200 บรรทัดแรก
Kabarmu baik, 'kan? Selain perkara ini.
Ayah tampak baik. Tak seburuk bayanganku.
Seperti saat terakhir kujenguk.
Kurang tahu apa Ayah kesakitan, khususnya saat tidur.
Tapi kau memonitornya, 'kan?
Itu yang terpenting, pergi dengan tenang tanpa rasa sakit.
Tujuanku adalah aku ingin kita memudahkan Ayah.
Jangan membesarkan masalah.
Jika kita berselisih, mari bahas baik-baik
tanpa membuat Ayah sedih.
Kita hadapi dengan dewasa, sesuai umur.
Tak ada juga yang perlu kita ributkan.
Bagaimanapun juga, faktanya adalah Ayah sekarat.
Kita berdua tak bisa mencegah itu.
Bukannya aku dingin, tapi kehadiran kita penting.
Di sini.
Sekarang, yang lalu tidaklah penting.
Jika ada yang mengganjal, pendam dulu. Kuharap kau setuju.
Aku sedih. Kau pasti juga. Ini berat dan tak enak.
Jadi, jangan dipersulit.
Kulihat Formulir Jangan Resusitasi (DNR) belum ditandatangani.
Padahal sudah kuingatkan. Aku paham itu sulit.
Dulu mudah, tapi sekarang sulit. Aku tak mau meributkannya.
Tapi kini makin sulit karena Ayah tak lagi bertemu dokter.
Aku harus panggil dr. Sanders atau yang bisa jadi saksi.
Andai ditandatangani saat Ayah masih berobat.
Entah berapa lama sisa waktuku. Waktu Ayah.
Formulir ini penting.
Sangat penting.
Ayah membuka matanya sedikit.
Baguslah. Ayah tahu kita di sini.
Ayah kelihatan senang.
Aku paham.
Aku janji takkan menangis terus.
Hanya saat ini saja aku menangis.
Rasanya janggal jauh dari Mirabella dan David.
Itu memengaruhiku juga.
- Ini pertama aku jauh dari mereka. - Kenapa tak diajak?
Tidak, bagus mereka tak di sini.
Di sana tak apa.
Biar kunjungan terakhir jadi kenangan terakhir mereka.
Saat Ayah masih kuat. Itu yang membuatku hancur.
Ayah memang sakit waktu itu, tapi masih sangat sadar,
masih berdaya.
Aku tak menyangka tiba-tiba jadi seburuk ini.
Mungkin aku kebanyakan menonton film, terutama film anak-anak.
Dua tahun ini film-film yang ditonton Mirabella positif dan ceria.
Kalaupun temanya berat,
kisahnya tetap indah dan jelas.
Ini terasa begitu nyata.
Maaf mengoceh. Masih penat terbang.
Aku makin emosional setelah naik pesawat.
Yah, begitulah...
Bagus kita bertiga berkumpul.
Inilah yang pasti Ayah inginkan.
Aku menyela, ya? Maaf.
Apa kabar, Rachel? Lama tak mengobrol sejak Thanksgiving.
Apa kabar?
Baik.
Entah kau mengharap jawaban apa. Aku baik. Titik.
Tapi Rachel jelas teler. Serumah bau ganja.
Tentu saja, aku teler. Teler berat.
Pagi-pagi, aku biasa melinting ganja,
lalu mengganja minimal tiga kali sehari.
- Kenapa? Karena itu gayaku. - Silakan kau mengganja.
Tapi jangan di rumah saat ada yang sakit.
Ayah tak keberatan.
Selama ini aku merokok di dekatnya, tapi tak ditegur.
Malah, dia suka baunya. Beberapa kali dia bilang sendiri.
Masalahnya asapnya, bukan baunya. Ayah sekarat. Di luar saja.
Astaga, baru lima menit.
Baru juga lima menit, dan kau mulai mengomeliku.
Tadi kau minta kita akur.
Benar. Mari kita tenang. Tak perlu dipermasalahkan.
Dia perlu mengisap ganja murahannya di luar.
Murahan? Enak saja. Ganjaku tokcer.
Bukan ganja yang kau isap dulu.
- Pikirmu aku lupa? - Itu saat aku SMA.
Aku sudah dewasa, tidak sepertimu.
- Dewasa, masih berengsek. - Rachel, Katie, cukup. Hentikan.
Lihat.
Hai. Kau mencari kami?
Silakan duduk.
- Maaf, kami... - Tak perlu minta maaf.
Aku paham situasi kalian berat.
Wajar. Ini masa-masa sulit.
Selagi rekanku, Mirabella, di kamar ayah kalian,
aku ingin bahas kondisinya.
Mirabella?
Mirip nama putriku.
- Wah. - Sungguh? Nama yang indah.
- Masih umur tiga. - Lagi lucu-lucunya.
Baguslah kalian bisa berkumpul di saat seperti ini.
Tidak semua keluarga bisa.
Ada saja kisahnya.
Ada yang tak bisa hadir karena alasan kesehatan.
Kadang karena berbagai alasan lainnya.
Istrinya sudah lama meninggal?
Ayah menikah dua kali.
Sudah lama.
Ibu meninggal karena kanker payudara 20 tahun lalu.
Turut prihatin. Entah seperti apa prosesnya saat itu,
tapi menurutku kalian perlu memahami proses saat ini,
terutama setelah dia tak lagi makan minum.
Aku, Mirabella, atau mungkin berdua,
akan datang tiap pagi sekitar jam sebegini,
tapi kalian bisa hubungi nomorku.
Aku siap menjawab pertanyaan atau datang jika perlu.
Hubungi kami saat pasien meninggal.
Kami bisa buat surat kematian, kecuali tiba-tiba,
dia harus dibawa ke rumah sakit.
Maaf. Nama rekanmu mirip putriku.
Aku teringat putriku tiap namanya disebut.
Silakan lanjutkan. Maaf.
Pertanda baik bahwa ayah kalian merespons baik terapi nyerinya.
Kankernya sudah stadium lanjut.
Saat kesakitan, tubuh akan berusaha melawan,
meski sebenarnya malah memperparah.
Jika pasien merasa nyaman, prosesnya akan lebih cepat secara alami.
Itulah perbedaan utama perawatan paliatif dan rumah sakit.
RS bertujuan memperpanjang usia.
Tujuan utama kami mengurangi penderitaan pasien.
Tapi selain itu,
bukan hanya kondisi tubuh yang memengaruhi sisa usia kita.
Entah apa penjelasan ilmiahnya, tapi berdasarkan pengalamanku,
aku juga yakin bahwa pikiran juga faktor penting.
Dukungan kalian akan membantu
jika pasien bertahan karena takut akan sesuatu.
Kalian bisa membantu dengan meyakinkan dirinya
untuk tenang.
Pikiran tak bisa menyembuhkan penyakit,
apalagi di stadium ini,
tapi jika pasien tahu bahwa ia dan kalian akan baik-baik saja,
itu akan berarti baginya.
Maaf, namamu Angel, 'kan?
Nama menarik, mengingat pekerjaanmu.
Aku ingin bertanya,
ayahku seharusnya meneken formulir DNR, Jangan Resusitasi.
Tapi belum dilakukan saat masih berobat ke dokter.
Itu penting bagi Ayah,
karena itu aku ingin tahu sisa waktu Ayah.
Aku tahu itu sulit diprediksi.
Dia tak gamblang.
Bisa terjadi sewaktu-waktu. Dalam beberapa hari, atau lebih lama.
Ayah memang sudah pucat.
Baru sebulan lalu kujenguk,
tapi kondisinya makin buruk.
Sementara, aku akan tinggal di sini.
Kami semua bergantian mengawasi.
Mendampingi sampai akhir hayatnya.
Rasanya jika aku pergi terlalu jauh darinya,
hal yang ditakutkan akan terjadi.
Dengar, tidak?
Christina sedang bernyanyi untuk Ayah.
Semoga saja bukan lagu Grateful Dead.
Bakal mati mendengarnya. Ayah benci musiknya sepertiku.
Christina tampak tegar dari luar, seperti biasa.
Semoga dia berhenti nyanyi. Bisa-bisa aku yang mati.
Dia...
Rachel seperti biasanya.
Formulir DNR yang kuminta belum ditandatangani,
sekarang sudah makin sulit.
Kukira perawatnya bisa bantu, ternyata harus ada dokter yang jadi saksi
serta datang saat Ayah sadar dan mampu berkomunikasi.
Rachel di luar. Dongkol saat kularang merokok di dalam.
Dia seperti tak sabar Ayah tiada dan tinggal sendirian.
Terserah dia mau apa setelah tinggal sendiri.
Bukan urusanku.
Rachel, kau sedang apa? Jangan merokok sembarangan.
Victor!
Sedang apa kau di sini? Menggangguku saja.
Jangan mengganja di sini.
Itu masalahnya.
Ganja sudah legal. Terakhir mengganja tahun '90-an, ya?
Enak saja.
Aku mengganja tiap malam, tapi di rumah, di dalam apartemenku sendiri.
Tahu sendiri warga sini.
Mereka mengamuk jika ada yang merokok di sini.
Aku diminta panggil polisi. Gila.
Lakukanlah di dalam
agar bisa kutegur lewat telepon
dan kau bisa menyumpahiku?
Oke.
Ini terakhir.
Ini gara-gara kakakku yang bawel.
Dia bilang asapnya membunuh ayah kami.
Bagaimana kabar Vinnie?
Sekarat, tapi bukan karena asap ganjaku.
Kakakku itu memang...
Selalu marah-marah.
Aku santai di sini setelah diusir, malah kau marahi.
Maaf. Aku sayang kau,
tapi seharusnya kau memarahi dia, bukan aku.
Aku...
Aku mencoba tetap waras.
Hei. Mau bergabung dengan kami?
Perawatnya akan datang.
Kita bisa temani Ayah dulu.
Sambil bernyanyi.
Kalau mau berdua saja dengan Ayah, tak apa.
No comments yet. Be the first to leave one.