முதல் 200 வரிகள்.
Yang benar saja, Alfred!
Apa aku harus selalu sempurna?
Astaga, Alfred. Kau yang salah.
Kenapa seolah-olah aku yang jadi masalah?
Kau masalahnya? Benar, kan?
- Kau menyalahkanku. - Kau memanipulasiku.
Kaulah yang lupa, Alfred.
Aku memanipulasimu? Apa maksudmu?
Karena… Kau menyebalkan sekali!
Kau selalu begitu, Alfred.
Kau yang salah, tapi malah marah-marah.
- Halo? - Aku? Marah-marah?
Dengarkan dirimu sendiri.
Ini salah siapa?
- Kau terpancing. - Aku? Yang benar saja.
Tidak. Aku frustrasi…
Selamat datang di rumah sederhana kami.
Maaf, kondisinya sudah usang.
- Kau tak pernah mendengarkan. - Masa bodoh!
Mana kutahu kalau peringatan kematian bisa digeser?
Halo?
Liga Captain saja ganti jadwal tiap tahun.
Ayolah.
Itu hari yang sama dengan festival.
Bagaimana kau bisa lupa, Alfred?
Bagaimanapun kondisinya,
di sinilah aku membesarkan dan merawat keluargaku.
Itu Jacob. Anak yang baik.
Anak bungsuku, Raquel.
Dia sangat pintar.
Sangat cocok untuk menjadi pengacara.
Sayang sekali dia tak bisa ikut ujian pengacara.
Ya.
Ada masalah. Pulsaku habis.
Aku harus mengurus itu juga?
Di mana ponselku?
- Tunggu sebentar. - Cicipi ini.
Rasanya hambar. Perlu garam.
- Sayang. - Apa?
Apa kata sandi Paycash?
Entah. Kau tak tahu apa-apa.
Ayolah! Bagaimana aku bisa pesan?
Pikirkan sendiri.
Bagaimana kalau tak usah? Biar aku saja.
Sekarang, kau menyindirku.
Memangnya kenapa?
Apa kata sandinya?
- Kau juga lupa? - Masa bodoh.
Alfred adalah pasangan Raquel.
Mereka seperti anjing dan kucing,
tapi aku tahu dia sangat mencintai anak bungsuku.
Rasanya hambar. Perlu garam.
Siapa yang bertanya kepadamu?
Astaga.
Kenapa dia kesal sekali?
Dia selalu kesal.
Sekarang, aku yang jahat.
Kau punya pulsa?
Apa lechon itu diperlukan hari ini?
Siapa yang makan kalau besok? Reuninya hari ini.
Reuni? Ini bukan peringatan kematian?
Sama saja.
Anna adalah ART kami.
Rose yang merekomendasikannya.
Dia lumayan, tapi tak terlalu cerdas.
Anna, awasi kompornya. Ada yang gosong.
Astaga!
Omong-omong,
Anna.
Rose bilang dia jadi vegan.
Apa? Dia calon anggota dewan, kan?
Apa bisa kalau dia dari Vigan?
"Vegan"! Dia cuma makan sayuran.
Dia bilang, "Beri tahu Anna, aku tak makan olahan susu."
Beri tahu dia ulahnya yang menjijikkan.
- Sayang, mau ke mana? - Aku mau ganti baju.
- Aku ikut. - Apa?
Hai, Bu.
Aku merindukan Ibu.
Maafkan aku.
Tempat ini selalu kacau.
Sudah satu tahun berlalu?
Rasanya Ibu baru pergi kemarin.
Di mana pun Ibu berada, kuharap itu tempat yang baik.
Jangan cemaskan kami lagi.
Kami baik-baik saja.
Sayang!
- Namun, kuharap… - Sayang!
Apa lagi, Alfred?
- Lechon kita datang! - Sudah sampai!
Bagus, Kakak-Kakak.
- Ayo. - Baiklah.
- Bagus. - Ini dia.
- Biar kubantu. - Tidak usah.
Kami taruh di mana?
Ramil dan Roel selalu bertengkar.
Namun, kalau soal makanan,
mereka sangat kompak.
- Di mana? - Di sini.
- Lihatlah, Dik. - Hidup jadi mudah
kalau kau punya saudara yang kaya.
Penuh dengan lechon.
Tunggu.
Kenapa mereka tak kuminta menggantikanku selama aku tak masuk?
Tujuh ratus peso itu lumayan.
Mana mungkin mereka mau?
Itu tak bisa dibanggakan.
Aku tak sabar. Ini menggiurkan.
Aku mengincar lemaknya.
- Singkirkan tanganmu. - Rose sangat murah hati.
- Aku suka ini. - Astaga, seandainya kau tahu.
Lagi-lagi, dia pelit.
Lihat?
Dia membeli babi yang paling kurus.
- Ini kau sebut kurus? - Ya.
Tentu saja.
Setidaknya, dia memesan lebih awal.
Tak seperti orang bodoh yang kukenal.
Itu yang kuwarisi dari kakakku. Aku pintar.
Siapa bilang?
Apa kau tahu?
Raquel itu dulu dipungut dari kotoran babi.
Kapan yang lain datang?
Mereka sudah di jalan. Hampir sampai.
Kakak!
Kenapa kau ambil pakai tangan? Tanganmu kotor.
Tapi ini enak.
Dia juga bau ketiak. Baunya menusuk hidung.
Anna, Tuhan tak suka mulut yang kasar.
Tuhan juga tak suka orang yang bau.
Mandilah.
Kau benar-benar Miraquel.
"Miraquel"?
Apa itu nama lengkapmu?
Karena dia bayi ajaib.
Lebih tepatnya, bayi menopause. Biar kucium.
Kalian semua menjijikkan.
Kau kekanak-kanakan sekali.
Kadang-kadang.
Aku yakin pernah meninggalkan perhiasan di sini.
Mungkin masih ada.
Bu, di mana Ibu menaruhnya?
Tak ada.
Bu, bagaimana kalau TV ini?
Terlalu kentara.
Halo, Bu.
Aku mau berbaring sebentar.
Apa itu?
Apa ini?
Kondom, Bu?
Kondom?
Tanpa rasa pula. Astaga.
Aku tetap pada pendirianku.
Aku tak melakukan kesalahan. Tidak sama sekali.
Tupe!
Jika ada yang tak mengerti, mungkin mereka kurang informasi.
Jangan lupa.
Mereka memberi izin pada klinik
dan dokter untuk melakukan prosedur.
Akui saja. Selalu ada risiko.
Tubuh kita memperlihatkan reaksi yang berbeda-beda terhadap benda asing.
Sementara itu,
dokter yang baik, sepertiku…
Baiklah.
- Nino, pindahkan mobilnya. - Baik.
- Aku tak akan lama. - Baik.
Tupe adalah anak sulungku.
Penampilannya persis seperti ayahnya.
Apalagi sebelum menjalani operasi plastik.
Ya ampun.
Berikan ponselku.
Halo, Papi. Sudah berapa kali kukatakan?
Klien yang mengajak tukar jasa itu akan membuatmu kena masalah.
Cukup!
Dokter Tupe!
Dokter Tupe, maukah kau berfoto denganku?
- Aku penggemar beratmu. - Tentu saja. Kemarilah.
Ayo berpose konyol, Dokter Tupe.
Satu, dua, tiga.
Dokter Tupe, wajah konyol.
Ini wajah konyolku.
Kalau begitu, pose oppa saja.
Bagus sekali. Kau sangat tampan.
Terima kasih!
- Sama-sama. - Terima kasih, Dokter Tupe.
Halo, Sayang.
Aku belum memberi…
Elphie multivitaminnya tadi.
Bisa berikan kepadanya saat makan malam?
Selain itu, tolong kirimi aku foto.
Baiklah.
Terima kasih.
Selamat pagi, Dokter!
Dokter Tupe,
bisakah kita berfoto lagi?
- Ayo. - Mari berfoto bersama.
Ayo berfoto di sebelah bunga. Maksudku, daun.
- Agar estetik. - Di sini saja?
Baiklah.
Semuanya, katakan,
No comments yet. Be the first to leave one.