Mistari 200 ya kwanza.
KOMEDI SPESIAL NETFLIX ORIGINAL
Beri sambutan, langsung dari Köln
Hazel Brugger!
Terima kasih, Köln.
Aku senang ada di sini.
Aku juga senang pertunjukkanku akhirnya direkam
agar orang bisa menontonnya di TV mereka di rumah.
Aku suka menonton TV.
Saat kecil, aku suka menonton TV.
Dua kakakku dan aku tak bisa banyak menonton TV.
Orang tua kami melarang
karena mereka "mencintai" kami dan bla, bla, bla.
Mereka selalu menyuruh kami keluar rumah.
Saling berbincang.
Mengukir hal menyenangkan dari wortel.
Tapi kami ingin menonton TV. Suatu saat, orang tuaku mencapai usia
di mana mereka mulai menguji batas mereka.
Mereka sampai di titik bisa sampai mana memberi batas
sebelum anak itu berkata, "Itu cukup."
Salah satu batasan itu adalah aturan yang mereka tetapkan.
Kakakku dan aku hanya bisa menonton TV beberapa menit sehari
sesuai halaman yang kami baca hari itu.
Peraturan yang gila!
Kau mengambil hal terindah di dunia, TV,
dan mengadukannya dengan hal terburuk di dunia, membaca.
Dan kami hanya diizinkan menonton sekian menit
sesuai durasi membaca anak yang paling sedikit.
Kami selalu jadi pemandu sorak untuk dia.
Baca lebih cepat!
Jilat ujung jarimu agar lebih cepat membalik halaman!
Walau banyak baca, kami hanya bisa menonton satu acara,
Wetten, dass…?
Kami menontonnya setiap kali itu tayang.
Aku tumbuh di pinggiran kota Zurich di Swiss.
Jadi, Wetten, dass…? adalah gerbangku ke Eropa.
Untuk waktu yang lama,
kupikir Jerman itu negara penuh orang dengan kemampuan tak berguna.
Tapi alih-alih malu dengan kemampuan anehnya,
mereka akan merayakannya di depan jutaan penonton.
Jika tak tahu, Wetten, dass…? adalah acara terbaik.
Thomas Gottschalk tampil,
orang Bayern tinggi dengan rambut pirang keriting
dengan setelan memesona seperti burung tropis Jerman yang bangga.
Dia tampil dan menyapa penonton, "Selamat malam. Halo. Servus.
Halo, Bruce Willis. Selamat datang.
Ya, ini sofa besar, aku tahu. Ini sofa terbesar di Jer…
Makan Haribo sekarang."
Bruce Willis duduk di sana, bingung dan berpikir, "Baik.
Aku mendengar banyak hal negatif
tentang industri hiburan Jerman,
tapi ini lebih buruk dari apa pun
yang bisa aku bayangkan."
Bruce Willis, ini Jürgen!
Jürgen berasal dari Villingen-Schwenningen,
dan Jürgen tahu merek tisu toilet dari rasanya.
Ekspresi jijik terlihat di wajah Bruce Willis.
Dia menutup telinga
karena dia tak percaya apa diterjemahkan.
Jürgen datang.
Dia insinyur sipil berusia 45 tahun dari Jerman Selatan.
Mereka berhasil membujuk dia di ruang ganti
untuk tak muncul dengan celana sepeda.
Mereka bernegosiasi dengannya, dan kini dia memakai celana
dengan ritsleting, kau bisa
menyesuaikan panjangnya.
Penonton berpikir, "Jürgen, ada apa?"
Kau di televisi selama tiga menit.
Apa rencanamu? Di satu sisi,
celana pendek, di sisi lain kapri? Kau ingin katakan apa?
Di atas, Jürgen memakai kacamata renang gelap,
ditempel dengan dua gulung tisu toilet miniatur
agar orang menonton tanpa suara di rumah
atau orang yang tak paham
bisa melihat apa yang penting dalam hidup Jürgen.
Thomas dan Bruce mulai berdiskusi,
"Apa dia bisa?"
Thomas bilang, "Tentu! Dia dari Villingen-Schwenningen.
Jika ada yang bisa tahu merek dari rasa, itu Jürgen!"
Bruce Willis bilang, "Tak bisa.
Keluarkan saja aku dari sini. Hentikan. Tidak."
Jürgen dengan berani makan tisu toilet gulung demi gulung.
Tentu, dia bisa melakukannya,
dan sebagai hukuman setelah acara, Thomas Gottschalk
memukul wajah Will Willis tiga kali
dengan ikan trout mati.
Itulah hal terhebat, Wetten dass…?
Lebih baik dari membaca.
Semasa anak-anak aku selalu yakin
suatu saat akan jadi Thomas Gottschalk. Mimpi terbesarku.
Aku ingin rambut dan sikap seperti Thomas Gottschalk.
Ingin tampil di TV.
Lalu aku tampil di TV, dan aku
terkadang masih tampil di TV, tapi…
Di balik layar di acara TV, selalu ada hal
di mana di setiap ruangan ada terlalu banyak orang
yang terlambat keluar dari jurusan sosiologi.
Setiap percakapan membosankan.
Jadi, kupikir akan buat acaraku sendiri.
Bersama kolegaku, Thomas Spitzer,
aku membuat acara YouTube.
Aku ada acara tengah malam di ruang tamuku di Köln.
Kupikir, "Siapa yang bisa kuundang sebagai tamu?" karena
kita butuh tamu.
Untuk jangka panjang, sedikit menyedihkan
jika selalu bicara dengan kursi kosong.
Aku hubungi orang yang menurutku keren. Aku memikirkan siapa dia.
Menurutku Anke Engelke keren. Dia aktris yang berbakat dan lucu.
Aku bertanya, "Hei, Anke. Kau mau mendukungku?
Datanglah ke tempatku. Tak dibayar, tapi ada M&M.
Jangan protes soal penyuntingannya. Maaf. Hak kami sepenuhnya..
Kau ikut?"
Anke Engelke bilang itu tak cocok.
Kupikir, "Sayang sekali kau punya imajinasi yang lemah."
Pilihan keduaku adalah Barbara Schöneberger.
Barbara Schöneberger, pembawa acara TV Jerman yang disukai.
Dia berambut pirang panjang dan mata biru besar.
Dia selalu terlihat terkejut, seperti ini…
Seolah-olah dia tak percaya bisa tampil di TV lagi.
Seolah-olah dia mencari sesuatu,
mungkin mencari lensa kontak yang dikenakan di matanya,
atau dalam pikirannya.
Barbara Schöneberger tak merespons sama sekali.
Jadi, kupikir jika tak ada yang mau,
aku akan undang hewan saja.
Karena hal baik tentang hewan adalah mereka punya sedikit hak.
Hewan memiliki sangat sedikit hak sehingga dalam sepuluh tahun,
kita sebagai masyarakat akan malu
betapa kita kurang memanfaatkan mereka saat hak mereka sedikit.
Aku menelepon agensi bakat hewan di Köln:
"Film Hewan Angelika." Kau tahu ini profesional.
Kau tahu siapa: Angelika. Pekerjaannya: merekam hewan.
Dan Angelika…
Angelika itu gadis Köln klasik. Orang Köln berdialek Kölsch.
Aku bahkan tak tahu itu ada sebelum ke sini.
Kölsch terdengar seperti, "Et kütt, wie et kütt. Et hätt noch immer joot jejange!"
Seakan lidahnya tiup 0.2 di pengukur kadar alkohol, tapi tubuhnya sudah aktif.
"Itu datang pada saatnya." "Selalu berhasil."
Orang yang bekerja secara intelektual tak akan pikirkan itu.
Tak ada yang berdiri di laboratorium kimia berpikir,
"Itu selalu berhasil."
Litium, air, "Selalu berhasil."
Dan aku bertanya pada Angelika.
Aku tanya berapa biaya sewa angsa?
Aku ingin menyewa itu,
kubawa ke ruang tamuku untuk mewawancarai dan menghinanya.
Dan suasana hati Angelika berubah. Orang ramah itu berubah.
Cara bicaranya berubah. Katanya, "Dengar!"
"Apa kau gila?"
"Angsa?" Begitu orang Köln bicara saat marah.
Secara agresif menekankan suku kata pertama
dan mundurkan suku kata kedua dengan heran. "Dengar!"
"Apa kau gila?"
Sebaiknya buang napas di awal
dan tarik napas di akhir. "Apa kau gila?"
"Angsa?"
Jika Disney membuat film tentang bellows dengan masalah agresi,
dia akan bicara seperti Angelika.
Aku bertanya, "Ada apa dengan angsa?"
Dia bilang, "Kau tak tahu aturan pertama bisnis pertunjukan?"
Tak boleh ada angsa di lokasi! Bisa mengacaukan semuanya!
Lalu dia tutup telepon. Aku tak tahu itu.
Segera kucari di Google, "Angsa kacaukan semua."
Aku dapat materi video berjam-jam
soal angsa patahkan lengan anak yang berusia empat tahun.
Jika kau tahu itu,
jika kau tahu informasi ini tentang angsa,
kau bisa melihatnya di angsa itu. Angsa itu
seperti angsa leher panjang yang lusuh,
seperti angsa leher panjang RTL 2.
Apa aku bahkan bisa memandangnya? Seperti remaja mencari masalah.
Sering anak usia empat tahun hanya berdiri di waktu luang.
Anak seusia itu tak punya apa-apa selain waktu luang.
Jadi, tiap saat, dia melakukan itu..
Aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Aku bukan bagian komunitas itu.
Tapi ini anak empat tahun kuno. Dia bermain yoyo.
Usiaku empat tahun!
Jika ada yang bertanya, usiaku empat setengah tahun
Aku baru ulang tahun keempat kemarin!
Lalu seekor angsa muncul,
dalam mobil Uber.
Angsa tak peduli soal bisnis kecil atau lingkungan.
Dia lihat jendela dan anak itu lalu bilang, "Sergei!
Sergei, berhenti!
Anak usia empat tahun!
Itu adalah masalah.
Sekarang saatnya masalah muncul. Aku mau keluar."
Angsa itu keluar… Hei, lihat, angsa!
Ya, menyelam di Rhine, dasar gelandangan.
Aku cukup puas dengan semuanya sekarang.
Jika enam bulan lalu kau bilang,
"Kau akan merekam pertunjukanmu,
dan 20 angsa akan terbang tepat waktu," akan kujawab, "Tak mungkin!"
Lalu angsa itu keluar dari Uber,
berjalan dengan percaya diri ke anak itu,
patahkan tangannya dan kembali ke Uber.
Anak empat tahun itu, menangis, tak menduganya.
Lengannya sekarang seperti daging berisi serpihan tulang
dengan yoyo yang menggantung.
Ibunya melihat ini, tak menyadari angsa itu, dan berpikir,
"Itu salahnya. Terlalu keras bermain yoyo,"
No comments yet. Be the first to leave one.