166 บรรทัดแรก
Ada apa?
Ibu kota...
...terbakar.
Terbakar habis.
Tsushima sudah hancur.
Apa ada pasukan lain?
Sepuluh kapal perang, ditambah ribuan lebih pasukan Mongol.
Mereka tak pernah punya kesempatan menang.
Tn. Shiraishi, kita harus pergi ke tempat lain.
Tidak, maafkan aku.
Saat aku jadi penguasa, ada kota yang kubangun dari nol yang dirampas
dan kediaman serta penduduknya dibakar semua.
Aku jadi teringat kembali berkat ini.
Putri Teruhi!
Kau sudah pulang, ya!
Genpachi.
Kau selamat, ya.
Ya.
Para penduduk ibu kota yang selamat ada di sana.
Tn. Yajirou Abiru!
Syukurlah Anda selamat.
Aku kembali hidup-hidup, tapi tak punya tempat tujuan lagi.
Yang selamat dari ibu kota hanya ini?
Ya, benar.
Entah apa yang terjadi pada yang lainnya.
Pasti ada beberapa yang berhasil lari ke gunung.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Pagi tadi, kapal Mongol menyerang ibu kota.
Kami yang baru kembali dari Sasu setelah perjalanan semalaman.
Lalu terjadilah hal itu.
Mongol tadinya berniat serang Sasu dan ibu kota secara bersamaan.
Untuk pulau sekecil ini, mereka bersikeras sekali, ya.
Merepotkan!
Berapa lama para Mongol itu akan berada di sini?
Berhari-hari.
Mereka akan berada di sini berhari-hari
dan tiap waktunya dihabiskan untuk bunuh para penduduk yang ada.
Tujuan mereka adalah bunuh semua orang yang ada di pulau ini!
Jadi, apa pun yang kita perbuat itu percuma, ya?
Mau melawan bagaimanapun juga, pada akhirnya kita semua mati!
Kalau begitu, pertarungan di Sasu juga berakhir percuma!
Dari awal melawan balik memanglah percuma!
Dasar bocah manja.
Lalu untuk apa kau bertarung?
Hanya untuk bertahan hidup lebih lama?
Kalau memang benar, maka itu buang-buang waktu.
Apa?
Beraninya orang buangan sepertimu...
Wah, sudah hentikan.
Percuma saja kau melawan orang yang lebih kuat darimu, 'kan?
Sialan!
Tn. Abiru!
Lapor!
Pasukan Mongol datang!
Menunduk!
Ada lima pengintai.
Pakaiannya berbeda dengan yang ada di Sasu.
Mereka kembali?
Bagus.
Putri.
Mereka sudah merebutnya dariku.
Ayahku, kakakku...
Rakyatku, wilayahku...
Lalu hatiku...
Semuanya!
Semuanya!
Putri!
Sialan!
Takkan kubiarkan!
Tuan Putri!
Masih belum!
Belum!
Jangan biarkan pengintai kabur!
Ada satu kabur!
Apa kau bisa, Hitari?
Akan kucoba.
Mereka berhasil kendalikan kuda di jalur gunung yang sempit
sambil menembak ke arah belakang.
Mereka cukup ahli.
Baunya seperti susu!
Gaya rambutnya juga berbeda dari orang Goryeo.
Mungkin bahasa mereka berbeda.
Dan cara bertarungnya juga.
Ada satu kuda yang kabur.
Ya.
Kalau ada kudanya kembali sendirian, pasti mereka akan curiga.
Hentikan, Tuan Putri!
Luka Anda akan terbuka lagi.
Aku tak bisa menahan diri.
Maafkan aku!
Apa pun yang terjadi, hasilnya tetap sama.
Mereka sudah tahu keberadaan kita.
Karena itu mereka tiba- tiba memutuskan kembali.
Putri, obati dulu luka Anda.
Daripada itu, perbuatan gadis itu sudah ubah ekspresi mereka semua.
Tapi ke mana tujuan kita?
Bagaimana kalau ke Teluk Aso di utara?
Di sana ada sumber makanan serta tempat sembunyi.
Ide bagus.
Lalu kita juga tutup jalan pintas ke utara
dan hentikan Mongol di sini.
Itu mustahil.
Siapa kau?
Tanya siapa aku?
Aku lebih penting dari samurai.
Amushi, bisakah kau lihat pergerakan tentara Mongol dari sana?
Bisa.
Mau lari dan tutup jalan pintas?
Itu takkan sempat.
Komandan Mingghan Mongol Uriyan Edei
Cepatlah!
Kita akan menuju ke Teluk Aso!
Ada apa, Nenek?
Aku tinggal di sini saja.
Anak dan cucuku sudah terbunuh.
Ya, daripada dibunuh Mongol, aku lebih suka memilih sendiri tempatku untuk mati.
Luar biasa.
Tn. Yajirou.
Kita bisa berjaga di sini dan menahan mereka.
Di jalan gunung sempit begini, jumlah mereka yang banyak akan dirugikan.
Ya, kau benar.
Kalau tak menahan mereka, pasti kita akan terkejar.
Kalian para orang buangan juga bekerja.
Serius?
Kau ingin pekerjakan kita secara gratis lagi, ya?
Aku tak mau lakukan ini selamanya.
Lepaskan!
Sudah kuduga kau pelakunya, Tua Bangka.
Selagi ibu kota terbakar, kau malah merampok!
Harta itu akan kuambil darimu.
Bagus, lumayan juga bisa buat ini dalam waktu singkat.
Beratnya juga pas.
Tuan, kita buat ini sesuai permintaanmu.
Tapi apa ini sebenarnya?
Senjata panjang yang bisa dipakai dengan gaya pedang Gikei.
Namanya tombak.
Tombak?
Yajirou Abiru, kau ingin hentikan musuh di sini, 'kan?
Ya.
Kalau ingin lindungi diri sendiri
maka kau harus siap untuk korbankan diri sendiri.
Di jalur gunung ini kita akan buat benteng.
Benteng?
Musuh sudah terlihat.
Bentengnya sudah 80% jadi.
Tepat di sini.
Semua sudah di posisi, 'kan?
Saat aku pancing musuh
ikuti rencananya!
Seluruh pasukan, bersiaga!
Hoi, Anak Baru.
Wajahmu terlihat pucat.
Jagalah bagian belakangku.
Berisik!
Mana bisa kubiarkan kau sendiri!
Mereka datang!
Mereka ada di depan.
Seluruh pasukan...
Jagalah sudut ini dengan sekuat tenaga.
Kalau beruntung kita bisa kalahkan pasukan Mongol
dan ambil alih ibu kota.
Kalau kalian tak bertekad begitu
satu sudut ini takkan bisa kalian lindungi.
Kau sudah siap, Yajirou Abiru?
Mereka semua gemuk dan kuat.
Meski prajurit biasa, tapi menyerang tanpa segan.
No comments yet. Be the first to leave one.