tidak usah, aku bisa sendiri. Lanjutkan saja pekerjaanmu.
Tadi aku memeriksa vannya. Tidak ada yang terlihat dari jalan raya.
Apa yang kau pikirkan? - Tetap akan kubunuh dia, Kek.
Kau kunci dia rapat-rapat pun, aku akan membalas kematian temanku.
Bagi kami ini hal suci, kau takkan pernah mengerti.
Membunuh orang yang sedang tidur,
bahkan saat dia tak sadarkan diri? Itu juga hal suci bagimu?
Aku tidak tahu kalau dia pingsan.
Akan kubunuh dia begitu dia bisa berdiri lagi.
Sebentar lagi akan hujan.
Tidak akan.
Mereka akan segera sampai ke sini. - Siapa?
Orang Georgia dan Rusia.
Dan jeruk-jeruk ini akan tetap di pohon.
Kau tahu apa sebutan untuk perang ini?
Perang jeruk mandarin. - Apa maksudmu?
Ini perang memperebutkan jeruk-jerukku.
Bicaralah yang waras.
Mereka berperang demi tanah. - Tanah tempat jeruk-jerukku tumbuh.
Kau sudah gila gara-gara jerukmu itu.
Begitu jeruk-jeruk ini terjual, aku akan ke Estonia—sekarang sudah merdeka.
Si Georgia sudah sadar.
Terima kasih.
Terima kasih untuk semuanya.
Usahakan jangan banyak bicara dulu.
Kepalaku sakit sekali. - Jangan cemas.
Aku akan beri suntikan agar kau merasa baikan.
Jadi babi ini sudah bangun?
Siapa itu? - Abaikan saja. Dia orang gila.
Tetap akan kubunuh dia, Kek. - Dengarkan aku!
Di rumahku, tidak ada yang boleh membunuh, kecuali atas izin dariku.
Kalau kau tetap nekat melakukannya, kau harus membunuhku dulu.
Ayolah, Kek. Kau sudah menyelamatkan nyawaku. - Kau dengar apa kataku.
Baiklah. Aku berjanji, tidak akan membunuhnya di dalam rumahmu.
Tapi begitu dia keluar, akan kuhabisi dia.
Kuharap bisa bertemu denganmu di Estonia.
Kapan kau berangkat? - Besok pagi ada mobil yang menjemputku.
Hati-hati. - Jangan khawatir.
Setengah jam ke bandara, lalu langsung pulang.
Tuhan akan membimbingku.
Sedang apa kau di sini?
Jual jeruk-jeruk itu dan pulanglah.
Kehidupan kita yang dulu sudah berakhir. Sudah cukup, selesai.
Kau tahu benar kenapa aku bertahan di sini.
Lebih baik pikirkan cucumu.
Mari baik-baik saja, aku tidak cemas soal dia.
Terima kasih, Juhan.
Obatnya ada di laci. Sudah kutulis catatan cara pakainya.
Tetaplah kuat.
No comments yet. Be the first to leave one.