200 บรรทัดแรก
Tuan. Bangun, Tuan.
Kau harus bangun. Tuan.
Tuan. Bangun.
- Apa yang kau lakukan? - Lima menit lagi.
Tetaplah seperti ini lima menit lagi.
Aku tak percaya kau di sini bahkan saat kau di pelukanku.
Jun, aku datang.
Ayo.
Jan-di.
Ada apa?
Itu...
Jae-gyeong. Membangunkan Jun-pyo tak akan mudah.
Sudah bangun?
Kau?
Apa yang kau lakukan di sini berpakaian seperti itu?
Katakan sesuatu. Siapa itu?
Yang berani membawamu ke rumah ini?
Aku.
Nyonya.
Apa yang kau lakukan di sini?
Sudah lama tak berjumpa, Ny. Kang. Atau haruskah kupanggil Ketua Kang?
Aku tak biasa memanggilmu itu.
Apa yang terjadi?
Aku harap kau tidak lupa.
Sesuai keinginan almarhum suamimu posisiku di rumah ini tetap.
Tak ada yang bisa mencabutnya. Sekali pun itu kau.
Aku tak masalah soal itu, tapi apa yang gadis ini lakukan di sini?
Aku tak mau dia di sini. Cepat usir dia.
- Aku tak bisa melakukan itu. - Nyonya.
Aku bertanggung jawab mempekerjakannya dan hanya aku yang bisa memecatnya.
Aku pikir itu sesuatu yang tak seharusnya kau cemaskan.
Aku tahu dia belum berpengalaman.
Itu sebabnya terlalu cepat untuk memecatnya.
Aku tak mau mencoreng reputasi keluargamu.
- Nyonya. - Apa yang kau lakukan?
Jan-di, ikut denganku. Ada pekerjaan yang harus kita lakukan.
Ya, Nyonya.
Terima kasih.
Tak perlu berterima kasih padaku. Jangan salah paham.
Apa?
Aku melakukan ini bukan karena permintaan Jun-Hui.
Aku mencemaskan Jun-pyo sejak aku pergi.
Saat kecil hatinya sangat lembut.
Tapi menjadi lebih keras saat dia semakin dewasa.
Aku mendengar Seo-hyeon mengatakan hal yang sama.
Tapi dia semakin berbeda sekarang.
Kupikir itu karena kau.
Aku berhutang besar pada rumah ini.
Memastikan Jun-pyo dirawat dengan baik adalah tugas terakhirku.
Aku sangat teliti dalam memilih orang.
Aku yakin kau bisa dipercaya.
Nyonya...
Kita perlu bicara.
Kau tampak cantik.
Aku tak pernah tahu pakaian pelayan bisa menjadi begitu cantik.
Jae-gyeong.
Aku...
Aku yakin sulit untuk memberitahuku.
Aku tahu keadaan keluargamu. Itu bisa dimengerti.
Maafkan aku.
Tapi...
...kupikir aku temanmu, bukan hanya tunangan Jun-pyo.
Akan lebih baik jika kita membicarakan itu sebelumnya.
Maafkan aku.
Tapi kumohon jangan salah paham.
Tak akan.
Tapi biarkan aku mengatakan ini.
Aku tak akan melepaskan Jun-pyo.
Aku bahkan akan lebih baik terhadapnya.
Aku akan berusaha keras agar tak menyesal nanti.
Aku hanya ingin mengatakan itu padamu.
Aku pergi.
Masuk.
Jae-gyeong.
Tolong jangan salah paham.
Ini semua kesalahan wanita tua itu.
Tak apa. Jangan khawatir soal itu.
Aku senang mendengarnya. Ini sebabnya aku menyukaimu.
- Aku akan mengusir Jan-di hari ini. - Jangan lakukan itu.
Aku harap kau tak mengusirnya.
Jae-gyeong.
Aku punya satu permintaan lagi.
Itu saja untuk hari ini. Kerja bagus.
Sampai jumpa.
Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?
Tidak.
Eun-jae.
Kenapa kau putus dengan pacarmu?
Ini aku. Aku sedang dalam perjalanan.
Baik.
Jika kau tak sisakan makanan, aku akan sangat kecewa.
Baik.
Ini tak berhasil.
Aku tak mau melakukan itu.
Baik. Aku akan mengajarimu.
Hai, Yi-jeong.
Hai.
- Apa kabar? - "Aku baik."
"Kau tak rindu saudaramu? Kau seharusnya mampir sesekali."
Maaf.
Aku bisa tahu dari suaramu semua hal berjalan baik.
"Benar."
Mampirlah jika kau mau. Aku ingin kenalkan seseorang padamu.
Seseorang?
Kau akan sangat terkejut dan senang.
"Percayalah padaku."
- Kakak. - "Ya?"
Apa kau...
Apa kau senang?
Ya.
Maaf kau tak sesenang aku.
Yi-jeong?
Monyet. Apa ini?
Aku ingin memperkenalkan diri.
Aku Ha Jae-gyeong. Aku calon istri Jun-pyo.
Apa?
Nyonya.
- Sudah siap? - Ya.
(Undangan Pernikahan Gu Jun-pyo dan Ha Jae-gyeong.)
Apa ini?
Ibu dan orang tua Jae-gyeong sepakat mempercepat semuanya.
Kalian berdua sudah dewasa.
Agar semua rencana berhasil, semakin cepat menikah, semakin baik.
Ibu tak menanyakan pada kami.
Aku setuju.
Apa?
Jae-gyeong akan tinggal di sini sampai pernikahan.
Untuk membiasakan diri dengan keluarga kita.
Ibu senang dia mau menjadi bagian dari keluarga ini.
Bahkan orang tua Jae-gyeong telah merestui.
Ada satu hal lagi. Tn. Jeong.
Ya?
Jun-pyo dan Jae-gyeong akan mengiklankan ponsel Shinhwa.
Apa? Kata siapa?
Kalian berdua tampak luar biasa di peluncuran produk.
Majalah dan situs berita "online" sangat puas.
Menurut departemen Humas...
...kalian model sempurna untuk mempromosikan produk kami.
Jae-gyeong, bisakah kau bantu kami?
Suatu kehormatan.
Aku tak bisa menerima ini.
Jun-pyo. Memberi dan menerima.
Peraturan dasar dalam bisnis.
"Kau bisa ke kamarku?"
Bagaimana penampilanku?
Sangat cantik.
Ibu Junypo memberikan ini padaku.
Ini sudah lebih dari 20 tahun, tapi masih bisa dipakai.
Aku akan memakainya. Lihat ini juga.
Aku belum bisa memilikinya.
Akan dia berikan setelah anak pertama-ku lahir.
Ibuku tak sabar menantikannya. Bukankan ini lucu?
Anak di antara Jun-pyo dan Jae-gyeong.
Jan-di. Aku ada suatu permintaan.
Apa itu?
Berjanjilah padaku kau akan setuju.
Jadilah pengiring pengantinku.
- Apa? - Aku tak mau orang lain.
Aku ingin kau, Jan-di. Maukah kau melakukannya?
Potret penuh. Pengambilan pertama.
Kau harus menangkap ikan dengan cacing di musim dingin.
Kau akan tahu ini berguna. Ambil.
Ingin ikut?
Aku akan berangkat sepuluh menit lagi.
Ji-hu tunggu.
Ibumu dulu sering membuat sup ikan.
Hari ini adalah ulang tahun pernikahan orang tua-mu.
Kakek masih bisa membayangkan mereka sekarang.
Kakek masih ingat cara ibumu tersenyum saat dia memakai cincin nenekmu.
Entah kenapa dia sangat menyukai cincin ini.
Tapi dia bilang ini satu-satunya cincin di dunia.
Cucuku yang malang.
Maafkan Kakek.
Kakek merebut ibumu darimu.
Itu semua salah Kakek.
"Untuk orang spesial. Shinhwa Call."
Apa yang akan kau lakukan?
Entahlah.
Aku merasa ada bom meledak di kepalaku.
Aku bisa apa? Apa yang harus kulakukan?
Kau harus mencari tahu itu. Kau harus menemukannya sendiri.
Dulu, menikah adalah satu-satunya jawaban.
Kenapa kita harus repot memikirkan jawabannya lagi?
Bagaimanapun, kupikir aku akan menjadi pendampingnya.
- Kau tak apa? - Soal apa?
Kau tahu itu.
Jan-di, ini pernikahan yang kita bicarakan.
Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kau anggap enteng.
Itu takdir mereka.
Di sanalah Jun-pyo seharusnya berada.
Ibu, Ayah. Apa kabar? Kau Gang-san?
Apa?
Jangan lupa makan. Aku tak mau Ayah dan Ibu sakit.
Astaga.
Ya.
Jangan khawatirkan aku.
Tolong jaga diri.
Jangan menabung. Belilah daging dan makanlah.
Mengerti?
Baik.
No comments yet. Be the first to leave one.