Love is Blind

Love is Blind (Love Is Blind)

Pakua Manukuu ya Indonesian

Msimu wa 10

Maelezo ya toleo

Love Is Blind S10E11 id
Maoni na dappeloe
RAWR

Lebo

webdl
Yamechapishwa tarehe: 2026-02-25
Upakuaji: 11
Wenye Ulemavu wa Kusikia: No

Hakikisho la manukuu ya Indonesian

Mistari 200 ya kwanza.

Tangkap!

- Bek terbaik di menit ini. - Jangan lakukan trik. Aku tak tahu.

Itu bukan trik, itu normal.

Biar kucoba cetak gol.

Lihat dirimu!

"Bola menuju wajahku, tidak!"

Aku sangat takut! Kubiarkan kau cetak gol.

Itu gol bagiku.

Izin nikah kita!

Mudah sekali.

Lima, enam, tujuh, delapan.

Lalu berputar.

Sekarang, tahan dia.

Bagus! Naik, keluar.

Itu indah!

Lalu bersama.

- Ya. - Aku suka.

EMPAT HARI MENUJU PERNIKAHAN

- Kau membelikanku bunga? - Iya.

BRI, 33 TAHUN PENGEMBANGAN PRODUK

Connor.

- Terima kasih. - Tentu.

Hari ini, kami, seperti yang terdengar…

CONNOR, 32 TAHUN MANAJER AKUN

Mereka suka pamer. Aku suka itu.

Aku atur makan malam yang menyenangkan, kencan terakhir sebelum pernikahan.

Sulit dipercaya.

Bertemu keluargamu adalah salah satu malam terbaik di hidupku.

Bagaimana Tina dan Brandon membuka rumah mereka.

Dia tunjukkan koleksi bourbonnya,

dan Tina bilang, "Naiklah, ada handuk baru, ada ini dan itu."

Bagaimana mereka hadir untuk kita saat itu

adalah hal yang kuharap bisa kita lakukan ke orang lain juga sebagai rumah tangga.

Aku mau orang merasa nyaman di rumahku.

Sangat penting bagiku untuk membuat rumah yang seperti itu.

Ya, sama.

- Soal G-Man, kucoba sebut dia… - Pak McNees.

Kucoba bilang "Pak McNees".

Aku tahu dia akan berpikir,

"Astaga, aku harus bersikap tegas sebagai ayahnya Bri,"

dan, "Bayiku akan menikah, aku harus kritis."

Kau tersenyum terus. Kau mentertawakanku atau bahagia?

- Tidak, hanya… - Ini sangat aneh bagiku.

Aku begitu jujur.

Aku merasa, anehnya, aku dan dia

lebih mirip daripada yang mungkin kami berdua akui.

Tingkah laku kecilnya pun begitu.

Seperti sedikit menoleh, memastikan kau aman.

Dan selalu menahan pintu, membayar apa pun.

Entahlah, aku merasa dia bisa melihatku sebagai pria normal.

Rasanya nyaman. Kami terus membicarakan banyak hal.

Katanya, "Bri akan lakukan itu. Ya."

"Kau sudah tahu."

Sepertinya dia berkata, "Aku percaya kalian."

Bahkan saat kita pergi, katanya, "Kalian perlu kirim tuksedo."

Aku tahu apa yang kuinginkan.

Dan jelas, aku mau itu kita.

Kau sangat percaya diri. Kau lakukan yang kau mau, kapan pun itu.

Dan fakta bahwa kau memilihku setiap hari

membuatku makin percaya diri tentang diriku.

- Karena aku tahu apa yang aku mau? - Urusanmu sangat banyak.

Jadi, seperti, "Aku mau pria ini."

Kau jadi merasa, "Ya, dia menginginkanku."

- Ya, benar. - Itu menarik.

Ini bukan versi terbaik diriku.

Aku bukan diriku yang biasanya.

Sungguh gila kau jatuh cinta dengan bagian diriku ini,

karena ini bukan sisi terbaikku.

Akan ada hari-hari kau memerlukan penyegaran yang…

percayalah, aku tak akan…

merasa tersinggung.

Kau bekerja dengan sangat keras, dan aku bisa melihat,

dan rasakan tekanan yang kau alami.

Namun, meski kau pulang dalam keadaan lelah,

kau tetap memelukku, beri aku ciuman dan senyuman kecil.

Bahkan di hari-hari terburukku, kau tahu cara bicara padaku.

Saat-saat aku membutuhkanmu, kau hadir.

Itu sangat berarti bagiku.

Aku makin jatuh cinta padamu setiap harinya.

Hentikan! Baiklah.

Setiap malam, saat kita akan tidur, aku berpikir, "Ini luar biasa."

Setiap kali aku bangun, meski kau bilang, "Bangunkan aku lebih awal,"

lima menit di pagi hari saat akhirnya aku boleh memelukmu

karena kau mau jauh dariku sepanjang malam…

- Baiklah. - Tidak sepanjang malam.

Momen-momen kecil itu membuat rasanya seperti akan selamanya.

Kau akan jadi ibu yang baik.

Karena kita pemimpi, cuma itu yang kupikirkan.

Aku seperti, "Ya." Gelandang kidal kecil kita bermain bagus,

dan kau di pinggir lapangan, menyemangatinya.

Daftarnya tak berujung.

Jika perjalanan ini enam jam,

bisa kujelaskan lengkap kenapa kau akan jadi istri yang baik.

Baiklah, hentikan.

Izinkan aku bicara tentang alasan aku mencintai Connor.

- Baiklah. - Temanku bicara soal kencan.

Kudengar mereka bicara soal pernikahan dan semua hal ini.

Kata mereka, "Jika tepat, kau akan tahu." Aku begitu saat bicara padamu.

Aku merasa gugup, jantung berdebar, semuanya.

Rasanya seperti tidak sehat secara fisik.

Kupikir, "Astaga, ini perasaan yang mereka bicarakan."

- "Aku sinting. Ini gila." - Aku tahu.

Ya, kupikir, "Selesai. Aku akan menikah."

"Serahkan semuanya pada Connor."

Aku jatuh cinta padamu. Jika bukan kau, tak ada yang lain.

Dan yang gilanya, kini, aku tahu rasanya dicintai.

Kau sangat mencintaiku.

Aku tahu kau begitu.

Kau mencintaiku.

Kau membawakanku bunga setiap hari.

Kau lari ke garasi untuk menyambutku saat aku pulang kerja.

Kadang, kau jadi pelampiasanku.

Kau seperti, "Kau manis saat lakukan itu."

Kubilang, "Aku sedang menyebalkan."

Kau mencintaiku.

Aku orang gila.

Aku sinting.

Kau seperti, "Kau orang gila." Kubilang, "Memang." Dan kau mencintaiku.

- Kau orang gilaku. - Aku tak perlu pura-pura jadi orang lain.

- Tak akan. - Aku bisa jadi diriku.

Kau yang mencintaiku telah menyadarkanku, "Aku pantas menerima ini."

Aku harus punya orang yang mencintai setiap bagian dari diriku.

Menemukan orang seperti itu terasa gila.

Kau benar-benar mengajariku apa itu cinta.

Untuk kencan terakhir kita di eksperimen ini.

- Ini gila. - Menemukan orang favoritku.

"Pusat Acara Afrika". Aku harus main dengan monyet.

"Aku harus main dengan monyet."

Kukembalikan kau ke pengirimnya.

- Membawaku pulang. - Membawamu pulang.

- Hai! - Hai!

- Apa kabar? - Astaga.

- Baik. - Halo.

- Astaga, seru! - Luar biasa.

Apa pun yang tak boleh basah, lepaskan.

Baiklah.

Di Kebun Binatang Columbus ini ada 17 jerapah.

Ada cukup banyak. Ini Bobby.

Hai, Tampan.

Dia adalah pejantan utama kawanan ini.

Baiklah, Bobby.

- Dia punya empat wanita cantik. - Lihat dirimu.

Dia datang. Salah satunya adalah Zuri.

Bisa dilihat, mereka seperti tak diberi makan.

- Kau… - Tarik sepotong.

Kau… Kau itu…

Emma, kau harus kendalikan priamu.

Kau harus kendalikan priamu.

Bagus, Kawan.

Kau sahabatku.

- Tolong seikat selada lagi. - Dia seperti, "Berikan padaku."

Dia berikan semuanya.

Habis.

- Hei, ini sangat bagus. - Ini nyaman.

Tadi itu menyenangkan.

- Aku tak pernah lakukan hal seperti itu. - Astaga.

Itu temanku.

- Mungkin. - Keren!

Ini nyaman. Ini kencan terakhir yang hebat sebelum pernikahan kita.

- Benar. - Aku bau jerapah.

- Benarkah? - Sedikit.

- Baunya seperti apa? - Kau mau… Mendekatlah!

Beri makan jerapah itu seru.

Untuk hari peringatan tiap tahun, kita pilih hal di daftar keinginan,

dan lakukan sesuatu yang sangat menyenangkan dan sinting.

Entah apakah hal menyenangkan itu berkeliling kebun binatang bersama,

dan makan Culver's dan suguhan manis…

Aku ingin bisa berbagi pengalaman sebelum memulai sebuah keluarga.

Lalu saat keluarga itu terwujud,

kita bisa melakukan pengalaman seru,

seperti Disney World dan lainnya.

Namun, aku ingin kita melakukan sesuatu saat kita masih muda.

- Benar. - Lalu setelahnya juga.

- Aku sangat setuju. - Ya.

Apa itu…

- Kau bilang, "Dengan keluarga." - Ya.

- Sudah lebih kau pikirkan? - Aku sudah memikirkannya, dan…

Aku…

Aku sepenuhnya yakin kau pasangan yang tepat.

Aku tidak…

Kurasa… aku hanya… aku membayangkan…

- Sebentar. - Kau tertawa. Maaf.

Tidak, aku…

Perasaan yang kurasakan denganmu,

aman, stabil, dan percaya diri, itu sangatlah langka.

Aku…

terus berpikiran terbuka.

- Ya, itu saja. Kau membahasnya. - Tidak.

Makanya kupikir, "Mungkin kau memikirkannya."

Aku memikirkannya. Mau kutunjukkan.

- Ya, kuhargai itu. - Karena itu benar. Dan kubayangkan itu.

Aku bayangkan keluarga bersamamu. Dan kubayangkan…

Maaf, kupikir, "Apa itu?" Jerapahnya bicara.

Lanjutkan.

Kubayangkan…

Seperti di Cabo, aku tak bisa berhenti tertawa.

Kubayangkan itu denganmu, tapi aku…

Kurasa itu juga akan juga terus tumbuh seiring waktu.

Tentu.

- Tentu. Aku mengerti. - Ya.

More Indonesian subtitles for Love is Blind

Maoni

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left