The Bear

The Bear

Shkarko Titrat Indonesian

Sezoni 1

Informacioni i lëshimit

The Bear S01E06 Ceres 720p HULU WEBRip x264-GalaxyTV
Një Komentar nga Vilanelle
Resync for HULU

Etiketat

webrip
web
x264
720p
720
brip
Publikuar më: 2022-09-24
Shkarkime: 235
Dëgjim i Dëmtuar: No

Pamje paraprake e titrave në Indonesian

200 rreshtat e parë.

- Kalian mau dengar ceritanya? - Ya, Mikes, ceritakan.

Ayo ceritakan.

- Maaf, begini ceritanya. - Baik.

Kami sedang di Ceres.

Itu bar di bawah Gedung Dewan Perdagangan.

Bar kecil di lobi.

Tempat ini buka pukul 06.30 pagi,

agar ketika para trader rugi saat pasar dibuka,

mereka bisa ke sana dan mabuk di bar kecil ini.

Nama "Ceres..."

Bar itu namanya sama dengan Dewi Pertanian,

- maaf, dan... - Ceres bodoh itu...

- Ada yang iri tidak diundang? - Aku pasti tak akan ke sana.

Pasti ke sana. Carmy, parut parmesan.

- Kau iri. - Baik.

- Pasti. - Kembali lagi,

di atas gedung, ada patung Ceres,

dan punggungnya, untuk kalian para sejarawan, menghadap ke timur.

Itu karena semua trading saham baru pindah ke Midwest.

Jadi, arsitek John Storrs, menurut legenda,

dia membangun patung ini sebagai pesan penolakan.

Astaga. Bangunkan aku saat ceritanya dimulai dan kelas selesai.

- Ceritakan kisahnya! - Ini sedang kuceritakan.

Biarkan kuceritakan.

Intinya adalah, kami keluar semalaman, mabuk berat,

teler berat,

kami pikir, tempat yang masih buka tentunya hanya Ceres.

Pukul 06.45 pagi hari, kami benar untuk berasumsi bahwa

tempat itu akan seperti kota hantu.

- Jangan pakai itu. - Bawa pergi kismis itu.

- Ibu selalu beri kismis. - Kita tidak pakai kismis.

- Sepupu, apa seperti kota hantu? - Bukan kota hantu.

Bukannya kota hantu, tapi malah pesta liar.

Ramai sekali. Seperti... Ya?

Semua penggemar Blackhawk, dan, Sepupu, ada siapa di sana?

Savvy.

- Yang benar saja. - Ya! Savvy!

Denis Savard.

Nomor 18.

Ada di sana. Tapi sekarang, dia... Bukan cuma dia.

Chelios, Belfour, ayo! Benar?

Malam sebelumnya, Savvy masuk

Hall of Fame Hoki.

Kami masuk ke pesta yang luar biasa ramai ini. Heboh sekali!

Rusuh.

Bajingan ini, dia... Orang yang penasaran ini,

dia meraih, apa itu?

Pamflet Ceres?

Ya. Di belakang bar.

- Tepat... - Di belakang bar.

Dia membacakan sejarah Dewi Pertanian keras-keras.

Mendadak, dia memutuskan dia juga punya hubungan erat dengan pertanian.

Dia keluarkan teleponnya, lalu membuat pesan suara.

Apa isi pesanmu itu?

"Hai. Ini pesan suara Richie Jermovic,"

"Dewi Pertanian."

- Bodoh sekali! - Sangat bodoh!

Itu genius!

Dewinya di sini, dia mencoba membuat pesan ini,

tapi salah terus. Makin keras saja.

Di tengah hiruk pikuk, semua omong kosong,

dan kegaduhan ini, kami mendengar suara ini di ruangan.

Kata suara itu, "Apa yang kau lakukan?"

Benar? Lalu di depan kami, orang ini berbalik, siapa dia?

- Bill Murray. - Tentu saja, itu Bill Murray.

- Apa? - Bill Murray!

Dia ada di sana. Bill Murray berkata begini kepada Richie,

"Kenapa kau melakukan itu?" Richie jawab, "Karena itu lucu".

Dia bilang kepada Bill Murray, "karena itu lucu."

- Bill Murray bilang, "Tidak." - "Tidak lucu."

"Itu tidak lucu." Dia bilang, "Kemarikan ponselmu".

Ya.

Lalu dia bilang,

"Siapa namamu?" Ya?

Begitu kata Bill Murray kepadaku.

Sang raja itu. Bill Murray.

Ya, aku tahu dia siapa.

Jika meneleponku, kau bisa dengar itu.

- Baik. - Coba panggil.

- Masih ada. - Aku percaya.

- Itu masih ada di ponselku. - Tidak usah.

- Sungguh? - Terima kasih.

Kau tidak ingin dengar?

Kalian ada di bar pukul 06.45 pagi?

Ya, tapi intinya adalah...

- Itu foto yang bagus. - Cek.

Itu lebih baik.

Matanya indah.

Matanya memang bagus. Tidak punya selera humor.

Parahnya Tina, malah lebih parah lagi,

- dia tidak punya... - Awas di belakang.

Tidak mengerti sejarah Chicago. Paham maksudku?

Sudahlah. Masih banyak perempuan lain. Sampai jumpa di galaksi lain, Pelacur.

Hei, dengar! Apa aku baru berteriak?

Ya, buat itu layak.

Lepaskan pita hijau ini sebelum beri ke kami. Cuma perlu lima detik.

Begitu kena sabun dan jari kami mengerut,

ini tak bisa di apa-apakan. Paham?

- Ya, Chef. - Terima kasih atas waktunya.

Dua jam lagi buka, Chef.

Chef, kudengar hidangan baru ini perlu dikuasai.

- Bisa ingatkan aku nanti? - Meningkatkan kemampuan.

Lebih baik nanti.

Iga rebus. Risotto pakai kaldu.

Lihat paprikanya.

Gampang dibuat, bagus untuk bungkus bawa pulang.

Risotto dibungkus? Kita sama sekali belum siap.

Bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang,

selain itu, kita memakai bahan yang sudah ada.

Itu cerdas, ayo dicoba saja. Aku tidak mengerti.

- Rasakan, semua ada di sini. - Chef, dengarkan aku.

Satu, aku memikirkannya, jadi, tolong tunggu.

Dua, aku tahu sebelumnya kau bekerja dengan siapa, aku menelepon mereka.

Kenapa perlu begitu?

CV-mu luar biasa, dan tempat ini tak begitu.

Semuanya bilang kau sangat pintar dan berbakat.

Mereka juga bilang, kau sangat tak sabaran dan tak berpengalaman.

Baik, jadi, karena itu aku tak memenuhi syarat?

- Karena itu aku di sini, kau tidak... - Bukan begitu maksudku.

- Apa maksudmu? - Maksudku, beri aku waktu.

Ya, Chef.

Bisa membuat ini lancar tanpa mengganggu jalan restoran?

Bisa, Chef.

Manny dan Angel akan marah besar...

- Aku sudah bicara dengan mereka. - Baik.

Jadi, kau bisa paham alasanku,

kita akhirnya bisa sampai pada situasi

yang lumayan tenang.

Itu mau kupertahankan sebisa mungkin...

Astaga, Carmy.

- Hei, sudah dapat? - Aku mencari apa tepatnya?

- Kau luar biasa. - Ya.

Ada sesuatu yang disebut lembaga IRS

- dan mereka memungut pajak dari manusia. - Aku tahu ini.

Orang-orang di tempat ini

belum memberikan lembaga pemerintah itu apa-apa selama lima tahun.

Entah bagaimana, aku rekan pemilik di tengah kekacauan ini.

Rumahku akan disita jika aku tak memberi mereka uang.

Aku menghabiskan beberapa hari terakhir, selain pekerjaanku yang lain dan hidupku,

mengurus dokumenmu, supaya mereka setuju

kita membayar lebih sedikit.

Aku perlu kau mencarikan catatan gaji dari tahun 2018.

Bisa?

- Bisa. - Terima kasih.

Siapa yang mau menyita rumahmu, Sug?

IRS, Rich.

Urusan pajak. Astaga.

Kau yang astaga.

- Cari, Carmy. - Aku tahu tempatnya di mana.

Terima kasih.

Persetan denganmu.

Tunggu, ini "persetan denganmu."

Kenapa dia susun seperti ini?

- Nanti kutanya saat dia tidak mati. - Hanya saja...

BAR PINTU HIJAU DISEWAKAN

Bedebah.

- Apa aku perlu pakai masker gas? - Tidak perlu.

Siapa itu?

Itu Richard Hart. Hart Bageri di Kopenhagen. Dia bajingan yang disegani.

Baik. Kau baik-baik saja?

Ya. Kau?

Ya. Jika kau

butuh apa pun, apa saja...

Misalkan?

Entahlah, misalkan... Lupakan saja.

Begini, sewaktu aku tes masuk jadi pemain Cubs, aku main di tim pertanian,

tapi mereka tak mau memberiku tempat. Aku tak punya uang.

Lalu aku jadi mahir mencari tempat tinggal.

Aku bukan tunawisma.

Lalu, kenapa ada sarang itu?

Aku mulai tidur di sini, jadi bisa menghemat waktu ke sini.

Sebentar lagi donat ini selesai dan itu harus sempurna.

Baik, bagus. Jadi, kau psikopat? Tak apa-apa.

Aku cuma ingin donatnya sempurna.

Kau ingin kesempurnaan? Mulailah dengan mandi.

Tak begitu bau. Kau dulu main untuk Cubs?

Roti Lapis Buatan Sendiri DELI DAGING SAPI

Kau baik-baik saja?

Hei.

Kau tak apa-apa?

Ya.

Di luar rasanya aneh.

Barnya ditutup.

Kau sering ke sana?

Tidak. Aku dan pemiliknya tak begitu cocok.

Tapi aku senang tahu itu ada di sana.

Seperti pasangan tetap tempat ini.

Ya, seperti Logan.

Wicker. Pilsen.

Ya.

Sekarang semuanya payah.

Sudah berbeda.

Ya, memang sudah berbeda.

Karena itu kau selalu kularang mengutak-atik tempat ini.

Jika lebih santai dengan upaya orang, semua akan berubah.

Kau tidak sadar, di sini lingkungannya rentan,

dan itu disatukan oleh sejarah yang sama,

cinta, dan rasa saling menghormati.

Ada patung ini di atas gedung Dewan Perdagangan.

Patung dewi. Tanpa wajah. Orang bilang, "Mana wajahnya?"

Komentet

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left