177 บรรทัดแรก
Aku...
Aku akan balaskan kematian Archer.
Biar bagaimanapun perlakuannya selama ini,
dia tetaplah rekanku.
Aku pun sependapat.
Aku sudah bulatkan tekad untuk bertarung.
Kalau tak kuselesaikan sampai akhir, dia pasti akan terus hantuiku.
Ditambah lagi, kita tak bisa abaikan Sang Cawan.
Benda seperti itu memang harus dihancurkan.
Aku setuju.
Perangkat mahakuasa pengabul segala permohonan
yang hanya mampu wujudkan salah satunya saja,
seharusnya memang tak pernah ada.
Saber.
Tapi, apa kau sendiri yakin, Rin?
Bukankah impian tertinggi keluarga Tohsaka adalah untuk dapatkan Cawan Suci?
Memang, tapi aku tak mau jadi kera pemuja kekuatan seperti itu.
Sebenarnya, dari awal pun, aku tak punya keinginan khusus.
Dan menurutku, aku malah puas kalau bisa menghancurkannya.
Aku berpartisipasi dalam perang ini bukanlah demi hadiah, melainkan kemenangan.
Dari awal, harga diri sebagai putri keluarga Tohsaka sudah aku pertaruhkan di sini.
Begitu, ya.
Sifatmu memang tak pernah berubah.
Apa maksudnya sifatku tak berubah?
Begini-begini, aku sudah mengubahnya sesuai dengan tujuan kita, tahu!
Baiklah.
Shi-Shirou?
A-Apa?
Oh, aku mau memasak.
Kalian berdua pasti lapar.
Terburu-buru juga tak ada manfaatnya, 'kan?
Jadi, ayo kita mulai dengan isi perut dan susun ulang strategi ke depannya.
Ya, kau benar.
Ayo, kita makan malam seperti biasa.
Bagi kita, itulah cara yang paling cocok saat ini.
Ya sudah.
Kalau begitu, aku juga akan bantu.
ZainuddinAri
mempersembahkan
apa yang disembunyikan tangan kiriku
hidari te ni kakushita
berisikan penuh dengan harapan
negai ha negai no mama de
dalam mimpi yang tiada henti
samenai yume miteta
tangan kananku berisi kenangan hampa
migi te ni ha kara no kioku
tentang setiap orang asing di penjuru dunia
daremo shiranai sekai no hate
di kala ku terjebak dalam hujan abadi
yamanai ame ni utareteita
ku butuh kekuatan 'tuk melindunginya
mamoritai mono wo mamoreru tsuyosa
walau kelemahan pudarkan keyakinanku
sore wo shinjirarenakunaru yowasa
semua tetap kubawa dalam pencarian hari esok
subete wo ukeirete ashita wo sagasu
lebih berani saat ulurkan tangan
Brave Shine, te wo nobaseba mada
lewati malam walau penuh luka
Stay the Night, kizu darake no yoru
karena selamatkanku bagai barisan pedang
You Save My Life, kazashite yaiba no saki ni
kenangan pun semakin bertumpuk
omoi wo kasaneta
hingga doaku pun sanggup leburkan waktu
inori ha toki wo koete
Your Brave Shine
Hari Musim Dingin, Perjalanan Pulang nan Jauh
Cawan Suci ada di Kuil Ryuudou?
Ya.
Ada tiga tempat di kota di mana Sang Cawan bisa muncul.
Rumahku,
Gereja Kirei,
dan Kuil Ryuudou, di Bukit Enzo.
Aku sudah kirimkan bidak sihirku ke masing-masing tempat,
dan yang ada di Kuil Ryuudou, sudah dihancurkan.
Jadi bisa disimpulkan, si kepala emas itu sudah siapkan ritual di Kuil Ryuudou.
Bukankah itu berarti Issei dan yang lainnya juga dalam bahaya?
Lihat ini.
"Para korban dibawa ambulans"?
Benar.
Yang artinya, setiap pengganggu sudah disingkirkan dari sana.
Pasti ini ulah Shinji.
Cara yang dilakukannya memang selalu licik,
tapi untuk kali ini, kita terbantu.
Tapi, Kuil Ryuudou itu cukup merepotkan.
Medan antiroh.
Servant hanya bisa masuk melalui gerbang utama.
Sebaliknya, jalan masuk yang hanya satu itu akan sangat untungkan kita.
Lagi pula, prioritas utama kita adalah cegah munculnya Sang Cawan.
Saber akan masuk melalui gerbang utama.
Selagi dia sibuk tahan Saber di sana,
kita akan daki bukit dari belakang dan hancurkan Sang Cawan.
Tunggu.
Bukankah hanya Saber yang bisa menghancurkannya?
Memang.
Setelah Cawan Suci muncul, mustahil kita bisa menghancurkannya.
Tapi, kita bisa hancurkan wadahnya sebelum itu terjadi.
Intinya, kita akan mematikan Sang Cawan sebelum sempat aktif.
Apa maksudmu?
Dari apa yang kita asumsikan selama ini,
Cawan Suci itu mungkin merupakan jantung dari Illyasviel, 'kan?
Tapi menurutku, Sang Cawan hanyalah jadi bentuk fisiknya.
Tubuh Cawan yang dialiri oleh sirkuit sihir.
Dia tak ingin Illyasviel jadi Cawan,
jadi dia cabut jantungnya, untuk dijadikan inti pembentukannya.
Karena itu, untuk mengaktifkannya,
dia harus memasukkannya ke tubuh penyihir lain.
Karena kita berdua ada di sini,
pilihan terakhirnya sebagai fondasi Sang Cawan adalah...
Shinji?
Tapi, bukankah Shinji itu...
Meski garis keturunan penyihir Matou sudah berhenti, dia tetap punya sirkuit sihir.
Jantung Illyasviel pasti akan memaksa untuk buka sirkuit sihir bagian terkecil sekalipun.
Itu berarti, kita harus memulainya dengan cari Shinji.
Kalau begitu, aku harus tahan Archer sampai kalian berhasil hentikan Sang Cawan.
Benar.
Dan setelah berhasil hentikannya, kami akan langsung menyusulmu.
Jangan, itu sih terlalu sembrono.
Saber tak sebanding dengannya.
Atas dasar apa kau mengatakan itu, Shirou?
Eh, sebagai pendekar pedang, dia memang tak kuat sepertimu,
tapi setangguh apa pun seorang pendekar, mereka takkan mampu kalahkan perang seorang diri.
Dia adalah Roh Pahlawan yang licik.
Kalau kau tak jadi bagian dari perang itu sendiri, kekalahanmu sudah mutlak.
Jadi menurutmu, dia dan aku bukan lawan yang seimbang?
Karena itu, kita tak bisa kirim Saber bertarung tanpa strategi khusus.
Setidaknya, dia perlu celah untuk bisa mengalahkannya.
Seperti yang kaukatakan, Harta Mulia-nya merupakan bagian dari perang,
dan selain itu, dia adalah Servant yang ahli membunuh Roh Pahlawan lain.
Untuk mengalahkannya, kita harus punya persenjataan yang setara.
Apa?
Kenapa tiba-tiba berhenti?
Begitu, ya.
Jadi, itulah alasan dia selalu menganggapnya sebagai musuh bebuyutan.
Benar juga, kalau ada Roh Pahlawan yang tanpa Harta Mulia miliknya sendiri,
berarti dia tak punya senjata asli.
Sepertinya bisa.
Pasti bisa!
Tunggu dulu, itu artinya...
Kalau ada yang mengganjal, cepat katakan, dong.
Kau punya ide, 'kan?
Tak punya!
Mana mungkin aku bisa bilang di sini, Bodoh!
Rin?
Yang jelas, rencana tadi sudah cukup bagus, kok.
Kita berangkat pagi nanti. Setuju?
Selagi menunggu, kalian harus istirahat penuh di kamar masing-masing.
Satu lagi. Ada yang ingin kubahas denganmu, Saber.
Kau tak keberatan, Saber?
Ya, kurasa itu pilihan terbaik.
Terima kasih, Rin.
Aku pun jadi bisa bertarung tanpa diliputi kecemasan.
Lalu? Apa maumu?
Apa mauku?
Tohsaka, apa sekarang ini suasana hatimu sedang jelek-jeleknya, ya?
Tidak, kok. Aku biasa-biasa saja.
Lalu kenapa?
Jangan-jangan kau sedang demam, ya?
Sudah kubilang, tak ada apa-apa!
Aduh. Sudahlah, masuk sini.
Biar kutebak, pasti kau punya ide bodoh lagi, ya?
Tohsaka, tadi kau dan Saber...
Apa?
Tidak, lupakan saja.
Oh ya, dengarkan aku dan jangan marah dulu, ya.
Aku ingin-
Kau ingin melawannya, 'kan?
Oh? Jadi, kau juga sudah menyadarinya, ya.
Musuh alami bagi Harta Mulia milik Gilgamesh adalah sihir milik Archer.
Masa, sih?
Ha? Sebentar!
Kau belum tahu soal itu, tapi sudah berani sok sarankan cara tadi?
Bukan begitu.
Firasatku mengatakan, aku punya kemungkinan menang lebih besar kalau melawannya.
Ya, firasatmu tak salah.
No comments yet. Be the first to leave one.