Mistari 174 ya kwanza.
"Pasokan untuk Eskadron Pertahanan Lapis Pertama di Sektor Satu, Spearhead."
Mayor, apa isi dari kontainer itu?
I-Isinya hulu ledak khusus.
Jujur saja, apa isinya?
Hu-Hulu ledak khusus.
Sedikit lagi.
Sedikit ke kanan lagi.
Oke, setop.
Selamat sore.
Bagaimana kalau Anda juga ikut, Mayor?
Laksanakan autentikasi. Atas nama Mayor Vladilena Milizé.
Perwira Komando Eskadron Garis Pertahanan Pertama Front Timur di Sektor Satu.
Aktifkan Para-RAID.
Target resonansi: Prosesor Spearhead.
Kalau memang seberat itu, tinggal berhenti saja.
Tanpa dirimu pun, kami takkan kesusahan.
Hanya karena dirimu tak mengomando, bukan berarti akan terjadi sesuatu yang buruk.
Letnan Muda Kukumila.
Jujur saja, mendengarmu kepanikan, meski dirimu tak di sini, membuatku terganggu.
Apa kalian tak merasa terbebani?
Mendengar suara itu?
Sakit!
Ibu!
Cup, cup!
Hati-hati, dong.
Kamu ini ceroboh, ya.
Bahkan tanpa ada Shin pun,
Prosesor masih kerap mendengar jeritan kematian.
Mati dalam ledakan mesin unit bukanlah cara mati yang buruk.
Ada yang kaki dan tangannya terhempas.
Ada yang wajahnya hangus sampai tak dikenali.
Ada yang sekujur tubuhnya terbakar.
Ada yang perutnya robek
hingga jeroannya muncrat keluar.
Kami sudah berulang kali melihat teman-teman kami yang sekarat dan menjerit kesakitan.
Kalau cuma suara orang yang sudah mati,
dibandingkan apa yang kami saksikan, itu belum seberapa.
Mau siapa pun yang mati, bagi kami semua ...
... itu sudah hal yang lumrah.
Semua unit, terima kasih kerja kerasnya.
Aku bisa mendengarmu dengan jelas, Mayor.
Maaf karena di sini mayoritas lelaki bejat.
Lettu Shuga?
Anu, apa terjadi sesuatu pada Kapten Nouzen?
Mungkinkah terjadi sesuatu di pertempuran hari ini?
Ah, tidak. Dia cuma molor.
Sepertinya dia lelah.
Begitu, ya?
Sudah sering terjadi, sih.
Aku .... Kami tak tahu bagaimana pastinya, tapi ...
... sepertinya mendengar "itu" sepanjang waktu memang membebaninya.
Maksudmu, karena mendengar suara Legion?
Wajar saja itu mengusik pikiranmu.
Selama masih di sini, ada kalanya hal seperti itu terjadi.
Sama halnya dengan Kapten,
sepertinya beban kalian semakin bertambah, ya.
Kalian terus kehilangan anggota tanpa jeda.
Iya.
Semenjak aku ditugaskan, penambahan personel belum pernah sekalipun dilakukan.
Aku akan mendesak mereka agar bala bantuan diprioritaskan untuk dikirim ke sini.
Lettu Shuga?
Iya, itu bagus.
Eskadron ini menjaga titik pertahanan terpenting.
Kita berhak diprioritaskan untuk menerima bala bantuan.
Untuk sementara ini, aku akan meminta bantuan dari eskadron lain, jadi ...
... kumohon, bertahanlah sebentar lagi.
Iya.
Yah, mohon bantuannya.
Baik.
Jadi, kamu ingin bicara langsung denganku tanpa pandang jabatan, Mayor Milizé?
Brigjen, terkait bala bantuan personel Eskadron Spearhead,
aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.
Demi membantu mereka,
aku rela berbuat apa saja.
Termasuk bergantung pada kekuatanmu, Pamanda.
Aku sudah meminta tolong ke sana-sini, tapi tak satu pun yang—
Perintah penambahan Prosesor dan suplai untuk Front Timur sudah diteken.
Eh?
Aku juga sudah menyampaikan permintaanmu pada mereka.
Baru orang dalam yang tahu soal ini, jadi wajar kamu belum tahu.
Sungguh?
Jadi, akhirnya kami mendapatkan bala bantuan?
Karena itulah kamu juga perlu menunaikan tugasmu.
Apa kamu sudah bersiap untuk Pesta Festival Revolusi?
Menghadiri pesta dengan mengenakan gaun.
Bukankah itu tugas penting bagi putri Keluarga Milizé?
Baiklah.
Lena, kamu ini, ya ....
Kenapa kamu malah memakai gaun seperti itu?
Kalau gaunmu hitam pekat begitu, nanti dikira mau melayat, tahu.
Cantik, 'kan?
Berkat gaun ini, tak ada yang mendekatiku.
Aku setuju kalau pesta ini membosankan dan layak digusur ...
... tapi bukan berarti berpenampilan modis adalah hal yang buruk.
Kalau memang begitu, bagiku begini saja sudah cukup, kok.
Bukan begitu maksudku—
Ada apa?
Dia orang yang datang ke perjodohanku tadi.
Sampai nanti, ya, Lena.
Mayor.
Kapten Nouzen, ada perihal apa?
Mungkinkah Legion bergerak?
Tidak. Kamu tidak melakukan resonansi seperti biasanya, jadi aku sendiri yang menghubungimu.
Apa kamu tak keberatan?
Kalau sekarang bukan saat yang tepat, biar besok saja.
Tidak apa-apa.
Maaf.
Biasanya aku mengobrol bersama kalian, ya.
Ada apa?
"Hulu ledak khusus" kirimanmu sudah sampai.
Aku ingin mengabarimu soal itu.
Oh, jadi sudah sampai dengan aman, ya.
Ya.
Terima kasih atas kembang apinya.
Soalnya sekarang perayaan Festival Revolusi, sih.
Dulu kamu pernah menyaksikannya dengan kakak dan orang tuamu, 'kan?
Pasti yang lainnya juga sama.
Tradisi Festival Revolusi, ya.
Apa dari Istana Luñe sana kamu bisa melihat kembang apinya?
Eng ....
Bisa.
Tapi, langitnya terlalu terang.
Pasti di sana kembang apinya terlihat gemilang, ya.
Langit malamnya gelap dan pasti udaranya masih bersih.
Aku juga ingin melihatnya—
Suatu saat, mari kita bersama-sama melihat kembang api di Distrik Satu.
Kujamin, pasti kalian bakal tertawa melihatnya.
Seingatku tidak seburuk itu, sih.
Kalau begitu, cobalah lihat sendiri.
Setelah peperangan berakhir, saat kalian bebas tugas, mari kita melihatnya bersama-sama.
Aku berharap Letnan Muda Irma dan yang lainnya juga bisa melihatnya.
Maaf.
Lagi-lagi momennya kurang tepat, ya.
Tidak juga. Ini pertama kalinya kami mengadakan Bakhor.
Pasti Daiya dan yang lainnya juga merasa senang.
Soalnya, mereka benci suasana murung dan suram.
Begitu, ya.
Selain itu, Anju baru saja melepas tangisannya.
Dia kerap memendam perasaannya sendirian.
Jadi, aku ingin berterima kasih padamu untuk itu.
Pasti Letda Emma takkan melupakannya, ya.
Begitu juga dengan kami semua.
Sama halnya dengan dirimu yang takkan pernah lupa tentang kakakku.
Itu membuatku senang, lo.
Soalnya, aku tak bisa ingat tentang dirinya.
Kapten Nouzen ....
Mayor, akankah dirimu ...
... selalu mengingat kami?
Itu sudah pasti.
Tapi ....
Sebelum itu, takkan kubiarkan kalian gugur.
Takkan kubiarkan lagi ...
... siapa pun mati.
Oi, Eighty-Six, yang ini juga.
Ada bingkisan hadiah dari majikan kalian.
Dasar. Kalian para babi nambah-nambah kerjaan manusia aja.
Muslihat apa yang kalian pakai untuk mendapatkan ini?
Dasar.
Padahal kami lagi sibuk menyiapkan Festival Revolusi.
Apa, tuh?
Ada apa, Shin?
Lah, apa itu?
Kembang api?
Banyak kali.
Eh?!
Kiriman dari Mayor?!
Mantap!
Hei, Anju. Begini ....
Ada apa?
Kupikir, mungkin sudah saatnya kita berhenti berbicara dengan wanita itu.
Soalnya, dia sampai mengirimi kita "hadiah", gitu.
Kamu mengkhawatirkan Mayor?
Bu-Bukan, ih!
Buat apa juga aku peduli dengan wanita itu?!
No comments yet. Be the first to leave one.