168 rreshtat e parë.
[Konten drama ini mungkin didasarkan pada latar individu tertentu]
[Bertujuan untuk hiburan, sama sekali tak bermaksud merendahkan profesi apa pun]
[Juga tidak bermaksud arahkan atau dorong nilai-nilai tak sesuai moral sosial]
[Atau menimbulkan pandangan negatif pada jenis kelamin atau kelompok mana pun]
[Jika ada hal yang tidak pantas, pihak produksi dengan tulus memohon maaf]
Aku ingin menikah dengan orang ini.
Jika bisa menikah dengan wanita ini,
aku bersedia memperpanjang sewa tanah Mal S selama 30 tahun lagi.
Kak Si.
Aku menikah denganmu? Kamu gila, ya?
Meskipun sewa tanah itu tidak diperpanjang
dan mal keluargaku tutup,
itu tidak akan membuat keluargaku bangkrut sampai tidak punya apa-apa.
Baiklah.
Jika kamu berubah pikiran, hubungi aku lagi.
Aku pamit dulu.
Jika urusan sewa tanahmu itu sudah beres,
aku dan ibumu berpikir,
sudah waktunya untuk mundur.
Ayah, ada apa dengan Ayah?
Kenapa tiba-tiba bicara begitu?
Aku juga tidak tahu apa alasannya,
itu keputusan ayahmu sendiri, aku tidak ikut campur.
Aku tidak apa-apa.
Aku hanya ingin istirahat.
Aku ingin
menepati janji untuk mengajak ibumu keliling dunia berbulan madu.
Kamu sudah terlalu lelah, betul, 'kan?
Song, ada satu hal lagi.
Aku ingin kamu menggantikanku menjadi CEO perusahaan.
Apa?
Ayah bilang apa tadi?
Coba ulangi sekali biar kudengar.
Kamu sudah bangun.
Kenapa kamu tidur sampai bingung begitu?
Apa?
Maksudnya tidur sampai bingung bagaimana?
Aku sengaja bangun pukul 06.00
dan berdandan secantik ini.
Lalu, Ayah masih bilang aku tidur sampai bingung?
Iya.
Aku memang tidak disayang.
Lagi pula aku tidak seperti Song, anak emas kalian.
Dia selalu yang terbaik dalam segala hal.
Mengatakan soal disayang atau tidak, ya?
Masih ada lagi, sekarang sudah pukul 18.00,
bukan pukul 06.00.
Pukul 18.00?
- Ya. - Ya, pukul 18.00.
Kalau begitu tidak disebut tidur sampai bingung,
lantas namanya apa?
Entahlah.
Aku tidak terima.
Ayah, kenapa Ayah harus menjadikan Song sebagai CEO?
Aku itu kakaknya.
Atas dasar apa dia melompati posisiku?
Kamu memang kakaknya.
Tapi kamu belum pernah berhasil melakukan apa pun.
Apa kamu pernah berhasil
menyelesaikan masalah perusahaan seperti Song?
Ayah tidak pernah memberiku kesempatan.
Ayah hanya memberi kesempatan pada Song.
Kalau mau tahu masalah perusahaan, kenapa tidak bertanya?
Lantas, kamu tahu tidak, kalau pemilik tanah itu
sudah tidak berniat memperpanjang sewa dengan mal kita?
Ayah tidak pernah bilang padaku.
Kalau aku tahu,
apa pun bisa aku selesaikan untuk Ayah.
Ayo makan, Si.
Jangan bicara sembarangan. Nanti Ayah marah.
Oke?
Aku tidak makan.
Aku tidak lapar.
Song.
Aku akan lanjutkan pembicaraan ini besok.
Tolong ambilkan sedikit salad untukku.
Baik, Ayah.
Satu.
Dua, tiga.
Besok pukul 13.00
bukankah kita ada janji bertemu dengan Nona Klao?
Pagi harinya, kumpulkan semua tim.
Aku ingin lihat usulan baru apa yang bisa kita berikan.
Baik.
Nona Si, ini tas kamu. Mobil juga sudah siap.
Terima kasih, Bibi.
Di rumah ini, hanya Bibi yang peduli padaku.
Hari ini kamu mau ke mana?
Belanja.
Ayah, tunggu aku besar nanti, aku mau ke mal dan bekerja sama Ayah.
Si, putriku sayang, malaikat kecilku.
Kenapa kamu mau kerja?
Kita punya banyak karyawan.
Kamu cukup berdandan cantik,
jadi putri kecil Ayah sudah cukup.
Ayo, Putri. Pakai mahkotamu.
Kamu tahu tidak, putri itu tidak perlu bekerja?
Cukup jadi anak baik,
buat Ayah dan Ibu senang, itu sudah cukup.
Hanya perlu menjadi anak baik?
Benar.
Kita punya harta berlimpah.
Kamu tidak perlu bersusah payah, mengerti?
Hore.
Aku tidak perlu bekerja,
selamanya menjadi putri kecil Ayah dan Ibu.
Cantik sekali.
Bos.
Kenapa hari ini pulangnya begini larut?
Mampir ke toko Paman Somkid membeli sedikit pupuk.
Diberi beberapa baju kerja gratis.
Jiw, pakailah.
Terima kasih, Bos.
Rindu sekali dengan kamu.
Aku ambil dua ini, ya.
Warnanya cerah begini, cocok untuk anak muda.
Terima kasih, Bos.
Besok aku pakai ini ke rumah sakit, biar tampil dengan keren.
Omong-omong,
kenapa kamu begitu suka pakai baju kerja?
Padahal ada banyak baju bagus dan modis.
Kenapa tidak kamu pakai?
Barang gratis, kenapa tidak dipakai?
Seseorang itu kaya atau miskin
tidak dinilai dari pakaiannya, Jiw.
Orang yang tidak punya uang tapi mati-matian berdandan seperti orang kaya
untuk menipu orang lain juga banyak.
Tapi nanti kalau kamu ke Bangkok,
ikuti gayaku memakai baju yang keren.
Dan mobil tua itu, jangan dipakai lagi. Memalukan.
Aku juga tidak peduli.
Jika seseorang meremehkanku karena cara berpakaianku
jelek dan mobilku murahan,
maka orang yang hanya melihat penampilan luar
seperti itu juga bukan orang baik.
Wah, bosku paling hebat.
Keren sekali. Bersulang.
Ini bosku. Kakak kandungku.
- Ambil pakaiannya. - Baik.
Astaga, habislah, Nona Si.
Kamu lagi-lagi membeli mobil baru.
Ini sudah yang ketiga bulan ini.
Itu karena suasana hatiku buruk, Bibi.
Kalau suasana hatiku buruk, aku harus beli mobil untuk melampiaskan.
Kamu mengerti, 'kan?
Ayo sayang. Jangan buka dulu matanya.
Sudah siap? Kalau sudah siap...
Kejutan tiba!
Mobil ini cantik sekali, Ayah.
Aku ingin sekali mengendarainya.
Begini saja. Nanti kalau sudah besar,
Ayah belikan banyak, ya?
Sepakat, ya, Ayah?
Nanti kalau besar, aku punya banyak mobil.
Aku akan ajak Ayah jalan-jalan.
Kita sepakat. Janji kelingking.
Ayah saja yang diajak jalan-jalan?
- Kalau Ibu bagaimana? - Ibu juga ikut.
Ke mana pun Ayah dan Ibu mau pergi,
aku akan antar dengan mobil.
Tapi kita sudah punya sopir.
Kamu itu,
cukup duduk cantik seperti putri.
Itu sudah cukup, oke?
Ayah juga mau. Aku juga mau.
- Silakan, Putri. - Mari.
Oke. Tunggu, ya.
Silakan.
No comments yet. Be the first to leave one.