156 บรรทัดแรก
Oke, sekian rapat perangnya.
Aku dan Ayako akan meminjam pasukan bantuan dari desa di kaki gunung.
Ya.
Lalu, Genba, segera kembali ke Kuil Suwa dan minta bantuan.
Pergi dari medan perang! Enggak jadi mati!
Sialan!
Anak-anak, tolong bantu juga.
Sebelum musuh menyerang, aku ingin memasang perangkap sebanyak mungkin.
Serahkan pada kami!
Begitu perang dimulai, kami akan membawa anak-anak ke tempat aman.
Butuh pengawal, ya? Biar aku yang mengawal.
Tuan Fubuki.
Bisa bicara sebentar?
Begitu, ya. Menakjubkan sekali kaburnya.
Kalau begitu, serang dari situ!
Saya sudah paham. Serangannya keroco sekali, ya.
Karena itu Anda meminta saya mengajari ilmu pedang untuk membunuh musuh
dengan kemampuan sekelas itu.
Menyakitkan sekali rangkumannya selesai dalam sekali santap makan!
Kau pandai sekali mengajari.
Rapat perang tadi mudah dimengerti dan kau tampak tahu banyak soal ilmu pedang.
Aku mohon, aku tidak mau terus dilindungi.
Nama Anda Tuan Chojumaru, 'kan?
Kakaknya Shizuku?
Ya.
Itu panggilan untuk keakraban saja.
Para pengikut Anda juga tampak akrab dan setia pada Anda.
Apakah Anda orang berstatus tinggi?
Tidak, orang tuaku samurai dari Suwa dan sudah mati karena kebakaran.
Aku tidak punya saudara, jadi aku dipungut Kuil Suwa.
Lihat, aku juga tidak pernah ikut latihan bela diri.
Yatim?
Perhatiannya ke anak-anak adalah kebaikan karena latar belakang yang sama?
Tidak ada yang menonjol selain kaburnya,
tapi kehangatan yang tak sesuai di zaman perang ini adalah senjata besar.
Ada, kok.
Ilmu pedang rahasia yang cocok untuk Anda.
Su-Sungguh?
Saya pikir tidak ada yang bisa memakai teknik ini...
Anda pasti bisa langsung menguasainya.
Menurut saya, ini pedang paling baik, pengasih, dan keji di dunia ini.
Mari beri nama "Pedang Buddha Iblis".
Pedang Buddha Iblis?
Tapi teknik ini cuma bisa dipakai untuk satu lawan satu.
Ah.
Tidak, kalau begitu, mending seperti itu...
Sempurna.
Tuan Chojumaru.
Ya!
Kemungkinan pasukan utama musuh akan menyerang besok.
Anda harus membunuh pemimpin musuh.
Ya!
Pasukan bantuan yang dipanggil Shizuku
dan kehebatan kabur Anda.
Itulah peluang menang yang diberikan langit!
Bagus. Kita sudah selesai mengepung dari dua arah.
Tuan.
Kenapa kita tidak menyerang dari pintu masuk, tapi malah dari dalam gunung?
Penyerang tidak kembali sampai tiga kali,
artinya ada banyak penyergap dan perangkap di jalan yang mudah dilewati.
Lebih aman menyerang mendadak dengan susah payah lewat area tanpa jalan.
Tuan memang hebat! Wawasannya luas!
Penjahat yang mengacau di zaman ini adalah samurai yang kehilangan tanahnya
dan menjadi bandit untuk membangun surga yang merdeka.
Mereka punya pengalaman tempur, keterampilan taktis, dan organisasi.
Mereka bukan tandingan bandit biasa.
Menggunakan pikiran dan tubuh yang telah dilatih sebagai samurai,
lalu merenggut dengan ekstrem.
Sungguh perjamuan penjahat yang manis.
Bunuh orang dewasa, anak-anak jadikan budak.
Ayo rayakan dengan anggur jarahan yang lezat.
Ayo pergi.
Apa?
Penyergap di puncak gunung?
Bedebah! Akan kudaki gunung itu dan kubunuh kalian!
Jangan. Itu yang mereka incar.
Saat pasukan berbalik dan mendaki, mereka akan menjadi sasaran empuk pemanah.
Itu taktik yang dipakai pasukan kecil untuk mengalahkan pasukan besar.
Abaikan dan terus maju.
Taktik itu sama saja dengan mengakui kekuatan pasukan mereka.
Musuh sedikit. Dengan menguasai desa, perang akan berakhir.
Nah...
Waktunya perang.
Es? Dilihat dari jauh cuma dataran biasa...
Seluruh areanya membeku.
Aku menyumbat saluran air dan membuat area sekitar desa basah kuyup.
Musim dingin ekstrem yang membekukan Danau Suwa.
Perangkap es selesai hanya dalam semalam.
Apa yang kau lakukan? Cepat maju!
Tidak bisa!
Pemanah dari puncak gunung juga turun!
Gawat! Kita terjepit dan jadi sasaran empuk!
Ada jalan. Cepat pergi.
Ba-Baik!
Kali ini jebakan lubang. Lagi dan lagi.
Perangkap buatan anak-anak berfungsi sesuai rencana.
Dasar pencuri!
Berani-beraninya menginjakkan kaki di tanah sekutu Suwa pemberian Dewa Myojin!
Pasukan Suwa yang dikumpulkan Shizuku memang sedikit, tapi bisa diandalkan.
Pindah ke sana dan blokir jalannya!
Kita juga bisa menahan serangan musuh dari dua sisi.
Tidaklah mustahil membinasakan mereka di sini.
Jika musuh...
cuma prajurit biasa.
Jangan bantu kawan di belakang.
Akurasi tembakan panah di malam hari takkan cukup memusnahkan kita.
Kita justru bisa menarik perhatian semua pasukan musuh.
Baik.
Pertama, ayo bunuh para pemanah yang memimpin pemanah lain.
Jika komando hilang, semua pasukan akan runtuh.
Takkan kubiarkan!
Dengan tenang melewati perangkap es dan lubang,
lalu mengalahkan pasukan penjaga sekali serang.
Empat orang itu luar biasa kuat.
Terutama pria itu yang bisa melihat seluruh kondisi medan tempur.
Tidak salah lagi dia jenderal perangnya.
Oi, bagaimana ini, Fubuki?
Kita harus menghentikan empat orang itu.
Tidak, kalian sudah kewalahan.
Jika kita mengurangi orang, garis pertahanan akan runtuh.
Lalu bagaimana?
Soal ini...
biar diurus kami anak-anak.
Mataku!
Incaranku kepala jenderal botak itu!
Aku akan menghentikan pedangnya, kamu yang habisi dia!
Bodoh! Cara menyerang itu berbahaya!
Sialan!
Cih.
Lo, anak-anak?
Apa ini pertama kalinya kalian melawan prajurit dengan baju zirah lengkap?
Berisik!
Ilmu pedang prajurit berzirah sangat berbeda dari pemahaman modern.
Karena wajah terlindungi helm, tubuh terlindungi zirah,
dan lengan terlindungi pelindung tangan.
Yang perlu diperhatikan cuma sedikit celah antara zirah.
Kena!
Sudah selesai, Anak-anak?
Tenang, Om takkan membunuh anak-anak.
Aku cuma cabut gigi dan lidah kalian dengan hati-hati,
lalu kupotong kaki kanan dengan lembut untuk kujadikan budak.
Aku takkan lakukan apa pun selain itu.
Biadab!
Iblis tak bermoral!
Ah, jangan takut!
Harga kalian bisa sampai tiga kanmon.
Apa kalian tidak mau jadi tiga kanmon?
Tolong lari setelah memastikan ayunan pedang jenderal musuh.
Jika bisa kalian hindari, pancing ke rumah itu.
Apa ini?
Tuan Muda, kami akan pergi. Jangan sampai mati!
Ya, terima kasih.
Apa Tuan Muda tidak apa-apa ditinggal sendiri?
Bukankah lebih baik kita bertiga melawannya?
Kita tidak bisa mengerahkan tiga orang hanya untuk melawan satu orang sekarang.
Selain itu, menurut rencana Fubuki,
No comments yet. Be the first to leave one.