200 บรรทัดแรก
Diterjemahna neng: NDASERUAG
-- Selamat Mendeleng ---
TELINGAMU AKAN BERDARAH
Udaranya sejuk.
Kita di mana, Ayah?
Di punggung bukit, Luke. Mendekati hutan.
Pohonnya dekat.
Rimbun dan hijau di mana-mana.
Penuh kedamaian.
Aku merasakan Tuhan di sini.
Ya, Nak.
Dia selalu bersama jiwa yang tulus sepertimu.
Nadamu sempurna, seperti biasa.
Aku nggak bakal bisa main organ.
Tombol dan pedalnya kebanyakan.
Kata Ayah, kamu harus belajar, dan harus mahir.
Darimana dia tahu?
Karena kamu punya guru yang tepat. Ibu.
Kenapa organnya nggak diantar saja?
Kebayang mahalnya?
Astaga, Nak.
Buat apa sih butuh barang berisik itu?
Untuk memperluas jemaat ayahmu.
Mereka akan mendengar.
- Alunan organ itu, - Alunan organ itu,
- Lalu, - Lalu,
mereka akan datang ke gerejaku selamanya.
Kamu tahu, organ itu sangat berarti baginya.
Nggak ada persimpangan di peta ini.
Rel ini lebih jujur
daripada gambar buatan manusia, Ayah.
Kamu selalu bicara jujur, Nak.
Rel kanan lebih dalam dan sering dilewati.
Kenapa kita berhenti?
Apa kata peta?
Nggak ada, tak ada persimpangan.
Ke timur, Ayah. Kita pasti sampai di New York suatu hari.
Kamu keras kepala, Nak.
Lihat, lili! Bunga favoritku.
Pertanda perjalanan yang damai.
Tapi kok bisa tumbuh setinggi ini di gunung?
Itu misteri yang hanya Tuhan yang tahu.
Murni dan cantik sekali.
Bunga kesukaan Juru Selamat.
Andai aku bisa melihat bunga lili, atau serangga.
Kamu punya penglihatan batin, Nak.
Tak ada yang melihat Tuhan sebaik dirimu.
Yesus duduk di sebelah kanan Tuhan.
Itu jalan yang akan kita ambil.
Kita berhenti, Ayah?
Ini nggak beres.
Kita di mana?
Ujung jalan.
Sudah telat balik ke persimpangan.
Tempatnya lumayan buat kemah.
Kita bermalam di sini saja.
Selamat petang, kawan.
Kalian sudah mengantar jauh tanpa protes.
Ini upah kalian.
Entah kamu makan atau minum atau apapun yang kamu perbuat,
lakukan semua untuk kemuliaan Tuhan.
Amin.
Amin.
Suatu hari nanti aku akan makan di restoran terbaik
di seluruh New York.
Restoran?
- Iya. - Darimana kamu dapat ide itu?
Suatu hari aku akan melihat lampu-lampu Kota New York,
lampu gas, menerangi semuanya dengan cahaya keemasan.
Ayah takut di sana banyak orang yang tidak bertuhan,
dan penuh dosa.
Restoran, gedung musik, dan simfoni megah.
Aku ingin jadi aktris, atau penyanyi.
Kamu tahu suaraku seindah burung bulbul.
Suaramu lebih mirip kokok gagak.
Gak gak gak.
Bersikap baiklah Luke, kebaikan akan kembali padamu.
Aku sayang Abigail, tapi ocehannya itu
bikin aku jadi bad mood.
Aw.
Ini balasan kebaikanmu, Kak.
Hati-hati, yang buta punya cara lain untuk melihat, Kak.
Cukup,
atau tongkat yang lebih besar akan bicara pada kalian.
Begitulah tabiat pria dan wanita.
Kata-kata ayahmu sebaiknya lebih dijaga.
Kamu benar, Istriku,
jalan pria dan wanita adalah ilahi.
Begitu organ baru itu berbunyi di gereja,
kamu akan buat musik yang indah.
Kamu akan menyanyi dan malaikat turun dari atas.
Ingat kata-kataku.
Dan saat mereka mendengar dentang organ baruku,
mereka akan datang ke gerejaku, selamanya.
Kita akan punya begitu banyak domba baru,
sampai harus adakan dua kebaktian Minggu.
Mungkin kotak persembahan akhirnya penuh.
Ya, demi kebaikan yang lebih besar.
Apa yang terjadi adalah kehendak Tuhan.
Amin.
Amin.
Siapa mau lihat trik kartuku yang baru?
Aku, Dik.
Itu perbuatan iblis,
tapi Ayah izinkan sekali ini saja.
Apa itu tadi?
Itu suara alam di malam hari,
bukan apa-apa.
Tunjukkan sihirmu Abigail, kalau mau.
Lalu tidur.
Ambil satu kartu.
Kartu As Sekop.
Dia benar.
Gimana caranya?
Rahasia, nggak bakal aku kasih tahu.
Tipuan itu ada sentuhan jahatnya, Nak.
Lebih dari sekadar sentuhan, Bu.
Yang baik, ayolah.
Waktunya berdoa, lalu tidur.
Serigala?
Mungkin,
atau beruang.
Ezekiel?
Gideon?
Goliath?
Ayo lah.
Ezekiel, di mana Gideon dan Goliath?
Apa terbakar?
Mungkin ada yang membawa kabur.
Suku Blackfeet, atau Crow.
- Kita nggak ada masalah dengan suku. - Mungkin mereka yang punya masalah
kalau persimpangan itu membawa kita ke tanah mereka.
Kalau mereka memang nggak mau kita di sini,
gimana kita pergi tanpa kuda?
Akan kuikuti jejaknya.
Mungkin mereka cari air.
Terus suara aneh semalam itu?
Satu-satu, Istriku.
Suaranya sudah hilang.
Jaga anak-anak.
Gideon.
Goliath.
Kamu dengar lagi suara aneh itu?
Tidak.
Dentuman keras bercampur suara organ.
Aku dengar.
Rasanya seperti malaikat bernyanyi di atas sana.
Pendengaranmu diberkati, Nak.
Kenapa kamu bilang malaikat?
Aku merasakannya.
Mungkin Tuhan dan para malaikat
sudah mengantarkan organ itu untuk kita.
Ke hutan ini?
Semalam itu bukan malaikat dan organ.
Telingaku belum pernah dengar suara seindah surga.
Malaikat.
Lalu kuda-kuda kita gimana?
Kulacak sampai tepi kolam,
tapi mereka tak ada dan jejaknya putus di sana.
Maksudmu kuda kita tenggelam?
Terus kita harus gimana?
Jalan kaki pulang? Kita nggak bisa di sini terus.
Tenang, Nak.
Mereka pasti ketemu.
Aku,
akan pancing mereka kembali,
lalu kita lanjutkan perjalanan.
Bapa di Surga,
itu Engkau?
Ada apa, Bu?
Kamu nggak apa-apa?
Ezekiel, kamu dengar aku?
Telingamu kenapa?
Tuhan telah bersabda!
Ambilkan air.
Ezekiel, Ezekiel.
Di mana Luke? Di mana Luke?
Tenang, tenang.
Dia bersama Abigail lagi cari kudanya.
Kamu tadi pingsan.
Puji Tuhan, kamu sudah baikan.
Aku dapat penglihatan buruk.
Tentang apa?
Aku tak bisa mengatakannya.
Telingamu.
Masih bisa dengar?
Lebih baik.
Aku dengar suara Tuhan di hutan ini.
Suara itu, Tuhan?
Ya.
Dia berbicara padaku.
Apa kata-Nya?
Sangat kuat,
tapi sulit dijelaskan.
Seperti di kitab,
saat Tuhan bersabda iman
timbul dari pendengaran,
dan pendengaran oleh firman Tuhan.
Roma, pasal 10, ayat 17.
Kita berada di hadirat Tuhan.
No comments yet. Be the first to leave one.