Mistari 200 ya kwanza.
AYANA TSUCHIDA ACARA TANDA TANGAN BUKU DAN GELAR WICARA
Siapa lagi yang mau bertanya?
Silakan, kau yang berjaket cokelat di tengah.
Aku pernah baca di suatu artikel bahwa karyamu sebelumnya, Ukandeiru,
berdasarkan pengalaman asmaramu sendiri
saat kau masih berkuliah.
Aku mau bertanya apa novel barumu ini berdasarkan pengalamanmu
atau fiksi saja
atau mungkin pandanganmu untuk sesuatu yang ideal?
Kuhargai jawabanmu untuk pertanyaanku ini.
Terima kasih untuk pertanyaannya.
Beginiโฆ
Jika itu hal yang ideal bagiku, berarti semuanya bisa dibilang gila, 'kan?
Kurasa,
kita terlalu banyak berkorban untuk sesuatu yang bernama seks,
meski seks tentunya sangat penting dan punya peranannya sendiri,
tapi menurutku, ada hal-hal yang lebih penting lagi.
Benar.
Selain itu, di Ukandeiru,
aku menulis sedikit kisah tentang orang yang menginspirasiku
untuk menulis novel, juga masa-masaku di kampus dulu,
tapi akhirnya menjadi agak membosankan.
Pemikiranku selama ini adalah novel-novel itu karya fiksi.
Jadi, aku harus bisa menulis cerita dengan lebih bebas.
Tapi kenapa aku justru terbelenggu oleh kenyataan?
Pacarku saat itu juga bisa dibilang payah.
Jadi, dalam karya terbaruku ini,
kumasukkan berbagai kebohongan dan elemen khayalan.
Terima kasih.
Terima kasih.
AYANA TSUCHIDA
Halo.
Tsuchida.
Ya?
Ada yang mau bertemu denganmu.
Dia tadi mendengarkan gelar wicaramu dari belakang.
Siapa?
- Lama tak berjumpa. - Apa?
Astaga.
- Kau tadi ikut gelar wicaranya? - Ya.
Apa? Dasar gila.
Halo. Aku si Payah tadi.
Tidak, bukan begitu maksudnya! Maaf!
Astaga.
Aku dapat pesan dari Pak Kobayashi menanyakan apa dia boleh mampir ke sini.
Kau sangat hebat sekarang.
Tidak, aku bukan tandinganmu.
Kau laris manis.
Laris manis? Kau mengejekku, ya?
Tidak.
Tapi mungkin ada istilah yang lebih tepat. Maaf.
Sebenarnya, kemampuanku hanyalah menjual buku.
Astaga, andai aku juga bisa berucap seperti itu.
Kau ada rencana lain hari ini?
Ada apa?
Mungkin kau mau pergi makan?
Kau bisa ikut juga?
Tidak bisa,
aku harus kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan.
Begitu, ya?
Sebentar, kau curiga padaku, ya?
Tidak, bukan begitu.
Baiklah, ayo kita pergi.
Ayo.
Ayo.
Niko Kobayashi adalah seorang novelis yang novelnya laku keras,
dialah orang yang menginspirasiku untuk mulai menulis novel,
sekaligus mantan pacarku.
Tempat ini mewah sekali.
Kau sering ke sini?
Bisa dibilang begitu.
Baiklah.
Kenapa? Aneh, ya?
Tidak.
Kurasa aneh saja.
- Kau lapar? - Ya.
- Ayo kita pesan makanan. - Ya.
- Maaf. - Ya?
Kau punya seseorang sekarang?
Kekasih atau pacar, mungkin?
Ya.
Sudah lama pacarannya?
Ya.
Kira-kira setahun.
Hubungan kalian baik-baik saja?
Ya, kami terbilang harmonis.
Kenapa? Kau cemburu?
Kenapa aku harus cemburu?
Kau juga punya seseorang, Pak Kobayashi?
Pak Kobayashi?
Aku tak sedang serius dengan siapa pun.
Begitu, ya?
Ya.
Jadi, kau bermain-main saja?
Bermain-main saja? Ucapanmu itu punya seribu makna.
Jika aku bermain-main, seharusnya aku bakal merasa senang,
tapi kenyataannya tidak.
Omong-omong, berapa banyak orang yang bermain-main denganmu?
Ada tigaโฆ Tidak, empat.
Kau tidur dengan mereka juga?
Ya.
Mereka tak meminta status resmi padamu?
Tidak, aku tak tahan dengan orang yang seperti itu.
Jadi, mereka juga punya pacar?
Ya, ada juga yang bersuami.
Aku tak bermain-main dengan yang melajang.
Aku bilang "bermain-main" juga, ya?
Ya, kau sendiri bilang begitu.
Jadi, bagimu, lebih mudah untuk tak serius pada satu orang saja?
Bisa dibilang begitu.
Sudah cukup tentangku.
Lagi pula, aku memang payah, 'kan?
Kau masih tak terima, ya?
Masih saja kekanak-kanakan.
Diam.
- Silakan. - Terima kasih.
- Ayana. - Ya?
Kau sudah baca novel baruku?
Belum.
- Maaf. - Tidak apa-apa.
Niko,
bagaimana menurutmu tentang novel yang kau tulis?
Apa maksudmu?
Maksudmu,
apa novelku menarik sebagai novel biasa atau sebagai karya sastra
atau menarik berdasarkan posisinya di masyarakat kita?
Menarik sebagai karya sastra.
Entahlahโฆ
Tapi kurasa aku lebih suka novelku itu sekarang dibanding dulu.
Kenapa? Apa penyebabnya?
Penyebabnya?
Aku mengalami banyak rintangan
dan tahu keterbatasanku.
Ya.
Novelmu pun termasuk salah satu rintangan itu.
Awalnya,
aku terus membandingkan diriku dengan orang lain.
Aku keras kepala karena novelku tak laku dan kiprahku tak mendapat perhatian.
Pada dasarnya,
aku hanya menulis berdasarkan apa yang berguna atau tidak bagiku.
Aku selalu berpikir, "Novel-novelku ini karya seni!"
Tapi sekarang pemikiranku beda.
Kini, entah itu baik atau buruk, aku bisa menulis hal-hal yang tak berguna bagiku.
Itu tak buruk.
Apa?
Kurasa tak ada yang salah dengan itu.
- Begitu, ya? - Ya.
Aku terkejut kau bilang begitu.
Ini memang agak kasar, tapiโฆ
Tidak usah kau bilang jika kasar.
Novel-novel yang kau tulis itu
mungkin bukanlah sesuatu
yang berguna bagi kita berdua.
Tapi jika novel itu bisa menghibur hati seseorang,
kurasa novelmu itu benar-benar berguna.
Meski aku serasa mau mati saja saat menulisnya.
Kau bekerja sangat keras.
Ya.
Andai aku bisa sepertimu.
Apa?
Ya,
bisa menulis novel yang benar-benar menarik,
juga menulis sesuatu yang menurutku menarik.
Bahkan dalam percintaan, bisa mencintai hanya satu orang saja.
Keputusan kita untuk berpisah memang tepat.
Karena kita berdua terlalu berbeda.
Kau masih bilang begitu?
Entah bagaimana tampilanku di matamu sekarang iniโฆ
Tapi aku sebenarnya tak terlalu berbeda darimu.
Aku sudah tak seperti yang kau pikirkan.
Apa ada versi Ayana yang tidak kutahu?
Tentu saja ada.
Baiklah.
- Maaf, aku harus menjawabnya. - Silakan.
Halo? Ada apa?
Aku duduk di konter.
Di bagian belakang.
Salah satu dari empat orang itu.
Halo.
Halo.
Senang bertemu denganmu.
Ini Yoko.
Aku Yoko.
Ini Ayana.
Aku Ayana Tsuchida.
Senang bertemu denganmu.
Mau duduk di sini?
Bagaimana kalian berdua bisa saling kenal?
Kalian kolega?
Menurutmu sendiri, kami seperti apa?
Apa?
Dia pacar barumu, ya?
Justru kebalikannya.
- Stop. - Kebalikannya?
Kami kolega.
Aku menulis novel juga.
Kami kebetulan bertemu hari ini.
- Begitu, ya? - Ya.
Ada apa ini? Tingkahmu aneh.
Kalian berdua punya hubungan, 'kan?
No comments yet. Be the first to leave one.