200 rreshtat e parë.
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
SENAPAN TUA
MONTAUBAN, 1944
Sudah!
Oh! Anjing Marcel sedang menunggu ayah, ya?
Anjing Marcel yang paling pintar bukan?
Kamu adalah anjing terbaik di dunia.
Ibu!
- Apa Ibu takut? - Ya, ibu takut.
Sepertimu, sayang.
Ya?
Dokter, pasien yang terluka dengan mata terbakar terus berteriak.
Aku ke sana.
Tentu saja morfin-nya habis!
Beri dia obat penenang agar dia bisa tidur.
Santai.
Ke sini!
Jangan bergerak. Tak ada gunanya.
- Sepertinya Anda tak suka saya datang? - Di sini hanya ada orang sakit.
Saya tahu, tapi mereka komunis, bahkan penyabotase.
Hah?
Anda tak sedang mencoba melindungi mereka, 'kan?
Bos! Kita menemukannya!
- Dia membunuh 2 prajuritku. - Saya tak berurusan dengan politik.
Itulah yang selalu dikatakan oleh semua pengecut.
Politik bukan urusan saya. Saya hanya seorang dokter.
Biarkan dia di sini atau saya beri tahu Mayor Müller!
Tuan Dandieu, perang belum berakhir.
Andai saja kamu bukan seorang ahli bedah,
Anda akan di bawa untuk ditembak Gestapo.
Benar, saya sudah lama mengawasimu.
Kamu memiliki keluarga. Seorang istri, seorang putri.
Demi kebaikan mereka sendiri... berhati-hatilah. Mengerti?
Oh, tidak.
Tidak!
Pertama, para perwira harus dievakuasi dulu.
Untuk yang luka parah, nanti kita pikirkan.
Milisi datang lagi.
Saya mohon campur tanganmu, Müller.
Tuan Dandieu, saya harus mengevakuasi 125 perwira yang terluka.
Saya tidak peduli dengan milisi. Anda orang Prancis, urus mereka.
Apa masih ada sulfamida-nya?
Tidak, tidak ada sama sekali.
Sebulan dua bulan lagi kalian akan dibebaskan.
Kamu akan mendapatkan penisilin, sedang aku entahlah.
- Milisi pasti akan datang lagi. - Pasti.
Lalu, apa yang harus kulakukan dengannya?
- Dengan siapa? - Orang yang meledakkan kereta.
Ah, Pahlawan lagi. Aku sudah lelah dengan mereka.
Sembunyikan dia di ruang boiler.
- Kita tak bisa memindahkannya. - Terus mau bagaimana?!
Jika mereka kembali, mereka akan membunuhnya.
Lalu kita berdua, itu maumu?!
- Siapa? - Dandieu.
Ini sulfamida-nya, dan morfinnya hanya 12 ampul.
Lumayan daripada tidak sama sekali. Terima kasih.
Berhenti!
Dokumen!
Dilarang lewat ada jam malam.
Apakah Anda punya surat izin?
Maaf, Dokter.
Saya khawatir, Tuan Julien.
Semuanya baik-baik saja, Jeanne. Mereka tidak menungguku, 'kan?
Tidak, tapi saya simpankan sepiring buat Tuan.
Terima kasih! Aku tidak lapar.
Bagaimana keadaan di rumah sakit?
Oh, Marcel si anjing pintar!
Radio mengumumkan kalau di Normandia...
Jerman memukul mundur Amerika ke laut.
Ada desas-desus kalau divisi SS "Reich" bergerak dari Montauban menuju Normandia.
- Selain itu... - Dengar, Bu, aku lelah.
- Mau minum? - Ya.
- Tapi hanya ada anggur putih. - Tidak apa-apa. Berikan itu.
Kamu gila?
Bukan itu yang mau kutaruh.
- Kamu mau taruh yang mana? - Nomor 6 ini.
- Dia benar. - Tentu saja, itu yang kamu mau.
Karena kamu akan memenangkan permainannya.
Coba tunjukkan apa yang kamu punya.
Sial! Ini yang kedua kalinya!
- Aku tak bisa melihat. - Aku akan kembalikan nampannya.
- Tunggu, Bu Dandieu. - Diamlah, Marcel.
Berhenti menggonggong. Jangan panik.
- Hei! Tolong aku! - Apa itu Florence?
Ya, dia sedang mandi.
- Mandi? Di jam segini? - Ya!
Ide yang bagus.
- Handukku jatuh ke air! - Sebentar, sayang!
Terima kasih, Bu.
Tunggu, sayang. Aku datang.
Tunggu aku, Clara.
Aku ikut. Aku mau bicara denganmu.
- Clara! - Ya?
Clara...
Ya?
Aku mencintaimu.
- Kamu ke sini atau tidak? - Ya!
- Sebentar. - Kami datang, nak.
Mataku perih sekali.
Tahan, sayang. Tahan.
Biar Ayah basuh.... Nah, begitu.
Oh, tidak! Ayah juga tak bisa melihat sekarang!
- Kacamata Ayah sampai basah. - Aku tidak sengaja.
Sebaiknya begitu.
- Marcel! - Itu salahmu!
Ini handuk keringnya.
- Di mana pakaianmu? - Di kamar.
- Kamu ke sini dengan telanjang? - Ya.
Dia gila! Anak perempuanku gila.
- Kacamataku! - Ya. Penglihatannya buruk.
Sial. Tak ada yang peduli dengan kacamataku!
- Sini! - Terima kasih.
Baik. Ayah sudah ditunggu François. Nanti Ayah mampir ke kamarmu, sayang.
- Mereka tertawa? - Bersyukurlah,
masih ada yang tertawa di rumah ini.
Sudah larut, waktunya aku pulang. Siapa yang bertugas?
Besson dan Thibodet. Mereka amat sibuk.
- Kamu mencari mobilmu? - Ya.
- Selamat malam, Bu. - Selamat malam.
Aku menyembunyikan penyabotase di ruang boiler.
- Kenapa? - Ada razia lagi.
Mereka menemukan seorang anak muda. Dan membawanya pergi.
Aku tak bisa berbuat apa-apa.
Aku takut, François.
Mereka berbahaya, kamu tahu 'kan.
Mereka menyadari mereka akan kalah. Membuat mereka menjadi gila.
- Apa mereka mengancammu? - Tidak secara langsung...
Tapi kamu tahu... Mereka menyinggung tentang keluargaku.
Kamu mengerti? Aku terpojok, tak bisa berbuat apa-apa.
- Sampai jumpa, Francois! - Sampai jumpa.
Mereka sebaiknya jangan tinggal di sini.
Aku tahu itu.
Apalagi, keadaannya akan semakin buruk.
Oh ya, ada sedikit sulfamida dan morfin di belakang.
Oke. Kalau kamu mau...
Besok pagi, aku bisa membawa keluargamu ke Le Barberie.
Tak ada yang akan mencari mereka di sana.
Akan kujemput mereka pagi-pagi saat kamu di rumah sakit.
Kamu membaca pikiranku.
Besok tepat jam 8. Semakin pagi, semakin baik.
- Kapan kamu akan tidur? - Setelah perang usai!
Bagaimana cara menimbang ikan?
Benar, bagaimana caranya menimbang ikan?
- Entahlah. - Ayah tahu.
Pakai timbangan.
- Kan? - Begitu saja tak tahu.
- Itu konyol. - Tidak, itu lucu.
Ayo, sudah larut. Aku pinjam istriku dulu. Ya?
- Kamu akan mengembalikannya padaku? - Besok pagi. Janji.
Selamat malam, Marcel. Tidur yang nyenyak, ya.
- Aku tak punya korek api. - Kamu tak memerlukannya.
Ayo!
Ah! Julien-ku!
Besok pagi akan kukirim kalian ke La Barberie.
Florence, Ibuku, Bu Jeanne, dan kamu.
Kenapa?
Di sana lebih baik. François akan mengantar kalian ke sana.
Flo, Ibu, dan Jeanne boleh pergi, aku tidak akan ikut.
- Tentu saja ikut. - Tentu saja tidak.
Jangan keras kepala,
Setelah kota dibebaskan, aku akan segera menjemput kalian.
Setelah itu, kita bedua akan melakukan perjalanan besar.
Seperti yang seharusnya kita lakukan, andai tak terhalang perang.
Dan jika kamu mau, aku akan memberimu seorang bayi.
- Julien. - Ya?
Ayo kita bikin bayi itu...
sekarang juga!
Baiklah kalau begitu.
Kamu yang tenang, Marcel.
Bagaimana pendapatmu...
tentang pemboman yang dilakukan Sekutu?
Orleans hancur...
Beaugency terbakar...
Blois juga.
Di mana-mana reruntuhan, jendela pecah...
Tembok runtuh, puing berserakan...
Debu beterbangan!
Orleans tampak luluh lantak.
Kota mengalami kerusakan parah.
Ukiran batu katedral Orléans hancur berkeping-keping.
Prancis yang malang...
Ibu! Benar ibu tidak mau ikut?
- Tidak, sayang. - Bagaimana kalau kota ini dibom?
Di usia kami, kami tidak takut mati.
Sampai jumpa lagi kalau begitu.
Ibuku benar-benar keras kepala. Aku tak pernah meminta apa pun padanya.
Sekalinya meminta dan ini penting, dia tak mau dengar.
- Kenapa kita harus pergi ke Barberie? - Di sana lebih aman, sayang.
- Apa kamu punya uang? - Kami punya semuanya.
Benar, kamu toh kenal semua orang di desa.
- Jadi, takkan ada masalah. - Ya, sayang. Semuanya akan baik-baik saja.
Berhenti agak lebih jauh.
Sampai ketemu nanti malam, François.
Dan aku akan datang menemuimu...
- Sesegera mungkin. - Baik.
Sampai jumpa.
- Jaga dirimu. - Ya, sayang!
Syal ini tidak berguna, aku akan merajut sweter untuk Flo.
Kamu bosan tanpa Clara?
No comments yet. Be the first to leave one.