155 บรรทัดแรก
Barusan itu mimpi, 'kan?
seluruh hatiku serasa dibakar habis
kokoro wo zenbu yakitsukutsu youna
ZainuddinAri
mempersembahkan
kala keputusasaan ada di sampingku
zetsubou no tonari de
kau yang selalu ada 'tuk lebur semua lara
itsudatte kimi ha subete tokasu youni
menemaniku dengan senyummu
waraekaketekureteta
suara yang begitu sayu
kakukesareta koe
membuat kata-kata tak tersampaikan
todokenai kotoba
dan hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya
mata tsumazuki sou ni naru tabi ni
ku 'kan selalu bergantung padamu
nandomo shigamitsuita
bentangan masa depan nan putih bersih
shiroku shiroku masshiro na mirai ga
adalah satu-satunya harapan kita
tatta hitotsu bokutachi no kibou
saat ini ku berada dalam awan kegelapan
ima no boku ni ha yami kumo na
yang tak pernah rasakan adanya ketenangan
kono kimochi shikanai kedo
namun hari nan indah tidaklah hanya satu
seikai nante hitotsu janai
karenanya, ku terus cari masa depanku sendiri
boku dake no asu wo sagashiteru zutto
Hari Musim Dingin, di Mana Hati Berada
Apa hari ini, kau sedikit menahan diri?
Tidak.
Tapi, kalau dibandingkan sama kemarin, sekarang sih, tak ada apa-apanya.
Itu karena kemampuanmu sudah meningkat.
Masa, sih?
Terlebih, kuda-kuda dan gerakanmu, sangatlah efektif.
Begitu, ya?
Padahal, aku hanya meniru gerakan orang itu saja.
Jadi, kau bukan gunakan teknikku sebagai dasar gerakanmu,
tapi, tekniknya Archer, ya?
Ternyata, kau bisa menebaknya, ya?
Tentu saja.
Lagi pula, dari awal kau tak punya dasar cara berkuda-kuda.
Maaf, tapi, ini bukan berarti aku tak mau belajar darimu, Saber.
Soalnya, kemarin aku selalu bersamanya, jadi, dia terbayang terus di pikiranku.
Kau tak perlu minta maaf.
Kalau memang gaya bertarung Archer lebih cocok untukmu,
aku tak punya hak untuk memprotesnya.
Lo? Saber?
Selamat pagi.
Yo, jarang-jarang kau telat begini.
Tadi, bu Fujimura panik banget, lo.
Akhirnya, kau tunjukkan diri juga.
Shinji.
Sekarang kau sudah di atas angin, dan bisa sok-sokan, begitu?
Tapi, syukurlah kau datang.
Soalnya, kalau kau tak ada, pasti semakin membosankan, deh.
Kenapa? Apa kalian tak jajan ke kantin?
Jelas mau, tapi, coba lihat saja sendiri di sana itu.
Tak salah lagi.
Sambil malu-malu, cewek itu mengintip ke dalam kelas, dengan sok beraninya.
Kesannya sih, bukan "dia yang kutunggu tak datang-datang",
tapi, "dia yang kutunggu malah tak sadar".
Kelihatannya dia mulai tak sabar, mirip orang yang menaruh hadiah ulang tahun di pos surat,
tapi, setelah setahun, si penerima tetap tak menyadarinya.
Sebenarnya, kau mau ke mana, Tohsaka?
Sudah jelas sekarang jam istirahat, jadi, aku mau makan bekalku.
Oh, begitu.
Semoga dapat tempat yang bagus, deh.
Soalnya, aku mau makan di ruang OSIS.
Tu-Tunggu dulu!
Kenapa? Apa kau lupa bawa uang jajan?
Atau, aku bisa bagi bekalku-
Mana mungkin, lah! Dasar otak batu!
Kalau kau duduk di sana, bisa-bisa kena angin.
Maaf.
Itu lo, tentang kejadian kemarin.
Setelah itu, aku gunakan Mantra Perintah pada Archer,
dan selama kita masih jalin kerja sama,
aku memerintahkannya untuk tak menyerangmu.
Aku tahu, itu tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi, maafkan aku.
Kau tak perlu minta maaf atas kejadian itu, kok.
Tapi, akulah yang bertanggung jawab, karena sudah membebaskannya bertindak.
Ya sudah.
Kalau memang itu maumu, aku bisa mengerti, kok.
Lagian, aku juga salah, kok.
Seandainya dia tak ada di sana, aku pasti sudah...
Jadi, anggap saja impas, ya.
Ya.
Lalu, sekarang ada di mana Si Archer?
Dia kusuruh jaga rumah.
Oh.
Duh, jam istirahat sudah selesai lagi!
Temani aku sebentar, dong.
Tak apa-apa 'kan, kalau sesekali kita membolos?
Kenapa kau bersikeras menguasai sihir penguatan?
Aku sudah coba tipe sihir lain, tapi, hanya itu saja yang bisa.
Kalau aku, mampu simpan kekuatan dalam jumlah tertentu, mengubah alirannya,
mengonversikannya, dan juga menyimpannya ke dalam objek lain.
Yakin nih, dibocorkan padaku begitu?
Tak adil rasanya, kalau hanya aku yang merahasiakannya.
Kemarin aku sudah memperlihatkannya padamu, kalau inilah pusaka sihirku.
Di dalam keluarga Tohsaka, kami turunkan kemampuan sihir konversi.
Khususnya dalam hal pindahkan kekuatan, baik itu untuk diri sendiri maupun orang lain.
Apa kau tahu, kalau Matou adalah keluarga penyihir?
Tentu.
Tapi, ayahku bilang kalau mereka sudah tak lagi turunkan generasi penyihir.
Tunggu sebentar!
Jadi, kau sudah tahu kalau Shinji juga seorang Master?
Maaf, aku juga baru tahu pagi ini, kok.
Tapi, aku menggolongkannya sebagai orang yang tak layak jadi seorang Master.
Lalu, apa yang akan kaulakukan padanya?
Mau menyerangnya langsung?
Bukan berarti, hanya karena dia itu Master, aku langsung menyerangnya begitu saja.
Tapi, kau sendiri langsung mengincarku.
Habisnya, kau tak serius menanggapi perang ini, sih.
Jadi, itu pengecualian!
Pokoknya, musuh kita adalah Master yang sembunyi di sekolah ini.
Untuk sekarang, kita fokus cari tahu tentangnya.
Berarti maksudmu, di sekolah kita ini, ada empat orang Master?
Memang begitu, 'kan?
Soalnya, Shinji sama sekali tak punya kekuatan sebagai seorang Master.
Aku sudah mengingatkannya untuk jangan banyak tingkah,
jadi, dia tak mungkin macam-macam.
Sebentar, Tohsaka.
Tolong ceritakan hal yang tadi dengan detail.
Shinji duluanlah yang mengajakku bicara.
Katanya, "Karena kita ini sama-sama Master, jadi, ayo bekerja sama."
Tentu saja langsung kutolak, tapi, dia tetap keras kepala.
Akhirnya aku bilang begini,
"Maaf saja, aku sudah punya Emiya, jadi, kau tak kubutuhkan."
Biar tahu rasa dia.
Jadi, karena itu tingkahnya jadi aneh.
Lalu, apa rencanamu selanjutnya, Tohsaka?
Shinji memang bukan penyihir tulen,
tapi, dialah yang bertanggung jawab atas medan sihir itu.
Jangan-jangan, kau tak tahu, ya?
Gawat.
Kalau kita ceroboh, bisa-bisa Shinji...
Memang beginilah seharusnya!
Ini baru namanya Servant tulen!
Ada apa ini?
Kau harus tetap meregenarasi Mana dalam tubuhmu, Emiya.
Sakura!
Tu-
Dia masih bernapas.
Kita masih belum terlambat untuk menyelamatkannya.
Pokoknya, kita harus temukan Shinji dan hapus medan sihirnya.
Emiya!
Makhluk apa mereka?
Golem.
Salah satu tipe bidak sihir!
Aku akan panggil Saber.
No comments yet. Be the first to leave one.