The first 200 lines.
Film ini mengambil cerita seputar Ilmu Kejiwaan, apa bila ada kesamaan karakter,
nama dan cara diagnosa, itu hanya kebetulan semata.
Untuk apa hanya kau bayangkan?
Lakukan saja.
Hei.
Bagaimana caranya?
Kau mau tahu?
Apa kau sering ditampar?
Kalau aku tidak salah hitung...
mungkin sekitar 30 kali, ya?
Sekarang 31 kali.
Hei...
apa kau mau kutampar lagi?
Kau mau apa?
Jaman dahulu kala, di sebuah desa...
ada sebuah gua yang sangat gelap.
Di gua itu,
sudah lama tidak mendapat sinar matahari.
Untuk apa kau ceritakan itu?
Gua itu menjadi sangat gelap karena tidak pernah terkena sinar matahari.
Semua orang...
takut akan kegelapan.
Sama seperti kau saat ini.
Omong kosong.
Untuk bisa mengatasi rasa takut akan kegelapan itu...
Jang Jae Yul, kau mau apa?
semua orang di desa itu terus mencari cara agar keluar dari ketakutan itu.
Tapi sebenarnya ada satu cara...
contohnya seperti ini...
dan caranya sangat mudah.
Walaupun kau bilang, kau tidak pernah merasakan cinta selama hidupmu,
walaupun, belum lama ini kau baru saja putus...
tidak apa-apa.
Kau hanya butuh waktu sebentar...
untuk kembali merasakan cinta.
Teman.
Teman, gundulmu.
Ya ampun, konyol sekali.
Darimana kau pelajari cerita konyol itu?
Pria yang sering ditampar...
pasti bisa mengarang cerita seperti itu.
Jika lain kali kau merasakan cinta...
cukup kau rasakan saja.
Tidak perlu kau pikirkan terlalu jauh.
Ternyata, bibirmu...
lebih basah dari yang kubayangkan.
Kenapa kau bawa pasportmu?
Biar aku bisa langsung kabur.
Apa ini?
Jangan pegang. Itu cowokku.
Apa?
Ada cowok lain?
Apa kau...
berhenti membahas tentangku?
Aku...
mau muntah.
Oh, gawat.
Bagaimana ini?
Hei, hei, hei, hei, hei.
Hei.
Jangan di sini.
Tahan.
Ayo kita ke loby.
Kamar mandi.
Kamar mandi.
Kenapa kau?
Bukan kau.
Aku sedang berbicara dengannya.
Noona.
Kau cantik.
Aku...
temannya si Pengarang.
Aku bilang tahan.
Tunggu aku di taman.
Brengsek...
aku harus pulang.
Kita pulang, ya?
Aku masih bisa pulang, kan?
Iya, aku pasti bisa.
Aku rebahan sebentar deh.
Pusing sekali.
Tapi...
aku tidak boleh tidur di sini. Apa aku masih bisa mempercayai Jae Yul setelah dia menciumku?
Aku mau muntah tapi tidak bisa.
Oh iya.
Kalau kau berani menyentuhku.
Aku hajar kau nanti.
Aduh!
Pak Pengarang!
Pak Pengarang.
Cepat ke rumah sakit.
Pak Pengarang.
Pak Pengarang.
Apa-apaan ini?
Apa yang sudah kau lakukan, brengsek?
Harusnya kau ke rumah sakit! Kenapa malah menemuiku?
Apa kau ingin berlagak di depanku?
Apa kau ingin menunjukkan kalau kau habis dipukuli? Iya?
Apa kau ingin membuatku Iba?
Aku sudah menyuruhmu kabur.
Harusnya kau kabur, kalau Ayahmu ingin memukulimu.
Tapi Ibuku...
Ajak Ibumu sekalian!
Aku...
aku sedang menulis novel baru.
Kali ini ceritanya apa lagi?
Apa sekarang, aku membunuhmu?
Atau jangan-jangan,
kau yang membunuhku?
Itu ceritaku.
Seperti yang kau bilang...
Pak Pengarang!
Pak Pengarang!
Brengsek!
Tae Yong, apa kau sudah tidur?
Kang Woo!
Han Kang Woo!
Aku temannya Pengarang!
Apa-apaan ini?
Apa-apaan ini?
Bagaimana ini?
Dia imut juga.
Dari kemarin dia tidak pulang!
Hyungnim.
Noona kemarin malam tidak pulang...
bersama Jang Jae Yul.
Terus?
Terus?
Harusnya kau marahi mereka.
Kenapa malah jadi bilang terus?
Apa kau takut, Hae Soo macam-macam dengan Jang Jae Yul?
Iya lah.
Berarti Hae Soo bisa mengobati ketakutannya selama ini.
Lalu, apa masalahnya?
Apa noona juga tidak khawatir?
Apa noona tidak takut adikmu macam-macam dengan playboy yang belum terlalu dikenalnya?
Aku justru berharap mereka macam-macam.
Aku dengar dia sudah putus dengan Choi Ho.
Mumpung dia masih muda, memangnya mau sampai kapan dia mempertahankan kesuciannya?
Bagaimana kalau dia diperkosa?
Jang Jae Yul...
menahan noona yang sedang mabuk seperti ini?
Setelah itu, seperti ini...
Aduh, aduh, aduh!
Tidak heran, sampai ada orang yang niat membunuh.
- Mungkin saja, kan! - Apa Hae Soo...
tipe orang yang akan membiarkan hal itu terjadi padanya?
Lalu, apa Jang Jae Yul...
kemari kau...
bisa melakukan hal seperti ini padanya?
Memangnya kau pikir dia sehina itu?
Jadi panas.
Kemarin kalian tidur di mana?
Di apartemenku.
Kenapa?
Hyungnim, kau dengar itu kan?
Kemarin...
apa yang kau lakukan pada noona-ku?
Kami mabuk dan ciuman.
Setelah itu, dia menamparku.
Aku pesan es kopi nya ya.
Jang Jae Yul.
Nanti kau harus ceritakan kejadiannya ya.
Baik, hyungnim.
Dasar brengsek.
Hebat juga dia.
Hei, Tae Yong.
Apa kau sudah meninggalkan uangnya di kursi taman itu?
Mungkin dia memang tidak berniat meminta uang darimu.
Apa yang sebenarnya dia inginkan darimu?
Pertemanan.
Pertemanan?
Apa maksudmu?
Dia 'kan masih terlalu muda untuk menjadi temanmu.
Apa dia sudah gila?
Jangan terlalu baik makanya.
Mungkin saja dia coba membohongimu.
Kau belum terlalu mengenalnya, kan.
Mungkin saja, dia hanya ingin memanfaatkan kebaikanmu.
Seperti kau?
Ibu mau bicara denganmu.
Ini Jae Yul.
Aku mau periksa novel barunya.
Apa?
Ibu lebih mencintaiku atau hyung?
Apanya yang konyol? Ibu cukup menjawabnya saja.
Kau pikir, kenapa Ibu mau menemuinya? Ibu merindukannya.
Kau masih punya banyak teman. Dia hanya punya Ibu.
Sudah dulu ya, Ibu mau pergi.
Kalau dia tidak mau menemui Ibu lagi, Ibu tidak akan kecewa.
Kau ini kenapa?
Setelah menemui hyung-mu, Ibu harus segera pulang untuk membuat sambal.
Sudah ya.
Ibu selalu saja begitu.
Hati-hati ya.
Aku mencintaimu, Bu.
Dia tidak mau dicerai, tapi dia juga tidak mau mengikuti terapi.
Jin Min.
Untuk sementara...
bagaimana kalau *urologi dulu?
No comments yet. Be the first to leave one.