Mistari 200 ya kwanza.
Hujan.
Benar-benar hujan.
Hujan!
Wah, hujan!
Hanya aku yang merasa tak nyaman?
Kenapa?
Kau tahu berapa lama tidak turun hujan?
Ah, senangnya.
Aku tak suka basah kuyup.
Lihat! Kita tak perlu memenuhi sumurnya.
Kita tak perlu mengisinya!
Kita tak perlu mengisinya lagi!
Tak perlu diisi. Ayo!
Kemarilah.
Aigoo.
Kalau saja hujan turun...
sekitar jam 4 sore.
- Wah! - Aigoo.
- Kau percaya? - Tidak!
- Aigoo. - Ya ampun!
D
Da
Dam
Damn
Damn!
Damn! S
Damn! Su
Damn! Sup
Damn! Super
Damn! Super
Damn! Super S
Damn! Super Su
Damn! Super Sub
Damn! Super Sub
Damn! Super Sub I
Damn! Super Sub In
Damn! Super Sub Ind
Damn! Super Sub Indo
Damn! Super Sub Indon
Damn! Super Sub Indone
Damn! Super Sub Indones
Damn! Super Sub Indonesi
Damn! Super Sub Indonesia
Diterjemahkan oleh: ~ Ifabee Sejabin ~
Kita harus langsung pulang.
Aku membiarkan 2 tempayan terbuka.
Hujan terus turun, jadi jangan khawatir.
Aigoo, gimana ini? Katanya kau tak suka basah.
Kau pasti lelah...
karena perjalanan jauh dari Hanyang.
Pasti berat bagimu juga.
Ayahmu bilang...
bagaimana keluargamu dibunuh setelah dijebak melakukan kejahatan.
Kejadiannya sudah lama.
Banyak yang mati selama kudeta.
Abeojiku...
di antaranya.
Kudeta?
Kau mungkin tidak tahu...
karena ingatanmu hilang.
Saat itukah kau dan orabeonimu berpisah?
- Iya. - Apa dia belum kembali...
sejak saat itu?
Tidak.
Sebetulnya dia datang.
Terus kenapa kalian tidak tinggal bersama?
Aku butuh waktu.
Untuk apa?
Kami hidup terpisah,
jadi aku butuh waktu untuk menyelesaikan ini-itu.
Kau tahu.
Kalau kau bagaimana?
Apa perjalananmu ke Hanyang membuat ingatanmu kembali?
Tidak, ingatanku belum kembali.
Aku tak tahu kalau Hanyang begitu luas.
Pantas saja orang bilang tidak mudah melacak orang di Hanyang.
Aku tersesat akhirnya membuang-buang waktu.
Tapi, jangan khawatir. Dia akan kembali dengan selamat.
Kupikir dia baru pertama kalinya
tapi sepertinya dia tahu jalan ke sana.
Kau pasti khawatir aku tak akan kembali.
Hanyang indah, terfikir olehku menginap.
Tapi, aku punya alasan untuk kembali.
Aku janji memberi Meok Goo 2 pun,
tapi belum kubayar.
Aku merasa sangat bersalah.
Kau terlihat capek. Ayo, kita harus cepat pulang.
Hujan sepertinya tak segera berhenti.
Berhubung sepanjang tahun tak hujan,
pasti akan lama sekali berhentinya.
Tunggu hingga hujan berhenti.
Jeonha.
Jeonha.
Jeonha.
Bagaimana bisa aku tak menyambut hujan yang begitu berharga?
- Kesehatan Baginda bisa terganggu. - Tidak mungkin.
Hujan seperti berkah.
Jeonha.
Anda harus ke istananya Jungjeon Mama.
Jungjeon, ada apa?
Jeonha.
Duduk saja.
Tunggu apa?
Cepat panggil tabib istana.
Tidak apa-apa.
Saya lebih baik mati seperti ini.
Apa maksudmu?
Jwasang...
membawa kertas kosong berstempel kerajaan...
dan mengancam saya, bahwa dia akan membunuh Seowon.
Apa?
Sejak mendengar ancamannya
saya tak bisa minum setegukpun.
Saya terlalu takut...
bahkan untuk bernafas.
Jwasang begitu sombong...
seolah telah membuat saya, Seowon, dan bahkan Baginda berlutut di bawah kakinya.
Jeonha
kenapa Anda memberikan stemel kerajaan pada orang sepertinya?
Hal itu kulakukan untuk melindungimu dan Seowon.
Aku tak punya pilihan lain selain memberikan apa yang diinginkannya
supaya aku mendapat yang kumau.
Tidak.
Dia akan berusaha mendapatkan semuanya.
Dia akan membunuh saya dan Seowon...
dan bahkan merebut singgasana.
Anda sungguh tak tahu kalau dia binatang yang culas...
yang mencari kesempatan membunuh majikannya?
Baginda harus lakukan sesuatu.
Kalau tidak,
Seowon Daegun dan saya pasti akan dibunuh.
Itu tak akan terjadi.
Aku...
akan melindungi kalian berdua.
Jeonha.
Bak mandi di dapur sudah kupenuhi. Mandilah.
Kau duluan saja.
Sepertinya tadi kau menggigil kedinginan.
Kalau kedinginan tak bagus untuk kesehatanamu.
Tidak, kau saja yang mandi duluan.
Kau pasti lelah dari perjalanan jauh.
Oh-ho! Mandilah dulu.
Aku tak apa-apa.
Cepat mandi lalu tidurlah. Kalau tidak, kau bisa kena flu.
Tidak ada pilihan lain.
Masing-masing tak mau mengalah,
jadi kita harus mandi bersama.
Lupakan. Aku duluan. Aku akan cepat.
Kau pasti tahu siapa aku.
Jawab aku. Aku siapa?
Aku ingat kau entah di mana.
Kenapa kau berusaha membunuhku?
Aku siapa?
Kau sudah mati.
Di ingatan semua orang kau sudah mati.
Jadi jangan coba-coba ingin tahu.
Kalau keberadaanmu terungkap banyak orang yang akan terbunuh.
Kenapa bisa begitu?
Salahmu mengejarku dalam kondisi seperti itu.
Kau mikir apa sampai segitunya?
Aku penasaran...
kenapa istriku lama sekali mandinya.
Menurut tabib, kondisinya kritis.
Dia diserang seseorang lagi?
Nampaknya begitu, tapi bukan diserang dengan pedang.
Gunung di dekat kota...
Sebetulnya...
kenapa dia kesana dengan kondisi seperti itu?
Apa yang kalian sembunyikan dariku?
Apa maksud Anda?
Kenapa kami harus menyembunyikan sesuatu dari Anda?
Beom...
sepertinya ada yang mau kaukatakan.
Silakan bunuh saya, Daegam.
Sayalah yang memanah Moo Yeon.
Saya lakukan karena saya tidak ingin meninggalkan Anda.
Saya maunya membidik tangannya.
Saya pikir dia akan berubah pikiran saat dirawat.
Tapi saya lepas kendali.
Kurung dia di gudang.
Jangan beri dia setetes air pun...
hingga instruksi selanjutnya.
Aku khawatir...
janin di perutmu terpengaruh oleh kejadian yang membuat stres.
Besok pagi kembalilah ke istana.
Gyoyeondang mungkin masih belum bersih dari pengaruh buruk.
Ayah sudah meminta mereka menyelesaikannya dengan cepat.
Pakaiannya pas sekali.
Aku terihat tampan dengan pakaian apapun.
Susah payah aku membuatkan pakaian baru itu,
bukannya berterima kasih kau malah membanggakan diri.
Kenapa lengan kanannya lebih pendek?
Apa ada makna khususnya?
Tangan kanan pasti lebih panjang dari tangan kiri.
Panjangnya kubuat sama.
Tidak mungkin.
Tuh lihat. Tangan kananmu lebih panjang.
Kakimu baik-baik saja?
Apa melepuh?
Memerah dan bengkak, tapi masih bisa kutahan.
No comments yet. Be the first to leave one.