200 บรรทัดแรก
- Kau mau makan apa? - Yang enak.
- Yang enak? Hidangan Korea? - Kau harus lakukan.
- Hidangan Korea enak. - Benar.
- Hidangan Jepang? - Aku suka semua.
- Ya? Satai domba juga? - Perlahan.
- Buat penjagaan. - Tidak.
- Ayo. - Kita menangi.
EPISODE 3
Konsentrasilah!
Dia sudah berubah,
atau aku yang tak tahu?
Pacarmu bisa cukup tegas.
Dalam hal apa?
Dari cara bicaranya
dan auranya yang memancar. Dia selalu begitu?
Dia berusaha tak menunjukkannya, tapi harga dirinya tinggi.
Kau tak apa?
Jangan khawatir. Bukan pacarmu.
- Benar. - Dia menarik.
Kau terpana oleh Gi-seok setelah obrolan singkat?
Bukan Gi-seok. Maksudku, pria yang jatuh tadi.
Aku terus memandanginya.
Bukankah dia menarik?
Aku belum melihatnya dengan jelas.
Tak perlu. Dia menonjol.
Haruskah kugoda dia?
Kubilang, jaga sikap.
Aku belum lakukan apa-apa.
Jaga sikap agar tak mempermalukan Gi-seok.
Hei, kau tak apa?
- Ya. - Astaga, maaf.
Masih bisa main?
Harus. Agar menang.
Sebaiknya ke mana? Kau mau makan apa?
Aku mau makan banyak, tapi ada yang bilang sebaiknya tak bilang.
Kau tak tampak bisa diintimidasi.
Aku akan mandi. Putuskan kalian mau makan apa.
Baik.
- Senangnya. - Gi-seok.
Kita mau makan babi panggang.
- Aku harus... - Kami ikut kalian.
- Kau ini kenapa? - Apa?
Kalian boleh ikut kami.
Kau tak menyukainya?
Apa maksudmu?
Kita ikut mereka?
Mereka tak akan leluasa.
Kau ikut saja. Kami cari ide lain.
Astaga, tidak. Kami tak keberatan kalian ikut.
Hei, Ji-ho.
- Mari kita makan. - Apa?
Maaf soal tadi. Kakimu tak apa?
Ya, tak apa. Jangan khawatir.
Aku jadi merasa bersalah.
Benar. Soal itu, yang kuberi tahu kemarin.
- Apa? - Ingat? Soal itu.
- Pergilah. Kita bertemu di sana. - Baik.
Kalau begitu... Tunggu aku di mobil.
- Ya. - Kubuka kuncinya.
- Soal apa ini? - Astaga.
Memangnya kau masih remaja?
Jangan malu-malu.
Katamu akan berkencan lagi, 'kan?
Kau harus terbiasa berbaur dengan orang lebih dahulu.
Aku tak bilang tak ikut.
Hei, Ji-ho. Sikapmu aneh akhir-akhir ini.
Kukira Si-hun sudah pulang.
Dia sibuk.
Ayah tak keberatan setelah kami pergi?
Jangan dibahas.
Dia tampak kesal dan kecewa.
Ibu pura-pura tak sadar saja.
Ibu baru membuat semur iga, masih hangat.
Aku belum lapar. Kumakan nanti.
Kau punya masalah kesehatan?
Tidak, aku tak apa-apa.
Ibu tak perlu bawa obat ini.
Benar. Kau harus ambil satu.
Kau tampak tak bertenaga, jadi,...
Baik, akan kuminum nanti.
Ibu mau kopi?
Duduklah.
Kapan pun kau bersikap begini,
harusnya tak ibu izinkan Jeong-in dan Jae-in menikah.
Kau bukan tipe penyayang, tapi dahulu suka bercerita.
Sejak menikah kau berubah.
Aku akan kembali seperti dahulu.
Bicara itu memang mudah.
Soal Jeong-in...
Jangan sampai dia menikah.
- Selamanya? - Kenapa tidak?
Ibu berpikir menikah itu tak wajib, 'kan?
Ibu hidup bersama ayahmu selama 37 tahun terakhir.
Ibu kolot seperti ayah.
Kurasa itu lebih baik daripada tak pernah menikah.
Kenapa? Jeong-in sering mengeluh padamu?
Tidak, perasaanku saja.
Dia tak sepertiku.
Dia dan Ayah sering berseteru.
Dan Ibu akan tertekan karena harus memihak keduanya.
Kau sendiri lebih sulit.
Kau harus menghadapi segala macam hal dan menjadi contoh bagi adikmu.
Semua tak lancar bagimu.
Bahkan pernikahanmu...
Ibu urus saja Jeong-in.
Dia tak mendengarkan ibu.
Dia begitu keras kepala.
Dia memang spesial.
Setidaknya ada yang jujur.
Benar.
Aku boleh bicara?
Terima kasih sudah mengundangku. Aku sungguh senang.
Aku tahu kalian jauh lebih muda daripadaku,
tapi aku akan berusaha keras sebagai yang lebih tua.
Akan kulakukan yang terbaik.
Terima kasih, Semuanya!
- Terima kasih! - Sama-sama.
- Bagus! - Mari rayakan.
Usaha bagus, Semuanya.
- Kau juga. - Minumlah.
Aku cukup senang.
Permainanku bagus?
Kau butuh banyak berlatih.
Urus urusanmu sendiri.
Serius, Bung. Kau butuh pelatihan khusus.
- Kau terus... - Aku tak cakap...
Kenapa hanya aku?
- Setengah jam sehari mulai besok. - Setengah jam?
Makan banyak agar kau kuat.
Benar, kau tahu itu. Lalu kenapa makan sedikit?
Di TK?
Ada orang di dalam.
Apa katamu, Eun-u?
Ayah tak dengar tadi. Katakan lagi.
Hari ini ayah tak bisa.
Kita bertemu tiga hari lagi.
Baik. Dua hari, kalau begitu.
Minum?
Ayah tak minum.
Sungguh.
Ayah tak bohong.
Ayah tak boleh minum segelas?
Baiklah.
Kenapa masih di sini?
Aku baru selesai menelepon.
Eun-u itu nama anakmu?
Aku tak sengaja dengar.
Kau pandai berbohong.
Kau memang minum.
Dia tak suka saat aku minum. Sebab itulah aku...
Aku benci berbohong.
Masuklah lebih dahulu.
Jika masuk bersama, kita harus berbohong.
Kita baru saja dari toilet.
Baiklah. Lakukan sesukamu.
- Seharusnya aku tak datang. - Kau diundang.
Makanlah.
- Ada daging lagi. - Sampai jumpa!
Ya, aku sudah makan. Makanlah.
- Sedang apa kau? - Ada yang meneleponku.
Aku memanggil calon PNS kelaparan ini agar bisa makan daging.
Syukurlah dia diajak.
- Semoga tak apa aku kemari. - Jangan khawatir.
Jangan khawatir. Aku pun cuma ikut.
- Kita bersulang-sulangan? - Menyulang.
- Menyulang. - Menyulang.
- Senang bisa bertemu. - Senang bisa bertemu. Selamat datang.
- Kau mau ikut tes PNS, ya? - Benar.
Dan pria itu...
Maksudmu, dia? Sudah kubilang, aku kerja bersama Gi-seok.
- Benar juga. - Sungguh?
Kau kerja di bank. Kau digaji untuk sentuh uang.
- Jangan minum lagi. - Kenapa tidak?
Lalu kau? Apa pekerjaanmu?
Begini, aku...
Waktunya kuis. Aku punya kuis.
Menurutmu, apa pekerjaannya?
Semuanya, diam. Jangan bilang apa-apa.
Tebaklah.
Dia tak akan bisa menebak. Dia tahu dari mana?
Pasti pekerjaannya aneh.
- Menurutmu apa? - Apa, ya?
Jeong-in, menurutmu apa?
Mana kutahu?
Astaga.
Boleh minta petunjuk?
Pengobatan.
- Aku tersedak. - Kau tak apa?
- Dokter, ya? - Mirip.
Apa yang mirip dokter?
- Pikirkan bajunya. - Apa?
Jubahnya.
Jubahnya?
Apa? Kau tahu, ya?
Ya?
- Aku tak sengaja dengar. - Sudah kuduga.
Ya, tadi kubilang aku apoteker.
- Astaga. - Perusak suasana.
Tak heran dia tampak cerdas.
Kau apoteker.
No comments yet. Be the first to leave one.