200 rreshtat e parë.
*Open__subtitles ▶️▶️▶️ FreePalestina *Sub__dl ▶️▶️▶️ rawe
Mbak, Ibu menunggu daftar kado darimu.
Aku tak butuh apa pun, Bu. Terserah.
Ayah tak perlu membuat daftar kado juga?
Kau selalu minta kaus kaki warna-warni.
Plus hal baru untuk berkebun.
Benar, tak perlu daftar kado.
Bicara soal kebun, Leah,
tahu lelucon tukang kebun ke temannya?
Sudah 5.000 kali Ayah ceritakan.
Ayah!
Segala hal bisa berubah sekejap.
1 Tahun Kemudian
Selamat pagi.
Halo.
Bukannya kau mau pergi?
Ya, tapi aku suka makan malamnya,
jadi mau sarapan di sini.
Ini prasmanan.
Jika aku nambah, seseorang tak dapat kado.
Serius? Ada apa malam nanti?
Ini Malam Natal, Bego.
Apa?
Halo, Bu. Selamat Natal.
Kenapa tak angkat telepon? Ibu kira tenggelam.
Ibu selalu berpikir positif.
Masih ada ruang di pembeku?
Minumannya kurang dingin?
Axel, bukankah kau yang urus ?
Aku tahu.
Cek rak atas kulkas. Harusnya ada ruang.
Kubilang lebih baik aku yang beli.
Entah kenapa kita masih memberinya tugas.
Ayah tahu ada es batu di sana?
- Selamat Natal. - Mana ada bahagianya.
- Sebaiknya tak usah pesta. - Jangan mulai, deh!
Malam ini berat bagi kita semua.
Bawa ini ke saudaramu di ruang makan.
- Ibu selesaikan sisanya. - Baiklah.
Bagus.
Baru pulang langsung cari gara-gara.
Hebat betul Lo!
Halo. Apa kabar?
Heran, kau kok tahan sama saudaraku.
Aku punya teman jomblo yang lumayan ganteng.
- Mau kukenalkan? - Tak usah. Aku tak mau ganti.
Cinta itu buta. Apalagi lihat bajunya.
Tahun ini tak mengajak temanmu makan malam?
Tidak, lelucon garingmu bikin mereka kabur.
Ya, itu yang bikin mereka takut.
Buka pintunya, biar kami yang urus ini.
- Halo. - Halo.
Makanan siap, minuman hampir dingin.
Bagaimana kabar orang favoritku?
Hidup kita berubah 20 tahun lalu,
saat keluarga Jones datang dari jauh
dan menjadi bagian keluarga kami.
Sejak kecil, aku dan Oliver tak terpisahkan,
namun kecelakaan yang menewaskan orang tua mereka
Makin menyatukan ikatan kami.
Siap?
Ibu harap kalian masih lapar. Ini pemungkasnya.
- Makanan ini enak, Miriam. - Terima kasih, Sayang.
Aku berusaha, tapi tanpa ibumu...
Rasanya tak sama.
Kalian tahu,
sudah bertahun-tahun kita rayakan Natal bersama.
Terutama hari ini...
... kami merindukan orang tua kalian.
Mari bersulang. Rumah ini selalu milik kalian.
- Leah! Leah! - Biar aku.
Sial, Ayah pintar sekali merusak suasana.
Kau yang begitu, selalu menganggap remeh suatu hal.
Aku cuma mau santai, tapi Ayah malah emosi.
- Stop! Hari ini kan pesta. - Ya, dan saudaramu jadi pelawaknya.
Ayah, cukup. Mari nikmati hari ini.
Mager amat. Aku pergi saja, bikin mual.
Axel, kumohon!
Aku menyusulnya.
Tak apa, Bu. Bukan salah Ibu.
Kira setuju ini hal terbaik,
tapi sepertinya momennya kurang pas.
- Oliver marah? - Tidak, dia bersamaku di rumah.
Kami cuma minum. Dia mau jemput Leah, ya?
Baiklah, Nak. Kami tunggu.
Oke, Bu. Sayang Ibu. Tenang saja.
Terima kasih.
Maaf atas sikap ayahku tadi, Bro.
Tak apa-apa.
Ini pasti berat baginya.
Mau bicara apa? Bikin cemas saja.
Aku dapat promosi jabatan.
Keren! Kapan kau mau cerita?
- Tak semudah itu. - Kenapa begitu?
Kau melayani atasanmu secara khusus?
Jika aku diterima,
aku 9 bulan di Berlin.
Masalahnya apa?
Aku bisa menjengukmu. Tahu musik sana?
- Soalnya Leah. - Ada apa dengannya?
Maksudmu? Tak mungkin kubawa dia.
Tak adil mencabutnya dari lingkungan ini.
Cari suasana baru bisa berdampak bagus.
Entahlah. Aku bimbang...
Dia sudah kesulitan karena tinggal kelas.
Aku ingin dia kuliah tahun depan.
Di kampus bagus. Seperti orang tua kami.
Makanya aku butuh dana lebih.
Setahun ini aku kerja paruh waktu
agar bersamanya, tapi tabunganku menipis.
Jika butuh uang, tinggal minta padaku.
Tidak, terima kasih. Jangan.
Itu banyak sekali, Axel.
Lalu, bagaimana aku membantumu?
Kemarin aku memikirkan beberapa opsi.
Kupikir dia bisa tinggal bersamamu.
- Siapa? Leah? - Ya.
Tak mungkin ikut orang tuamu. Lihat tadi.
- Jelas tak mungkin. - Aku kurang akrab dengan saudaramu.
Aku WFH seminggu tiap bulan,
jadi kau cuma menjaganya saat aku pergi.
Rencanamu matang juga.
Ini bantuan besar, tapi aku butuh kerjaan.
Aku tak punya pilihan lain.
Oliver, Bro, jangan...
Axel, kau panutanku dan paling kupercaya,
aku tak minta jika ini tidak penting.
Tapi, ya sudah, aku paham.
Tak adil membebanimu dengan hal ini.
Aku memang egois,
tapi aku bingung harus bagaimana.
Kau mau melakukannya untukku?
Jangankan ini, nyawaku kuberi.
Jadi, sepakat ya?
Beneran?
Kau tahu aku pasti mau. Kau saudaraku.
Terima kasih, Bro.
- Kau mau menjaganya? - Tentu saja.
- Aku harus menjemputnya. - Aku ikut.
- Katanya mau ketemu Elena usai makan? - Ya?
- Serius? - Tidak juga.
Hubungan kami santai. Tak saling mengekang.
Dia tahu hal itu?
- Paham lah, dia jiwa yang bebas. - Bagus kalau begitu.
Minggu depan kita atur semuanya?
- Tentu saja. Ayo. - Siap.
Siap?
Semua akan baik-baik saja.
Beberapa hari lagi kau pasti betah di sini.
Jangan bikin Axel repot, ya?
Dia sudah banyak membantu kita.
- Kapan kau berangkat? - Beberapa jam lagi.
- Beres semua? - Sudah.
Baguslah.
- Gimana aman? - Aman.
Rumahku tak pernah sebersih ini.
Leah, ini ponsel lama kantor.
Pakai untuk menghubungiku kapan saja.
Kemari, peluk aku sekali lagi.
Kau di sini saja, biar aku ke Berlin.
- Lama-lama kau ketinggalan pesawat. - Iya, iya.
Aku pulang dulu mau mengembalikan mobil.
Ini tempat bersantaiku.
Biasanya tak serapi ini...
Anggap saja rumah sendiri.
Boleh pakai apa saja. Ada buku, musik...
Ada pemutar piringan hitam.
Pernah pakai alat ini?
Keren, kan.
Di kulkas ada makanan, tapi kalau kurang
atau mau hal khusus, kita bisa beli.
Ini kamarmu. Lewat sini.
Dulu ini ruang kerjaku. Berantakan sekali.
Mau makan siang di luar jika mau?
Baiklah.
Silakan berkemas dulu.
Kalau butuh apa-apa, aku di luar.
Maaf menyuruhmu ke sini. Soreku padat.
- Santai saja. - Salam untuk saudaramu.
Sejak menikah, dia hilang tanpa kabar.
Kusampaikan nanti. Dah.
Leah?
Kupesan piza, mau?
Leah?
AKU KE PANTAI SEGERA KEMBALI Axel
Bagiku, Leah selalu jadi adik kecil,
tapi saat aku dan Oliver kembali
setelah 4 tahun di kampus, dia dewasa.
- Dah. Semoga dapat ombak bagus. - Trims, Douglas.
- Kenapa? - Ada kunci motor?
- Bukannya di kamu? - Sial, tertinggal di jaket!
Kau yang membuatnya?
Ya.
Jelek, ya?
Tidak, justru sebaliknya. Ini...
Unik.
- Kau bercanda, kan? - Sungguh, aku tidak bercanda.
Kenapa?
Sebab Ayah menyuruhku melukis pot ini,
dan buatanku sama sekali tak mirip.
No comments yet. Be the first to leave one.