The first 200 lines.
Bumi kita
adalah satu-satunya planet yang diketahui mendukung kehidupan.
Dan planet ini memang berlimpah dengan kehidupan.
Aku cukup beruntung selama bertahun-tahun
untuk menjelajahi beberapa tempat paling luar biasa dan terpencil di bumi
untuk menemukan dan memfilmkan hewan-hewan.
Ini bunga terbesar di dunia.
Paus biru!
Ini hewan terbesar yang pernah ada di bumi!
Jumlah dan keragaman flora dan fauna sungguh menakjubkan.
Perkiraan jumlah spesies yang berbeda
bervariasi, dari enam juta hingga seratus juta.
Tak ada yang tahu persisnya berapa banyak jenis hewan yang ada di sini.
Ke mana pun kau memandang, di sana ada kehidupan.
Seringkali ada banyak variasi dalam satu pola.
Hampir 200 jenis monyet yang berbeda, contohnya.
Dan 315 burung kolibri,
hampir seribu kelelawar.
Dan kumbang, setidaknya terdiri dari 350 ribu spesies.
Belum lagi seperempat juta jenis tanaman berbunga.
Keragaman yang menakjubkan.
Bahkan di hutan kecil Inggris ini, kau bisa menemukan empat atau lima
jenis burung finch yang berbeda.
Kenapa harus ada keragaman yang mempesona seperti itu?
Dan bagaimana kita bisa memahami rentang organisme hidup sebesar itu?
Dua ratus tahun yang lalu,
lahirlah seorang pria yang menjelaskan keragaman memukau ini.
Dalam melakukannya, ia merevolusi cara kita memandang dunia
dan tempat kita di dalamnya.
Namanya adalah Charles Darwin.
Buku ini, Alkitab, menjelaskan bagaimana keragaman itu terjadi.
Di hari ketiga, setelah penciptaan bumi, Tuhan menciptakan tanaman.
Di hari kelima, ikan dan burung,
lalu di hari keenam, mamalia dan akhirnya, manusia.
Penjelasan itu diyakini, secara harfiah,
di seluruh Eropa Barat selama 2.000 tahun.
Dan berbagai generasi pelukis mengilustrasikan itu bagi orang beriman.
Versi ini dilukis di Itali pada abad ke-16.
Ini Tuhan dalam taman Eden,
yang kini sudah dipenuhi dengan segala jenis hewan.
Di sini ia menarik Adam keluar dari tanah
dan di sini menciptakan wanita pertama dengan cara membuat Adam tertidur,
lalu mengambil salah satu tulang rusuknya dan menciptakan Hawa di sisinya.
Ia muncul dengan dibantu dua malaikat.
Saat Tuhan selesai, ia berfirman pada Adam dan Hawa,
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu,
"berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara
"dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Itu menjelaskan bahwa menurut Alkitab
manusia boleh mengeksploitasi alam sesuka hati mereka.
Pandangan tentang keunggulan umat manusia ini masih bertahan saat, pada tahun 1831,
kapal survei Inggris, Beagle, berlayar keliling dunia.
Di kapal, sebagai pendamping kapten,
adalah Charles Darwin yang berusia 22 tahun.
Mereka melintasi Atlantik dan mendarat di pantai Brasil.
Di sana, berlimpahnya alam tropis
memukau pendatang baru
seperti yang kutemukan saat menelusuri kembali langkah-langkah Darwin, 30 tahun lalu,
untuk serial televisi tentang keragaman di alam.
Darwin, saat masih muda, pernah menjadi kolektor serangga yang fanatik.
Dan di sini, ia terpesona nyaris hingga ke titik yang memabukkan.
Suatu hari, di sebuah wilayah kecil,
ia menemukan 69 spesies kumbang yang berbeda.
Seperti yang ia tulis dalam jurnalnya, "Sudah cukup mengganggu ketenangan
"para entomologis untuk merenungkan dimensi masa depan
"katalog yang lengkap."
Mereka menuju selatan, mengelilingi Cape Horn, dan sampai di Pasifik.
Lalu, pada September 1835,
setelah pergi selama hampir empat tahun,
mereka mendarat di kepulauan Galapagos yang kurang dikenal.
Di sini mereka temukan hewan-hewan yang tak ada di tempat lain di dunia.
Pecuk yang sudah kehilangan kemampuan terbangnya.
Kadal yang berenang menembus ombak untuk merumput di dasar laut.
Darwin, yang mempelajari botani dan geologi di Cambridge University,
mengumpulkan spesimen-spesimen hewan dan tanaman.
Dan seperti biasa, saat ke darat untuk meneliti,
ia gambarkan apa yang ia temukan ke dalam jurnalnya.
"Pelayan dan diriku mendarat beberapa mil ke timur laut,
"agar aku bisa memeriksa distrik yang disebutkan di atas
menyerupai cerobong asap." Cerobong asap vulkanik, kiranya.
"Perbandingannya bisa lebih tepat jika kukatakan
"tungku besi dekat Wolverhampton."
Warga Inggris di Galapagos mengaku bahwa ia bisa tahu
dari pulau mana asal seekor penyu raksasa dari bentuk tempurungnya.
jika bulat di bagian depan, maka penyu itu berasal dari pulau yang subur
di mana ia memakan tanaman di tanah.
Sedangkan yang dari pulau kering memiliki tempurung yang membumbung ke atas di bagian depannya,
membuatnya mampu meraih tanaman yang lebih tinggi.
Apakah kedua penyu dari pulau yang terpisah ini, berbeda spesies?
Jika benar, apakah masing-masing diciptakan ilahi secara terpisah?
Perbedaan-perbedaan yang ditemukan Darwin di antara satwa-satwa Galapagos ini,
tentu saja, sangat kecil.
Tapi jika mereka bisa berkembang, bukankah bisa dimungkinkan bahwa selama ribuan
atau jutaan tahun, seluruh rangkaian perbedaan seperti ini meningkat
dalam satu perubahan revolusioner?
Dalam perjalanan pulang, Darwin sempat memikirkan hal ini.
Mungkinkah spesies bisa berubah seiring waktu,
tapi dalam perubahan yang lambat?
Setibanya di rumah, ia memilah-milah koleksi spesimennya
dan mengirimnya ke para ahli terkait
agar masing-masing bisa diidentifikasi dan diklasifikasi.
Sebagian besar tulang dan fosil mamalia ia kirim ke Richard Owen.
Owen adalah salah satu ahli zoologi paling cemerlang di zamannya.
Ia yang pertama kali menemukan dan menamai dinosaurus.
Dan ia kemudian menjadi pendiri dan direktur pertama
Museum Sejarah Alam di London.
Banyak spesimen yang dikumpulkan Darwin
masih terpelihara dan berharga di sini
di antara 70 juta spesimen lain yang tersimpan di museum yang didirikan Owen itu.
Dan ini salah satunya.
Ini jelas rahang bawah hewan besar,
dan saat Darwin menemukannya, masih ada sedikit kulit dan bulu yang melekat,
jadi awalnya ini diduga tulang dari spesies hidup yang tak diketahui.
Tapi kini kita tahu ini spesies yang sudah punah 10.000 tahun lalu,
seekor kungkang darat raksasa.
Owen memeriksanya dengan sangat cermat
dan akhirnya mendeskripsikannya dan memberinya nama Mylodon darwinii
sebagai penghargaan bagi penemunya.
Tapi sikap saling hormat di antara kedua ilmuwan besar ini
tak berlangsung lama.
Tak lama setelah kembali dari pelayarannya,
Darwin membuat rumahnya di sini di Down House, Kent.
Di sini ia menulis catatan tentang perjalanannya
dan mengerjakan risalah ilmiah terperinci
tentang karang dan teritip serta geologi dan fosil di Amerika Selatan.
Tapi dia pun merenungkan secara mendalam apa yang dia saksikan di Galapagos
dan di tempat lain.
Mungkin spesies tidak bersifat tetap.
Setiap hari ia berjalan-jalan di hutan kecil
yang ia tanam di pinggir tamannya.
Dan di sinilah dia mulai merenungkan masalah sejarah alam
termasuk misteri dari segala misteri:
bagaimana bisa satu spesies berubah menjadi spesies lain?
Ia mencatat bahwa, jika tak semuanya, kebanyakan hewan menghasilkan lebih banyak anak
daripada hidup untuk berkembang biak sendiri.
Misalnya, burung blue tit betina ini,
mungkin menghasilkan selusin telur setahun, mungkin 50 atau lebih dalam hidupnya.
Tapi hanya dua anaknya saja yang perlu bertahan hidup dan berkembang biak
untuk mempertahankan jumlah populasi blue tit.
Anak-anak itu, tentunya, cenderung paling sehat
dan paling cocok dengan lingkungan tertentu mereka.
Karakteristik mereka kemudian diwariskan
jadi mungkin selama beberapa generasi,
dan terutama jika terjadi perubahan lingkungan,
spesiesnya akan berubah.
Hanya yang paling bugar yang bertahan.
Dan itulah kuncinya.
Ia menyebut proses itu sebagai seleksi alam.
Itu menjelaskan perbedaan-perbedaan yang ia catat pada burung finch,
yang ia bawa pulang dari Galapagos.
Mereka sangat mirip, kecuali paruh mereka.
Yang satu ini punya paruh yang tipis dan halus,
yang ia gunakan untuk menangkap serangga.
Yang ini, sebaliknya, berasal dari lingkungan
yang terdapat banyak kacang, memiliki paruh yang besar dan berat,
yang mampu meremukkan kacang.
Jadi mungkin, selama masa geologis yang panjang,
khususnya jika spesies menginvasi lingkungan baru,
perubahan itu bisa sangat drastis.
Darwin menggambar sketsa di buku catatannya untuk mengilustrasikan gagasannya,
menunjukkan bagaimana satu spesies leluhur bisa menimbulkan beberapa perbedaan,
lalu ia menulis sebuah keraguan di atasnya, "Menurutku."
Kini ia sudah membuktikan teorinya.
Dan bertahun-tahun ia mengumpulkan banyak bukti yang meyakinkan.
Ia penulis surat yang luar biasa.
Dalam sehari ia menulis belasan surat
pada para ilmuwan dan naturalis di seluruh dunia.
Ia juga menyadari bahwa saat manusia mulai memelihara hewan
mereka telah melakukan eksperimen bagi Darwin selama berabad-abad.
Semua anjing peliharaan adalah keturunan dari satu spesies leluhur, serigala.
Pemelihara anjing memilih anak-anak anjing
yang karakteristiknya sesuai kesukaan mereka.
Alam, tentunya, menyeleksi anak-anak hewan
yang cocok dengan lingkungan tertentu.
Tapi prosesnya pada dasarnya sama.
Dan pada kedua kasus, hal ini menghasilkan keragaman menakjubkan.
Akibatnya, banyak keturunan yang berbeda ini
bisa dianggap spesies-spesies yang berbeda
karena mereka tak bisa melakukan kawin silang.
Berdasarkan mekanisme yang murni,
tak mungkin anjing Pekines bisa kawin dengan anjing Great Dane.
Memang benar, jika menggunakan inseminasi buatan,
kau bisa lakukan persilangan di antara hampir semua ras anjing ini.
tapi itu karena manusia telah menyeleksi anjing selama sekian abad.
Alam telah menyeleksi di antara berbagai hewan selama jutaan tahun,
puluhan juta, bahkan ratusan juta tahun.
Jadi, apa yang mulai berkembang biak berdasarkan keinginan kita,
kini menjadi spesies yang sangat berbeda.
Darwin, duduk di Down House,
menulis surat untuk para pemelihara merpati dan kelinci,
mengajukan segala macam pertanyaan rinci tentang metode mereka dan hasilnya.
Ia sendiri, sebagai seorang tuan tanah
dan pemilik perkebunan, tahu cara mengembangbiakkan kuda,
domba dan sapi.
Ia juga lakukan eksperimen seksama pada tanaman di rumah kacanya.
Tapi Darwin sadar, gagasan bahwa spesies bisa muncul
tanpa campur tangan ilahi, akan mengusik masyarakat secara umum.
Dan juga bertentangan dengan keyakinan istrinya, Emma,
yang adalah seorang Kristen taat.
Mungkin karena alasan itu, ia tekun untuk tetap fokus pada pekerjaan ilmiahnya.
No comments yet. Be the first to leave one.