200 บรรทัดแรก
Diterjemahkan Oleh: Rafli Khan Bengkulu, 8 November 2019
Lagu Woh Din & Fikar Not Diterjemahkan Oleh: ~o0o~ Ackiel Khan ~o0o~
Lagu Khairiyat diterjemahkan oleh: Ardhyan Devtara
Tengah malam begini cuma pakai celana dalam, mau apa kau?
Menemuimu, Sayang.
Memuaskan hasratku.
Perang ember?/ Sudah lama sekali, Kawan.
Itulah yang kupikirkan.
Mana mungkin aku semalaman menghapal fisika kuantum.
Siapa target pertama kita?
Target pertama jangan yang terlalu lemah atau gampang menyerah.
Melainkan harus yang agresif membalas.
Ketemu target kita.
Di mana?
Di sini.
Berengsek!
Kau telah membangunkan macan yang tertidur!
Ada apa sih?
Perang ember!
Ya ampun!
Siram dia!
Bro, seru sekali, bukan?/ Tidak.
Ayo ke H3.
Katanya kalau anjing basah kuyup, mereka mudah sekali emosi.
Semuanya!
H3...
Serang!
Siapa?
Pacarmu yang hamil duluan.
Bedebah kau!
Mau basah sendirian atau sekalian kamarmu juga?
Dengar, Anni.../ Shhh...
Pegang dia kuat-kuat!
Oh yeah!
Keluarkan tenagamu!/ Oh yeah!
Hajar dia!/ Oh yeah!
Serang sekarang!/ Oh yeah!
Dasar pengecut.
Dasar para pecundang.
Bapakmu itu yang pecundang!
"Perjalanan kenangan ini akan dilanjutkan dengan lagu-lagu tahun '90-an."
"Aku temanmu...
Hari ini pulang larut sekali?
Mau kusiapkan makan?
Raghav sudah makan?/ Belum.
Sejak dia mengerjakan ujian masuk...
...rasa takut akan hasilnya membuatnya galau.
Di mana dia?
Siapkan dia makan.
Kau sudah tidur?
Iya kalau kau biarkan ku tidur.
Ada yang mau kupastikan. Janji, ini yang terakhir.
Itu lagi.
"Yang mana yang lebih sulit, ujian masuk kali ini atau tahun lalu?"
"Siapa yang bisa kerjakan matematika, cuma kau atau semua orang?"
"Siapa yang tak bisa kerjakan fisika, cuma kau atau semua orang?"
Itu yang mau kau ketahui, bukan?
Maaf, Kawan. Aku hanya sedikit cemas.
Lalu kenapa cemas sendirian?
Bangunkan Sooraj juga.
Ya, Raghav?
Kau sudah tidur?
Belum, aku baru saja mandi air panas.
Ada apa.
Raghav mencemaskan hasilnya.
Lakukan sesuatu, bhai.
Kutahu kami teman yang bisa ditelepon kapan saja...
Tapi kali ini tidak ada faedahnya bagi pertemanan kita.
Ibarat anak panah sudah ditembakkan.
Hasilnya akan keluar beberapa hari lagi.
Nanti kita tahu siapa yang mengenai target dan siapa yang meleset.
Tolong tidurlah. Dan biarkan kami tidur juga.
Ada apa, Master?
Nikmatilah makanan lezat selagi sempat.
Maaf, Ayah./ Buat apa minta maaf.
Nanti kau akan tinggal di asrama.
Kau tahu rasanya makanan asrama?
Kemungkinan muntah lebih besar daripada mencernanya dengan baik.
Aku bisa tahan soal itu, Ayah.
Aku hanya ingin lolos seleksi.
Tentu saja kau akan lolos.
Kau sudah belajar dengan giat.
Kau sudah kerjakan semampumu.
Tak perlu cemas.
Ayah tak cemas?
Kenapa juga Ayah cemas?
Dulu Ayah 'kan genius.
Ayah peringkat 384 se-India.
Aku bisa gila kalau di atas 2000.
Dalam dua bulan terakhir, kepalamu terus mengkhawatirkan ini semua.
Mending cari pacar saja.
Tahu kalau di kampus teknik perempuan itu langka?
Ayah jumpa Ibu di sana, 'kan?/ Ayah jumpa Ibu katamu!
Tidak semua orang seberuntung Ayahmu.
Mengerti? Ayo, makanlah.
Hari ini Ayah sendiri yang mengantarku ke rumah Ibu.
Mengapa repot-repot seperti ini?
Tadinya kupikir aku harus bersamamu lebih lama lagi.
Beberapa hari lagi kau tinggal di asrama...
...dan hari ini kau rindu masakan Ibu.
Jangan bilang begitu.
Aku memang ingin menemuinya.
Ayah tahu semuanya. Kau ke sana cuma mau makan.
Terserahlah.
Ayah tahu kelakuanmu.
Dua susu kocok sudah cukup untuk menyuap orang asrama.
Beri tahu aku kalau Ayah tahu rencana yang lebih baik.
Aku tidak akan pergi.
Ayah sudah memegang rencana yang terbaik...
...kau pun tahu itu.
Tapi pergi saja, kemalangan menunggu dirimu.
Kemalangan! Ya!
Meski sudah bercerai, tapi masih ada sesuatu di antara kalian berdua.
Ya dirimu!
Paling tidak sapalah dia.
Tidak, Nak. Kau saja sana.
Dengar, kalau dia masak sesuatu yang enak, bungkuskan buatku.
Sana.
Makan yang kenyang.
Hasilnya akan keluar sebentar lagi.
Ya, terus?
Bagaimana menurut Ibu?
Bisakah aku lolos?
Bagi Ibu, bukan masalah besar kalau pun kau tak lolos.
Kata Ayah aku pasti lolos.
Dasar Aniruddh.
Jangan merasa tertekan karena ucapan Ayah. Mengerti?
Ayah tidak menekanku.
Ibu tahu banget dia bagaimana.
Maka Ibu pasti tahu Ayah sangat suka Okra, bukan?
Ya, sudah Ibu buatkan lebih.
Aku cinta Ibu!
Dasar budaknya ayah!
Selalu saja main ponsel!
Apa kabar, Jagoan?/ Baik saja.
Ini untuk Ayah.
Lupakan ini.
Lihat yang Ayah bawa untukmu.
Pada hari kau dapatkan hasilmu...
...hari itu juga ayah dan anak merayakannya.
Kita habiskan.
Kini baru Ayah menekanku.
Nak! Ini tidak menambah, tapi melepas semua tekanan!
Setelah kau pergi, hanya kenangan tentangmu saja yang Ayah miliki.
Semua akan baik-baik saja.
Sudahlah.
Boo!
Kal Ki Hi Baat Hai Rasanya baru kemarin
Kal Ki Hi Baat Hai Rasanya baru kemarin
Baahon Mein Pehli Baar Aaya Tha Tu Kau memelukku untuk pertama kali
Jinse Anjaan Tha Woh Saare Jazbaat Laaya Tha Tu Kau hadirkan perasaan yang tak kusadari sebelumnya
Muskaano Mein Teri Lipti Thi Saugatein Senyumanmu terbalut indah keberkahan
Bagaimana?
Honthon Pe Khamoshi Aankhon Mein Hazar Baatein Bibirmu bungkam, tapi ribuan kata ada di dalam matamu
Veerane Mein Bahaar Laaya Tha Tu Kau bawakan hujan di gersangnya hidupku
Baahon Mein Pehli Baar Aaya Tha Tu Kau memelukku untuk pertama kali
Kal Ki Hi Baat Hai Rasanya baru kemarin
Enak sekali.
Kal Ki Hi Baat Hai Rasanya baru kemarin
Kal Ki Hi Baat Hai Rasanya baru kemarin
Ada apa? Kenapa tegang sekali?
Kau saja yang lihat.
Kau itu jagoan! Tenanglah!
Ada apa?
Tapi kau lancar mengerjakannya.
Aku sungguh khawatir, Aniruddh.
Aku baru saja bicara dengan Raghav.
Dia tak henti menangis.
Sudah kucoba membuatnya mengerti.
Dia memang tak mau mendengar.
Semua kulakukan.
Semua kukorbankan. 18 jam sehari aku belajar.
Masih saja gagal.
Jika bukan tahun ini, pasti tahun depan.
Tidak setiap orang sekali coba langsung lolos.
Mengapa kau anggap semuanya sepele?
Mengapa kau anggap semuanya serius?
Si Satish itu, dia selalu tertinggal pelajaran.
Malah dia yang lolos.
Aku pasti ditertawakan orang-orang.
Raghav...
Mau kutaruh di mana muka ini depan orangtuaku?
Aku mau menemuinya. Kapan kau bisa datang?
Ada satu rapat lagi, tepat sesudah rapat itu.
Rapat saja terus!
Ibu peringkat atas, Ayah juga.
Anaknya pecundang.
Raghav, tenanglah.
Kau tidak mengerti.
Seumur hidup aku akan membawa 'julukan pecundang' ini.
Kini kau terlalu berlebihan.
Tidak.
Semua sudah berakhir.
Semua sudah berakhir!
Raghav!
Raghav!
Kemudian kita harus mengukurnya secara jelas.
Jadi kita pastikan...
Tunggu sebentar.
Nak, Ayah lagi rapat. Nanti saja.
No comments yet. Be the first to leave one.