முதல் 200 வரிகள்.
Mr. Radford, selamat pagi.
Yah, aku tahu ini bukan studio film yang megah, tapi cukuplah.
Mr. Radford... film ini telah jadi bagian dari hidupmu hampir selama 40 tahun.
Tidak akan mudah untuk melepaskannya.
Aku berada di sini untuk membantumu langkah demi langkah.
Patrick, putar filmnya.
- Segera, Dr. Cashin. - Bill,
Aku mengerti kau mengijinkan Radford menonton filmnya.
Uh, ya, benar.
Kau yakin itu bijak?
Obsesinya akan berkembang selama masa penahannya di sini.
Menunjukkan film itu mungkin menjadi terobosan yang dia perlukan.
Bajingan gila.
- Hei, bisa bantu aku? - Tentu.
Film Radford seperti infeksi.
Itu menodai seluruh keberadaannya...
Jangan tersinggung, Dave,
tapi kau juga sama ter-obsesinya dengan film itu seperti halnya dia.
Yah, mungkin kau bisa menundanya jadi aku bisa turut mengamati.
Dengar, dia sudah ada di ruangan itu.
Aku tidak mau dia di kirim balik.
Itu hanya akan membuatnya gusar.
Yah, aku kembali secepat mungkin dan...
kau mungkin kau akan ijinkan aku mengamati sesi lanjutannya.
Jika kau menganggap itu perlu, Dokter.
Wayne, mobilmu ada di sini.
Semoga berhasil.
Trims.
Halo?
Halo?
Halo?
Ya Tuhan!
Rachael,
Rachael, kau lihat Kenny?
Ada apa?
Pipa CO2-nya kusut lagi.
Ok, trims, tapi kau perlu kembali ke sana.
Hampir tengah malam, kau seharusnya memeriksa karcis.
Tentu, tapi kayaknya gak bakalan rame.
Kenapa kita nggak putar film yang bagus suatu saat nanti?
Kujamin kita bisa mengundang lebih banyak orang...
jika kita punya sesuatu yang belum pernah mereka dengar.
Yah, aku setuju banget sama kamu, tapi kau tahu gimana Mr. Lambert itu orangnya.
Yah, murahan.
Jangan khawatir, say. Harley tidak mengigit.
Tidak sering kok.
Yah, bagaimana setelah film usai kau kuajak putar-putar di sekitar sini?
Tak usah, terima kasih.
Tusuk gigi ini membuatmu terangsang?
Testosteron, sayang!
Itu sudah hukum alam semesta.
Cukup enak.
Aku beli yang besar.
Maaf Timmy, aku tidak bisa memasukkan kamu.
Kenapa tidak?
Itu sudah kebijakan bioskop.
Di bawah 18 tahun tidak diijinkan tanpa orang tua atau wali setelah jam 11 malam.
Kau belum 18 tahun!
Tapi aku yang berkuasa.
Tidak, kau tidak berkuasa.
Rachel! Bisa cari Bridget?
Timmy?
Kamu kok nggak di rumah?
Mrs. Kincade harus pergi. Sebaiknya aku ngapain?
Hampir tengah malam. Kau harusnya udah tidur.
Aku belum capek, jadi kupikir aku bisa ikut nonton filmnya dan pulang bareng kamu.
Tidak, tidak kali ini. Kau akan mimpi buruk.
Tidak akan.
Tidak kah kau ingat apa yang terjadi ketika aku ijinkan kamu nonton film "Silence of the Lambs"?
- Aku ingat. - Hei, ayolah.
Mungkin lain waktu, teman kecil.
Kau gak marah kan?
Tentu, kak.
Kenny, aku akan jaga di sini, bisa kau antar dia pulang?
Hanya 4 blok, Bridget, lagian apa yang harus dia lakukan dengan sepedaku?
Ok, baik, tapi kau harus langsung pulang.
- Yah... - Dan sms aku setelah...
sampai rumah jadi aku tahu kau baik saja.
Baik.
Hei, pria cilik.
Aku tidak cilik.
Ayolah, bukan begitu maksudku.
Oke, kelihatannya kita butuh susu lagi, teman.
Hei, semua.
Hai, apa yang kalian lakukan di sini?
Yah, kupikir jika kau gak bisa mampir, aku yang mampir ke tempatmu saja.
Kukira kau ada kencan dengan Mario malam ini?
Yah, benar. Tapi Samantha berangkat kerja lebih awal jadi...
aku bujuk mereka untuk nongkrong dengan kita di sini.
Dengan kita?
Josh, aku sedang kerja, aku nggak bisa duduk dan nonton film bareng kamu.
Tentu kau bisa.
Tidak kah kau seharusnya memeriksa karcis?
Biar aku yang lakukan itu malam ini.
Itu baik untuk mengembangkan diriku.
Sempurna.
Uh, aku tidak tahu.
Kau kan masih ada di dalam bioskop jika ada masalah.
Tepat sekali. Biar anak ini mencobanya.
- Aku tak seharusnya... - Ayolah.
Jadi pastikan semuanya...
- berjalan lancar. - Ya!
Aku gak akan kecewakan kamu.
Jadi ini akan keren.
Jadi kasih tahu aku, kau rencanakan kencan malam ini untuk kurangi bebanmu?
Beban apa?
Aku lihat amplopnya di mejamu.
Kau diterima, kan?
Aku nggak tahu.
Nggak tahu?
Nggak tahu. Belum aku buka amplopnya.
Ayolah Josh, kau tahu kau diterima.
Maksudmu aku harus berangkat?
Josh, tentu saja kau mesti berangkat.
Bukan itu, aku gak ngerti kenapa kau mesti ke perguruan tinggi di New York.
Tidaklah, kau ikut?
Aku nggak bisa ikut, aku kan ada Timmy.
Ada sekolah di New York.
Dia mulai bisa adaptasi,
aku gak mau hidupnya terombang-ambing lagi.
Kau tahu setahun lalu aku akan raih peluangku untuk keluar dari kota ini.
Dengar, Josh, aku nggak mau jadi penghalangmu.
Tidak, Bridget, bukan begitu, bukan begitu maksudku.
Aku ingin kau ada dalam hidupku.
Baiklah, dan jika itu berarti aku harus tetap di sini...
...aku akan tetap di sini.
Apa aku memang beruntung?
Aku datang untuk menghisap darahmu.
Molor seperti biasanya.
Maaf. Sam harus selesai ngisap darahku dulu.
Ngerti yang kumaksud?
- Hei! - Apa?
Aku dengar itu!
Astaga, ayolah, sayang!
Kau tahu aku akan jilat sol sepatumu.
Kumohon!
Tempat ini jelek!
Mario!
Maaf.
Gak apa. Bukan aku yang punya tempat ini, aku cuman bekerja di sini.
Lagian, kenapa pusing tempat kalau cuman buat nonton film horror?
Yah, tapi gak ada kursi seperti yang di stadion.
Dan suaranya buruk.
Udah cukup bagus untuk film kuno.
Apa ini lelucon? Hitam putih?
Bagaimana bisa seram?
Detektif Barrons.
Kau tidak ada di mejamu. Kau ada di bioskop, kan?
- Aku di luar jam kerja. - Bukan masalah waktunya.
Kau harus bisa melepaskannya.
Dia masih di luar sana, bos. aku tahu itu.
- Bisa kurasakan. - Tidak, dia tidak.
Dia telah terbunuh seperti yang lainnya.
Radford adalah kunci dengan yang terjadi di sana.
Dengar, ada lebih dari 70 orang di Rumah Sakit itu.
Yah, cuma dia yang dicap berbahaya.
Yah, aku sudah dengar kisah itu sebelumnya.
Bantulah dirimu sendiri. Putar balik mobilmu dan pulanglah.
Yah, nggak lucu membayangkan kita bisa nge-lakukan hal lain.
Kasar! Ada apa denganmu?
- Cuman bercanda! - Pergi! Duduklah bareng Josh sana!
- Sayang! - Kau tahu kau juga pengin.
Lagian kalian cuman ngobrol-ngobrol aja.
- Kau yakin? - Pergilah!
Hei, semuanya.
Hei, Sully!
Keberatan jika aku duduk bareng kalian?
Yah, Yah. silahkan, teman.
Bagus!
Film horror nggak enak ditonton sendirian.
Sebenarnya, sudah dilakukan penelitian.
Popcorn?
Kalian tahu cewek yang di luar tadi bilang film ini dibuat 40 tahun lalu.
Yah, tapi masih enak ditonton kok.
Kalian tahu, kudengar mereka benar-benar membunuh manusia ketika film ini dibuat.
Omong kosong. Itu cuman mitos aja.
Nggak, benar kok. Ted Radford.
Orang yang memerankan si pembunuh...
dulunya dikurung di RSJ di New Haven.
Tempat itu udah ditutup sekitar 5 tahun lalu.
Yah, karena ada pembunuhan besar-besaran.
Sekelompok pemuja aliran sesat masuk dan membunuh semua orang.
Aku dengar ada pelarian besar-besaran.
Yah, yah, gak ada yang sebenarnya tahu, tapi tak diketemukan mayat.
Ok, cukup. Kau benar-benar bikin kita merinding.
Tapi yang terseram adalah si Radford itu...
sedang nonton film ini ketika ia dibantai.
Jika itu emang benar, kukira ada beberapa orang di sini, kan?
Ini film tentang pemujaan, bung.
Film pemujaan tidak menarik perhatian umum, itulah kenapa disebut film pemujaan.
Ini dia.
Kenny.
Apa? Aku harus mulai setel film-nya.
Maaf, itu delapan dollar.
Apa manajer-mu ada?
Aku yang berkuasa. Bisa kubantu?
Pernah lihat orang ini?
Dia dicari atau apa?
Yah, semacam itulah.
Jika lihat dia, biarkan dia masuk,
No comments yet. Be the first to leave one.