The first 200 lines.
Berdasarkan kisah nyata dan diperankan oleh masyarakat suku Yakel.
Sejak awal zaman
para kepala suku telah mengatur pernikahan
di sepanjang Jalan Kastom
tetapi dua kekasih memilih untuk berjalan di jalan yang berbeda...
TANNA
Selin.
Selin.
Temanku telah kembali ke kampung.
Bisakah kamu masak sayur betenya? Sa su mau berangkat.
Selin, kembali.
- Di mana Taboo? - Tra ada di sini.
Sabar.
- Di mana tempat tabu? - Di sini.
Tangkap dia.
Tangkap Selin.
Kitong akan sembunyi. Ko cari torang.
Sa rindu ko. Ko pi terlalu lama.
Sekarang ko su besar.
Seekor kupu-kupu yang cantik.
Ko tangkap banyak kupu-kupu seperti itu?
Selin, pigi!
- Bagaimana ko bisa temukan sa? - Sa tau semua tempat persembunyianmu.
Apa yang ko lihat?
Sa ada liat ko main deng cucu kepala suku.
Jang bilang apa-apa pada mama atau papa. Mereka akan marah.
Ko mau sa bohong buat ko?
Berhenti ikut sa ke mana-mana.
Saat ko pakai rok ini, Wawa.
anak-anak laki-laki akan berebut untuk dapatkan ko.
Pegang ini dan lari secepatnya!
Wawa, ko akan secantik nenekmu waktu dia masih muda sekali.
Kayaknya sa tra lari cukup cepat.
Mama, sa bosan bikin ini. Sa mau main deng sa pu teman-teman.
Kitong ba bikin rok ini buat upacara inisiasimu.
Ko su bukan anak kecil lagi.
Ko mengerti?
Selin, pi sana bantu mama dan kakamu.
Para laki-laki akan kerja di sini.
Ayo, pigi.
Sa su bilang ko pi bantu mama.
Bapa, Selin tra mau dengar kitong.
Bisa bantu ka?
Ya, su waktunya.
Cepat, ambe sa pu koteka!
Tangkap dia, dia curi koteka sa.
Selin. Selin, kembali.
Selin pi ke tempat tabu.
Selin. Kembali!
Oi Selin, kembali.
Selin, kenapa ko lari masuk ke tempat terlarang?
Suku Imedin su bunuh orang-orang kitong di sini.
Ko tra boleh datang ke sini lagi.
Banyak pejuang di mana-mana.
Dan itu bukan milikmu.
Maaf.
Pigi. Sa tra tau kenapa ko bisa begitu.
Kakemu akan bawa ko ke Yahul buat ajar ko hormat.
Waktu kitong pulang dari air terjun, para laki-laki akan lihat ko su jadi perempuan.
Oles minyak kelapa di bokong dan perut sa yang kerja keras ini.
Wawa...
Kepala suku akan segera atur pernikahanmu deng orang dari suku lain.
Ko harus duduk deng sa untuk belajar jadi istri yang baik
dan mama yang baik.
Ko su jadi perempuan sekarang.
Kasih cat lagi di pipinya yang cantik itu.
Kitong harus tunjukkan ko.
Terima kasih.
Wawa,
Ko menghilang setelah upacara. Di mana ko tadi?
sa ada pigi bermain deng teman-temanku, nenek.
Selamat pagi, tukang tidur.
Kamu siap untuk perjalanan besar?
Selin!
Hei, mau ke mana ko?
Sa akan membawamu ke Yahul, nenek moyang torang.
Apakah jauh?
Su saatnya...
Ko belajar artinya kehormatan.
Ko harus meminta izin pada orang tuamu sebelum pergi ke mana pun.
Ko harus bersikap lebih bertanggung jawab.
Di mana ko?
Jangkrik.
Terima kasih. Tapi apakah ko mendengarkan sa?
Bisa berbahaya disini, jadi ko tra boleh berkeliaran begitu saja.
Jika orang tuamu memintamu melakukan sesuatu, ko harus mematuhinya.
Ko tra boleh menolak.
Ko jang pegang jamur itu. Itu racun! Racun!
Tapi sama macam yang mama masak.
Iya, tapi jang makan yang tumbuh di pohon.
Dukun Yakel su jalan pigi Yahul.
Dia yang bikin kitong pu panen gagal.
Ko lihat teluk itu ka?
Itu tempat kapten Cook turun darat.
Orang-orang di seluruh pulau su tinggalkan adat lama.
De rasa bingung, tra tau jalan.
Kitong pu suku yang terakhir yang masih jaga adat Kastom.
Kitong musti tetap jaga supaya kitong bisa bertahan.
Yahul su ada dari dulu sebelum kitong semua.
Dia sumber dari hidup, kasih sayang, dan Kastom.
Kalau ko lihat dalam hati dia, ko akan mengerti.
Ko jang takut sama dia.
Mari kitong dekat sedikit.
Sa bisa rasa dia.
Rasa panas dari dia.
Sa bisa dengar dia.
- Dia bicara sama sa. - Iya, betul.
Ko dapat karunia yang sakti.
- Kakek! - Lari!
De pukul kakek.
Bapa, de pukul kakek!
- De pukul kakek. - Apa yang jadi?
Sa rasa de bunuh dia.
- Siapa? - Suku Imedin.
Bapa sa diserang.
- Itu suku Imedin lagi. - Ayo kitong harusu serang dorang!
Dia masih ada di Yahul. Selin su lari sampe malam.
Ko balik! Torang musti tau dulu baik-baik.
Ko cerita apa ko lihat.
Sa lihat orang Imedin pukul dia di kepala pake kayu.
De juga bunuh mama papa sa.
Kitong musti tetap tenang.
Kitong su kehilangan banyak orang.
Tenang dolo. Tenang.
Selin, ko tunjuk pe kitong ko pu kakek ada di mana.
Iya, kitong bawa dukun torang pulang.
Lingai, ko bawa Kawerin, dan Jonny...
Ko bawa Waha... sama Dain.
Bawa dia pulang.
Lingai.
Ko jaga cucu sa. Jang kasi dia bikin hal bodoh.
Napas dia su pelan.
Kakek, sa ada di sini sama bapa dan para pejuang lain.
Kalo kitong buru-buru, kitong masih bisa menyelamatkan dia.
Suku Imedin tra bisa lepas begitu saja.
Tenaga dia su habis. Kitong musti pindah dia sekarang.
Dain sama Selin, ko lari duluan kas tau dukun obat.
Sa kuatir napas dia. Ko cepat-cepat.
Kitong datang ini!
Dia su mulai keluar darah lagi.
Ko kumpul tenaga lalu minum obat ini.
Minum, opa.
Angkat dia pelan-pelan.
Ini parah sekali. Tanpa dukun torang, kitong tra bisa lawan.
Obat sa tra cukup kuat.
Sa rasa dia tra bisa tahan sampai malam ini.
Bapa, masyarakat kampung su kumpul di sini.
Bilang sesuatu untuk dorang.
Kebijaksanaan datang lewat derita,
Bunuh orang cuma bikin sakit hati.
Satu pihak berjuang cari kuasa,
Pihak lain balas dendam lagi.
Anak-anak Tanna yang su pecah -
Mari bersatu, bikin damai.
Mari torang jadi satu, hidup damai.
Nenek moyang su kasi lagu sama untuk kitong semua.
Waktu untuk damai su datang.
Lagu itu bicara tentang damai -
tapi musuh masih terus serang kitong.
Itu adil kalau kitong balas bunuh satu dari dorang.
Dengar lagu itu baik-baik.
Lagu bilang pengampunan itu satu-satunya jalan -
supaya dua suku bisa duduk satu Kastom-rumah lagi.
Ko tra mau ka, supaya suku ini bisa hidup terus?
Lagu damai itu yang bisa bikin shaman kitong hidup lagi.
Sa mau ko dengar baik-baik lagi.
Sa minta ko dengar ulang lagi.
Kebijaksanaan datang lewat derita.
Bunuh orang cuma bikin susah hati.
Satu pihak berjuang cuma mau jadi kuat.
pihak lain balas dendam saja.
Anak-anak Tanna yang su pecah,
mari bersatu, bikin damai.
Ingat ulang asal mula kitong,
dengar baik-baik kata-kata leluhur kitong
trus kitong hidup bae-bae ulang, damai ulang.
Mari ko nyanyi sama-sama deng sa.
Yang ini.
Kitong bawa ini bibit bete pigi kebun,
tanam pas di tempat di mana mama bapa ko dorang mati dibunuh.
Kitong tanam itu di situ.
Kitong kasi itu akar buat kepala suku yang jaga damai.
Jangan rusak itu akar.
Ko harus gali bete itu dengan hormat.
Minum kava,
bikin kitong lebih mengerti.
Ini adat suci Kastom, dia yang kasi tunjuk jalan damai
Sekarang waktu untuk mulai hidup baru di sini.
Kebun mama bapa ko, sekarang itu jadi milik ko.
Mari kitong bersih kebun, tanam bibit kava itu.
Ini tongkat gali kubur punya bapa ko.
Sa sayang bapa ko, sama kuat kaya ko sayang dia.
Sekarang tinggal torang dua aja.
Torang musti jaga satu sama lain.
Sa mau balas dendam.
Kalau ko mau jadi kepala suku yang baik suatu hari,
ko musti taruh dendam itu di belakang.
Dain, ada apa?
Suku Imedin potong leher bapa sa.
Kakek sa bilang sa harus lupa itu.
No comments yet. Be the first to leave one.