200 บรรทัดแรก
Lo?
Roti yang kubeli buat sarapan, kenapa berubah jadi tiga koin seratus yen?
Memangnya ini kantin kejujuran?
Tohsaka.
Tohsaka!
Kau ada di sini?
Apa ini?
Maaf.
Tunggu sebentar lagi.
Shirou, bagaimana keadaan tubuhmu?
Mati rasa di bahu kiriku sudah hilang.
Ya, meski masih terasa agak sedikit berat, sih.
Syukurlah kalau sudah lebih baik.
Selamat pagi, Rin.
Pagi.
Semalam kau tidur dengan sangat nyenyak, ya.
Tak senyenyak itu juga, sih.
Soalnya, ada yang berisik di tengah malam.
Oh ya, hari ini kita akan keluar. Kau cepatlah bersiap.
Keluar? Ke mana?
Ke kota sebelah.
Buat apa?
Buat apa? Ya jelas, buat bersenang-senang, lah.
Kita akan pergi kencan.
Kencan?
Siapa dengan siapa?
Kita berdua.
Oh. Jadi, kau sama aku...
Eh? Apa?
seluruh hatiku serasa dibakar habis
kokoro wo zenbu yakitsukutsu youna
ZainuddinAri
mempersembahkan
kala keputusasaan ada di sampingku
zetsubou no tonari de
kau yang selalu ada 'tuk lebur semua lara
itsudatte kimi ha subete tokasu youni
menemaniku dengan senyummu
waraekaketekureteta
suara yang begitu sayu
kakukesareta koe
membuat kata-kata tak tersampaikan
todokenai kotoba
dan hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya
mata tsumazuki sou ni naru tabi ni
ku 'kan selalu bergantung padamu
nandomo shigamitsuita
bentangan masa depan nan putih bersih
shiroku shiroku masshiro na mirai ga
adalah satu-satunya harapan kita
tatta hitotsu bokutachi no kibou
saat ini ku berada dalam awan kegelapan
ima no boku ni ha yami kumo na
yang tak pernah rasakan adanya ketenangan
kono kimochi shikanai kedo
namun hari nan indah tidaklah hanya satu
seikai nante hitotsu janai
karenanya, ku terus cari masa depanku sendiri
boku dake no asu wo sagashiteru zutto
Shirou.
Katanya, kau mau pergi kencan sama Tohsaka, ya?
Keputusan Terakhir
Berita besar, nih!
Jangan bercanda terus, deh. Aku sendiri saja tak mengerti.
Wah, malu-malu, nih!
Asyiknya! Masa muda memang indah, ya!
Hari ini, Bu Fujimura juga mau kencan, ya?
Kak Fuji mau kencan?
Ya, aku juga mau kencan.
Tapi, kalian jangan terlalu berlebihan dan ingat batasan, ya!
Berangkat duluan, ya!
Nah, ayo kita juga.
Baik.
Enaknya kita pergi ke mana, ya?
Apa kalian berdua punya saran?
Kalau tiba-tiba begini sih, susah.
Benar juga. Kalau kau, Saber?
Aku tak bisa beri saran, karena di sini hanya sebagai pendamping Shirou.
Anggap saja aku bunga di tepi jalan.
Benar, nih? Jadi, kalian berdua tak apa-apa kalau kuseret ke mana pun sesukaku?
Jangan pakai nada horor begitu, dong.
Memang sih, aku setuju mau menemanimu,
tapi bukan berarti pergi kencan denganmu, lo.
Aku anggap ini sebagai pengganti suasana.
Lalu, kita bertiga-
Maaf saja ya,
tapi yang seperti itu sih, istilah umumnya disebut kencan.
Kalau kau terus keras kepala begitu, cewek-cewek bakal menjauh, lo.
Cewek-cewek yang mana?
Entahlah. Kira-kira siapa, ya?
Shirou.
Ya, ya! Kalau sudah begini sih, mau tak mau, akan kutemani, deh!
Bagaimana? Enak, 'kan?
Rasanya sih, tak ada bedanya.
Apa maksudnya coba?
Kalau memang manis, pasti terasa, 'kan?
Ya, dari sajiannya sih, memang terasa terlalu manis.
Bagaimana?
Apanya?
Lumayan cocok, kok.
Benar. Kau terlihat lebih anggun dan pintar, Rin.
Terima kasih.
Kalau begitu...
Sepertinya yang ini cocok untukmu, Saber.
Cocok banget, Saber!
Nah, yang ini buat Emiya!
Kocak banget!
Aku takkan pernah pakai kacamata besar begitu!
Tampangku malah kelihatan seperti anak kecil!
Oh, begitu.
Ternyata kau sensitif dengan hal itu, ya.
Tapi, kau jangan terlalu khawatir begitu, dong.
Penampilan terbaikmu memang yang seperti sekarang ini.
Tentu saja aku khawatir!
Aku harus lebih tinggi sedikit dari sekarang.
Begini juga sudah tinggi rata-rata, kok.
Di bawah rata-rata, tahu!
Setidaknya, aku harus setinggi Issei.
Sudahlah, jangan berlebihan begitu.
Aku yakin, kau pasti akan tumbuh lebih tinggi lagi.
Kok bisa seyakin itu?
Eh? Oh...
Soalnya, kau 'kan lagi masa pertumbuhan, kalau gizimu dijaga, pasti bisa, kok.
Ditambah dengan proses fotosintesis, kau pasti akan tumbuh lebih tinggi.
Memangnya aku ini pohon?
Lo? Marah nih, ceritanya?
Tidak, kok. Aku juga akan turuti sebagian saranmu.
Cara tadi memang tak selalu berhasil untuk tambah tinggi,
tapi aku yakin, kau akan tumbuh jadi pria yang gagah.
Untuk hal itu sih, kau harus percaya padaku, Shirou.
Walah, jadi malu begitu!
Aku suka ekspresimu yang apa adanya, Emiya.
Dasar nenek sihir!
Memangnya hobimu itu ledek cowok yang seumuran denganmu, ya?
Ya, dong!
Soalnya, ekspresimu yang paling istimewa!
Sudahan dulu goda Shirou, deh. Saatnya kita menuju acara utama!
Sebelum makan siang, kita main pukul-pukulan dulu!
Sekali lagi!
Padahal kecepatannya 120 km per jam, lo.
Shirou, kenapa kau malah bengong saja di situ?
Ya! Aku tak boleh kalah dari Tohsaka!
Saber?
A-Ada apa, Shirou?
Kalau kau terus memandangiku begitu, aku bisa salah tingkah.
Tak mau kalah juga ada batasannya.
Aku salah memperkirakannya.
Tak kusangka kalau Saber bersikeras dalam hal bersaing.
Apalagi dia malah marah kalau kita kasihani, tapi diseriusi, malah tak mau berhenti.
Ka-Kau sendiri juga jadi bersemangat dan bersaing skor dengan Rin!
Ya, wajar saja kalau orang di sebelahku berhasil memukul, aku jadi terus berusaha.
Lagian, kau yang salah, Tohsaka. Habisnya, kau jago banget, sih.
Apa sebelum tidur, kau selalu push-up atau angkat berat?
Ya.
Kenapa? Masalah?
Ah, tidak, kok.
Lanjutkan!
Wah, aku kagum, deh. Tak kusangka kau bakal repot-repot begini.
Sudah jelas, dong.
Karena aku yang mengajakmu, jadi harus serbatotalitas.
Oh, berarti masalahnya sudah jelas sekarang.
Jadi, rotinya dimanfaatkan untuk hal ini, ya?
Kukira, kau kelaparan di tengah malam, dan langsung telan rotinya bulat-bulat.
Emiya.
Jangan bicara terus, ayo cepat dimakan.
Ya, benar juga.
Selamat makan.
Selamat makan, Rin.
Lo? Jangan-jangan kau tak suka pedas, ya?
Oh, suka, kok.
Meski aromanya kuat, tapi rasanya enak!
Enak, ya? Syukurlah.
Ada saus menempel di pipimu.
Perlu aku lap?
Ke-Kenapa tiba-tiba mau mengelapnya?
Aduh, sepertinya bercandaku terlalu berlebihan, ya.
Maaf, ya. Habisnya, aku jadi tak bisa tahan diri karena tahu ekspresi apa yang bakal kautunjukkan.
Sudahlah. Tapi, lihat saja nanti, ya.
Besok, akan kutunjukkan kalau aku bisa serius.
Oh, berarti mulai besok, aku sudah tak perlu tahan diri lagi, ya?
Bagus, deh. Soalnya, aku juga sudah capek terus-terusan begitu.
Eh, tak jadi. Lupakan saja yang tadi.
Kalau mau sih, beri aku waktu sampai level kemampuan kita setara dulu, lah.
Yakin? Boleh saja, sih.
Tapi, kalau kau benar-benar sudah siap, langsung kabari aku, ya.
Habis itu, aku takkan tahan diri lagi, dan akan langsung menghabisimu.
Duh, jadi sudah 100% yakin bakal menang?
Jangan-jangan, kau ini memang titisan iblis, ya?
Habisnya, pakaianmu merah melulu, sih.
Kelihatannya kau sudah bisa bergerak bebas lagi, ya?
Berarti, sudah sembuh, ya?
Syukurlah.
Tohsaka.
Apa?
Kenapa tiba-tiba kemarin kau menginap di rumahku?
Dan juga, tak bilang dulu lagi.
Kenapa, ya?
Entahlah, hanya ingin menginap saja.
Ada baiknya juga ganti suasana begitu, 'kan?
Ya sih, kemarin seru soalnya ada banyak orang di rumah.
No comments yet. Be the first to leave one.