The first 163 lines.
BERDASARKAN KEJADIAN NYATA
KEPULAUAN HAWAII
AKHIR ABAD KE-18
Rakyat kami hidup makmur dalam keindahan kepulauan kami.
Tetapi kami tidak bersatu.
Kami adalah empat kerajaan yang disatukan oleh perairan...
KERAJAAN OʻAHU
KERAJAAN MAUI
KERAJAAN KAUAʻI
KERAJAAN HAWAIʻI
...namun kami dipisahkan para Kepala Suku yang licik dan para dewa yang kuat.
Mereka membuat kami terjebak dalam siklus perang tiada akhir.
Ramalan Kuno mengatakan:
"Bintang dengan Jubah Berbulu akan menandakan kehadiran Raja yang agung,
yang akan menyatukan semua kerajaan dan mengakhiri zaman peperangan."
Kami menanti selama beberapa generasi,
hingga pertanda tersebut akhirnya tiba.
Namun tak ada Raja yang datang.
Berhenti!
Kita dapat satu!
Yang itu besar, Kaʻiana.
Itu suatu pertanda.
Siapkan akar ʻawa .
Beri aku jeratnya
dan siapkan ikan.
Lemparkan ʻawa itu dalam-dalam!
Ini pertanda baik, 'kan?
ʻAwa di dalam air tak akan membius hiu itu terlalu lama.
Tali! Tali!
Tarik! Tarik!
ʻAwa ! ʻAwa !
Dayung!
Dayung!
Semoga kematianmu bisa memelihara kehidupan.
KERAJAAN KAUAʻI
Hentikan!
Pergi!
Enyahlah, Bocah Liar!
Makananku!
Pergi!
Warga desa menyebutmu orang buangan,
orang asing di Kauaʻi.
Namun jubah bulumu memakai warna kerajaan Maui.
Kau seorang Kepala Suku.
Jadi, kenapa kau hidup seperti ini?
Ucapan warga desa soal kami itu benar, Nak.
Tetapi aku bukan Kepala Suku, dan Maui bukan rumahku lagi.
Kau berhasil membujuknya.
Kau harus bersikap lebih baik terhadap anak-anak.
Kenapa?
Karena aku ingin punya anak.
Bicaralah dengan saudarimu, matahari Kauaʻi mulai menyengatnya.
Kurasa bayi adalah ide bagus.
Kami tak bisa.
Nāhi benci anak-anak.
Semua saudaramu akan baik-baik saja,
dan kau bisa menjadi ayah yang baik.
Kano itu dari Maui.
Mereka ingin menyerang kita?
Jika begitu, tak ada tempat untuk bersembunyi.
Kaʻiana, saat kau mencari suaka di sini tiga musim lalu,
kau berjanji pada ratu Kauaʻi tak akan ada masalah dengan Maui.
Hormati janji tersebut.
Kaʻiana.
Putra Panglima Perang Maui yang hebat,
dan pembelot pasukan sang Raja.
Jadi, kau meninggalkan tanah dan gelarmu demi ini?
Rajamu membutuhkanmu di dalam dewannya.
Untuk apa?
Aku tak tahu apa saja yang ditoleransi oleh para Kepala Suku Kauaʻi,
tetapi mengabaikan utusan kerajaan Maui
harus dibayar dengan lidah dari orang yang berani melakukannya.
Atas permintaan Raja Kahekili,
kau akan menemui kami di pantai Maui besok.
Saat kau meninggalkan pasukan Maui,
aku bersumpah jantungmu akan kujadikan makanan babi.
Kau masih hidup hanya karena belas kasihan rajamu.
Akulah yang menemukanmu, Kaʻiana.
Jika kau kabur, aku akan menemukanmu lagi.
KERAJAAN MAUI
Mereka sudah menunggu.
Biarkan saja mereka menunggu.
Jangan menunda lagi.
Persembahanmu untuk sang Raja sudah siap.
Beberapa orang mempertanyakan apakah kau akan datang.
Buat apa aku datang kemari, Kūpule?
Kau membuat kami menunggu, dan sekarang kau mempertanyakan alasan kau dipanggil?
Kau akan segera mengetahuinya, Kaʻiana.
Ayahku menunggu di medan prajurit, aku datang untuk mengantarmu.
Dulu aku melihatmu berlatih dengan ayahmu saat aku masih kecil.
Aku selalu yakin Maui tak akan tumbang
selama kau memimpin kami.
Aku senang kau kembali.
Aku tak kembali.
Sambutan yang terduga untuk Kepala Suku yang meninggalkan posisinya.
Tombak tumpul?
Kau tak melatih mereka dengan cara lama?
Nui akan tetap menghancurkan mereka.
Dia tak bisa disentuh saat memegang tombaknya,
apalagi mengalahkannya dalam pertarungan.
Dengarlah!
Kaʻiana akan menghadapi Nui dengan cara lama,
pertarungan.
Bawakan tombak perang!
Gunturlah yang mengguncang langit.
Jadi kita berlutut
di hadapan suara dewa yang membuat langit bergetar.
Cukup sudah formalitasnya.
Berdirilah Kaʻiana.
Mari berbagi Aloha dengan pamanmu.
Tombak melesat melewatimu bagaikan angin.
Seperti ayahmu.
Ayahmu menyelamatkan kerajaanku lebih dari sekali sebagai Panglima Perang,
dan aku merindukannya setiap hari.
Nāmake!
Nāhi!
Aku merindukan kalian.
Mungkin Kaʻiana bertarung seperti ayah kalian,
tetapi ayah kalian menurunkan kejelekannya pada kalian...
dan itulah yang paling kurindukan.
Kalian akan menghormatinya dengan bergabung bersamaku lagi.
Kami datang atas permintaanmu,
tetapi kami akan kembali ke tanah Kauaʻi yang tenang.
Bagus.
Kau tak perlu cemas, Kaʻiana.
Kau punya alasan untuk meninggalkan pasukanku.
Aku tak menaruh dendam atas hal itu.
Kemarilah.
Kenapa kau mengundang kami?
Ada ancaman besar yang dihadapi kerajaan kami.
Para Peramal kami meramalkan
perbudakan rakyat kami
di bawah kekuasaan Oʻahu.
Mata-mata kami melaporkan pasukan mereka dua kali lebih besar dari kami.
Kenapa Oʻahu hendak melawan kalian?
Raja Hahana hanyalah anak-anak.
Dia selalu berjanji setia kepada Raja Kahekili,
dan Maui meninggalkan kerajaannya tanpa provokasi.
Imam Besar Oʻahu adalah orang yang berbahaya,
dan dia telah meracuni pikiran sang Raja muda.
Kini dia berencana untuk mengambil alih kerajaan kami.
Perang membawa kehormatan bagi para raja
dan kematian bagi orang-orang tak bersalah.
Kami sudah tak mau membunuh.
Tunggu, Kaʻiana.
Ini soal Ramalan Kuno.
Ramalan itu sudah ada di hadapan kita.
Peramal Kerajaan kami menyebut namamu
dalam suatu penglihatan.
Pertandanya sudah jelas, Kaʻiana,
kami hanya bisa mengalahkan Oʻahu
bersamamu di sisiku.
Kahekili memanggil kita untuk ikut berperang.
Kau menerimanya?
Kita pernah mengujinya dengan meninggalkan pasukannya.
Dia tak akan mengizinkannya lagi.
Maka kita mulai persiapan untuk kembali ke Kauaʻi.
Kita akan kabur lagi?
Maui adalah rumah kita, Kaʻiana.
Ini kesempatan kita untuk kembali.
Aku tak akan membawa keluarga ini menuju perang yang tak diperlukan.
Bagaimana jika Kūpule benar dan Ramalan itu sudah di hadapan kita?
Bukankah itu yang kita nantikan?
No comments yet. Be the first to leave one.