137 บรรทัดแรก
Selamat malam, Kakakku.
Ini kedua kalinya kita bertemu, ya.
Salam kenal, Rin.
Namaku Illya.
Illyasviel von Einzbern.
Kalau tentang keluarga Einzbern, kau pasti sudah mengerti, 'kan?
Einzbern.
seluruh hatiku serasa dibakar habis
kokoro wo zenbu yakitsukutsu youna
ZainuddinAri
mempersembahkan
kala keputusasaan ada di sampingku
zetsubou no tonari de
kau yang selalu ada 'tuk lebur semua lara
itsudatte kimi ha subete tokasu youni
menemaniku dengan senyummu
waraekaketekureteta
suara yang begitu sayu
kakukesareta koe
membuat kata-kata tak tersampaikan
todokenai kotoba
dan hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya
mata tsumazuki sou ni naru tabi ni
ku 'kan selalu bergantung padamu
nandomo shigamitsuita
bentangan masa depan nan putih bersih
shiroku shiroku masshiro na mirai ga
adalah satu-satunya harapan kita
tatta hitotsu bokutachi no kibou
saat ini ku berada dalam awan kegelapan
ima no boku ni ha yami kumo na
yang tak pernah rasakan adanya ketenangan
kono kimochi shikanai kedo
namun hari nan indah tidaklah hanya satu
seikai nante hitotsu janai
karenanya, ku terus cari masa depanku sendiri
boku dake no asu wo sagashiteru zutto
Tak kusangka.
Kalau soal kekuatan murni, dia jauh melebihi Saber.
Pertarungan Pertama
Benar-benar lawan yang mengerikan.
Dia ini, bisa saja hadapi keenam Servant lainnya, sendirian.
Berarti dia bukan lawan yang bisa kita atasi dengan modal kekuatan saja, ya.
Archer, di sini kau harus bertarung dengan gayamu sendiri.
Lalu, bagaimana aku bisa melindungimu?
Mustahil kau bisa menahannya dengan kemampuanmu.
Di sini, kami bertiga. Jadi, pasti ada cara untuk menghindar dari maut.
Dimengerti.
Emiya.
Terserah kau, mau lari atau ikut bertarung.
Tapi, kalau bisa,
sebaiknya kau pergi dari sini.
Menyusun strateginya sudah selesai?
Bisa kumulai sekarang?
Kalau begitu, aku bunuh, ya.
Habisi mereka, Berserker.
Mundurlah, Shirou!
Mustahil! Tak mempan?
Emiya!
Apa si gumpalan daging itu bisa lihat pedang tak terlihat itu?
Kuatnya.
Kena!
Lincah sekali!
Berserker apanya coba? Gerakannya terlalu gesit!
Kau pasti merupakan Roh Pahlawan agung di zamanmu.
Meski diselimuti kemurkaan, tapi, ketangkasan pedangmu tetap terjaga.
Aku hormati kemampuanmu itu.
Archer! Mohon bantuanmu!
Daripada disebut pendekar murka, mungkin lebih pantas kalau binatang buas.
Meski terkesan tak waras, tapi kehebatan teknik pedangnya, masih terukir jelas.
Saatnya serangan terakhir.
Habisi dia, Berserker.
Tak akan kubiarkan!
Tohsaka!
Archer!
Apa dia itu abadi?
Tak perlu kauacuhkan lalat kecil itu.
Lagian, serangan Archer, Servant-nya Rin, takkan mampu menembus Harta Mulia-mu.
Kejar dia, Berserker.
Dengar ya, kau harus pergi dari sini!
Sialan!
Aku, tak bisa lakukan apa-apa!
Memangnya apa yang bisa kulakukan pada monster seganas dia?
Saber!
Bukankah baru saja kuputuskan,
kalau aku akan bertarung bersamanya?
Banyaknya ajakan, serta hasrat yang membuatmu hilang arah.
Kata-kata yang tergolong rendah, dan hanya diselimuti oleh dosa.
Wajahmu terlihat menyeringai, wahai orang suci.
Seharusnya, ekspresi itu tak pantas kautunjukkan.
Memangnya terlihat olehmu, ya?
Tentu saja.
Seringai yang pantas bagi bajingan sepertimu.
Apa pertemuan sebelumnya membuatmu senang, Kirei?
Ya, bisa dibilang begitu.
Rasanya, seperti bertemu dengan kenalan lama.
Wajar saja kalau aku merasa senang, 'kan?
Sesuai yang kaukatakan. Perang Cawan Suci dimulai kembali setelah sepuluh tahun.
Sebagai pengadil, aku hanya bisa berdoa bahwa mukjizat akan terlaksana,
dan Cawan Suci dapat wujudkan dirinya dengan sempurna.
Sekalipun tanah ini berubah jadi neraka?
Persoalan itu jelas di luar kehendakku.
Baik itu penyiksaan, pembunuhan, serta penghapusan harga diri,
adalah tugas para Master.
Karenanya, Bapa kita di surga, pasti akan mengampuni seluruh dosa di dunia ini.
Untuk sekarang, kita hanya perlu menunggu saja.
Menunggu akan seperti apa hasil dari pertarungan pertamanya ini.
Wah, menyeramkan sekali.
Menyerang diam-diam dari belakang, kau ini seperti hewan liar saja, Rin.
Atau, ini memang teknik bertarung ala keluarga Tohsaka?
Ha.
Justru kau sendiri yang seenaknya putuskan untuk bertarung, 'kan?
Setelah dimulai, serangan apa pun, sah-sah saja.
Atau, kau perlu waktu untuk perkenalkan diri sekali lagi?
Satu langkah yang begitu jauh.
Apa aku harus hancurkan bidak sihir itu dulu?
Perkenalkan diri?
Andai kau ini kakakku yang tadi, mungkin tak masalah kuulang lagi.
Tapi kalau kau sih, buang-buang waktu saja.
Karena sedikit pun, aku tak tertarik padamu.
Lagian...
Buat apa aku perkenalkan diri pada orang yang akan mati di sini?
Bidak automaton yang mengejar secara otomatis.
Di umurnya yang masih kecil, dia bisa meregenerasi Mana-nya?
Itu sih, Penyihir Mini namanya!
Tapi, menyerang dengan bidak sihir tingkat tinggi begitu,
pasti ada kelemahannya di suatu tempat!
Mangsa yang cukup gesit.
Khusus untukmu, akan kutambah dua bidak lagi.
Apa-apaan itu?
Protesnya kusimpan nanti saja.
Kalau aku sampai terpojok, tamatlah sudah.
Berarti...
Kau mau menyerang langsung?
Berani sekali sih, tapi sekaligus bodoh, Rin.
Gandr!
Tinggal dua lagi!
No comments yet. Be the first to leave one.