The first 200 lines.
Aku kenal kematian.
Aku melihatnya, merasakannya, melawannya.
Aku menyelamatkan orang-orang yang tak begitu kukenal,
dan kehilangan orang lain yang namanya takkan pernah kulupakan.
Bagaimanapun juga,
mereka semua menghantuiku.
Malam ini, katanya tabir pemisah menipis,
para arwah berjalan di antara kita, walau hanya sejenak.
Apa itu hanya sugesti kita untuk meredakan duka,
atau itu nyata?
Apa mereka tetap bersama kita,
entah bagaimana mendengar kita saat kita menyebut nama mereka?
Apa mereka benar-benar tiada jika kita masih menyimpannya dalam hati,
jika kita mengingatnya?
Sayang, kamu bisa lihat pakai kostum itu?
Bisa pegangi kepalaku?
Nah, gini lebih enak.
Yakin nggak mau aku saja yang menyetir?
Sayang, aku penunggang kuda tanpa kepala.
Masuklah ke kuda besiku.
Bisa tolong...
Van, yang benar saja?
Maaf, susah sekali melihat pakai benda ini.
Makanya aku bilang pakai kostumnya nanti pas sampai di pesta.
Nanti orang-orang tahu itu aku.
Benar, karena mereka pasti nggak tahu kamu siapa
saat kamu masuk dengan pacarmu.
Tapi kamu bukan pacarku... Kamu vampir seksi.
Hei, tanpa kepala, bukan tanpa tangan. Tangannya tetap di setir.
Nanti kalau aku sudah bisa melihat lagi. Bisa bantu?
Aku nggak bisa lihat. Tolong tarik...
Kancingnya. Sepertinya kancingnya, kancingnya.
- Tolong bantu aku. - Aku nggak bisa...
- Tolonglah. - Sudah. Beres.
Baik, sisi pengemudi yang paling parah.
Buck, Ravi, semprot mesinnya.
LAFD, Bu. Bagaimana keadaan kalian?
Aku nggak apa-apa, tapi pacarku, dia nggak banyak bicara setelah tabrakan.
Sepertinya dia pingsan beberapa detik.
Baik, akan kami keluarkan.
- Oke. - Tetap tenang, ya?
Hen, Eddie, ada dua korban luka, keduanya pakai kostum.
Sial. Sudah ada saja?
Gagal sudah usaha menghindari kutukan kostum tahun ini.
- Buck, ambil Jaws. - Siap.
- Ravi, tetap dinginkan mesinnya. - Siap.
Apa ada yang sakit atau tidak nyaman? Aku lihat ada darah.
Bibirku tergigit.
- LAFD. Pak, bisa sebutkan nama Anda? - Van.
Apa barusan ada kecelakaan?
Anda tidak ingat?
Kostumku terus melorot.
Jangan bergerak, oke? Kami harus memeriksa Anda dulu, Pak.
Baik, apa jari kakimu bisa dirasakan?
Nggak. Nggak, sepertinya nggak bisa.
Oke.
Bagaimana keadaannya?
Trauma tulang leher. Sepertinya dia mulai syok.
Tapi terlalu berisiko untuk mengeluarkannya dari sisi penumpang.
Jaws sudah siap.
- Jaws-nya mati. - Mati? Kok bisa?
Kutukan kostum.
Kostumnya bukan kutukan. Itu penyangga leher.
Lihat, itu menjaga lehernya tetap lurus.
Baik, siapkan papan spinal.
Buck, ganjal bannya. Ravi, kamu yang pegang katrol.
- Kita akan lepas paksa pintu ini. - Siap.
Oke, Ravi.
Siap.
Ya, terus tarik.
Sedikit lagi.
Pak, apa ada yang terasa sakit?
Nggak, cuma kaku. Kakiku kesemutan.
- Baik. - Coba gerakkan.
Oke, bagus.
Bagus. Syukurlah.
Bagaimana keadaan orang yang satunya?
Maksudmu wanita yang bersamamu di mobil?
Pria di jalan itu, yang kami tabrak.
Sepertinya dia pakai kostum orang-orangan sawah.
Kapten, sepertinya ada korban lagi.
LAFD, bisa dengar kami?
- LAFD. Ada yang butuh bantuan? - Ayo.
- Buck. - Ya.
Aku nggak lihat apa pun sebelum tabrakan. Sumpah.
- Kubilang tadi ada orang. - Ketemu.
Itu apa?
Apa ini orang yang kamu tabrak?
Syukurlah.
Aku sudah mulai khawatir jangan-jangan aku membunuh orang.
Hanya beberapa goresan dan memar ringan, kurasa dia akan selamat.
Apa akan terjadi sesuatu padaku kalau aku makan kue ini?
Ayolah. Gigit saja sedikit.
- Gimana? - Enak.
- Tapi apa rasanya sudah pas? - Aku nggak mengerti maksudmu.
Ada yang kurang.
Aku terus mencoba membuat ulang snickerdoodle Bobby yang terkenal itu
karena resepnya nggak ketemu.
Mungkin kalau kamu lebih sering bongkar barang daripada bikin kue, barang-barangmu akan ketemu.
Mungkin kamu bisa lebih jarang menghakimi dan lebih sering membantuku.
Baiklah, "K" bukan singkatan dari "dapur".
Sepertinya "K" untuk "kitsch"?
Apa? Kukira aku akan ingat isi semua kardus ini.
Aku nggak tahu akan butuh waktu empat bulan untuk dapat tempat
lalu tiga bulan lagi agar penyewa sebelumnya pindah.
Ya, kalau aku sih sudah kutinggalkan.
Ya, tapi halaman belakangnya bagus, kan?
- Pohon-pohonnya bagus. - Iya.
Aku sebenarnya harus bicara dengan pemilik rumah soal itu.
Aku sering dengar suara-suara di malam hari. Mungkin ada tupai di loteng.
Tupai?
Atau mungkin hantu.
- Itu tupai. - Atau hantu tupai.
- Jangan begitu. Kenapa kamu jadi begini? - Karena ini Halloween.
Ini kan semangat perayaannya.
Atau mungkin aku merasakan energi paranormal di sini.
Energinya normal, nggak seperti kamu.
- Wow. - Kamu menemukan resepnya?
Ya.
- Aku sangat merindukannya. - Aku tahu.
Itu tempat yang pas.
Mungkin dia bisa memberimu inspirasi di dapur.
Tunggu, jadi kamu nggak suka snickerdoodle-nya?
Bukan, bukan, tempat ini... bagus sekali, sungguh.
Aku bahkan bisa berolahraga sebelum sarapan.
Maaf,
Aku cuma memasukkan semua barang ke ruangan ini
sampai aku tahu mau ditaruh di mana,
lalu kututup pintunya dan pura-pura melupakannya,
sampai kita membahas kepindahanmu ke sini.
Memangnya kita membahasnya?
- Ini bagus sekali. - Aku senang kamu suka.
Dan aku pasti bisa cari tempat lain untuk sepedanya.
Nggak usah, biarkan saja di situ.
Dia harus tetap bugar
untuk lulus tes kebugaran pemadam kebakaran, kan?
Hei, jangan terburu-buru.
Aku bahkan belum dapat panggilan wawancara.
Lemari ini kosong, jadi kamu bisa taruh semua barangmu di sini,
tapi sepertinya aku menyimpan beberapa barang di dalam lemari.
- Akan kucari tempat lain. - Nggak usah.
Biarkan saja di situ.
Kurasa akan menyenangkan ada sedikit kenangannya di sini.
Aku biarkan kamu beres-beres, ya. Aku akan pesan makan siang.
Aku nggak menyangka sindrom Stockholm bisa secepat ini.
Aku bukan sandera.
Aku setuju pindah ke sini,
dan dia setuju untuk menerima keinginanku jadi pemadam kebakaran.
Kamu nggak butuh izinnya, Harry.
Tapi aku menginginkannya.
Aku ingin dia mendukung apa yang kulakukan. Aku ingin dia bangga padaku.
Ternyata dia mengajak teman-temannya jalan saat kakek-nenekmu sedang kerja.
Tanpa punya SIM.
Dia nggak punya SIM?
Anak emas kita gagal tes SIM dua kali,
tapi, dia bisa menyalakan mobil tanpa kunci.
Ayah!
Oke, dia sedang mengerjakan PR matematika,
dan sepertinya aku harus mulai menyembunyikan kunci mobilku.
Mungkin kamu mau menyembunyikannya bersama ini.
Apa yang kalian lakukan menggeledah dapurku?
Maaf, aku nggak tahu kalau kamu menyimpan sesuatu
selain loyang pemanggang di atas kulkasmu.
Buku doa itu hadiah dari Kapten Nash.
Dia Katolik?
Iya.
Lalu rosarionya?
Itu...
- Milikku. - Edmundo, kamu kembali ke gereja?
Aku baru beberapa kali ikut misa. Jangan dibesar-besarkan.
Sana. Sana.
Ini hal yang besar.
Kamu kembali terhubung dengan imanmu, dengan komunitasmu.
Aku belum merasa begitu terhubung.
Aku bahkan nggak tahu apa aku melakukannya untuk diriku atau Bobby.
- Bagaimana perasaan Christopher? - Dia belum tahu.
Aku nggak akan memaksanya, oke?
Dulu aku dipaksa ke gereja, dan aku benci itu.
Nanti saat dia besar, dia bisa memutuskan sendiri.
Krim tartar. Bahan yang kurang.
Ya Tuhan. Hei. Hei! Ya Tuhan!
Kalian nggak akan percaya ini. Oke, kalian ingat aku cerita
kalau aku kesulitan bikin snickerdoodle?
Resepnya Bobby.
Ayolah, aku sudah mencobanya berminggu-minggu,
mencoba mencari tahu bahan yang kurang.
- Terserah katamu. - Lupakan. Cicipi saja. Ini, ambil.
Ayo. Oke. Hen, kamu satu.
Ravi. Ayo. Chim, Kapten, cicipi.
Sial. Ini enak juga.
Maksudku, Kapten memang selalu jago bikin kue.
Tahu apa yang lebih jago dia lakukan? Nggak bicara soal kue.
- Ini enak sekali, Buck. - Tebak bagaimana aku bisa tahu.
Mencoba semua bumbu di lemari satu per satu sesuai abjad?
Bukan. Bobby yang memberitahuku.
- Oke, Buck. - Aku tahu ini terdengar gila.
Aku sungguh merasa dia membantuku.
Aku menemukan fotoku dengannya. Kutaruh di dapur.
Malam berikutnya, bam. Langsung ada.
Krim tartar.
No comments yet. Be the first to leave one.