முதல் 200 வரிகள்.
Andai sebelum terjatuh, Ben mencoba mencengkeram sesuatu?
Kau memakai hadiah malam pembukaan Ben.
Ternyata aku butuh sekarang.
Aku petugas keamanan Ben.
Ben ingin menyapa.
Baiklah, kita harus pergi.
Tolong!
- Apa? - Dari mana kau dapat saputangan itu?
Aku tak melakukan apa pun.
Kurasa polisi salah tangkap.
Ini manajerku, Dickie.
Dia bukan hanya manajerku, dia juga saudaraku.
- Ini juru kamera dokumenterku, Tobert. - Aku hanya pengamat.
Ini terakhir kali kalian akan mendengar suaraku.
Pertunjukan memang berakhir,
tapi tak berarti kita lepas dari peraturan pertunjukanmu?
Mereka membongkar setku.
Yang ini tidak menggugah.
Aku mendengarkan kata hati dan mengubah gambaran Death Rattle
dengan cara khas Oliver Putnam.
Ini drama musikal.
Kami pikir Ben dibunuh seseorang dalam pertunjukanmu.
Artinya…
Kita kembali.
Dari mana datangnya ide bagus?
Dari pengalamanku, semua dimulai dengan satu percikan.
Begitulah kami menjadi
Para makhluk malam
Sesuatu yang kecil, tapi cerah.
Mungkin sesuatu yang hanya terlihat oleh satu orang.
Tenanglah, Anakku
Kunyanyikan buaian tidurmu
Sinar bulan telah menyinar
Terbanglah ke dunia mimpi
Mungkin itu lagu bagus. Kalian dengar?
Kawan-kawan, bangun.
Donna dan Cliff datang sejam lagi. Astaga.
Howard, apa hasilnya untuk produser?
Ada satu lagu sudah selesai…
11 fragmen dan 25 ide mentah diteriakkan di tengah akord piano.
Mungkin satu malam tak cukup untuk menulis sebuah drama.
Kau bercanda? Suatu malam tahun 1978, aku menulis dua drama musikal
di kamar mandi George Plimpton.
Atau satu drama musikal dalam dua malam? Ingatanku kabur.
Ada momen Norman Mailer meninju mulutku,
dan aku terbangun di ranjang air Betty Friedan.
Aku suka kisah itu.
Oliver, ada ide mendadak.
Sepupuku, Moses Morris, dia sukses di Asuransi State Farm.
Howard, sadarkah kau saat aku menceritakan kisah,
pasti ada nama terkenal dan intinya?
Bukan begitu, Moses Morris mengurus sponsor untuk State Farm.
Jadi, jika kutelepon mungkin mereka mau jadi sponsor drama musikalnya,
jadi kita tak butuh Donna dan Cliff.
Kita tak butuh…
- Moses Morris? - Ya.
Semua yang kita butuhkan ada di sini.
Lihat para pemeran ini. Mereka semua pembunuh.
Saat memandang pemerannya, dihadapkan pada kebenaran yang meresahkan.
Salah satunya mungkin pembunuh.
Ada komentar?
Oliver selalu memberi komentar tentang narasiku.
Menurutku cukup bagus.
Oliver pasti lebih sinis.
Kau mau aku… Baiklah.
Bagus, Charles. Kali ini coba dengan sedikit berbeda total dari yang tadi.
Bagus. Astaga, aku rindu kepadanya.
Episode Tiga - Musim Tiga Ambil Saputanganmu
Donna dan Cliff, terima kasih telah datang.
Aku persembahkan sudut pandangku untuk drama kita,
yang kini disebut…
Death Rattle Dazzle:
Drama Musikal Death Rattle .
Ya. Bagus.
Cliff, duduk.
Silangkan kaki.
Cium Ibu.
Bagus sekali.
Kini, sebenarnya
kami tak punya waktu memberi presentasi bagus
selain papan busa ini.
Namun, kami punya sampanye.
Sayangnya kami kehabisan sampanye.
Bisa melihat drama yang sukses?
Aku hanya lihat banyak nol di rekeningku.
Ya. Berapa angka di depan nol itu?
Satu angka nol lagi.
Aku tanamkan banyak uang dalam drama ini dan drama musikal lebih mahal.
Tidak. Dengar, ini tentang kembar tiga.
- Kau bisa bayangkan, Cliff? - Ya. Aku suka drama musikal.
Sayang, kita sudah bahas seleramu.
Ya, itu buruk.
- Kau butuh lagu yang memukau. - Benar.
Begitulah cara musikal menghasilkan uang.
Sebuah lagu yang begitu memesona
ibarat jarum suntik yang ditembakkan dari Broadway
langsung ke leher Debbie dari Duluth,
yang langsung kecanduan saat pertama mendengarnya
saat menikmati malam bersama teman-teman wanita di The Calorie Pit.
Dan pecandu rela lakukan apa saja demi memuaskan ketagihannya.
Bahkan duduk di kursi tengah pesawat terakhir ke New York City,
di mana dengan imbalan murah semua uangnya…
Debbie mendapat peluang duduk
di kursi terbaik balkon samping
untuk akhirnya bisa melihat pertunjukan
dengan lagu yang tak henti dinyanyikannya di penjuru Duluth.
Jadi, kau punya lagu sebagus itu?
Kau punya lagu yang memukau?
Sayang, kau maniak, aku cinta kepadamu.
Drama ini akan penuh lagu memukau.
Kau bicara dengan Oliver Putnam.
- Beri aku beberapa bulan. - Waktumu tiga hari.
Sempurna. Memang itu harapanku.
Lalu aku pergi ke The Hamptons.
Kecuali aku tidak mabuk setelah menghabiskan sebotol Chardonnay,
jangan hubungi aku.
Sudah beberapa bulan kau bersama grup ini.
Ada pendapat awalmu?
Pendapat awal.
Pendapat awalku mungkin seharusnya aku mengenal mereka lebih baik.
Aku khawatir tak ada hasilnya, tapi itu tak masalah.
Ingatlah mereka banyak yang tumbuh mengidolakanku.
Jadi, mereka jaga jarak karena menghormati.
Tentu, jika itu masuk akal bagimu.
Baiklah. Kita mulai dengan peluang.
Semua ada di Arconia saat Ben didorong.
Dan semua ada di teater saat dia jatuh.
Mungkin kebetulan.
Tidak. Bertemu orang bertanggal lahir sama itulah kebetulan.
Polisi bilang darahnya bersih, tapi mungkin karena salah satu racun
yang hilang dalam lima menit.
Seperti suksinilkolin klorida.
Apa?
Baik. Jadi, seseorang mencoba meracuninya, lalu gagal,
dan membunuhnya di Arconia.
Namun, siapa yang sebenci itu kepada Ben hingga membunuhnya dua kali?
Jonathan, pemain pengganti.
Apa dia mencari momennya di panggung?
Donna dan Cliff. Mereka ingin singkirkan pemain utama yang terlalu menuntut?
Kimber, bintang muda kecanduan TikTok.
Apa dia pelakunya demi sebuah meme internet?
Kenapa kau mengatakannya begitu?
Tidak, tak penting.
Di malam Ben tewas, dia minta maaf kepada Kimber karena mengacaukan situasi.
- Menurutmu mereka bercinta? - Entah.
Wanita pembunuh lagi? Membosankan.
Di malam Ben tewas, dia memegang saputangan orang lain.
Kita harus mencari tahu pemeran siapa yang tak punya saputangannya.
Mungkin itu pembunuh kita.
Pesan dari Oliver. Gladi resik di tempatnya. Sekarang?
- Aku harus pergi. - Aku segera menyusul.
Tunggu, kini Oliver kirim SMS kepadaku.
Kini aku dilarang ke apartemennya.
Aku dilarang?
Tak ada penyelidikan selama gladi resik.
Terserah. Aku akan memeriksa griya tawang Ben.
Lester bilang Dickie akan segera mengosongkannya.
Kau cari pemeran yang tak punya saputangan.
Cari pemeran yang tak punya saputangan. Aku bisa lakukan itu. Mudah.
Tugas kecil.
Sangat kecil.
Karena itu…
Aku bisa bilang, "Saputangan untuk terima kasih."
Namun, tak akan.
Aku akan cari sesuatu lebih menarik.
Ini kertasnya? Kenapa tak berurutan?
Kau mengirimkannya tanpa nomor,
dan kebanyakan dari menu makanan pesan antar lama.
Baik. Jadi, yang ditulis di halaman makanan pembuka
urutannya sebelum yang ditulis di makanan utama.
Juga, di mana Loretta?
Aku kirim dua pesan. Tak dibalas.
Terus coba. Aku mohon, Howard.
- Rasanya aneh. - Kenapa?
Karena drama ini penuh tanda bahaya,
dan kita ada di apartemen sutradara alih-alih studio gladi resik?
- Hei. - Hei.
Ingat saputangan pemberian Ben?
Bagaimana jika cari milik masing-masing dan saling tunjukkan?
Atau aku. Tunjukkan kepadaku.
Maaf. Kami semua sedikit terganggu
karena pemeran utama tewas.
Ya. Itu masuk akal karena kehilangan siapa pun itu berat.
Tidak semuanya. Tidak untuk Hitler atau Stalin.
Meski begitu, aku tak akan meremehkan rasa duka Nyonya Stalin.
Dan aku tahu dia punya nama.
Nadezhda Alliluyeva.
Pokoknya, intinya Ben sudah meninggal.
Kurasa membuat peringatan akan menyembuhkan kita.
Itulah tujuanku membicarakan saputangan itu.
Karena itu pasti asyik…
bukan asyik, tapi baik…
membawa pemberian Ben, saputangan itu,
dan gunakan untuk membuat selimut perca.
Atau barang ala selimut perca.
Apa katamu tadi soal Hitler?
Terima kasih, Howard.
Aku bilang terima kasih, Howard.
Aku merasakan banyak kesedihan di ruangan ini.
Kami kehilangan seseorang yang penting.
No comments yet. Be the first to leave one.