194 บรรทัดแรก
Sip.
Aku mau
ajak Isla kencan!
Pagi!
Aku mau omong sebentar. Kau ada waktu?
Lo?
Ini semua kaucuci sendiri?
Bukan tugas berat, kok.
Ka-Kau enggak apa-apa? Perlu kubantu?
Aku bisa, kok. Lalu, kau mau omong soal apa?
Oh, ya.
Begini, buat hari libur kita nanti...
Biar aku yang cuci bajuku sendiri, ya?
Tsukasa, ini tugasku.
Biasanya semua baju kotor kita kirim ke tukang cuci, 'kan?
Sekarang aku lagi suka cuci baju!
Terserah deh, tapi jangan sampai celana dalamku kaucuci juga!
Celana dalam?
A-Aku enggak keberatan.
Aku yang keberatan, tahu!
Po-Pokoknya, biar aku yang cuci baju-bajuku sendiri!
Te-Terima kasih sudah dibantu!
Aku jadi lupa ajak dia kencan.
kumpulkan cahaya
hikari wo atsumete
tinggalkan kenangan
sayonara no omoide wo
seseorang yang mengagumkan menatap mimpi yang jauh
hitomi ni tataete mitsumeru yume tooku
gelembung ingatan yang jadi rusak
kowarete shimau utakata no Memory
kelembutan air mata yang kesepian
samishisa no namida sotto fukou
ulurkan tangan layaknya kincir yang rebut kebaikan
nobashita te ha kanransha yasashiku toraete
bangkitkan kepingan ingatan
mezamesou na kioku no kakera
menunduk berharap 'tuk menghilang
utsumuite kiete hoshii to inoru kedo
namun kautemukan suaraku
kimi ga mitsukete kureta kono koe wo
jarum jam mulai berdetak
ugokidashita tokei no hari
dunia pun jadi penuh warna
sekai ha yagate irodzuite
hati plastik yang bersinar
Plastic no kokoro ga kagayakidasu yo
takkan kulupakan dan ingatlah
wasurenai de oboete ite
hingga suatu hari kita kan bertemu
itsuka mata meguriaeru hi made
Aku mau
ajak Isla kencan!
Tu-Tunggu dulu!
Cara Jitu Mengajaknya Kencan
Jangan terburu-buru, Tsukasa.
Betul. Waktu kemarin kauajak dia ke taman hiburan,
dia menolakmu terang-terangan, 'kan?
Jangan ungkit luka lama lagi, Zack.
Kau harus bisa lebih hargai privasinya.
Kalau berusaha terlalu gigih biar bisa dekat, nanti dia malah membencimu.
Itu pasti pengalaman pribadi, ya?
Belakangan, tiap kali mau mengobrol sama putriku, dia selalu melotot ke arahku.
Buat saat ini, kita abaikan saja dulu ceritanya si bos.
Eh? Ayolah, dengarkan ceritaku, dong!
Ini kemajuan yang bagus, Tsukasa! Aku pasti mendukungmu!
Mas Yasutaka.
Constance, tolong kasih tahu cara ajak cewek kencan ke Tsukasa.
Sebentar, ya.
Yang penting kau harus bisa jujur dan terbuka,
nanti juga Isla bakal paham sama perasaanmu.
Baik!
Dengarkan ceritaku juga, dong.
Ah, kau lagi bersihkan mejaku, ya?
Soalnya agak berantakan.
Ah, aku jadi enggak enak kalau dibersihkan begini.
Tenang saja. Ini bagian dari tugasku sebagai mitra kerja.
Omong-omong, waktu libur nanti...
Kertas yang ada di sini, kautaruh di mana?
Sudah kubuang.
Tapi, kertasnya masih dipakai!
Sudahlah, enggak apa-apa! Aku bisa buat lagi, kok!
Se-Serius!
Biarkan saja!
Ajak kencannya jangan sekarang, deh.
Sip, tugas kita selesai juga!
Lebih cepat dari yang kita bayangkan, ya?
Begini, Isla.
Ada hal penting yang mau kubahas.
Aku juga mau bahas sesuatu yang penting.
A-Apa itu?
Kayaknya,
aku tersesat.
Aku enggak tahu
jalan pulangnya.
Bagaimana ini?
Tinggal nyalakan saja sistem navigasinya.
Biar kelihatan keren,
jadi sistemnya enggak kunyalakan.
Kau enggak bakal kelihatan jelek cuma karena pakai sistem navigasi.
Masih belum ajak dia juga?
Ya.
Hoi, hoi. Ke mana semangatmu waktu mau ajak dia tadi pagi?
Orang payah kayak Tsukasa sebaiknya jangan terlalu dipaksa.
Enggak bisa, justru sekarang momennya tepat! Sedikit dipaksa juga enggak masalah!
Kalau enggak sekarang, kapan lagi?
Kesempatan hari ini
enggak bakal datang dua kali.
Ya-Yang betul, nih?
Pastinya!
Nah, ayo ajak dia sekarang!
Eh?
Be-Besok-besok saja, deh.
Enggak bisa. Pokoknya harus hari ini.
Sana! Maju, maju!
Isla.
Ada apa?
Kau kelihatan murung.
Hari ini,
aku sudah banyak bikin kau repot, Tsukasa.
Jangan terlalu dipikirkan.
Sebentar,
kau kelihatan agak aneh hari ini.
Tiba-tiba cuci baju sendiri, rapikan mejaku, dan banyak lagi.
Aku cuma mau berguna.
Aku mau bisa berguna buatmu.
Isla.
Begini,
pas libur nanti,
kalau kau mau,
bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?
Ada pekerjaan apa?
Bukan buat pekerjaan.
Ini urusan pribadi.
I-Intinya sih, aku mau ajak kau kencan! Pergi sama-sama, yuk!
Kalau aku mau,
apa aku jadi berguna buatmu?
Ini bukan masalah kau berguna atau enggak.
Tapi, kalau kau mau, aku bakal senang banget!
Gagal juga, ya?
Baiklah.
Betul juga, ya. Kau mana ma—
Eh?
Aku mau.
Kita cuma berdua saja. Kau masih mau?
Berarti setuju, ya!
Aku yang menang taruhan, nih!
Makan siang besok, ya. Setuju?
Cih.
Terima kasih!
Hoi, Tsukasa.
Sini sebentar.
Mbak Kazuki! Jangan kasar-kasar begini, dong!
Katanya kau mau kencan, ya?
Ya.
Jangan terbawa suasana dulu, ya.
Kau bebas kalau mau pergi sama Isla,
tapi bukan berarti kau bisa malas-malasan waktu kerja, paham?
A-Aku paham.
Itu saja.
Mbak Kazuki betul.
Aku ini masih anak baru.
Aku harus kerja yang betul!
Selamat makan!
Aku keluar dulu!
Tu-Tunggu dulu, makan siangmu cuma itu? Pola makanmu enggak salah, nih?
Tenang saja, ini bukan masalah.
Jalan dulu, ya!
Belakangan anak itu kerjanya serius banget. Apa dia kuat?
Kalau penasaran, kenapa enggak buatkan dia bekal saja? Kau pandai masak, 'kan?
Ke-Kenapa harus aku?
Ya, tapi yang ada di kepalanya Tsukasa sekarang cuma kencannya sih,
jadi kau pasti enggak bakal dapat nilai plus atau apalah.
Ha?
Se-Sebentar!
Apa pula maksudnya kencan? Bukan— Maksudku, sama siapa?
Sama Isla.
Be-Begitu, ya? Pantas saja mukanya kelihatan ceria banget.
Penasaran, ya?
Mana mungkin! Huh, aku pasti sudah gila kalau sampai pikirkan yang kayak begitu!
Kau memang penasaran.
Berisik!
Jadi,
kalian mau kencan ke mana?
Soal itu, Tsukasa bilang, biar aku yang pilih tempatnya.
Wah, si cewek yang harus tentukan tempatnya?
Dia betul-betul enggak bertanggung jawab!
Lalu, kau rencananya mau ke mana, Islacchi?
Aku masih bingung.
Sudah kuduga.
Hem, bagaimana kalau kaucoba ke XXI atau Sea World?
Wah! Eru cara pikirnya konvensional banget, ya?
Zack-cchi, kaupikir aku ini orang macam apa?
Boleh jujur, nih?
No comments yet. Be the first to leave one.