Informacioni i lëshimit

타인은지옥이다ㅡStrangers from HellㅡE03 HDTV NETFLIX
Një Komentar nga DEDI.FIRMANZ
Sub by NETFLIX. Disinkronkan untuk versi HDTV. Follow my IG: DEDI_FIRMANZ. Enjoy the series ^^

Etiketat

HDTV
hdtv
HD
Publikuar më: 2020-11-05
Shkarkime: 94
Dëgjim i Dëmtuar: No

Pamje paraprake e titrave në Indonesian

200 rreshtat e parë.

DEDI_FIRMANZ 0813-2739-9390

KARAKTER, TEMPAT, INSTITUSI,

DAN KEJADIAN DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF

Begitu.

Ya.

Aku merindukanmu.

Hari ini aku langsung pulang setelah selesai.

Sepertinya menyenangkan.

Kau sudah datang.

Aku akan mengurus masalah ini.

Kau juga gagal melakukannya.

Aku membuat karya seni,

bukan sekadar membunuh.

Kenapa...

Kau benar. Kenapa kau melakukan ini tanpa persetujuanku?

Kita punya aturan main.

Terima kasih atas kerja kerasmu,

Sayang.

Kau pasti penghuni baru.

Ya.

Bu Um bilang ada penghuni baru di kamar 303.

Ya.

Pemandangannya bagus, 'kan?

Saat berada di kamar, rasanya sesak seperti di dalam peti mati.

Namun, saat kau keluar dan minum bir di sini, rasanya bebas.

Ya, kau benar.

Omong-omong, kenapa sejak tadi kau menatapku sambil tersenyum?

Maaf kalau aku menyinggungmu.

Tidak apa-apa.

Karena...

- aku menyukaimu. - Apa?

Mau minum bersamaku? Aku baru membelinya, jadi, masih dingin.

Tampaknya tanganmu terluka.

Ini terjadi saat aku bekerja.

Tampaknya kau kerja keras hingga tanganmu terluka.

Jari-jarimu tampak halus.

Apa kau penulis?

Bagaimana kau tahu?

Tiap orang punya aura unik yang terpancar.

Ada hal semacam itu, 'kan?

Aku juga melakukan hal serupa.

Membongkar, memasang, dan membuat lagi.

Siapa dia? Sok akrab sekali.

Kau suka genre apa?

Aku suka novel kriminal.

Kebetulan sekali. Aku juga suka itu.

Benarkah?

Aku suka Raymond Chandler.

- Sungguh? - Ya.

Wah, aku juga suka dia.

Sebenarnya,

aku tidak menyangka bertemu sesama penggemar di tempat ini.

Tidak ada yang tahu Raymond Chandler.

- Kau sudah membaca The High Window ? - Tentu saja.

Benar-benar mengesankan.

- Kalau tidak keberatan... - Ya?

Boleh aku membaca cerita yang sedang kau tulis?

- Tulisanku? - Ya.

Tulisanku masih belum selesai.

Ceritakan sedikit saja.

- Tulisanku? - Ya.

Masih dalam proses penulisan.

Kisah tentang pianis yang terlihat berbakat dari luar.

Namun, dia ternyata

pembunuh berantai yang membabi buta.

- Begitu, ya. - Benar, 'kan?

Di sekitarmu, ada orang-orang seperti itu.

Di luar tampak normal,

di dalam punya keinginan membunuh.

Kau benar.

- Bagaimana cara dia membunuh? - Apa?

Pianis, sang tokoh utama.

Soal itu. Dia memakai semacam metode khusus

yang hanya dimiliki sang tokoh utama.

Pada malam sebelum pertunjukan,

hanya memakai tangan kosong tanpa bantuan alat apa pun,

mencekik leher seseorang hingga tewas.

Dia akan terus menatap hingga korbannya mati.

Terus-menerus.

Secara psikologis, sang tokoh utama

ingin memakai kedua tangannya sendiri.

Dengan kedua tangannya yang sangat kurus dan pucat,

dia ingin merasakan secara langsung suhu tubuh orang itu menghilang.

Terima kasih atas kerja kerasmu,

Sayang.

Keren.

- Astaga. - Wah, keren.

Sepertinya aku terlalu banyak bicara.

Omong-omong, aku pikir itu bukan menghilang,

- tapi terbakar. - Apa maksudmu?

Saat dia mencekik leher,

kedua tangannya seakan menggenggam ribuan bola api,

bukan tuts piano yang dingin.

Aku pikir mungkin itu yang ingin dia rasakan.

Aku minta maaf telah lancang di depan seorang penulis.

Aku bukan penulis.

Aku yakin kau akan sukses.

Bersulang.

Syukurlah.

Sepertinya dia yang paling normal di sini.

Selamat tidur.

- Selamat malam. - Ya.

Saat dia mencekik leher,

kedua tangannya seakan menggenggam ribuan bola api,

bukan tuts piano yang dingin.

Aku pikir mungkin itu yang ingin dia rasakan.

Sebaiknya aku menambahkannya ke dalam novelku.

Sepertinya aku meninggalkan laptopku dalam keadaan terbuka.

Tidak mungkin tertutup sendiri.

SEPERTINYA DIA MASUK KE KAMARKU

- Pak, apa benar kau masuk ke kamarnya? - Beraninya kalian mempermainkanku.

Kenapa aku ke sana?

Aku punya kamar sendiri!

Apa dia juga masuk ke kamarku?

Tidak mungkin. Jangan terlalu sensitif.

Nanti aku benar-benar menjadi aneh seperti dia.

Kenapa dia membunuhnya?

Aku ingin membunuhnya.

Aku mau gergajinya.

Tidak, kau dapat pacul!

Kemari dan bawa karungnya!

Dia bertingkah lagi.

Kau sedang apa? Hei.

- Kutanya sedang apa? - Bermain api.

Ini menyebalkan!

Sialan. Di sini panas sekali.

Orang-orang yang mau ke mata air sebentar lagi tiba. Cepat gali.

Astaga.

Panas sekali.

JEONG-IN MENGAMBIL SEKOP DAN MEMUKUL KARUNGNYA

Panas sekali.

Aku mati karena kepanasan!

Keparat kau! Mati.

Mati. Mati.

Mati. Mati. Mati!

Mati. Mati.

MATI, MATI, MATI

Sekarang lebih panas.

Sekarang menjadi sejuk.

Sulit untuk menemukan tempat seperti ini.

Berapa kali kita harus melakukan ini? Sialan.

Siram semuanya.

Kita harus singkirkan semua yang bisa menjadi barang bukti.

Jangan lupa bawa pelat nomornya.

Bukan kita yang membunuhnya.

Bukan karena polisi, tapi karena orang itu.

Kita selalu membereskan sisanya. Memangnya aku tak ingin punya asuransi?

Bangun, Bodoh!

- Kau belum sebut nama. - Prajurit Yoon Jong-u!

Suaranya lembek sekali.

Kau tertidur, 'kan?

Tidak.

Masih saja berbohong.

Taruh kepalamu di tanah.

Tidak mau?

Tutup matamu.

Kubilang tutup matamu.

Jika kau begitu ingin tidur,

cobalah tidur seperti ini, Bodoh.

Kenapa aku mimpi soal masa wamil lagi?

Toilet yang terpisah membuatku teringat wamil lagi.

Orang itu sungguh menyusahkan.

Kenapa pagi-pagi dia sudah melakukan itu?

Dia tidak membuka laptopku, 'kan?

Dia benar-benar aneh.

MAJALAH

Aku tidak melihat orang yang meludahiku.

Padahal ada yang ingin kukatakan.

Selamat pagi.

Selamat pagi.

- Tidurmu nyenyak? - Ya.

Sepertinya semalam kau mimpi buruk. Aku mendengar suaramu.

Sungguh? Aku minta maaf.

Tidak masalah.

Bahkan suara napas penghuni sebelah juga terdengar di sini.

Kau benar.

Meski kamar terpisah, sebenarnya semuanya menjadi satu di sini.

Omong-omong, kau melihat penghuni sebelahku?

- Kamar 302? - Ya.

Kenapa?

Sejak semalam aku tidak melihatnya.

Sepertinya preman itu juga tiba-tiba menghilang.

Bukankah ini aneh?

Tidak, karena kita tidak saling kenal meski tinggal bersama.

Sepertinya lebih sopan untuk mengabaikannya.

Kau benar.

Tidak seorang pun ingin tinggal di tempat seperti ini.

Kau mau minum bir bersamaku di atap malam ini?

Hari ini aku tidak bisa. Aku ada janji dengan pacarku.

- Kau punya pacar rupanya. - Ya.

Karena kau sangat tampan.

Aku pergi dulu.

Lain kali kita minum bir bersama.

Tentu. Tidak perlu terburu-buru.

- Selamat pagi. - Selamat pagi.

Abaikan mereka.

Sepertinya kau sudah siap berangkat. Kau rajin untuk ukuran anak muda.

Astaga, keringkan dengan benar. Kau seperti anak-anak.

Sarapan dahulu. Akan kubuatkan telur goreng.

Aku tidak sarapan.

More Indonesian subtitles for Strangers From Hell

Komentet

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left