200 บรรทัดแรก
BON APPÉTIT, YOUR MAJESTY
Itu karena...
Apakah dia...
Aku sudah mulai melihatmu sebagai wanita.
Ini karena aku suka dengan masakanmu.
Apa?
Kenapa Paduka berpaling dariku untuk katakan itu?
Karena aku...
Kenapa...
- Itu... - Apa?
Kenapa Paduka menjauh dariku?
- Karena aku... - Kenapa...
Itu salahmu.
Andai kau berhenti mendekatiku,
aku pasti tidak akan terjatuh.
Kenapa Paduka marah-marah? Ini bukan persoalan besar.
Aku baik-baik saja.
Tanganku lecet.
Biar kulihat.
Ini bukan cuma lecet.
Aku harus panggil tabib istana.
Paduka.
Goresan dan lecet seperti ini hal biasa di dapur istana.
Aku sungguh tak apa-apa.
Benarkah? Aku tidak tahu.
Aku harus beri tahu orang dapur istana untuk menumpulkan semua pisau.
Tidak usah.
Tasku sudah kudapatkan,
jadi aku akan kembali.
Apa maksudmu kau akan kembali setelah tasmu kau dapatkan?
Di dalam tas ini...
Ada apa di dalamnya?
Mangunrok ada di dalamnya.
Ke mana bukunya?
Tunggu.
Apa? Ponselku juga hilang.
Mangunrok-ku.
Mangunrok-ku!
Tenanglah, Koki Yeon.
Tidak ada buku di dalam tas ini.
Di mana Paduka menemukannya?
Song-jae yang serahkan.
Song-jae?
Kepala Sekretaris Kerajaan?
Tidak ada buku di dalam tas ini saat aku menerimanya.
Apa kau yakin?
Aku tak mungkin berani membohongi Paduka.
Mustahil.
Aku bersumpah bukunya ada di dalam sini.
Jika kau mengambilnya, kumohon berikan kepadaku.
Kubilang aku tak tahu.
Pasti langsung kukembalikan andai aku tahu.
Ya ampun.
Koki Yeon.
Sepertinya bukunya terjatuh dan tertinggal
di Hutan Salgoji saat tasnya terlempar ke jurang.
Begini.
Lipstik, dompet, paspor, dan dompetku ada di sini,
kenapa bukunya tak ada?
Kalau bukan karena jatuh, kenapa cuma buku itu yang hilang?
Pikirkanlah.
Apa untungnya Kepala Sekretaris Kerajaan mengambil buku itu?
Entahlah.
Sudah kubilang, aku tak ambil.
Begini saja.
Setelah para utusan pergi,
akan kukirim pasukanku untuk mencari buku itu di hutan.
Jika masih tidak ketemu,
akan kuadakan sayembara untuk buku itu di seluruh negeri.
Bagaimana menurutmu?
Paduka janji?
Paduka.
Aku serius. Aku harus pulang.
Aku harus kembali ke masa depan.
Baiklah.
Aku tahu betapa kau ingin buku ini,
jadi akan kucarikan.
Baiklah.
Sepertinya aku harus menunggu lagi.
DAPUR ISTANA
Pernah dengar seoktanhyang, aroma dari seoktanju?
Katanya setelah Paduka Raja mencicipi miras ini, beliau berkata,
"Ini sungguh manis dan harum,
sampai-sampai aku ingin ini tetap ada di mulutku dan tak menelannya."
MAENG MAN-SU KOKI SENIOR KEDELAPAN
SIM MAK-JIN ASISTEN KOKI
Cukup basa-basinya.
Mari angkat mangkuk kita untuk dapur istana.
- Untuk dapur istana! - Untuk dapur istana!
Kau sudah datang.
Nona di sini rupanya.
Lihat siapa ini.
Ini kepala koki istana kita.
Ya. Aku terlambat, ya?
Bau apa ini?
Kalian minum-minum?
- Aku tak membau apa-apa. - Tunggu.
Ini miras.
Koki Eom kebetulan sedang meramu miras yang enak,
- jadi kami mencobanya. - Benar.
Ini namanya seoktanju.
Kudiamkan selama tujuh hari,
dan hari ini kubuka hanya untuk mencicipinya.
Karena kita sudah ketahuan,
maukah kau mencicipinya juga?
Benar, Nona. Cobalah.
Atau kau tak sanggup minum-minum?
Aku bisa minum, tapi...
Apa sebenarnya
Yang sangat ingin aku temukan?
Ke mana sebenarnya
Aku bergerak tanpa jeda?
Tidak, tunggu!
Ritmenya tidak ada.
Selagi aku menyanyi...
kalian harus ketukkan irama untukku!
Kupernah lihat akhir hidupku
Hatiku sesak
Apa yang membuatku tiada
Adalah ketakutanku akan esok hari
Aduh, dia bau miras.
Dalam hari-hari yang panjang itu
Kulihat diriku yang kutinggalkan
- Aduh, bau. - Aku tak ada di sana
Begitu pula Mangunrok-ku
Kau harus pulang
Semuanya!
Ayo pulang
Di mana Mangunrok yang hilang itu?
Aku akan kembali
SAJIAN 6 MAKARON WIJEN HITAM
- Nona sudah bangun. - Aduh, kepalaku...
Gil-geum. Kenapa aku di sini?
Seoksura-nya!
Tenang.
Paduka Raja mengutus Koki Eom untuk menyiapkan makan malam.
Baiklah.
Apa ada hal buruk menimpamu?
"Mangunrok."
"Mangunrok."
"Oh, tidak, Mangunrok-ku!"
Kau terus katakan itu dan menangis.
- Apa kau ingat? - Itu...
Gil-geum. Tasku sudah kudapatkan...
Tapi Mangunrok hilang?
Bagaimana kau bisa tahu?
Kau mabuk dan terus katakan itu
sampai telinga kami pengang.
Begitu, ya.
Kukira aku akan bisa pulang.
Aku harus bagaimana?
Kenapa kau khawatir?
Katamu Paduka Raja janji mencarikannya untukmu.
Astaga!
Aku bahkan cerita soal itu?
Ini berarti yang ke-35 kalinya.
Kalau Paduka Raja membantumu,
aku yakin kau pasti akan menemukannya.
Entahlah. Aku mau tidur saja.
Beri sedikit waktu dan bersabarlah.
Di mana buku itu?
Dia akan kembali ke tempat asalnya?
Paduka.
Aku serius. Aku harus pulang.
Aku harus kembali ke masa depan.
Ke mana...
tujuan yang berulang kali dia katakan?
Masa depan apa?
CHANG-SEON KEPALA KASIM HIDANGAN ISTANA
Jadi, maksudmu,
utusan Ming tidak mau makan makanan Joseon?
Ya, Paduka.
Itu pesan dari Menteri Yoo,
yang ada di Yangju sebagai petugas penyambutan.
Melihat mereka mengeluhkan makanan
yang disiapkan karena tak sesuai selera mereka,
bukankah jelas bahwa mereka berusaha meminta tuntutan lain
dengan dalih kita lalai menyambut utusan dengan cara yang pantas?
Apa yang kita kirimkan ke Ming bersama utusan sebelumnya?
Sutra, kain rami, kertas putih, tikar, bulu sable, bulu berang-berang,
kuda dari Jeju, dan alap-alap kawah, Paduka.
Rupanya kita tidak mengirim ginseng.
Apakah itu penyebabnya?
Paduka, mohon petunjuk.
Bagaimana jika kita sajikan makanan yang dikenal oleh Ming?
Ada beberapa orang Han yang mahir memasak
di kampung klan Cina.
Tidak.
Biarkan mereka kelaparan.
Apa?
Biarkan mereka kelaparan?
Dengan segala hormat, Paduka.
Aku khawatir itu akan jadi dalih yang mereka cari.
Dia benar.
Jika demikian, bisa-bisa mereka paksa kita lagi
untuk beli barang tak berguna dari mereka.
Mana bisa berdiplomasi dengan sikap penakut seperti itu?
Paduka Raja benar.
Rekan-rekan menteri.
Daripada buang waktu untuk cemas,
No comments yet. Be the first to leave one.