200 บรรทัดแรก
Mbak, ayo.
- Sekarang? - Besok!
Ayo, itu mobil travel -nya udah nungguin itu loh.
Jakarta itu loh Mbak.
Ih, sebentar lagi terkenal.
Ayo.
- Ayo. - Bapak-bapak, Ibu-ibu...
- Turun aja. - Kita ke rumahnya Mbak Inul.
- Mbak Inul jadi artis. - Jadi artis?
- Inul ke Jakarta! - Inul ke Jakarta.
- Mbak Inul! - Warga kita harus terus berikan
- dukungan sama Mbak Inul. - Mbak Inul!
Mbak Inul!
Iya, supaya menjadi...
Mbak Inul!
- ...penyanyi terkenal. - Mbak Inul!
- Ayo, ayo! - Mbak Inul!
Mbak Inul!
- Mbak Inul! - Ada pak lurah.
- Sebentar-sebentar. - Mbak Inul!
- Jangan ribut, - Mbak Inul.
ini pejabat mau ngomong loh
Oh iya, ya.
Ya pak.
Alhamdulillah, pagi ini.
kita berkumpul bersama-sama di sini
dalam rangka
pelepasan penyanyi dangdut,
yaitu Mbak Inul, mau berangkat ke Jakarta.
Mbak Inul, Mbak!
Mbak Inul!
Udah sampai, Mbak!
- Udah sampai, ya? - Ini tempatnya
sesuai titik.
Kalau kakek turun di mana?
Udah kelewat dua Kota, Mas.
Ini gara-gara...
Mbak ini tidur di pundak saya,
jadi saya nggak enak.
FIRMA HUKUM
Ayahku...
Putriku...
- Mau berangkat kerja, ya? - Iya.
Jadi gini Daddy,
aku sama teman-teman tuh mau
nonton konser popcorn, boleh ya?
Tunggu dulu.
Jadi, kamu mau minta Daddy
izin untuk nonton konser atau beli popcorn?
- Yang mana nih? - Aduh...
gimana sih kakak iparku yang ganteng.
Mas Adam ini pengacara terkenal, teman Hotman Paris,
popcorn aja nggak tahu.
Jadi, popcorn itu Mas Adam, ya,
jagung diangetin meletek, tuh kayak di bioskop
tuh banyak!
Bukan popcorn itu Daddy
jadi popcorn itu K-pop star.
Ih, K-pop sih K-pop,
memang hidung gue cilok apa? Digini-giniin aja.
- Popcorn apa? Lolipop? - Hus... udah!
Jadi gimana Daddy? Boleh ya?
Jawabanya adalah tidak!
- Tidak? Kenapa? - Karena...
kamu bulan lalu udah nonton konsernya rolling stone, dan...
- Coldplay. - Look up the star.
Dan...
intinya, menurut Daddy
kamu itu harus punya skala prioritas
kamu 'kan bulan depan
ada field trip dari sekolah ke Bali.
Jadi, kau harus pikirkan,
yang mana yang lebih penting field trip
atau senang-senang.
Daddy nggak asik.
Ada apa nih, pada ngumpul begini nih?
Hah? Pembagian kaos partai apa?
Kenapa Mbak, hah?
Iya, saya
mau nyari produser, Mas.
Gua udah tahu deh,
ini model-modelnya kena tipu, nih...
si eneng nih, ya.
Nih, saya kasih tahu,
di daerah sini emang udah sering nih.
Ada kali ada 20 orang yang udah kena tipu.
- Oh ya? - Iya, emang repot,
makanya mesti hati-hati.
Tahu sendiri zaman sekarang, orang-orang udah pada nggak takut dosa.
Ya ampun...
Nih gini, saya sih...
Ini bakalan neng nih hidupnya lontang-lantung nih ya,
begini aja nih,
nih kalau perlu apa-apa
nih tinggal hubungin nih
nih hubungin saya nih.
Ya? Kalau perlu apa-apa,
telepon aja ke situ, telepon saya.
Jangan telepon pemadam kebakaran, ya?
Iya.
Eh Mas, Mas, tunggu.
Apa lagi?
Tapi emang bener, Mas produser ya?
Hah, si Neng mah gimana sih? Nggak percaya begitu.
Neng nih, kucing lewat sama saya cium tangan,
masa nggak percaya saya produser.
Tahu Elvy Sukaesih?
Happy Asmara?
Ayu Ting Ting?
- Iya. - Itu siapa
produsernya?
Mas juga yang produserin, ya?
Lah saya nanya,
malah nanya lagi.
Udah, pokoknya tenang saja, ya.
Nih...
Ngomong-ngomong,
emang bisa nyanyi?
- Bisa lah, bisa banget! - Oh, coba.
Para penonton
Bapak-bapak
Ibu-ibu semua yang ada di sini
Ada yang bilang
Dangdut tak goyang bagai sayur tanpa garam
Kurang enak kurang sedap
Bener-bener mantap nih.
Suara neng nih,
tinggi banget nih, berapa meter ya, kira-kira? Meter apa hektar, ya
- kalau... - Hektar 'kan tanah.
Apa ya, namanya ya?
Nada.
Ah iya, nada.
Maaf saya suka bercanda.
Begini saja deh,
gue kasih 50 juta,
lu tinggal nambahin 25 juta.
Ini gue sih nggak ada maksud apa ya,
gue hitung-hitung invest.
Karena gue sangat menyayangkan suara lu yang indah,
yang gurih, pokoknya yang enak itu.
Lu nggak usah pikirin macam-macam, ya?
Lu juga jangan minta
tinggal di apartemen lah,
clubbing lah, apa lah.
Itu juga repot tuh,
karena 'kan dananya aja 'kan, lu cuma punya sedikit,
- terus itu juga gue yang tambahin. - Iya.
- Iya, deh. - Jadi, lu tinggal berdoa
yang kenceng biar langit bergetar...
Hah?
Tapi saya minta kesepakatannya
di kantor hukum, kontrak kerjanya.
Iya iya, berangkat.
Oke.
Sore, Mas Ari.
Sore Mas Adam.
Hari ini kita akan ke beberapa tempat ya.
Pertama, kita ke rumahnya Pak Rapunjadi.
Sama saya ada meeting juga
sama musisi,
Ahmad dodi.
Ada kasus yang saya harus bantu selesaiin.
Oh ya, satu lagi,
mungkin hari ini kita sampai larut malam.
Karena masih ada klien dari Bandung yang harus saya temui.
Siap.
- Jadi, udah ingat semuanya, ya? - Siap.
Oke.
- Maaf, Mas. - Ya?
Bisa diulangi nggak?
Udah, udah, jalan, jalan. Nanti saya kasih tahu di Jalan.
Ih...
Ayo, jalan.
FIRMA HUKUM
Bapak sama si Mbaknya langsung aja masuk ke dalam.
Ada ya, orangnya ya?
Ada, tuh ruangannya sebelah sana tuh.
- Iya. - Ayo.
Eh, spada.
Balki, Balki...
'Kan saya sudah bilang, Balki.
Kalau ada yang minta sumbangan seperti ini,
cukup dari pagar saja.
Jangan dikasih masuk.
Lagi pula, 'kan saya udah nyumbang kemarin
masa tiap hari nyumbang.
Emang saya menteri sosial?
Wah, nih orang nih, nggak mau duit nih.
Kita dianggap tukang minta-minta sumbangan.
Gue bayarin nih, walaupun satu lantai,
gue bayarin tiga lantai nih, kantor lu.
Kayaknya kita salah tempat.
- Yuk, kita pergi saja. - Ya udah,
- kita cari kantor hukum yang lain. - Oke.
Pak, Pak.
Ibu, Ibu, tunggu tunggu.
Balki balki...
Bener-bener, ya.
Ini tamu kehormatan,
kenapa nggak dikasih masuk?
No comments yet. Be the first to leave one.