200 rreshtat e parë.
Kale.
Kita putus saja, ya?
Aku mau kita putus.
Nah, ada si Kale, Bung.
Bagus, ya. Asyik juga pencahayaannya.
- Panggungnya juga besar. - Lumayan.
Tadi kupikir kecil.
- Kale! - Hei!
Aku masuk dulu, ya?
- Kau setelah aku, 'kan? - Iya.
Wih… Sukses!
Siap. Sukses juga, Semua!
Kalau kamu tak mau, bilang!
Bukannya tak mau, tapi tak bisa.
Kalau tidak bisa, kamu bisa bilang!
Aku sudah bilang dua kali, tapi kamu tidak menyimak.
Ya, beri tahu lagi!
Masa, gara-gara aku tak menyimak, kamu tidak bilang begitu saja?
Jangan bertengkar di sini, malu dilihat orang.
Kamu punya mulut, 'kan?
Apaan, sih?
Adinda di mana?
Aku tak tahu.
Itu dia.
Itu dia.
Teman-Teman.
Keluar sebentar.
Aku mau mengobrol dengan Dinda.
Aku tak apa-apa.
Ada apa? Ha?
- Tidak apa-apa. - Din.
Sungguh?
Eh, keluar dulu yuk. Sebentar. Rik. Tanta.
Go, sumpah. Aku sangat tidak enak
dengan anak-anak Arah, kamu suruh keluar seperti itu.
He!
Dengan teman-teman, kamu bisa tak enak?
Dengan keluargaku, kamu seenaknya!
Eyang Ti cuma ingin bertemu kamu, Din,
yang katanya calon istri cucu kesayangannya!
Mumpung dia belum balik ke Kudus, apa susahnya bertemu sebentar?
Aku sudah bilang, aku tak bisa. Aku bilang dua kali, terus…
Lalu, katamu, "Nanti kita cari waktu lagi."
- Mana? Aku tak pernah bilang begitu. - Kamu bilang begitu.
- Aku tak pernah bilang begitu. - Kamu bilang begitu.
Kalau aku bilang begitu, aku tak mungkin janjikan
dia untuk menemuimu hari ini!
He!
Dia itu nenek-nenek berumur 75 tahun.
Capai-capai ke pasar, masak untuk siapa?
Untuk kamu, Goblok!
- He. - Aku minta maaf.
- Tak usah menangis. - Aku minta maaf.
Tak usah menangis!
- Tak usah menangis! - Aku minta maaf.
Tak usah menangis, kamu salah!
He, kamu itu salah, tak usah menangis!
- Aku minta maaf. - Woi!
Aku minta maaf!
Bisa diam, tidak?
- Dinda, berhenti! - Iya, aku berhenti.
- Aku minta maaf. - Dinda, berhenti!
Woi!
- Din? - Aku minta maaf!
Din? Din, buka!
Panggil yang lain. Cepat, cepat! Din!
Tadi, 'kan, main di E, ya?
Pindah ke F.
Berarti turun dua.
- Kale asyik, ya? - Tadi main pas di tengah saja.
Apa kita bajak saja, ya?
- Menarik. - He, Roy!
Eh, Dinda dan Argo sedang rusuh. Cepat!
- Di mana? - Sudah, cepat.
- Mengapa, Tis? - Tak tau, Dinda ribut dengan pacarnya.
Bagaimana?
Permisi, Mas. Maaf.
Dinda!
Permisi. Maaf, maaf.
Din, buka! Din!
Dorong saja.
Kamu apakan Dinda?
Apa-apaan ini?
Kamu tak usah ikut campur. Bukan urusan kalian.
Ya, tapi Dinda manajer kita, dan kamu berurusan di ruangan kita!
Oke.
- Din. - Hmm.
Kita mengobrol di luar, ya. Oke?
Yuk.
Ayo.
- Kamu yakin? - Tak apa-apa.
Yuk.
Kalian cek suara dulu, ya.
Sebentar saja, kok.
Kok begitu? Sst.
Kalau kamu mau hubungan ini tetap ada,
sekarang juga kamu keluar dari pekerjaan kamu.
Aku tak pernah suka dengan teman-teman kamu.
Kok jadi membahas itu, Go?
Ya, mengapa?
Mengapa, memangnya? Aku tidak pernah suka.
He!
Eh! Rencana hari ini rusak karena apa?
Karena kerjaan kamu yang tak ada gunanya itu, Goblok!
Tapi kamu tak bisa menyuruh aku berhenti dari pekerjaan ini.
Aku suka. Aku sangat suka pekerjaan ini.
Dan, masalah kita tak ada hubungannya dengan teman-teman aku, 'kan?
Ya, masa bodoh.
Aku tidak peduli.
Go…
Soal menemui nenek kamu, kita bisa atur lagi waktunya.
Besok aku ikut ke bandara, ya?
Oke?
He!
"Nenek kamu"?
"Nenek kamu"?
- Dia Eyang Ti! - Iya, Eyang Ti.
Iya. Eyang Ti, yang nanti akan jadi nenek kamu juga!
Goblok!
Bilang "nenek kamu" lagi!
- Bilang "goblok" kepadaku, Berengsek! - Sudah, sudah.
Kumohon, Le. Kumohon, sudah.
Go, berhenti!
Argo. Berhenti, berhenti. Argo, Argo.
Sok jago kamu, Berengsek!
Sudah, cukup.
- He! - Argo, berhenti!
He! Jagoan, sini kamu! Lepas.
Sudah jagoan? Sini kamu! Woi!
ARAH PERTUNJUKAN KELILING JAWA
Kamu itu tidak butuh laki-laki kasar seperti Argo.
Hei, Le.
Dia itu tidak kasar, kok.
Terus apa namanya tadi kalau bukan kasar?
Dia seperti itu hanya jika sedang emosi saja, Le.
Tapi kasar, 'kan? Sangat, malah.
Si Argo ini bisnisnya sedang tidak bagus, Le.
Jual-beli mobilnya sedang tidak berjalan,
dan aku justru tak bisa jadi pacar yang baik untuk dia.
Tapi dia begitu karena sayang.
Kalo masalah tadi, aku yang salah. Aku tak bilang…
Orang yang sayang itu tak akan menyakiti, Dinda.
Dia memukul kamu.
Menyakiti kamu. Dia tidak sayang pada kamu.
Memang, kamu mengerti arti sayang itu apa?
Punya pacar pun tidak, 'kan?
Sepertinya, sejak awal aku mengenal kamu,
aku tidak pernah melihat kamu punya pacar.
Aku tahu persis, Din. Orang yang sayang itu tidak menyakiti.
Yah, walaupun Argo sedang sering emosi seperti ini,
tapi aku yakin dia akan berubah suatu saat nanti.
Din, hubungan kamu dan Argo itu bukan hubungan yang sehat.
Kamu rela dipukuli, disakiti.
Membuat pengecualian pada sesuatu yang sebenarnya
- tak harus terjadi. - Kamu tidak mengerti, Le.
Karena kamu tidak mengalaminya.
Setiap hubungan itu ada harganya.
Dan, aku lima tahun dengan Argo bukan cuma dipukuli saja, kok.
Banyak hal-hal lain yang membuatku senang.
Ya, aku memang tidak punya pengalaman. Oke.
Tapi, kamu membuat pengecualian pada sesuatu yang seharusnya tak perlu ada.
Argo itu memukul kamu di depan semua orang.
Ada atau tak ada orang, dia tak berhak melakukan itu kepadamu.
Aku tahu harga komitmen itu tidak murah.
Tapi, walaupun aku sudah lama tak pacaran,
aku bisa melihat itu hidup pada orang tuaku.
Putuskan Argo, Din.
Kamu itu takut kepadanya, bukan sayang.
Siapa pun akan bilang hal yang sama, kamu saja yang tak pernah terima.
Kamu pantas dapat yang lebih baik.
Memang ada yang lebih baik?
Ada lah.
Siapa?
Orang yang tadi rela dipukuli.
Sekarang pipinya bonyok. Pecah pula kacamatanya.
Aku melihat kamu jadi banyak.
Kamu melihat apa, sih?
- Tertawalah. - Tak apa-apa.
Aku harus bagaimana, ya?
Perasaan, semalam kita baik-baik saja.
Mengapa tiba-tiba?
Ini tidak tiba-tiba, Le.
Aku sudah memikirkannya beberapa bulan terakhir.
Memikirkan apa?
Apa pemicunya, Din?
Eh, bicaralah.
Kamu tidak bisa tiba-tiba bilang putus seperti ini.
Ini tidak tiba-tiba.
Aku sudah memberi banyak isyarat bahwa aku sudah tak nyaman di sini.
Din… Din.
Le, aku sudah tak mau ada di dalam hubungan ini.
Ya, isyarat apa?
Eh, bicaralah, Din.
Din, Din… Din, aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan. Dinda!
Dinda, Dinda. Ini hubungan dua orang, bukan cuma kamu saja.
Jadi, kalau ada apa-apa, ya, bicaralah.
- Aku tahu ini hubungan dua orang. - Kamu jangan buat keputusan sendiri.
Aku tahu ini hubungan dua orang, Le.
Tapi, kapan aku punya keputusan sendiri,
kalau hubungan ini yang harus terus dibela?
No comments yet. Be the first to leave one.