The first 200 lines.
Hei, sepupu, kau di sini.
Hey.
Kenapa kalian ada di bawah?
Tanyakan pada Marco.
Kau tahu Tyrone, dia bawa perempuan lain.
Kau tahu betapa pekerja kerasnya teman kita.
Dia lama sekali. Aku harus ke toilet.
Sial, dia butuh waktu lama sekali.
Ayo kita ke Pares saja.
Lebih baik daripada menunggu.
- Dia butuh waktu. Ayo. - Benar, benar.
- Bro, kita ke Pares yuk. - Oke, biar kuselesaikan dulu.
- Oke, oke. - Sampai jumpa, oke?
Ya Tuhan.
Teruskan!
Lagi!
Teruskan!
Oh!
Bro, lihat ini.
Sialan! Kau merekam perempuan itu?
Ya, itu idenya. Katanya itu suvenir.
Sial! Anak ini ada di level lain! Idola!
- Wah, temanku ini punya sesuatu yang lain lagi. - Ini lagi, coba lihat ini!
- Sial, lihat goyangannya. - Sial.
Aku pernah mencobanya sekali, tapi punggungku sakit sekali setelah itu.
Sialan, berdiri 69 derajat…
Kalau aku, perempuan itu akan berkeringat, lalu terjatuh ke lantai.
- Dan kau menyeretnya ke dalam. - Yah...
Jadi ya, kami berakhir di ER.
Hey, Danilo.
Kenapa kau diam saja?
Ya, bro, kemari.
- Kau kelihatan murung sekali. - Biarkan saja sepupuku.
Dia lelaki yang baik.
Dia bisa terpengaruh oleh kegilaan kita.
Kita tidak merendahkan perempuan, kan?
- Ya, tepat sekali. - Kita hanya bicara. Lihat itu.
Bro, hey.
Kenapa kau diam saja?
- Iya, bro, kemari. - Kau tidak suka perempuan?
Kau terlihat sedih di sana.
Danilo?
Dia punya banyak cewek di kampungnya.
Itu sebabnya dia ke Manila, karena semua ayah mereka mengejarnya.
Kenapa kau yang menjawab, sepupumu bisu?
Dia tidak bisu. Dia memang begitu, dia hanya pendiam.
Pendiam, atau tidak punya pengalaman?
Ayo jujurlah...
Kau masih perjaka?
Hey.
Kau serius masih perjaka?
Apa? Kau belum pernah mencicipi vagina sebelumnya?
Bagaimana dengan penis?
Hah?
Hei, hei! Jangan ganggu sepupuku.
- Ayo, kita pergi. - Kami cuma becanda kawan.
Ayo, tidur.
- Selamat malam, Bung. - Ya, ya, kalian lanjutkan saja.
Sial, kau benar-benar idola!
- Ajari aku caramu. - Bagus, kan?
Hey.
Kau tidur nyenyak tadi malam?
- Maaf soal tadi malam... - Bro, kau mau pergi?
- Aku sedang terburu-buru. - Aku...
Aku sudah punya klien di dekat sini.
- Ayolah, aku terburu-buru, Bung. - Aku ada klien di dekat sini.
Bro, kita bagi ongkosnya aja, yuk.
Jika aku naik jip, aku tidak akan sampai tepat waktu.
- Oke, aku paham. - Bagus, bagus.
Oh, Bro, ngomong-ngomong,
maaf soal tadi malam.
Kami tidak bermaksud berlebihan mengganggumu.
Tapi jangan khawatir, kami akan menebusnya.
- Tidak apa-apa. - Hei, Alvin, taksinya sudah datang! Cepat!
- Baiklah. - Oke.
Kau belum ke Manila?
Kapan kau datang?
Sayang?
Untungnya, aku masih di Jepang.
Oke, baiklah!
Ya ampun...
Halo sayang. Kau di mana?
Aku akan ke sana, ayo kita kencan.
Ayo!
Sial. Aku terlambat.
Sialan!
Pak, ojek?
- Oh, ojek, Pak? Oke. - Oke.
- Ini helmmu. - Oke.
- Ke mana? - Ke pasar.
Oke.
- Sudah siap Pak? - Ya, siap, Pak.
Kau wangi.
- Ini terasa mahal! - Terima kasih, Pak.
Sialan kau!
Bu, butuh ojek?
Tidak.
Ini jam sibuk, kau bisa terlambat.
Berapa ongkosnya?
250, Bu. Kau mau ke mana?
Di sini.
Alamat ini.
Ah, oke, hanya 250, Bu.
- Baik, aku akan memberi harga 230. - Oke, Pak.
Ini helmnya.
Oke.
- Di sini pemberhentiannya, Bu? - Ya, di sini.
Baik.
Pak, bisa kau menungguku?
Ini akan cepat.
Paling lama sekitar 30 menit.
Ini pembayarannya.
Oh...
Bu, nanti saja pembayarannya, agar kau yakin...
agar kau yakin aku tidak akan pergi.
Hm... baiklah.
Terima kasih.
- Kita sampai, Bu. - Oke.
- 230, kan? - Ya.
- Ini. - Terima kasih.
Bu, kuambil helm.
Terima kasih.
Pak, berapa nomor teleponmu? Jadi aku bisa mengirim pesan
jika aku kesulitan mendapat tumpangan lain kali.
Ah, tentu saja, Bu.
- Kutelepon ya. Simpan nomorku, oke? - Oke, Bu.
- Itu Bu, sudah tersambung. - Baik, terima kasih!
Bu...
Siapa namamu?
Sekadar agar aku tahu kalau kau yang mengirimiku pesan.
- Ah... Erika. - Erika. Oke.
- Aku Danilo. - Terima kasih, Danilo.
Sama-sama. Terima kasih juga, Bu.
- Oh, hai! - Oh!
Maaf, aku tidak tahu ada orang di sini.
Kau Danilo?
Aku Sugar.
Aku teman Alvin dan Tyrone,
dan aku hadiahmu.
Maaf. Maaf...
Jangan minta maaf.
Aku tahu ini pertama kalinya bagimu.
Jangan khawatir, aku akan mengajarimu.
Menurutmu aku cantik?
Ya.
Aku bukan tipemu?
Atau… kau tidak suka perempuan?
Sepertinya kau suka, kan?
Tunggu... tunggu!
Jangan khawatir, ini tidak akan memakan waktu lama, selesaikan saja.
Tunggu!
Tunggu...
Tunggu sebentar.
Hey! Hey!
- Sebentar. - Masukkan ke dalam...
Masukkan! Ayo!
Tunggu! Tunggu dulu!
Tunggu!
Ayo!
- Lakukan! - Tunggu...
- Cepatlah! - Aku tidak mau!
Kau payah sekali!
Kau tidak mendengarkan.
Hei! Kau mau ke mana?
Sialan! Mereka tidak akan membayarku!
Bajingan itu, bertingkah seperti orang gila.
Apa yang terjadi?
Oke, Bro.
Kami pesankan perempuan untuknya, tapi dia pergi begitu saja. Apa maksudnya?
Perempuan yang kami kirim kesal,
- Ya. - Danilo meninggalkannya sendiri.
- Si idiot itu? Aneh sekali. - Sial, kenapa dia begitu?
Aku tidak tahu, Bro.
Sialan, kau harusnya memberitahu kami kalau sepupumu gay.
Kalau saja kami tahu, Alvin dan aku akan memesan pria panggilan.
Hei, hei, sepupuku tidak gay.
Dia punya trauma… dengan seks.
Karena ayahnya bajingan.
Ayah Danilo,
seorang pecandu alkohol dan tukang selingkuh.
Dan ibunya,
meninggal karena stres.
Itu malah membuat perilaku ayahnya yang suka selingkuh makin parah.
Bayangkan...
Dia membawa perempuan pulang dan ngeseks di depannya.
Dia masih anak-anak saat itu.
Jadi saat dia tumbuh dewasa,
dia kabur dari rumah.
Tapi trauma itu masih melekat padanya.
Itu sebabnya dia seperti itu, sekarang pendiam, takut pada perempuan.
Maksudku… bayangkan kau tumbuh seperti itu?
Kalian tidak memahaminya.
Jadi biarkan saja dia.
- Tuangkan aku minuman. - Oke.
Bro. Ayah Danilo itu legenda. Andai saja ayahku seperti itu.
- Apa-apaan, kau gila sekali. - Ada apa denganmu?
Baiklah, ayo, ayo.
Kau duluan, kau sedang stres.
Hei sepupu, kau di mana?
Bisa aku memesan?
No comments yet. Be the first to leave one.