200 บรรทัดแรก
Terima kasih sudah mengecilkannya semalam.
Akhirnya aku bisa memejamkan mata.
Nyenyak lima menit sebelum TV-mu membangunkanku, lagi!
Kakiku sakit.
Aku lelah membuang ini!
Cuma foto-foto lama dan kenangan buruk.
Berhentilah hidup di masa lalu, Dev.
Lanjutkan hidup!
"Rasa sakit yang sama yang Barbara harus alami."
Cinta.
Jangan memaksaku kemari lagi malam ini.
"Bagaimana perasaanku?" Luar biasa.
Tidak pernah lebih baik. Terima kasih bertanya!
"Sarve Santu Nirayanaa"
Hei. Aku Dwiti.
Hei, berapa?
Maaf?
Sial!
Hei, tolong dengar. Jangan pergi!
Kupikir kau.
Kau pikir aku apa?
Kau salah satu perempuan dari, 'flash for cash' itu.
Kau menyiratkan jika aku berpakaian pelacur?
Tidak. Ada perempuan dengan pakaian dalam di situs web dan--
Ibuku membelikanku gaun ini.
Ya. Itu bagus. Warnanya cocok.
Tunggu. Kau membayar perempuan untuk menanggalkan pakaian mereka?
Kurasa. Terkadang. Cuma sekali. Aku.
Tidak. Sial. Jangan pergi!
Sial.
Rasa sakitnya masih ada, karena ini luka yang parah.
Jangan banyak stres. Beristirahatlah.
Baik. / Kuresepkan obat.
Sampai saat itu, hati-hati!
Baik, dokter.
Dia masih butuh waktu pulih dan berikan obat-obatan diresepkan.
Dengar, aku minta maaf.
Aku bukan orang cabul. Sumpah.
Jadi apa yang menimpamu?
Ini? Mau kisah pendek atau panjangnya?
Pendek.
Baik. Amnesia artinya.
Aku tahu apa artinya. Apa kisah panjangnya?
Baik! Kisah panjang. Suatu saat.
Lihat.
"Remaja berjuang untuk hidup setelah ditabrak lari". Ya Tuhan!
Cuma terserempet. Hampir.
Kau pasti ketakutan? Aku pasti akan ketakutan.
Ya Tuhan, kematian membuatku sangat ketakutan.
Seluruh kecelakaan kabur. Tak ingat mobilnya. Tak ada.
Kehidupan nyata, "Sanjay Singhaniya".
Apa? Serius. Referensi, "Ghajini".
Tidak seperti Sanjay Singhaniya. Aku tidak amnesia anterograde.
Yang berarti, "hilangnya ingatan jangka pendek".
Dan aku tidak begitu.
Dan dalam kasusku, aku tidak bisa mengingat apapun dari kecelakaanku.
Dan milikilah standar.
Kau orang cerdas yang suka, "Memento".
Tapi tidak sanggup dengan, "Ghajini"?
Apa! Kau pernah menonton, "memento"?!
Aku tak ingat berapa kali.
Kurasa kau juga penggemar film.
Ya. Khususnya, film klasik dan bioskop selatan.
Bagus! Jadi sekarang kau ingin berteman denganku di Facebook?
Mungkin.
Hei, tunggu. Ke mana dia?! Sial!
Dwiti.
Nanti bayinya bangun.
Bayi? Bayi apa?!
Hei, Pak Singhaniya. Ingat aku?!
Hai, mana aku lupa?
Jadi, apa kabar.
Jadi, apa kabar.
Tidak!
Jangan sekarang. Sialan.
Kau membuatku melakukan itu.
Semoga kau sudah mendapat pelajaran!
Aku mau memanjakan diriku dengan sepatu baru Joey Red.
Lupa memberimu ini.
Semua lagu favoritmu ada di dalamnya.
Dev!?
Aku tidak butuh liontin konyol untuk menjaga ayahmu tetap di hatiku, Dev.
Apa!? Cukup.
Ini juga ikut.
Mungkin aku akan dapat kedamaian dan ketenangan.
"Woh kahin nahi jaa skati, kutti kamini.."
Kau harusnya berbisik.
Kenapa?
Biar tambah seram.
Kau cuma mengulur waktu.
"RAAZ". Bipasha Basu dan Dino Morea.
Sial. Kupikir kau terkecoh.
"Bihad mein Baaghi hote Hein, Daqauit milte Hein, Parlemen mein".
Itu mudah.
"Paan Singh Tomar".
Film "Irfann" favoritku sepanjang masa.
Film "Irfann" favoritku sepanjang masa.
Itu benar.
Tentu. Baik. Giliranku. / Ya.
"Sarat ghode pe lagaate Hei kathor, sero pe nahin"
"Omkara", gampang!
Sungguh?
"Apun ko lagta Hein ki, apun aapko--
Aapse jyada pehchanta Hein"
Benar. / Apa?
Lupakan. Film 'Raman Arghav 2.0.'
"Ab toh sach bol de bh****ke, ab toh sach bolde."
"Gangs of wasseypur". Film legenda!
Pasti.
Apalagi yang kau punya?
"Aaj tak apun ek admi, aurat ya--
--bacche ko, galti se nahi maara yeh guarantee hain apun ka"--
-yeh guarantee hain apun ka."
Sudahi kutipan 'Psycho'. Itu membuatku takut.
Baik.
Hei, dengar.
Aku harus pergi.
Hei, tunggu!
Maaf, Dwiti!
Dengar. "Psycho", itu. Membuatku tegang.
Itu mengingatkanku kepada ibu tiriku.
Ya Tuhan. Kenapa bisa? Maksudku, astaga!
Saat ayahku wafat. Dia sangat terpuruk.
Aku turut sedih. Dia lebih baik sekarang?
Pasti. Dia berhasil menyalahkan orang lain.
Itu tidak gila. Itu pintar.
Baik kalau begitu, sampai jumpa nanti!
"Sarve, Santu, Nirayana!"
Bibi. Itu kau?
Bibi!
Ayah?
Ya!
Hei, Dwiti. Ada yang mau kuceritakan.
Ada suara aneh. Aku menjadi gila?
Tidak, mungkin kau habis menonton banyak film horor.
Kurasa kau benar.
Apa itu tadi?!
Aku mengerti. Tidak perlu mengolok-olokku.
Tidak. Aku serius. Kudengar suara.
Tenang. Mungkin cuma angin.
Baik.
Aku punya pertanyaan.
Kau membuat lukisan itu?
Yang mana? Ini?
Ya, aku mendapat penghargaan untuk itu.
Kau suka itu?
Bagaimana itu?
Aku belajar seni sejak kecil.
Entahlah, lombanya berat.
Dwiti Talwar.
Halo, ini Dev. Aku mau--
Halo.
Aku butuh bantuan! / Halo.
Halo...
Halo. Aku Dev. Butuh bantuanmu. / Halo.
Seseorang yang...
Halo. Kau dengar aku?
Telepon di jam kantor.
Halo.
Aneh.
Halo.
Halo, Dev.
Halo, siapa ini? Bagaimana kau tahu namaku?
Aku menunggumu.
Kau siapa?
Namaku Madin. Aku perantara. Untuk bicara dengan orang mati.
Bisa membantuku?
Seseorang yang sangat kupedulikan...
Ya, aku tahu. Karena itu aku memanggilmu.
Ya.
Bagaimana kau memberitahu seseorang yang takut mati jika mereka sudah mati?!
Siapa?
Dwiti Talwar. Dia dibunuh, "Pembunuh Bulan Purnama".
Ya. Aku tahu kasusnya. Detektif Tapasvi meminta bantuanku.
Apa yang kau ketahui tentang ini?
Aku ingin membantu juga.
Tidak. Maaf. Terlalu berbahaya.
Kenapa? Apa bahayanya? Kumohon.
Pembunuh menyerang berkali-kali. Kau ingin menjadi korban berikutnya?
Tidak. Tapi bagaimana dengan Dwiti?
Rohnya tidak akan tenang sampai pembunuh tertangkap.
Aku juga tidak akan tenang.
Kau? Kenapa kau peduli?
Dev?
Kau di sana?
Aku mau membantu.
Tidak. Terlalu berisiko.
Coba hentikan aku!
Kau ingin bermain permainan pikiran.
Cari orang bodoh lain.
Permainan pikiran? Apa!?
Sungguh, Dev!?
Aku tidak bermaksud mematikannya. Maaf.
Aku harus pergi, itu saja.
Kau baik-baik saja? Kau tampak tegang?
Tidak seperti itu, aku baik-baik saja.
Kau berbohong!
Tidak, Dwiti, aku baik-baik saja.
Kau menyembunyikan sesuatu.
Tidak. Aku cuma lelah.
No comments yet. Be the first to leave one.