200 บรรทัดแรก
Guru bilang padaku, He Anxia, bertarunglah dengan murid2ku.
Biksu muda He Anxia bertumbuh dalam waktu yang sulit
Di Kuil tak bisa memberi makan pada semua biksu.
Lewat pertarungan akan diputuskan siapa yang akan tinggal.
Guru, aku menang.
Dia berpikiran, dia menang punya hak untuk tinggal, ternyata salah.
Kau menang.
Kau memiliki bakat.
Berkemaslah.
Kau bisa cari makan sendiri. / Huh?
Jika kau tidak pergi, kau tak akan pernah menemukan jalan pulang.
Ada dunia lain di luar sana.
Kau akan bertemu orang2 kudus dan orang2 berdosa
Bersikap sopan dan bekerja keraslah..
Berlatihlah kungfumu, jangan biarkan masalah menakutimu.
Aku tak akan.
Ingatlah, beberapa akan melakukan apasaja untuk berhasil
Tetapi pendekar tetap benar pada dirinya sendiri.
Aku mengerti.
Ayo, ini untukmu.
Untuk apa itu?
He Anxia tidak tahu apa2,
Dia tak pernah melihat uang sebelumnya, tapi tendangan itu membuatnya lapar.
Dan secepatnya dia kelaparan.
Daging kepala babi. Cicipilah.
Daging kepala babi. Cicipilah.
- Tolong satu lagi. - Ini dia, untukmu.
Hei, berhenti.
- Apa kau bicara denganku? - Aku mau daging ayam itu.
Kau harusnya minta. Aku belikan kamu satu.
- Ini untuk seseorang. - Berikan padaku.
- Tidak. - Kalau begitu, pinjam.
Hei!
Kau pencuri kecil!
Kau pencuri kecil!
Jangan lari!
Berhenti disana!
Berhenti!
Akan kutangkap kau!
Tolong!
Salahku sendiri...
Kenapa tidak kuberikan saja itu padamu?
Terima kasih telah menyelamatkanku.
- Sama-sama. - Siapa namamu?
Tak punya nama, kepala biarawan menamaiku, "He Anxia", salahku karena mencuri.
Lalu, mengapa kau menjadi biksu?
Tanyalah keluargaku, kenapa membuang bayi ke kuil?
Kepala biarawan itu, dia menyelamatkan nyawaku.
Keluargamu pasti dalam masalah.
Aku tak membenci mereka, mereka hanya orang tua yang kupunya.
Tapi, aku ingin tahu ulang tahunku.
Orang lain juga punya.
Kalau begitu, hari ini, hari ulang tahunmu.
Dimalam pertama keluar dan makan seperti Raja. Bukankah itu seperti ulang tahun?
Paman, terima kasih atas daging ayamnya.
Dimana kau akan tidur?
Dimanapun aku bisa.
Aku bahkan tidak tahu namamu.
- Aku Tuan Tsui. - Oh.
Kau mau cukup makan setiap harinya? / Tentu.
- Kau punya utang? - Tak pernah dapatkan uang.
Ada janji yang tidak ditepati?
Aku berjanji mencari makan sendiri. Belum cukup sampai kesana.
Apa kau benar2 yatim piatu? / Kau mau aku memanggilmu ayah? Ayah.
Panggil aku Boss.
Toko Obat Dao Ning.
Lewat sini.
Ayo.
- Tempat apaan ini? - Toko Obat.
Di depan toko, di belakang rumah. Ini pusakaku.
- Kau penjual ramuan obat? - Aku seorang dokter
Pengobatan Barat. Dan ahli bedah. / Oh.
Itu istriku.
Ah, datang, datang.
Kau sudah pulang!
Siapa yang mengantarmu pulang? / Daorong
Jadi saudaraku pergi juga ke opera.
Kau tidak mau pergi.
Kau yang tak mau aku pergi. Bagaimana?
Bagus sekali.
Dimana daging ayam itu? Aku kelaparan. / Oh, maaf.
Aku.... / Kau lupa? / Aku yang memakannya.
Siapa ini?
Ia biksu yang meninggalkan kuil. Aku membawanya pulang.
Kau harusnya tanya aku dulu.
Ini terjadi begitu saja.
Lagipula, aku sangat sibuk. Aku perlu bantuan.
Seperti yang kau harapkan.
Guru, aku punya rumah yang baru.
Aku hanya ingin kau tahu.
Berapa banyak ini yang kau bisa makan?
Baiklah, pelan2 makannya, ada bubur juga.
Ini..
Terima kasih.
Untuk pertama kalinya, dia cukup untuk makan.
Dan menyukai rumah, hidupnya berubah menjadi lebih baik.
Bangun!
- Anxia! - Segera datang.
Hentikan!
Aku tidak menyembuh kebutaan. Hanya memberi dia lipatan kelopak mata.
- Apa aku cantik? - Sangat.
Kecantikan yang sebenarnya adalah kulit yang dalam.
Dasar brengsek.
Dokter Tsui, kami kemari. jangan nangis.
Gunting saja cepat.
Shhh! / Jangan nangis, anak pintar.
Anxia, alihkan perhatiannya.
Guru, bedah yang kau lakukan lihai.
Pastinya membuat dompet2 mereka terbuka lebar.
Kau juga membantu.
Guru, ajari aku keterampilanmu.
Aku mau menjadi anak dari kalian berdua. / Baik.
Setengah dari uang itu pergilah beli tas.
Kita akan pergi menemui adikku. / Baiklah.
Wow, Dokter Tsui sendiri!
Aku sudah kirim ke rumah, kau tahu itu.
Aku benci, kau keluar seperti ini.
Aku mau melihat bagaimana kabarmu! / Itu saja? / Hitunglah.
Jika kau tidak membeli, mengapa ada uang tunai?
Kau pikir, aku ini badan amal?
Ini permainan orang asing.
- Cobalah. - Tak tahu caranya.
Ayolah.
Daorong, tunjukkan rasa hormatmu.
Kalau begitu, mau bermain, kakak?
Baiklah, aku akan terima ini.
Ini zat perangsang nafsu birahimu. Kita lunas.
Kenapa bicara padaku seperti itu?
Kita ini saudara, apa yang milikku jadi milikmu.
Bekerja keraslah, kau akan lakukan dengan baik.
Mengapa jadi budak pekerjaan?
Tak ada tujuan hidup, jika kau tak bisa bersenang2
Ngomong2, bisnis tidak baik, jadi aku menjual toko.
Kau apa?
Demi permata yang pernah dimiliki kaisar,
Sekarang aku merasa diriku sendiri seperti Kaisar.
Rumah leluhur kita? Tanpa bertanya padaku?
Kau menyerahkan kondisi biksumu untuk wanita.
Kau tanya siapa?
Hei, tunggu! Panahku!
Guru!
Guru, kau tak apa-apa?
Mungkin Daorong benar.
Kerja keras membuatmu tidak dimanapun.
Kuberitahu padamu rahasia,
Aku pernah sepertimu, Biksu di kuil pegunungan.
Sendirian ditengah2 jatuhnya daun bunga..
Terbang melayang dua per dua.
Aku menukar 100 tahun hidup demi 1 malam kenikmatan.
Apanya yang lucu?
Kau tahu apa tentang seks?
Itu seperti melompat dari tebing.
Benar itu.
Aku akan mengajarimu kungfu Meridian.
Kepala Biara bilang, bisa menyembuhkan gairah.
Aku pernah tahu itu, tapi aku sendiri yang lupa
Kenapa? / Pikirkan, Pria hidup selama 17 tahun,
10 tahun sebagai anak kecil, 10 tahun sebagai orang tua.
Lewat 50 tahun, setengah dari itu adalah malam.
Lewat 25 tahun,
Pertimbangkan cuaca buruk, sakit dan malapetaka,
Berapa banyak waktu tersisa untuk senang2?
Lupakanlah.
Aku akan tetap dengan gairah.
Guru, bagaimana aku harus menjalani hidupku?
Tak ada yang bisa memberitahumu itu.
Aku butuh plester lagi.
Kau mengeras seperti katak, kau tak pernah cukup.
Karena dirimu.
Zat nafsu birahi Daorong tidak terlalu berlebihan.
Aku membeli semuanya sebagai bentuk amal.
Setelah ini semua, kalian bersaudara.
Aku selalu mendukungnya.
Dan dia masih menjual toko untuk sebuah cincin.
Kali ini, dia bisa berakhir hidup di jalanan.
Dia tak akan dapat satu senpun.
- Ayo kembali tidur! - Kau akan bunuh diri.
Kemarilah.
Aku punya cukup uang untuk beberapa waktu.
Guru, dimana nyonya? Makan siang sudah siap.
Kurasa, dia membeli bunga. Oh, ambilkan aku zat itu lagi.
Nyonya!
Dapat plesternya? / Paman Daorong tidak ada disana.
Kecantikan mengelilingiku.
Dimanapun aku berkeliaran.
Namun kesenangan tetap tinggal.
Di dalam rumahku sendiri.
Dia bilang, plesternya tidak berfungsi.
Karena kau adalah milikku.
Kau bisa berakhir jadi gelandangan.
Dia akan memotong tunjanganmu.
Dia serius kali ini.
Pastinya. Dia selalu menjadi pecundang.
Dia dulunya sering di olok.
Kau lihat, betapa baiknya dia.
Dan mengambil keuntungan darinya.
Nona, kaulah yang mengambil keuntungan.
Kulihat dirimu keluar.
Guru..
Adikmu tidur dengan nyonya... Guru!
No comments yet. Be the first to leave one.