The first 200 lines.
Subtitle oleh madeinheaven6666 Letterboxd: madeinheaven6666
Halo, ya. Perubahannya di paragraf terakhir adalah,
"Dengan harapan komitmen Kementerian Kebudayaan
"yang ditetapkan sebesar 812.000 franc
"tidak akan diubah..."
Balai Kota? Bagian pekerjaan umum, ya.
KEKASIH PACARKU
"Teman dari teman adalah temanku."
Boleh aku duduk di sini?
Tentu saja.
Aku tahu ada meja lain, tapi kalau sendirian,
cowok-cowok suka mengganggu.
Tenang saja, kamu aman denganku!
Kamu kerja di sini?
Tidak, aku dapat kartu masuk, dan rasanya agak canggung...
Sudahlah, aku pindah saja.
Jangan! Aku benci makan sendirian!
Aku juga, tapi aku tidak selalu ingin melihat wajah yang sama.
Aku ganti restoran tiap hari... Aku hafal semua tempat di sekitar sini.
Siang hari aku jarang makan banyak.
Aku juga biasanya. Pagi ini aku ada urusan
dan terpaksa melewatkan sarapan. Jadi...
- Kamu mahasiswa? - Bukan.
Aku kerja di Balai Kota. Urusan Kebudayaan.
Aku masih sekolah komputer. Tahu lokasinya?
Yang dekat sini?
Aku tingkat akhir... Satu bulan lagi dan masa bebas berakhir!
Maksudku, masa hidup nomadku.
Kecuali di kelas. Aku selalu berpindah-pindah.
Aku juga... sering ke mana-mana.
- Kamu tinggal di mana? - Di Belvedere, St. Christophe.
Yang gedung besar itu? Kita tetangga. Aku di Lozère.
- Di Desa Cergy? - Ya, itu.
Sebenarnya aku tidak benar-benar tinggal di sana. Itu cuma alamat.
- Kamu suka tempatmu? - Suka sekali.
Menurutku itu seperti barak.
Kalau aku menyebutnya istana.
Dari luar, mungkin. Tapi dalamnya?
- Pernah ke sana? - Belum, tapi bisa kubayangkan.
Kamu lebih mandiri dibanding tinggal di gedung kecil.
Aku terdengar seperti brosur.
Tapi rasanya seperti tinggal di hotel mewah.
Ya, kalau tidak terlalu lama...
Pokoknya, aku ini semacam pendatang.
Aku tinggal dengan seorang teman. Pacarku.
Rumah sebenarnya di tempat orang tuaku, di St. Germain.
Kadang aku tidur di sana saat akhir pekan.
Dulu aku sering mengajak Fabien, tapi... dia tidak suka di sana.
Padahal orang tuaku menyukainya.
Dia olahraga tiap akhir pekan. Sudahlah!
Terutama olahraga air. Aku benci air!
- Kalau kamu sendiri... Punya pacar? - Tidak.
Belum sekarang. Tidak di sini, tidak di Paris, tidak di kampung.
Aku orang desa.
- Tapi pernah? - Tentu saja.
Tapi sekarang benar-benar kosong.
- Tidak ada pria dalam hidupku. - Justru itu bagus.
Kamu masih punya banyak waktu.
Kamu punya teman, kan?
Tidak juga. Itu satu-satunya hal yang benar-benar kurang di sini.
Aku tidak terburu-buru soal pacar.
Aku harus kembali.
Aku mengatur jam kerjaku sendiri. Pekerjaanku impian.
Tak ada atasan, tak ada bawahan, sebenarnya.
Tidak ada atasan langsung,
tidak ada sekretaris pribadi juga.
Tapi pekerjaanku harus tetap selesai.
Kadang aku kerja sampai lewat jam makan siang.
Tapi lebih sehat kalau istirahat.
- Katanya kamu benci air? - Buat diminum?
Oh, berenang! Tidak, aku takut air.
- Tidak pernah ke kolam? - Astaga, tidak!
- Itu tidak berbahaya. - Ya, aku tahu.
Tapi klorin, keramaiannya... Ih!
- Dan aku pernah hampir tenggelam. - Kamu tidak bisa berenang?
Bisa... tapi payah.
Kalau kamu bisa berenang, rasa takutmu akan hilang.
Masalahnya memulai.
Aku ingin. Fabien menghabiskan setengah hidupnya di air.
- Dia tidak bisa mengajarimu? - Aku tidak mau dia yang mengajar.
Mungkin seseorang dengan wibawa lebih bisa...
Dia bukan tipe begitu.
Aku sering ke kolam saat jam makan siang, bukannya makan.
Tidak ramai, menenangkan...
Gerbang taman juga sudah dibuka, kamu bisa berjemur...
Aku guru yang baik.
Aku bisa mengajarimu pelan-pelan mengalahkan rasa takutmu. Mau coba?
Mau sekali.
Entah kenapa, aku percaya padamu.
- Tapi nanti kamu bosan. - Tidak. Menurutku justru seru.
Saat liburan, kamu akan berenang seperti ikan!
Dadah.
Ayo, aku pegang kamu.
- Jangan dilepas! - Pegang terus!
Tenang, sekarang rileks. Hembuskan napas...
Tiup ke air... Buka mulutmu...
Lagi... Santai saja!
- Itu dia! Teruskan! - Tapi... aku bisa kemasukan air!
Jangan takut. Aku pegang kamu!
Tutup mulutmu. Santai...
Pelan-pelan saja.
Alexandre!
Blanche, ini Alexandre.
- Sudah lama di sini? - Baru datang.
Kami mau pergi.
Sampai jumpa lain kali. Sering ke sini?
- Tidak. Kamu? - Jarang.
- Dadah. - Dadah.
Siapa pria itu?
Teman Fabien. Insinyur listrik.
Alexandre yang menawan. Dia tampan.
Kamu tertarik?
- Dia... mencolok. - Ya.
Aku sering melihatnya.
Semua perempuan meliriknya, tapi dia tidak menarik bagiku.
Kurasa dia bukan tipemu.
Kenapa bilang begitu? Kamu tidak mengenalku.
Cukup untuk tahu kamu bukan tipe gadisnya.
- Aku kurang manis? - Bukan itu maksudku!
Kamu jauh lebih menarik daripada gadis-gadis yang biasa dia kencani.
Dia tidak memilih. Dia mengambil yang ada.
Dia menunggu perempuan yang mendekat lebih dulu.
Karena aku menunggu pria yang bergerak dulu, kami takkan pernah cocok.
Masuk.
- Hai. Mudah menemukannya? - Tentu.
Aku ikut kamu.
- Kamu tidak apa-apa? - Baik.
Dan kamu?
Fabien, Blanche, guru renangku.
- Halo. - Halo.
Guru yang buruk. Aku terlalu memaksamu tempo hari.
Kamu sangat lembut. Aku tidak merasa tertekan.
Awalnya memang begitu. Lalu kamu menegang.
Berhenti! Kamu bukan guruku.
Kita bertemu di mana?
Aku? Kamu mau ke kolam?
Tidak. Dia juga tidak. Aku membantunya urusan sebentar.
Aku tidak berniat kembali ke sini.
Kita bakal telat. Aku harus ke Pontoise, lalu kita langsung
ke pesta di Paris itu.
Mau aku ikut? Aku ngapain sementara kalian urusan?
Dia mengantar ampli untuk diperbaiki. Bisa berjam-jam!
Sebentar saja. Kamu bisa belajar sesuatu.
Aku belajar siang hari. Malamnya aku istirahat!
Aku tidak keberatan menjemputmu lagi, tapi itu akan memakan
setidaknya setengah jam!
- Dia benar. Pergilah dengannya. - Aku tidak enak meninggalkanmu.
Tidak apa-apa. Sampai Senin.
Oke.
- Sampai Senin. Maaf. - Tak apa. Dadah.
Dia manis sekali. Kalau aku di posisinya, pasti marah!
Kenapa?
Aku bilang mau ke kolam, tapi tidak jadi.
Dia minta bantu urusan, dan aku juga tidak jadi.
Bukan salahmu. Dia cuma bersikap baik.
Siapa tahu dia memang ingin kamu di sana?
Urus saja urusanmu. Kamu tidak mengenalnya.
Dia gadis yang sensitif dan perhatian.
- Kita tadi sangat tidak sopan! - Dia justru penuh tenggang rasa.
Dia tahu kita sedang buru-buru. Dan memang begitu!
Jadi ayo jalan!
Ikut?
Kamu sedang apa?
Kenapa harus terburu-buru kalau aku ikut kamu?
Aku ingin datang lebih awal. Tak pernah tahu.
- Haruskah kita pergi? - Kamu tidak pernah bilang tak mau.
Sekarang sudah terlambat. Dan aku benci membatalkan janji.
Mereka lebih menyukaimu daripada aku.
Pergilah sendiri. Bilang aku sakit, yang memang benar!
Kamu tidak enak badan?
- Kamu sakit? - Tidak, tapi badanku kaku.
Semua terasa pegal.
Lebih baik aku istirahat.
- Serius? - Serius.
- Lebih baik aku antar pulang. - Tidak usah. Aku ke rumah Ibu saja.
Dia akan merawatku.
Telepon besok ya. Senin aku kembali segar bugar.
Halo?
Lea? Apa kabar?
Baik, terima kasih.
Minta maaf soal apa?
Kamu tidak meninggalkanku.
Apa?
Kalau aku tahu... Maaf!
Tidak, kamu justru meringankan tugasku.
Aku memang ingin istirahat.
Sekarang aku lentur lagi, siap berenang jauh!
Jangan ditelan mentah-mentah!
Tidak, bagaimana besok?
Kita makan malam bersama.
Aku tidak selalu menyeretnya ke mana-mana.
Aku ingin bicara denganmu. Khusus untukmu saja.
Kalau begitu, makan malam di rumahku.
- Suka? - Cantik sekali.
Nanti ditanami rumput, kan?
Akan tumbuh kok.
Pemandangannya berbeda dari sini.
Kelihatan danaunya!
Indah sekali!
Dari sini kelihatan La Défense, bahkan sampai Menara Eiffel.
No comments yet. Be the first to leave one.