Mistari 200 ya kwanza.
Apa itu, bajuku?
Terlihat pas untukmu.
Ya, Bu. Ini aku.
Ya, itu luar biasa.
- Titip salam padanya. - Sara kirim salam.
Kami bersantai, menyenangkan. Kami santai saja.
Bagaimana denganmu? Tidak terlalu lelah?
Marcus?
Ya atau tidak?
Jangan terlalu memaksa.
Aku tidak memaksa, Bu. Aku hanya ingin tahu apa tujuannya.
Baiklah, kita akan bicara lagi nanti.
Aku akan teleponmu lagi. Salam sayang.
Kau bisa datang berkunjung?
- Ya, tentu. - Salam sayang.
Kau mau makan siang apa?
Aku tidak lapar.
Makananmu tidak sehat. Kau harus jaga diri, Marcus.
- Aku sedang terburu-buru, Nenek. - Terburu-buru?
Aku akan buatkan sayuran, kau harus makan sedikit saja...
...dan kita makan siang bersama. Kau harus makan makanan sehat.
Tidak, Nenek. Aku harus pergi. Maaf.
Terima kasih.
Marcus.
- Tak ada waktu lagi, tapi terima kasih. - Jangan lupa maskermu.
Jangan pulang malam, Marcus!
Hujan.
Jangan naik bus, aku akan mengantarmu.
Terima kasih.
Sampai nanti.
Terima kasih.
Francois.
Francois.
Halo, Hind Darwish. Kau berada di Lebanon, Beirut.
Kau jurnalis, penerbit...
...aktivis.
Ceritakan pada kami krisis yang kau rasakan.
Ini adalah krisis ekonomi serius.
Termasuk juga krisis sosial, politik, budaya, moral.
Korupsi merajalela di setiap tingkatan negara ini.
Hingga ke tingkat bawah.
Khususnya setelah bencana pada 4 Agustus, ledakan besar itu.
Warga Lebanon dalam mimpi buruk, sangat terpuruk.
Banyak warga Lebanon meninggalkan negaranya.
Menurutmu Lebanon sudah kehilangan sumber kehidupannya?
Benar. Kami melihat sendiri, perpindahan besar-besaran.
Kami mengalami emigrasi pasca peperangan.
Tapi para emigran tersebut berusaha kembali ke Lebanon.
Mereka tetap mencintai negaranya.
Tapi kini kami merasa putus asa, muak...
...dengan yang terjadi di Lebanon.
Dan kami sangat takut pada mereka...
...orang kelas menengah, kaum muda yang tidak akan kembali.
Terima kasih atas kesaksianmu, Hind Darwish.
Sekarang, Yasmine.
Halo.
- Berapa? - 55.
Ini.
Aku melihat Francois hari ini.
Baik.
Apa saja yang kau kerjakan?
- Aku pergi berbelanja. - Kau pergi ke Vitry?
Ya, Vitry.
Bertemu Nelly?
Aku tidak sempat mengunjungi ibuku. Aku hanya berbelanja.
Apa kau bertemu Marcus? Ada kabar tentang dia?
Ya.
- Ya? - Aku bilang, ya.
Putramu adalah putraku juga.
Marcus. Dia urusanku juga.
Aku akan beritahumu sesuatu yang belum pernah kukatakan.
Pertama kali aku melihatmu...
...atau yang kedua, terserah saja...
Aku tinggal bersama Francois, sebelum aku mengenalmu.
Kami pergi ke pesta, kami bertiga.
Di tempat temanku.
Kau ingat?
Baik.
Kalian habis menonton pertandingan sebab itu kalian datang bersama.
Kita pergi bertiga.
Di tengah pesta, kau memasang sebuah lagu.
Aku dan Francois menari.
Kau di belakang komputer memerhatikan kami.
Dan kau punya...
...senyuman.
Senyuman itu, sungguh.
Senyuman mematikan.
Itu adalah...
...itu adalah hal pertama.
Lalu kita bertiga pulang naik taksi.
Dulu kau tinggal dekat rumahku, di Rue d'Amsterdam.
Kau masih bersama istrimu.
Kita bertemu di jalan rumahku dan kau berkata...
"Aku jalan kaki saja. Dia menungguku."
Aku berpikir Francois akan tetap bersamaku.
Kau kembali pada istrimu dan dia tinggal bersamaku.
Hei, bisa kau bayangkan itu?
Samar-samar, ya.
Aku ingat Francois berkata dia akan pulang.
Aku bilang bahwa...
Aku ingin dia tinggal bersamaku setelah pesta itu.
Kau terkejut dia pergi. Kau berkata, "Francois!
Kau...
Kau harus tinggal!"
Dia berkata, "Aku tak perlu melakukan apa-apa."
Dan aku...
...saat berjalan pulang, aku berpikir...
"Kenapa aku bersama orang yang harus pergi?
Kenapa aku tidak bersama orang yang...
...tidur bersama istrinya di Rue d'Amsterdam?"
Aku merasa iri pada istrimu.
Kau masih iri padanya?
Karena kau istriku di Rue d'Amsterdam.
Ya, Bu.
Aku tidak bisa pagi ini. Ada yang harus kukerjakan.
Aku akan meneleponmu lagi.
Sampai jumpa.
- Apa yang harus kau kerjakan? - Suatu hal.
Aku berangkat.
Sara?
- Boleh aku pakai kartu kreditmu? - Apa?
Kau tidak mau kiriman uang saja?
Jangan pengiriman kawat.
Kau selalu berbelanja, itu lebih mudah.
Lupakan saja, aku akan atur.
- Jangan marah, ini. - Tidak usah.
- Ambillah! - Aku bilang, tidak usah.
Sampai nanti.
Halo?
Francois!
Kau sudah kembali.
Bisa kau teleponku lagi?
Baik, sampai nanti.
KTP?
- Selamat pagi. - Pagi, Pak.
Ini.
Baiklah.
Jadi...
Akta kelahiran, bagus.
Ini...
...catatan kepolisianmu?
Benar.
Baiklah.
Ini bukti pajaknya.
Ini.
Berkas hilang. Berapa nomor daftar perusahaan?
- Pasti ada di sana. - Tidak, aku tidak melihatnya.
Kalau begitu aku lupa. Maaf.
Apa aku harus berikan hari ini?
Benar, Pak.
- Kau harus kembali lagi. - Tidak masalah. Aku akan kembali lagi.
Bawa berkas-berkasmu.
Terima kasih.
- Dan buatkan janji baru. - Terima kasih.
Sampai jumpa, Pak. Semoga harimu menyenangkan.
Selamat pagi.
Halo.
Ya, Bu.
Apa maksudmu, apa yang kukerjakan? Aku sedang bekerja.
Halo?
Kau dengar aku?
Beri tahu Marcus, aku akan datang hari Jumat.
Agar kami bisa bicara.
Aku tak ada waktu menelepon gurunya. Aku akan lakukan.
Baiklah.
Sampai jumpa, Bu.
Tadi itu Francois.
Dia membuka agensi, dia ingin aku bergabung.
Itu bagus.
Bukan begitu?
Bagaimana menurutmu?
Entahlah.
Tidak ada ide.
Tidak tahu.
Kau bahagia?
Bahwa Francois ingin kau bergabung dengannya?
Aku bilang, tidak tahu.
Belum tahu.
Kenapa?
Apa mungkin akan jadi masalah?
Tidak, kenapa? Aku tak pernah ada masalah dengan Francois.
Kami selalu berhubungan satu sama lain.
Lalu kenapa kau ragu?
Kau takut akan sesuatu?
Tidak, aku tidak takut apa pun.
Lalu apa yang mengganggumu?
Tidak ada.
Kau?
Apa yang mengganggumu?
- Aku? - Ya, kau.
Malah sebaliknya.
Tidak, hanya saja...
...ini membuatku senang.
Senang mengetahui kau sering bertemu dan bekerja sama.
Bahagia untukmu, dia, untuk kalian berdua.
Kau tahu aku sayang pada Francois.
Mungkin terasa aneh melihatnya lagi, karena...
...jika kau mencintai seseorang, rasanya takkan pernah hilang.
Aku merasakan sesuatu yang spesial padanya.
Tapi hubunganku dan dia sudah berakhir.
No comments yet. Be the first to leave one.